
Pagi ini Arka hari keberangkatannya ke Bali. Asisten Brian sudah menyiapkan semuanya di Bali tinggal meeting, selesai langsung pulang. Mobil sudah terparkir dihalaman rumah tinggal tuannya yang ditunggu.
Mentari duduk disamping anaknya yang sengaja ia baringkan ditengah-tengah tempat tidur sambil memperhatikan suaminya yang siap-siap ke Bali.
"Mau dibelikan apa disana?" tanya Arka sambil bercermin.
"Beli apa? aku bingung" Jawab Mentari, "Assalamualaikum Putri cantik, sudah bangun saja" Ucap Mentari lagi mengajak anaknya bicara setelah ia buka mata.
"Udah bangun, ayah hari ini ke Bali dulu, izin yaa" Ucap Arka sambil mencium pipi gembul anaknya.
"Kalian hati-hati, jangan suka begadang" Arka mengingatkan istrinya dan Mentari mengangguk, "Iya" jawabnya.
Arka pun keluar dari kamar dengan memegang tas kantornya yang biasa dia bawa ke kantor setiap hari. Arka kemudian minta izin kepada kedua orang tuanya, lalu lanjut jalan menuju mobil, dimana di sana Asisten Brian menunggunya.
Arka masuk mobil, "Jalan Asisten Brian" Ucap Arka setelah duduk dalam mobil.
"Baik pak" Jawab asisten Brian dan membawa mobil tersebut menuju bandara udara.
Arka berangkat bersama Asisten Brian ke Bali. Ia hanya ingin ada teman ceritanya disana meskipun selesai rapat akan langsung kembali. Setelah lahir anaknya, Arka yang dulu dingin dan minim bicara sekarang mulai sedikit banyak bicara. Ia ibarat di latih keras oleh bayi yang belum bisa bicara dan bahkan belum tau apa-apa.
Sementara di kediaman Algantara, ibu Anita, Hadi dan Aldi siap-siap ke rumah Purnawan untuk bertemu cucu dan sekaligus membicarakan tentang proses persiapan aqiqah sang cucu.
"Pa, cepatan dikit, ini sudah jam 9 pagi" Ucap ibu Anita sambil melihat jam yang melingkar ditangannya itu.
"Ambil kunci mobil dulu bun" Jawab Aldi sedikit teriak dan berlalu masuk kamar untuk mengambil kunci mobil.
Mereka pun ke rumah Purnawan menggunakan satu mobil, perjalanan yang ditempuh hanya 20 menit sudah sampai di rumah Purnawan. Ibu Anita jalan duluan menuju pintu utama diikuti oleh Hadi dan Aldi.
Disana sudah disambut oleh ibu Dewi yang kebetulan saat itu berdiri di teras rumah sembari mengendong sang cucu.
"Putri cantik Oma" Ucap ibu Anita setelah sampai teras rumah.
"Salam dulu Anita" Ucap Ibu Dewi dengan nada bercanda.
"Makanya jangan sambut saya dengan cucu dong" jawab ibu Anita tidak mau kalah.
"Hehehe, yuk masuk" ajak ibu Dewi lalu mereka masuk dalam rumah beriringan.
Mereka langsung duduk seperti biasa yaitu ruangan khusus keluarga dan disana sudah ada Mentari yang menunggu anaknya.
"Anak ibu yang cantik, sini ASI dulu ya" Ucap Mentari dan sang bayi pun berpindah tangan dari ibu Dewi ke Mentari.
Setelah beberapa menit cerita antara dua ibu itu, sekarang mereka mulai membahas aqiqah cucu mereka, disitu Mentari hanya menyimak apa yang dibicarakan keluarganya itu.
"Dek, apa gak bisa kamu ke dalam aja" tegur Aldi.
"Aku mau dengar juga, ini kan aqiqah anak aku jadi wajar dong kalau saya ikut memberikan usulan kalau aku rasa ada yang kurang"
Hadi lagi-lagi harus mengingatkan kedua anaknya, "Kalian berdua sudah dewasa ya" Ucap Hadi dengan nada pelan dan sedikit menekan diakhir kalimatnya.
