
"Maaf bu, suaminya mana?" tanya suster.
"Astaga suaminya pingsan" Ucap dokter setelah melihat kearah lantai.
Arka tergeletak di lantai saat mendengar suara tangis anaknya saat lahir.
Suster menyadarkan Arka dengan memanggil-manggilnya sebutan bapak. Arka mulai tersadar dengan membuka mata perlahan dan mulai sadar kalau dia sekarang terbaring diatas lantai. Ia bangkit dengan cepat dan saat itu bayi mereka berada dalam gendongan Mentari.
Mentari melihat suaminya bangun dia menyambutnya seulas senyum, andai Mentari keadaan seperti biasa mungkin akan menertawai suaminya tapi karena dalam kondisi habis melahirkan maka dia hanya mampu tersenyum.
"Cahaya ku" Gumam Arka sambil mengelus pipi gembul putri kecil mereka.
Mentari melahirkan bayi perempuan yang sejak dulu keduanya tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Mereka ingin jenis kelaminnya itu kejutan bagi mereka berdua begitupun dengan keluarga.
"Maaf ya bu pak, bayinya kami pindahkan dulu ke kamar bayi yaa dan ibunya kami pindahkan untuk istirahat" Ucap dokter itu, "Dan pak Arka boleh keluar nanti ibu Mentari kami bawa dikamarnya" Sambungnya.
"Iya, terima kasih dok" Ucap Arka dan keluar dari ruangan persalinan itu.
Kedatangan Arka itu merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh keluarga, ia keluar dengan wajah berseri-seri dan senyum yang tidak luntur diwajahnya.
"Gimana keadaan cucu ku dan anak ku Arka?" tanya ibu Anita.
"Cucu ku juga itu Anita, gimana nak keadaan cucu ku dan mantu ku?" tanya ibu Dewi.
"Alhamdulillaah selamat dan keduanya sehat" jawab Arka.
Seketika mereka berucap serentak, "Alhamdulillah, ya Allah"
5 menit kemudian pintu persalinan itu terbuka, saat itu Mentari dan bayinya keluar bersamaan dari ruangan yang sama hanya tujuan yang berbeda termasuk dokter setelah keluar dari ruangan itu mengucapkan kalimat selamat kepada keluarga besar Purnawan dan Algantara atas kelahiran cucu pertama mereka.
"Lho cucuku mau dibawa dimana?" tanya ibu Anita sambil menunjuk suster yang menggendong anak Mentari dan Arka itu.
Aldi merasa pusing dengan pertanyaan ibunya, kadang berpikir rasional itu jauh dari benak perempuan dalam hitungan menit. Mana mungkin dibawah kabur sudah pasti di bawah di ruangan khusus bayi yang baru lahir.
"Bunda, ini masih jam 3 pagi jadi pasti dibawah ke ruangan bayi lah" ucap Aldi.
"Bunda juga tau" Jawab ibu Anita.
Aldi memilih diam, bagaimana bisa sudah tau tapi masih bertanya seakan tidak tau apa-apa.
"Bunda yang menang" Jawabnya setelah lama diam.
Arka pun hanya senyum mendengar ucapan orang disekitarnya, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba ia kepikiran dengan anaknya, ia ingin melihatnya padahal baru saja memegang pipinya di ruang persalinan tadi.
"Rasanya aku harus melihat anakku lagi" Batinnya lalu pergi.
Ibu Dewi dan Anita melihat Arka pergi langsung mengikutinya, ia tau kalau Arka pasti melihat anaknya.
"Kita punya cucu sekarang" ucap Anita
"Iya, tidak terasa yaa sekarang akan dipanggil oma" timpal ibu Dewi.
"iya, saya juga maunya di panggil oma, tapi ngomong-ngomong namanya siapa cucu kita ini?" Tanya ibu Anita.
"Oh iya ya, apa sudah menyiapkan namanya Anita?" Tanya balik ibu Dewi.
