
"Tari ngapain sih lama banget!" gerutu Rika.
Sudah hampir satu jam Rika dan Lala menunggu Mentari, bahkan kini keduanya sudah duduk di kursi meja makan. Jika Rika mulai bosan dalam penantian nya, maka lain halnya dengan Lala. Karena anak baru gede itu terus senyum-senyum melihat wajah Dimas yang sangat tampan itu.
Rika semakin kesal karena melihat bertapa memalukan nya Lala, "Heh," Rika menyenggol Lala.
Lala melihat Rika dengan kesal, kemudian ia kembali menatap Dimas. Bibirnya kembali tersenyum.
"Rika!" tegur Lala lagi.
Dimas yang menunggu Arka juga kesal, sudah sangat lama ia menunggu bosnya yang tidak kunjung tiba itu. Padahal mereka ada pekerjaan penting, bahkan ia berulang kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Sial!" umpat Dimas, karena dua menit lagi rapat akan di mulai.
"Akhirnya....." kata Rika merasa lega saat melihat Mentari mulai berjalan mendekat padanya.
Dimas juga langsung melihat arah pandang Rika, ia melihat Arka sudah memakai jas dan kemeja lainya. Dan ia tahu kalau bosnya itu baru saja melakukan ibadah, "Kita nungguin dia santai aja...." gumam Dimas.
Rika sebenarnya sangat geram dan ingin langsung bertanya tapi ia urungkan karena ada Arka disamping Mentari.
"Kak Tari ke kampus ya," pamit Mentari.
"Iya sayang...." Arka tersenyum dan merapikan rambut Mentari. Kemudian Mentari mencium punggung tangan Arka, dan Arka mengecup kening Mentari.
"Tidak menghargai yang jomblo!" gumam Dimas.
"Rika, Lala yuk," Mentari memanggil kedua sahabatnya yang asik menjadi penonton dari tadi, bahkan keduanya seperti orang aneh saat melihat nya dan Arka.
"Eh...." Lala mendadak gagu, begitu juga dengan Rika.
"Kalian kenapa sih?" tanya Mentari bingung, kemudian ia menarik masing-masing sahabatnya dan mereka berjalan keluar. Sampai di depan pintu utama Mentari melepaskan tangan sahabat nya yang dari tadi ia pegang.
"Tar," Lala yang berjalan di samping Mentari mulai tersadar, dan ia sungguh punya banyak pertanyaan untuk Mentari.
"Apa?" Mentari langsung masuk pada mobil Rika, begitu juga dengan Lala dan Rika yang menyusul masuk.
Biasanya ketiga nya akan duduk di depan, tapi kali ini tidak karena Mentari tengah mengandung dan ia takut malah tanpa sengaja menyenggol perut Mentari yang mulai membuncit itu. Hingga ia sendirian duduk di jok belakang.
Rika yang duduk di kemudi langsung menyalakan mesin mobilnya, mereka sudah sangat terlambat sekali. Dan itu karena menunggu Mentari.
"Tari emang Pak Arka sering senyum ya?" tanya Lala, ia memajukan dirinya agar bisa berdekatan dengan kedua sahabatnya.
"Iya Tar, gue juga penasaran parah....." timpal Rika sambil terus pokus mengemudikan mobilnya.
"Iya, emang kenapa sih?" Mentari kini bertanya, karena ia bingung dengan keduanya temannya.
"Masa sih.....tapi lu sama pak Arka Swift parah," Lala menangkup wajahnya sendiri sambil senyum-senyum, "Gue kapan yang kayak begitu ya, aduh jadi pengen sama Aa tampan yang di meja makan barusan," kata Lala yang mulai hanyut dalam haluan gilanya.
"Heh.....nggak usah aneh-aneh," kesal Rika yang tidak suka melihat kegilaan Lala.
"Maksud lu Dimas La?" tanya Mentari yang ikut penasaran, "Lu suka sama Dimas?"
"Jadi nanya Dimas ya?" Lala baru mengetahui tentang nama Dimas, dan itu membuat nya semakin berbunga-bunga, "Aa Dimas Eneng mau...."
