
Makan malam yang direncanakan Awan akan menjadi makan malam perkenalan Mentari dengan keluarganya,malah kini berlangsung hening. Hanya ada suara denting sendok dan piring beradu. Bukan karena fokus dengan santapan mereka,namun mereka terdiam dengan pikiran masing-masing yang cukup mengganggu.
Pak Roby meletakkannya sendok dan garpu dengan pelan. Setelahnya,beliau meminum air putih hingga tandas dan mengelap mulutnya dengan serbet yang tersedia.
"Papa akan merestui kalian dengan syarat, Mentari harus lulus sekolah dulu"
Pernyataan yang sontak membuat seluruh anggota meja makan memperhatikan beliau.
"Makasih pa", ucap Awan tulus. Dia tahu ayahnya ada di pihaknya.
"Memangnya kamu nggak mau kuliah dulu,sampai kamu mau dilamar Awan secepat ini?", kali ini mama Awan yang berbicara. Dari sini,Awan dan Mentari belum merasa lega karena sang mama Sepertinya belum memberikan restu.
"Saya sudah daftar kuliah Bu", jawab Mentari sopan. Dia juga merasa terintimidasi dengan mama Awan yang sedikit bersikap jutek.
"Kalau kamu kuliah, apa kamu bisa membagi waktu kamu antara kuliah dengan keluarga kamu nantinya?"
"InshaAllah Bu", Mentari masih merasa terintimidasi.
"Tapi mama ingin cepat punya cucu"
"Uhuk...uhuk....", Mentari tersedak nasi di mulutnya. Bukannya karena makan berlebihan,tapi Mentari kaget dengan permintaan calon ibu mertuanya itu.
"Pelan-pelan Mentari", Awan menepuk lembut punggung Mentari setelah memberikan segelas air minum yang lantas di minum oleh Mentari.
"Maaf",lirih Mentari merasa dirinya tak sopan.
Mama Awan menghela napas lemas. "Sepertinya harapan mama buat segera menimang cucu harus ditunda lagi".
"Tenang Ma... Setelah menikah, Awan akan membuat Mentari hamil". Pernyataan Awan sontak membuat Mentari melotot. Namun, setelahnya ia menunduk menyadari siapa yang berada di sekitarnya.
"Tapi apa bisa? Mentari masih sekecil ini", bu Mayang masih tak percaya.
"Bisa ma....mama tinggal bantu doa dan terus mendukung kami"
"Baiklah, mama akan bantuin Mentari kalau dia kesulitan kuliah dalam keadaan hamil nanti. Dan mama akan mengasuh cucu mama saat ibunya kuliah juga", ucap mama Awan menggebu. Sedangkan Mentari, tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya rencana pernikahannya dengan Awan. Bahkan untuk hamil saja belum ada di benak Mentari walau hanya membayangkan saja.
"Kalau begitu, mama juga merestui kalian. Mama sama papa akan datang untuk melamar Mentari setelah Mentari lulus", mama Awan masih berbicara menggebu.
"Emmm ma....", Awan melunturkan semangat bu Mayang. Beliau tahu gelagat anaknya menunjukkan sinyal kurang baik.
"Mentari ini yatim piatu. Bukankah Awan sudah pernah mengatakan kepada mama waktu itu"
"Kapan?",mama Awan nampak berpikir. Sebenarnya status yatim piatu tidak masalah bagi beliau.
"Waktu mama pertama kali bertemu Mentari di apartemen"
"Mama lupa", sahutnya. "Emangnya iya Dy?", Beliau bertanya kepada putrinya.
Cloudya hanya mengedikkan bahu. Dia sendiri juga lupa.
"Sudahlah... Kalau Mentari memang yatim piatu, kita bisa memintanya kepada siapapun yang menjadi walinya", Pak Roby menengahi.
"Mentari punya kakak yang tinggal di Bogor Pa", jawab Awan.
Pak Roby mengangguk. "Kita bisa melamar kepadanya",Pak Roby menatap Awan. "Kalian bisa tentukan sendiri waktunya. Papa akan sesuaikan dengan jadwal pekerjaan papa"
"Iya Pa...."
"Tapi sebelum itu, pastikan dulu perceraianmu dengan Lusi sudah selesai", Papa Awan mengingatkan.
"Baik Pa..."
"Om"
"Hmmm", Awan menoleh singkat ke Mentari lalu fokus lagi pada jalanan di depannya.
"Aku belum siap kalau punya anak sekarang Om", dia memberanikan diri mengeluarkan uneg-unegnya.