"Iya pa" jawab Aldi dan Mentari.
Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan mereka sampai selesai dan dilanjutkan makan siang di rumah kediaman Purnawan.
Di daerah yang berbeda Arka dan asisten Brian sudah sampai hotel dan sedangkan istrahat sebelum sore nanti mereka meeting.
Kamar Arka dan Asisten Brian bersebelahan jadi tidak susah jika Arka membutuhkan sesuatu tinggal mengetuk pintu kamar hotel asisten Brian.
Tok Tok
Asisten Brian pun langsung membuka pintu kamarnya, karena ia tau kalau itu pasti bosnya.
"Iya bos" Ucap Asisten Brian setelah membuka pintu kamarnya.
"Kita cari makan di luar" Ajak Arka dengan pakaian santainya.
"Bukan disini ada makanan juga bos, disini ada restonya juga" Jawab Asisten Brian yang heran dengan bosnya itu.
"Cepat Brian" Ucap Arka sedikit dingin dan pergi meninggalkannya. Ia jengkel kepada asistennya itu, bisa-bisanya menolak ajakannya, ia sengaja makan di luar karena dikamar sendiri dan terus memikirkan anaknya di rumah.
"Baik pak" Jawab asisten Brian dengan jalan sedikit cepat agar bosnya itu tidak menunggunya lagi di mobil.
"Ini kita makan dimana bos? maksud saya restoran apa ini bos" Tanya asisten Brian.
Arka yang sebenarnya masih kesal dengan asistennya itu, tapi mendengar pertanyaannya sedikit ingin mengerjainya.
"Asisten Brian tolong cari restoran yang menunya biawak saja" Ucap Arka dan seketika asisten Brian rem mendadak mendengar penuturan bosnya itu.
"Kenapa?" tanya Arka lagi sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Kenapa bos jadi aneh seperti ini?" batin Brian.
Dengan senyum paksa, Asisten Brian menjawab, "Aa tidak bos, tapi memang ada menu itu?" tanya asisten Brian lagi.
Arka mendengar pertanyaan seperti itu mengingatkan pada istrinya.
"Hmmm, baru sampai sudah rindu anak dan istri" batinnya.
"Asisten Brian, apakah pernah merasakan rindu pada seseorang?" tanya Arka lagi.
"Pernah bos" jawab asisten Brian lagi sambil membawa mobil dan melihat kiri kanan untuk mencari restoran seperti yang bosnya ucapkan.
"Maaf bos, saya tidak menemukan resto seperti bos ucapkan tadi.
"Astaghfirullah Brian, itu tadi hanya bercanda, serius bangat" Ucap Arka lagi.
Asisten Brian mendengar itu langsung menoleh dengan mata membulat dan mulut sedikit menganga lalu membuang napas.
"Cukup hamil istrinya saja membuat kami setengah gila, jangan dengan bos ya Allah" Batin asisten Brian
"Resto yang diseberang jalan bagian depan saja Brian" Ucap Arka lagi.
"Baik bos" jawab asisten Brian sembari memperhatikan jalanan di depannya.
Setelah mobil Arka masuk di area parkir restoran tersebut, baru turun dari mobil melihat seorang yang baru masuk dalam mobil mirip dengan Rionaldo.
Seketika Arka memanggil Asisten Brian, "Brian, cari tau siapa pemilik mobil yang baru keluar dari parkir tadi" perintah Arka.
"Baik bos" Jawab asisten Brian.
"Pak saja" ucap Arka lagi.
"Siap pak" Jawab Asisten Brian.
"Santai saja Brian, ini di luar jam kantor" Ucap Arka lagi sambil menggeleng kepala heran melihat tingkah asistennya yang seperti ditindas olehnya, padahal sama Aldi mereka sangat akrab malah seperti sahabat.
"Pak Arka kenapa aneh hari ini" batin asisten Brian dengan mengeluarkan napasnya kasar dan menyusul bosnya itu masuk dalam restoran.
Arka pesan makanan yang membuat Asisten Brian hanya mengiyakan apa yang dipesan bosnya pada waiters itu, bagaimana Brian tidak mengikuti apa mau bosnya, Brian takut mendengar bahasa aneh lagi yang membuat dirinya kebingungan nanti.