"Mmmmfffffpp....." Mentari menahan tawa melihat kelakuan sahabatnya yang sedang jatuh cinta itu, sampai-sampai Mentari geleng-geleng kepala.
"Aa Dimas," kata Lala lagi.
"Apa sih lu Ka, biarin aja si Lala suka sama Dimas," timpal Mentari, karena menurut nya tidak salah jika Lala menyukai Dimas. Lagi pula Dimas gagal menikah dan kini ia berstatus jomblo. Mungkin saja keduanya berjodoh pikir Mentari.
Lala juga ikut menatap Rika dengan sinis, "Tau nih anak, nggak tau kenapa benci banget sama cowok sekeren Aa Dimas.....apa jangan-jangan lu suka sama Dimas!" tebak Lala yang di anggukki Mentari juga.
"Suka-suka pala lu! Dimas itu Kakak gue!" jelas Rika.
Lala dan Mentari terkejut, sungguh mereka tidak tahu tentang hal itu.
"Kakak?"
"Dimas itu Kakak kamu Rika?" tanya Mentari lagi.
"Iya, itu cowok Kakak gue yang suka bikin gue kesel!" gerutu Rika.
Mentari mengangguk, ia kini mengerti kenapa Arka bisa mengijinkan nya untuk pulang pergi bersama dengan Rika dan Lala. Dan Mentari juga tahu pasti Dimas yang mengorek info dari Rika tentang kuliah dan yang lainnya, tapi Mentari juga tersenyum karena suaminya itu sangat pengertian sekali. Mentari mengingat pagi-pagi di bangunkan solat subuh, malam-malam mengaji bersama dan saat Mentari akan menghayal kan yang lainya tiba-tiba ia tersadar.
"TARI!!!!" seru Rika dan Lala, karena keduanya merasa Mentari sangat aneh sungguh itu membuat Rika dan Lala menjadi takut.
"Apasih!" kesal Mentari.
"Lu yang apaan, lagi nggak waras ya? Senyum-senyum sendiri!" kesal Lala.
"Hehehe.....gue lagi ingat sama Sabaruddin tercinta gue yang Swift parah," kata Mentari sambil senyum dan ia melihat ponselnya karena ada Arka di layar utamanya.
Ting.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk, dan itu dari suami tercinta nya.
[Sayang love you] Suami ku.
Mentari semakin tersenyum, Arka kini semakin romantis saja.
"Tar!" Lala menepuk pundak Mentari.
"Apa sayang?" tanya Mentari sambil cengengesan, karena ia sangat bahagia dan berbunga-bunga saat ini.
"Ish.....dasar aneh!" kesal Rika.
"Rika tadi lu bilang Dimas itu Kakak lu kan?" tanya Mentari lagi yang mengembalikan pembicaraan mereka tadi.
"Iya napa?" Rika mulai memasuki area kampus dan ia memarkirkan mobilnya.
"Berarti Lala calon Kakak ipar lu dong!" Seloroh Mentari.
"Cakep!" kata Lala dengan cepat, "Berarti lu harus bantu gue buat dapetin Kakak lu yang tamvan itu!" ujar Lala.
Rika memutar bola matanya, "Siapa yang setuju lu jadi Kakak ipar gue!" jawab Rika. Sebenarnya ia setuju saja Dimas mau menikah dengan siapa saja termasuk dengan Lala sekali pun, tapi masih kesal pada Dimas yang selalu menjahilinya jika di rumah.
"Caelah Rika..... udahlah Kakak lu buat gue aja, kan enak kita jadi keluarga!" kata Lala seolah mengajak berdamai.
"Ogah!" ketus Rika sambil keluar dari mobil.
Kini ketiga wanita cantik itu turun dari mobil, pesona ketiga nya seakan mampu membuat lawan jenisnya terpesona. Kecantikan ketiga wanita itu memang tidak usah di ragukan lagi, mereka memakai baju yang cukup tertutup tapi tetap saja banyak pria yang menatap penuh damba.
"Cuit.....cuit...." beberapa pria berusaha untuk di lirik oleh ketiganya, namun sayang ketiganya masih sama seperti masih memakai seragam abu-abu. Mereka cuek pada lelaki karena tidak ingin memberikan harapan palsu yang nantinya membuat mereka sendiri yang kecewa.