"Siapa yang minta kamu punya sekarang? Kamu punya anak nanti setelah kita menikah", jawaban enteng Awan sangat menyebalkan untuk Mentari.
"Maksud aku itu Om"
"Itu apa?", Awan masih berkilah. Dia takut pembicaraan ini akan berdampak perselisihan lagi diantara mereka.
Mentari menghela napas. Sadar kalau Awan tidak serius menanggapinya. Tapi dia tetap harus mengungkapkan kekhawatirannya sebelum pernikahan itu terjadi. Pasalnya hanya tinggal dua minggu lagi hari kelulusan Mentari. Dan itu artinya,setelah itu Awan akan segera melamarnya.
"Aku nggak mau kalau harus kuliah dalam kondisi hamil" ucapnya jujur.
Awan yang sekarang gantian menghela napas. "Kamu cukup jalani aja sebisa kamu. Aku akan selalu mendampingi kamu", Awan berusaha menenangkan Mentari.
"Nggak semudah itu Om. Om pasti udah pernah kan ngerasain beratnya belajar di universitas?". Ada jeda dati Mentari karena mengharapkan jawaban Awan. Namun nihil, Awan tetap diam. "Secara Om lebih tua dari aku", Mentari cemberut.
"Kok malah ngomongin tua sih? Aku tersinggung lho"
"Emang kenyataan kan Om itu lebih tua dari aku?",Mentari terkesan nyolot.
"Jadi kamu mau cari pasangan yang seumuran denganmu begitu? siapa? cecunguk itu?", Awan sedikit terbawa emosi.
"Aku nggak bilang gitu", Mentari pasrah Awan akan menanggapi apa. Bodo amat jika Awan salah paham dengan maksudnya. Dia sudah serisau ini jadi malas mau menjelaskan juga.
Awan melihat wajah malas Mentari. Dia tahu kekasihnya sedang bad mood dan risau soal cucu yang diminta mamanya.
"Maaf kalau aku egois", Awan menggenggam tangan Mentari. "Tapi mama sangat menginginkan cucu. Kalau kita ingin mendapatkan restu darinya, ya harus menuruti mama", sebisa mungkin dia bertutur lembut.
"Kamu nggak usah khawatir. Ada aku sama mama yang akan bantuin kamu nanti. Kamu denger sendiri yang mama bilang?"
"Tapi adik kamu nggak suka sama aku", itu juga yang membuat Mentari ragu.
"Cloudya itu anak yang baik. Dia nggak sejahat itu"
"Karena dia adik kamu. Kamu pasti belain dia", Mentari benar-benar tidak dalam keadaan baik sekarang. Apapun bahasannya selalu membuatnya ingin marah.
"Iya... aku ngerti perasaan kamu. Makanya aku bilang kalau kamu tinggal jalanin aja. Kamu nggak harus maksain diri kamu. Jalanin sebisa kamu"
Mentari masih diam tak menanggapi.
"Percayalah Baby, aku akan selalu ada buat kamu. Aku sangat mencintai kamu. Aku nggak mau kita pisah lagi", Ia genggam lagi tangan Mentari yang ia lepaskan untuk fokus pada kemudi. Sekarang ia mengecup punggung tangan Mentari.
"Kamu nggak tahu betapa gilanya aku saat aku berpikir kita nggak akan bisa sama-sama lagi. Makanya aku melakukan apapun untuk mendapatkan restu keluargaku agar kita bisa bersama"
"Lalu dengan abangku, apa Om seyakin itu dia akan merestui kita?", Mentari tersinggung Awan agaknya meremehkan keluarganya. Mungkin Mentari sedang PMS, dia marah-marah terus dari tadi. Atau mungkin memang pembicaraan di rumah Awan tadi benar-benar menghancurkan moodnya.
"Bukan begitu Baby. Kita lakukan satu per satu untuk mendapatkan tujuan kita. Itu maksudku. Aku nggak bermaksud meremehkan kakak kamu"
Mentari masih diam dengan pikirannya sendiri.
"Kamu mau kan kita berjuang sama-sama buat mempertahankan hubungan kita dari sekarang sampai kita tua dan dipisahkan oleh maut?", tanya Awan penuh pengharapan.
Mentari diam sejenak. Sepertinya jalan kehidupannya akan berat meskipun menjadi istri seorang Awan yang notabenenya adalah orang kaya. Tapi bagaimanapun juga, dia mencintai Awan. Dengan sedikit keraguan Mentari mengangguk menyanggupi ajakan Awan. Untuk saat ini dia memasrahkan masa depannya kepada Awan.