Mentari

Mentari
Tawaran Rayan



Sudah tiga bulan berjalan sejak kandasnya hubungan Awan dan Mentari. Kendati demikian, hubungan Awan dan Lusi tak lebih baik dari pasangan yang sedang berseteru. Awan jarang pulang ke rumah mereka. Ia lebih senang menghabiskan waktu untuk bekerja keras dan pulang ke rumah orang tuanya.


Keluarga Awan yang pada awalnya protes karena Awan mengabaikan Lusi,kini sudah pasrah akan jalannya rumah tangga Awan. Mereka tidak bisa memaksa Awan untuk tak mengabaikan Lusi. Mereka cukup takut dengan ancaman Awan yang mengatakan akan meninggalkan Indonesia dan menetap di Amerika. Meninggalkan keluarga dan seluruh bisnisnya di Indonesia.


" Bayinya sehat ya...Posisinya juga bagus,jumlah ketubannya juga bagus. Usianya sekarang Sudah 27 minggu 16 hari ya pak. Sudah memasuki trimester tiga", dokter kandungan itu menggerakkan transducer diatas perut buncit Lusi. Ini pertama kalinya Awan ikut memeriksakan kehamilan Lusi.


Awan mengerutkan alisnya. "Trimester tiga? itu artinya sudah lebih dari enam bulan bukan dok?"


"Iya benar pak,usia kandungan ibu sudah menginjak usia enam bulan lebih. Ibu harus sering melakukan olahraga-olahraga kecil yang aman untuk ibu hamil. Ibu juga bisa mengikuti kelas kehamilan"


Awan menyeringai. Lusi sudah tampak keluar keringat dingin. Awan tahu kenapa selama ini Lusi tidak pernah memintanya untuk menemani periksa kehamilan. Dia sudah mengantongi satu kelemahan Lusi tanpa dicari.


Awan berjalan terlebih dulu saat sudah keluar dari ruangan dokter kandungan. Lusi yang perutnya sudah menonjol sedikit kesulitan mengimbangi langkah Awan.


"Sayang,tungguin donk! Jangan cepet-cepet jalannya"


Awan berhenti,berbalik menghadap Lusi,"Seperti biasa,urus sendiri urusan kamu dan calon bayimu itu. Kamu lihat?! Dokter tadi secara tidak langsung mengatakan kalau bayi dalam perut kamu itu bukan anakku"


"Kamu tega banget sih yang?!"


"Kita akan tahu nanti,siapa yang lebih tega. Dan kalau kamu berpikir aku adalah orang yang tega,ya,kamu benar,aku bisa melakukan hal gila yang lebih dari kata tega untuk seorang pembohong sepertimu", Awan menekan telunjuknya pada bahu kiri Lusi.


Lusi tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia jiper dengan ancaman Awan. Dia sendiri yang tahu dimana letak kesalahannya. Dia hanya bisa menikmati hilangnya punggung Awan dibalik dinding rumah sakit dengan tatapan nanar.


***


Sama halnya dengan Awan dan Lusi. Hubungan Mentari dan Angga juga tak ada perkembangan sama sekali. Malahan Angga sudah mengibarkan bendera putih. Jiwa playboynya sudah meronta ingin dipuaskan para wanita.


"Gue kan udah bilang,kalau mau pergi,pergi aja Ngga",Mentari tertawa." Gue juga nggak bisa jamin kapan hati gue luluh sama lo".


Mereka sedang nongkrong di depan sekolah. Entah apa yang mereka tunggu ,tapi memang selalu asyik nongkrong sepulang sekolah. Seluruh siswa kelas XII telah selesai mengikuti ujian Nasional minggu lalu. Hanya tinggal bersantai menunggu hasil kelulusan.


"Emangnya lo nggak cemburu lihat gue bawa-bawa cewek?", Angga masih sedikit berharap.


"Kalau lo seneng,gue juga seneng Ngga. Asal lo inget aja batasan bermain cewek"


"Kok lo nggak cemburu sih Tar? Ck, padahal gue berharap lo nglarang gue jadi playboy lagi" Angga berdecak kesal.


Mentari tertawa keras. "Ya sorry Ngga, perasaan kan nggak bisa dipaksa"


"Tapi gue akan tetep nungguin lo sambil mainin cewek", Angga berucap asal. Entah sejak kapan panggilan lo gue mulai tersemat di obrolan mereka.


"Jangan donk! Lo harus bisa serius sama satu cewek Ngga. Berhenti bermain-main kalau nggak mau kena karma"


"Gue udah dapet karmanya"


"Masak?!",


" Ya! Dan itu dari lo yang sama sekali nggak nganggep gue"


Mentari tertawa lagi sampai mencuri atensi teman-teman mereka yang duduk sedikit jauh dari mereka. Namun, tetap mereka abaikan.


"Gue kayaknya kalah pesona dari om om bau tanah"


"Gue udah nggak sama dia ya....",Mentari mengingatkan. Dia tahu siapa yang dimaksud Angga.


"Bukan cuma dia om om lo kan?"


"Maksud lo?", Mentari bingung. Apa Angga menganggapnya sugar baby juga?