"Itu urusan ibu dan ayahnya, yang terpenting saya sudah punya cucu" jawab ubu Anita penuh dengan bahagia.
"Ok, jangan protes ya kalau Algantara tidak di sematkan dinama cucu kita" Ucap ibu Dewi membuat ibu Anita berhenti melangkah.
"Gak bisa dong" ucapnya lalu melanjutkan jalan.
Arka yang mendengar itu hanya geleng kepala, ia membenarkan ucapan ibu mertuanya namun yang ia lakukan sekarang terus melihat bayinya lewat kaca ruangan itu.
"Ayah mu ada disini nak" Ucap Arka.
Ibu Dewi dan Anita pun melakukan hal yang sama dengan Arka.
"Cucuku dari mata sudah di tau kalau dia keturunan Algantara" ucap ibu Anita dengan senyum yang tidak luntur di wajahnya sambil melihat cucunya itu.
"Dari bentuk wajah, mirip sekali dengan Arka" Timpal ibu Dewi.
"Iya dong bu, masa mirip tetangga" Jawab Arka menimpali ucapan ibunya itu.
"Benar juga, hehehe" ibu Dewi membenarkan ucapan anaknya dan diakhiri dengan tawa bahagia.
5 menit kemudian, mereka memutuskan untuk kembali melihat Mentari yang sudah di kamar inapnya.
Mereka masuk bertiga dan dalam ruangan itu terdapat Aldi, Rahmat dan Hadi, selama para ibu-ibu dan Arka pergi para bapak-bapak dan Aldi lah yang menemani Mentari dikamarnya.
"Selamat sayang" Ucap ibu Dewi dan Anita lalu memeluk Mentari bergantian.
"Sudah bisa menyusui gak nih?" Tanya Ibu Anita.
Wajah Mentari seketika memerah karena malu.
"Ibu muda malu" Goda Aldi.
"Kak Aldi awas ya, kalau nanti istri kakak melahirkan, aku balas" Ucap Mentari sambil melirik kakaknya itu.
"Sudah-sudah, gak pernah akur kalian berdua" Tegur Hadi.
"Gimana pulang saja dulu bu, yah, papa dan bunda nanti besok pagi baru datang lagi" Ucap Arka karena melihat orang tua dan mertuanya sepertinya sangat mengantuk, "Kecuali Aldi" sambungnya.
"Cukup saat Mentari hamil aku disuruh berbagai macam, aku tidak mau ladenin kegilaan ibu dan ayahnya" jawab Aldi dan seketika orang tua mereka tertawa.
"Sepertinya Aldi harus dicarikan bun" Ucap Mentari lagi.
"Mau ditemanin di Rumah sakit ini atau tidak?" tanya Aldi, ia selalu mengalihkan pembicaraan jika bahas tentang pasangan hidup.
"Dia pandai mengalihkan pembicaraan bahkan mengancam juga" Ucap ibu Anita lalu kembali menghampiri Mentari.
"Bunda dan papa pamit pulang ya, besok kami akan datang lagi" Ucap Ibu Anita pada putrinya itu sembari mencium kening anaknya.
"Baik-baik disini ya nak" Ucap Hadi lalu mengusap kepala anaknya itu yang diangguki oleh Mentari.
Begitupun dengan orang tua Arka, mereka melakukan hal yang sama lalu mereka pulang bersama.
Diruangan itu tinggallah mereka berdua. Mentari mencoba untuk isengin suaminya,
"Waktu di ruang persalinan, kenapa kakak tiba-tiba hilang?" Mentari pura-pura bertanya.
Arka memicingkan matanya, "saya tau saat ini lagi ledekin aku karena pingsan kan?" tanya balik Arka, Arka seakan tau isi kepala istrinya.
"Aku gak ngomong kayak gitu ya kak, kakak sendiri yang bilang" ucap Mentari lagi sembari memejamkan mata dengan sudut bibir tersenyum.
