Mentari

Mentari
Episode 175



"Kak, Ulan. Kamu serius, enggak mau bangun?" tanya Mentari.


"Entahlah Mentari, kalaupun minsalnya Kakak kamu enggak mau bangun demi Kak Radit. Paling enggak Kakak kamu bangun buat Raka," kata Radit lagi.


Mentari masih menatap wajah Rembulan, tangan Rembulan mulai bergerak. Walaupun hanya sebentar saja.


"Aku ijin ya Ulan, aku terpaksa harus nikah lagi," kata Radit sambil melihat tangan Rembulan.


"Kak Ulan pasti ngerti kok Kak, dan pasti Kak Ulan ngijinin juga," ujar Mentari.


"Mentari, Radit! Kalian bicara apa?!" geram Nina.


"Terus Radit harus apa Ma?"


"Kamu sabar dong, baru itungan hari Dit!" kesal Nina, "Kamu mau menikah lagi? Kamu masih sehat Dit?" Nina geleng-geleng kepala melihat kelakuan Radit.


"Bagaimana lagi Ma?"


"Hiks....hiks....hiks...." terdengar suara tangisan, dan semua mata mulai mencari asal suara tersebut.


Semua nya terkejut karena ternyata yang menangis adalah Rembulan.


"Kak, Ulan?" Mentari tersenyum, walaupun air matanya menetes tapi itu tangisan kebahagiaan.


"Ulan," Ranti langsung memeluk Rembulan, "Hiks....hiks.... akhirnya kamu sadar Ulan," kata Ranti dengan air mata haru.


"Umi, sadar," Radit memeluk Rembulan dengan erat, bibirnya tersenyum saat melihat Rembulan kembali membuka mata. Mata indah Rembulan yang beberapa hari tidak dapat ia lihat kini terbuka dengan sempurna.


"Hiks.... Hiks....." Rembulan masih menangis, tanpa henti.


"Sayang kamu kenapa?" Radit melepaskan oksigen yang terpasang, kemudian ia menyisir rambut Rembulan yang mulai berantakan, "Ada yang sakit?" tanya Radit, panik, "Kenapa?" tanya Radit lagi.


Rembulan menggeleng, tapi ia tetap saja menangis tanpa bisa di tahan.


"Kak Ulan bicara!" Mentari juga ikut penasaran, ia bingung dengan Rembulan, "Kakak enggak pengen liat anak Kakak?" tanya Mentari agar Rembulan tidak lagi menangis.


"Kalian jahat!" kata Rembulan.


Mentari melihat Radit, begitu juga sebaliknya, "Kakak kok ngomong begitu sih?" tanya Mentari.


"Anak Kakak mana?" tanya Rembulan yang mulai berhenti menangis.


"Ini," Nina tersenyum dan langsung menidurkan Raka di samping Rembulan, "Kamu bisa bergerak?" tanya Nina.


Rembulan mulai menggerakkan tubuh yang terasa kaku karena sudah beberapa hari tidak bergerak, ia mengecup pipi Raka putranya dan tersenyum. Rembulan terharu karena kini ia sudah menjadi seorang ibu, dari seorang putra yang baru saja beberapa hari ia lahirkan.


"Namanya siapa Ma?" tanya Rembulan lagi.


"Namanya Raka," jawab Radit dengan cepat.


Rembulan terlihat tidak perduli pada Radit, ia malahan terlihat menghindari Radit.


"Sayang," Rembulan kembali mengecup pipi putranya dengan berulang-ulang kali


"Mama bersyukur kamu sudah sadar Nak, Mama panggilkan dokter dulu," kata Ranti.


Beberapa saat kemudian seorang dokter yang menangani Rembulan datang, dan mengatakan keadaan Rembulan sudah mulai membaik. Hingga akhirnya, beberapa alat yang terpasang pada tubuh Rembulan mulai di lepaskan. Kecuali selang infus. Setelah dokter pergi, Rembulan masih sama saja. Ia masih diam dan tidak ingin melihat wajah Radit.


"Raka seneng ya, karena udah bisa di peluk Umi?" tanya Radit seolah berbicara pada bayinya.


Rembulan tidak perduli, ia cuek dan hanya menatap wajah Raka saja.


"Umi kenapa?" tanya Radit yang melihat aneh pada istrinya.


"CK...." Rembulan menyingkirkan tangan Radit yang mencoba memegang wajah nya.


"Kamu kenapa?" tanya Radit lagi.