"Apa sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu mobil tadi?" tanya Arka
"Aku rasa Rionaldo ini bukan orang sembarang, dan sampai saat ini Santi belum bisa memenjarakan Rionaldo" Jelas Arka.
"Bukan mereka kerja sama pak? Kenapa jadi mereka berdua untuk saling memenjara?" tanya Asisten Brian lagi.
"Santi tidak terima kalau hanya dia dan ibunya yang merasakan tersiksanya hidup dalam jeruji besi" jawab Arka.
"Kenapa tidak bapak saja yang memenjarakan Rionaldo?" Tanya Asisten Brian penasaran. Padahal anak buah Rionaldo jelas-jelas mencelakai Mentari saat itu.
Arka menghela napas terlebih dahulu, "Sebenarnya saya tidak suka bermasalah dengan orang lain, saya ingin hidup aman dengan istri dan anak saya Brian tanpa ada gangguan apapun dan siapapun. Makanya saya tidak membutuhkan anak buah meskipun ayah saya menawarkan hanya untuk jaga-jaga"
"Tapi pak, ini bukan masalah suka dengan tidak suka tapi sudah menyangkut keselamatan nona Mentari" Ucap asisten Brian lagi.
"Benar katamu" Ucap Arka membenarkan ucapan asistennya itu sembari senyum, "Terima kasih Brian" Sambungnya.
"Sama-sama pak" Jawab Asisten Brian. Jujur kadang Brian kaget dengan perubahan bosnya selama menikah ini terlalu banyak kejutan dari sifat dinginnya.
Pesanan mereka pun datang dan setelah terhidang diatas meja mereka langsung menikmatinya sampai habis tanpa ada pembicaraan sedikit pun.
"Alhamdulillaah Brian" Ucap Arka setelah ia minum.
Asisten Brian pun tersenyum dan mengucapkan kalimat yang sama dengan bosnya itu.
...💛💛💛...
Dijalan menuju tempat meeting, Arka sudah mewanti-wanti asisten Brian bahwa disana harus jeli melihat tidak menutup kemungkinan Rionaldo tidak ada disana.
"Brian, ingat rencana kita, tidak hanya rapat meskipun disini hanya satu hari" Arka kembali mengingatkan asistennya itu.
"Iya Pak, suruhan saya mengatakan kalau orang yang kita lihat di restoran itu bukan Rionaldo tapi Hendra" Jelas asisten Brian.
"Hendra, Hendra" ulang Arka dan nama itu tidak asing baginya, "Brian, Hendra potongan nama dari Rionaldo Mahendradatta" Sambungnya.
"Licik juga Rionaldo itu pak"
"Sebenarnya tujuannya apa mengubah namanya seperti itu?" batin Arka bertanya-tanya. Ia tidak menyangka teman istrinya yang begitu baik dan peduli pada temannya berubah jadi orang yang seakan tidak punya hati.
"Sudah sampai pak" Ucap Brian setelah mereka sampai ditempat meeting.
"Oke, nanti aku hubungi kalau sudah selesai" Ucap Arka lalu turun dari mobil.
Arka pun meeting dan asisten Brian menjalankan sesuai apa yang direncakan dengan bosnya. Asisten Brian sudah menjalankan sesuai rencana namun tidak ada tanda-tanda orang seperti yang mereka lihat di restoran siang tadi.
"Mungkin dia tidak datang" Gumam asisten Brian dan ia memutuskan untuk kembali di mobil menunggu bosnya itu.
Tidak lama kemudian, Arka menelfon Brian.
📞 Asisten Brian : "Saya di parkiran pak.. Baik pak" percakapan Asisten Brian dengan bosnya lewat telepon.
Arka pun jalan menuju parkiran setelah selesai meeting, dan disana asisten Brian sudah menunggu.
Arka melepas penat sore ini dalam mobil, ia kepikiran anaknya dan langsung video call istrinya.
Dilayar hp Arka terlihat sang isteri sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis.