"Lo lihat itu?!", Angga menunjuk dengan dagunya. Dan Mentari mengikuti petunjuk Angga."Orang itu nyariin lo dari kemarin. Sengaja aja gue bilang lo udah pulang,padahal lo masih didalem"


"Kenapa emangnya?" Mentari bertanya sambil terus memperhatikan seseorang yang berdiri mengamati mereka. Tatapan mereka bertemu.


"Gue nggak rela aja lo digebet sama om om lagi"


Mentari beralih ke Angga,ia tertawa lagi. "Kenapa nggak rela?"


"Pasti gue kalah saing lagi. Lo lihat kan mukanya ganteng gitu",Angga yang sekarang memang lebih terbuka daripada Angga yang dulu sok jaim. Mungkin juga karena sudah cukup lama berteman.


"Gantengan mana sama om Awan?", Mentari malah menggoda Angga.


"Gantengan gue lah....". Mentari semakin cekikikan.


"Tau nih...Curang kalian!",Arya sok merajuk.


Angga dan Mentari hanya tertawa kecil menanggapi mereka.


"Lo kenal dia Tar?", Angga beralih ke Mentari lagi.


Mentari menoleh ke Angga. "Kenal"


"Siapa?", alis Angga berkerut, dia bertanya dengan membentak.


"Direktur di perusahaan tempat ayah gue kerja dulu"


"Kok nyariin lo?"


Mentari mengedikkan bahu. Sementara seseorang yang sedang dibahas hanya diam mengamati Mentari dari samping mobilnya. Ia bersandar di body mobil dengan kerennya. Masih dengan setelan jas lengkap yang membuat tampilannya semakin menawan. Jelas saja,orang yang lewat akan menyempatkan diri menoleh kepadanya.


Mentari dan teman-temannya berniat untuk berpindah tempat ke warung mie ayam mang jajang. Mereka bergegas menaiki motor masing-masing. Masih dengan formasi sama yaitu para lelaki yang membawa motor sementara Mentari dan Meli memboceng pasangan mereka masing-masing.


Baru saja Angga melepas kopling, ada suara yang menghentikannya.


"Tunggu!",seru Rayan menghadang motor Angga.


Angga mematikan motornya.


"Bisa bicara sebentar Mentari?"


Angga menoleh kebelakang bertatapan dengan Mentari.


"Ada apa ya pak?", tanya Mentari setelah berhasil turun dari motor Angga.


"Bersedia ikut dengan saya? saya nggak bisa bicara di sini"


Mentari beralih ke Angga," Gue nggak ikut dulu ya Ngga,Sorry"


"Ya udah,kalau ada apa-apa kabarin aja",Angga mulai menyalakan motornya. "Gue cabut dulu ya. Dan lo,hati-hati", ucap Angga sembari mengacak rambut Mentari.


"Mau bicara di mana Pak?",tanya Mentari setelah Angga beranjak menjauh.


"Ayo ikut saya!", Rayan berjalan mendahului Mentari. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Mentari masih diam. Sepertinya ia sedang bingung dan sedikit waspada.


"Saya nggak akan berbuat aneh-aneh",Rayan meyakinkan Mentari.


Mau tak mau Mentari mengikuti Rayan masuk ke dalam mobilnya.


"Kita mau kemana Pak?", tanya Mentari saat mobil sudah mulai berjalan.


"Kita cari makan sambil ngobrol"


Mentari mengangguk. Dia sendiri bingung kenapa Rayan mencarinya. Dan hal apakah yang sekiranya ingin ia sampaikan ke Mentari?


"Kamu nggak usah takut, saya cuma mau menyampaikan soal tawaran beasiswa ke universitas sebagai kompensasi atas kecelakaan ayahmu"


" Emangnya ada peraturan seperti itu pak?", Mentari ragu.


"Ten...tentu saja ada. Khusus di perusahaan saya tentunya. Kebijakan dari dalam perusahaan", Rayan berkilah. Padahal itu akal-akalannya saja agar bisa bertemu Mentari


"Bukankah kompensasinya sudah kemarin itu Pak?"


"Iya, itu juga termasuk hak keluarga korban. Apalagi tulang punggung sudah tiada. Kami membuat kebijakan untuk memberikan pendidikan yang layak untuk keluarga korban"


"Beneran Pak?", Kali ini Mentari tak ragu lagi,dia malah antusias. Dia mulai percaya dengan Rayan.


"Tentu saja! Apa kamu mau?"


"Ya saya mau pak",ucap Mentari lantang. Dia senang, bersyukur karena cita-citanya ingin melanjutkan ke universitas akhirnya tercapai juga. Nanti dia berniat kuliah sambil bekerja.


"Kamu kelas berapa sekarang?"


"Saya sudah selesai ujian nasional Pak,tinggal nunggu kelulusan"


"Oh bagus,kamu bisa langsung konfirmasi ke perusahaan saya nanti. Kamu bisa bertemu Jimi yang akan menjelaskan semuanya". Sekali lagi para boss mengorbankan asistennya untuk kepentingannya sendiri. Padahal bila dicermati,urusan seperti itu tidak akan ditangani langsung oleh sang direktur. Dia punya banyak karyawan dan orang-orang terpercaya untuk menjalankan tugas masing-masing. Termasuk mengurusi soal karyawan.