"Kalau kamu mau nikah lagi, nikah aja. Anak aku enggak usah di bawa!" kata Rembulan yang seketika membuat semua mata yang di sana langsung mengerti.


"Mmmmfffffpp....." Mentari menutup mulut karena menahan tawa.


"Kamu kenapa Tari?" tanya Ranti yang juga bingun dengan kelakuan putrinya, "Apa yang di katakan Kak Ulan itu benar sekali, kamu dan Radit kan memang punya rencana menjadikan Diva sebagai ibu sambungnya Raka!" tambah Ranti lagi.


"Iya, Mama juga kesel!" timpal Nina.


Mentari menatap Radit, Radit juga begitu. Jika Radit memikat dahinya karena merasa lucu, maka tidak dengan Mentari.


"Wahahhahah......" tawa Mentari pecah seketika tanpa bisa di tahan lagi, karena Ranti, Nina dan Rembulan terlihat lucu.


Sedangkan Arka tersenyum karena melihat Atawa Mentari kembali hadir, lama sudah tawa itu tidak terdengar. Lala sudah bibir itu tidak tersenyum, mata indah yang bercahaya kini terlihat kembali. Mentari yang tertutup awan kini sudah cerah, tanpa tertutup awan hitam. Dan inilah yang di inginkan oleh Arka, kebahagiaan istrinya adalah di atas segalanya.


"Kamu makin nggak waras!" kesal Ranti.


"Wahahaaaa......Mama ku sayang," Mentari terus tertawa tanpa bisa berhenti, karena melihat wajah-wajah bingung yang menatap dirinya.


"Dasar gila!" kata Ranti lagi.


"Mama, Tante Nina, Kak Ulan. Jadi Mentari cari tahu kalau orang koma itu bisa merespon, mendengar apapun yang kita katakan. Nah.....Tari tadi sengaja ngomong begitu, dan Kak Radit juga sengaja ngerti sampai Kak Ulan kepancing dan berusaha membuka matanya. Bukan cuman Kak Ulan yang kepancing, Mama sama Tante juga," Mentari menatap wajah Ranti, Rembulan, Nina secara bergantian, "Wahahaaaa....." Mentari benar-benar tertawa dengan kencang, karena melihat wajah yang lainnya kini terlihat terkejut dengan penjelasan nya.


"Jadi?" Ranti kini mulai mengerti, dan ia tidak lagi kesal pada Mentari.


"Jadi, tadi Tari sama Kak Radit mancing Kak Ulan. Ini beneran Kak Ulang langsung buka mata," kata Mentari menunjuk Rembulan.


"Jadi Abi enggak serius mau nikah lagi?" tanya Rembulan dengan suara lemahnya.


Radit tersenyum dan menggeleng, "Memang mau punya madu?" goda Radit.


"Ya enggak lah!" ketus Rembulan.


"Aku tak mau, jikalau aku di madu!!!!" kata Mentari sambil bernyanyi, "Ada yang lagi cemburu, Wahahaaaa...." Mentari kembali tertawa, karena kelucuan Rembulan.


"Sayang, kamu udah mulai lagi ya," Arka terkekeh, ia bangun dari duduknya dan berdiri di belakang kursi roda Mentari.


"Abis Kak Ulan lucu, cemburu ya....." seloroh Mentari lagi.


"Diva udah di penjara woy!" kata Mentari.


"Penjara?" tanya Rembulan terkejut.


"Iya, siapa coba yang mau nikahin dia lagi di penjara. Lagian suami ku ini aja potongan nya seperti orang gila, coba lihat," Mentari menunjuk Radit yang berdiri di dekat ranjang Rembulan, "Siapa yang mau coba, model begini!" kata Mentari lagi.


Rembulan melihat dengan jelas, Radit memang terlihat berbeda. Kemeja acak-acakan, rambut mulai panjang. Jambang yang mulai panjang tanpa terurus.


"Lihat suami kamu Kak, siapa coba yang mau. Makanya Tari berusaha bikin Kakak cepat sadar, biar bisa urus suami dan anak!" tambah Mentari sambil terus cekikikan.


"Ya ampun Tari, maafin Tante. Hampir saja Tante tadi marah besar, ternya ini tujuan kamu," ujar Nina terharu.


"Iya Tante, enggak papa," Mentari tersenyum dan mengerti dengan perasaan Nina, bahkan ia terharu karena Nina terlihat menyayangi Kakak nya.