"Kenapa itu dek?" tanya Arka
"Gak tau kak, tiba-tiba saja menangis" Jawab Mentari sambil menepuk-nepuk pantas anaknya, "kapan pulang kak?" sambung Mentari lagi dan telihat jelas ia duduk dan menaruh kain didepannya dan menyusui anaknya.
"Dia sudah tidak menangis lagi?" Tanya Arka sembari memperhatikan istrinya yang sedikit berantakan tidak saat ini dengan mata sendu, "Kenapa dek, capek?" tanya Arka lagi.
"Takut kak" Jawab Mentari dan anaknya kembali menangis lagi.
"Kenapa, kakak akan pulang malam ini" Ucap Arka dalam video call itu dan Mentari hanya mengangguk, "Assalamualaikum dek" Ucap Arka diakhir kalimatnya sebelum mematikan sambungan video call tersebut.
Setelah mematikan sambungan telepon langsung mengarahkan asisten Brian agar langsung ke hotel dimana mereka menginap.
"Jadi kita langsung balik ini pak?" tanya asisten Brian.
"Iya, tolong urus tiket pesawat ya sekarang" Ucap Arka lagi.
"Baik pak" jawab asisten Brian.
Sedangkan di rumah Purnawan bingung dengan anak Mentari yang terus menerus menangis sudah dipanggilkan dokter anak untuk diperiksa apakah dia sakit sehingga menangis tidak ada henti, tapi kata dokter tidak sakit.
Hadi, Anita dan Aldi yang hendak pamit pulang tidak jadi karena anak Mentari sudah mulai menangis.
"Pa, ini gimana? anak Mentari menangis sejak tadi berhenti hanya minum ASI" Panik Anita.
"Tenang dong, papa juga masih berpikir ini" Jawab Hadi.
"Apa dia rindu ayahnya" Tiba-tiba bahasa yang terlintas dibenak Aldi.
"Kemungkinan" Timpal Rahmat, "Coba Aldi gendong bisa saja merindukan ayahnya" Sambungnya lagi.
Aldi pun menghampiri Mentari dan mengendong ponakannya itu, seketika langsung berhenti menangis.
Mentari bernapas lega dan kedua orang tua serta mertuanya langsung duduk dikursi seketika setelah melihat sang cucu berhenti menangis.
"Arka pasti disana terus kepikiran dengan anaknya, makanya dia menangis, ikatan batin antara anak dan ayah" Ujar ibu Dewi.
"Arka akan pulang malam ini" Timpal Mentari.
"Sudah selesai urusannya?" tanya balik ibu Dewi.
"Sudah katanya" jawab Mentari lagi.
"Baguslah, kasian cucuku menangis terus ingat bapaknya" Ucap ibu Dewi, "Setidaknya sekarang ada Aldi pengganti Arka, hitung hitung latihan, bagaimana Anita?" sambung ibu Dewi diakhiri dengan pertanyaan.
"Iya, supaya ada motivasi cari istri dari pada jadi pengasuh anak adiknya" Jawab ibu Anita yang membuat Mentari menunduk menahan tawa.
Aldi yang merasa ditertawakan oleh adiknya itu langsung membalas ucapan ibunya tapi ucapannya itu langsung ke Mentari.
"Tidak usah menertawakan saya, baru punya anak satu sudah tidak karuan model mu dek, bagaimana kalau banyak" Ucap Aldi.
"Ini hanya tidak perawatan ya, kak Arka sampai rumah malam ini" jawab Mentari.
"Sudah sudah, kalian berdua berdebat terus kerjaannya. Aldi diam dan kamu Mentari mau anakmu menangis?" tanya Hadi.
"Gak dong pa. Peluk dulu dong mumpung anak aku, kak Aldi yang gendong jadi aku manja-manjaan dulu sama papa" Ucap Mentari senyum kepada ayahnya lalu menoleh ke arah kakaknya dengan sedikit mengeluarkan lidahnya meledek kakaknya itu.
"Mentari, kamu suka memulai" Tegur ibu Anita.
"Hehehe, bercanda bunda" Jawabnya sudah dalam pelukan sang ayah.
...Semoga Suka 😊...
...Jangan lupa Like, Komen, Share ke teman-temannya yaa....
...Terima Kasih sudah mendukung Mentari sampai saat ini 🙏😊...