"Kak tau arah pembicaraan mu. Istrahat, sekarang sudah jam setengah empat pagi" Ucap Arka lagi.
"Hmmm" jawab Mentari lalu ia mencoba untuk tidur.
Mentari tidur sampai jam 6 pagi dan saat itu suster membawa bayi Mentari untuk disusui.
Mentari bangun dibantu oleh suaminya, setelah duduknya dengan posisi nyaman menurut Mentari baru ia menggendong anaknya dan suster pun pergi.
"Anak ayah haus ya?" tanya Arka sambil mengelus pipi gembul anaknya dengan jari telunjuknya.
"Iya ayah" jawab Mentari menyerupai suara anak kecil.
"Hahaha" suara tawa bahagia Arka lalu wajahnya tiba-tiba serius menatap wajah sang istri.
"Dek, terima kasih sudah memberikan bayi yang lucu, gemasin pula" Ucapnya lagi.
"Iya" jawan Mentari singkat yang masih fokus menyusui anaknya.
"Kok responnya segitu saja" Protes Arka.
"Ssttt" Mentari mengangkat tangan dan menempelkan jarinya dibibir tanda dilarang ribut.
"Iya" ucap Arka mengalah, "hmmm, mengalah demi anak" sambungnya lagi lalu ia memilih duduk di kursi dalam kamar itu.
Tidak terasa sudah tiga hari di Rumah Sakit dan saat ini mereka akan keluar dari RS tersebut, tapi pertanyaannya dirumah siapa untuk mereka tinggalin sementara. Sambil menunggu jemputan keluarga besar datang di Rumah Sakit Mentari menyusui putri kecilnya. Ia menyesui sambil menatap wajah bulat anaknya.
"Enak ya nak, tinggal diperut bunda 9 bulan 10 hari tapi wajahmu mirip ayah. Curang kamu nak sama ibu" Ucap Mentari.
Arka yang mendengar itu langsung kembali menghampiri sang isteri ditempat tidur.
"Iya dong, kami pemenang disini, iya kan nak?" ucap Arka lalu ia sekilas mecium pipi anaknya seketika sang bayi menangis karena kaget.
"Astaga kak, dia nangis" ucap Mentari sambil menepuk-nepuk pantat si bayi dengan pelan.
Arka bingung setelah melihat anaknya menangis karena ulahnya, "Gimana dong, apa kakak nyanyikan saja?" tanya Arka.
Mentari melihat itu bukan tambah marah tapi malah ingin ketawa, tapi melihat anaknya yang terus menangis membuatnya kesal melihat suaminya.
"Diam kak, jail banget sama anak sendiri" Marah Mentari dan Arka pun diam.
Dari luar dengan berbagai bawaan orang tua Arka dan Mentari termasuk Aldi mendengar suara tangisan bayi itu.
"Ini ni yang aku khawatirkan Dewi" ujar Anita. ia tau kalau itu suara tangis cucunya.
"Tapi biasanya bayi yang baru lahir itu suara tangisnya tidak besar dan tidak lama" ujar ibu Dewi heran dengan suara tangis sang cucu itu.
"Kalau ibunya tau cara menangani anaknya, ini Mentari masih baru belum ada pengalaman" ucap ibu Anita lagi.
Lalu mereka masuk dalam kamar Mentari terlebih dahulu mengetuk dan beri salam.
Mentari yang terus menepuk pantat anaknya sedangkan sang bayi terus menangis.
"Ini kenapa?" tanya ibu Anita.
"Kaget bu" Jawab Mentari.
"Kok bisa" Ibu Dewi ikut menimpali.
"Ulah ayahnya" jawab Mentari sambil menunjuk Arka yang duduk diam di kursi.
"Hmmmm, sini ibu yang gendong" ibu Dewi menawarkan diri dan tanpa menunggu waktu lama Mentari langsung memberikan anaknya kepada mertuanya itu.
Dalam gendongan ibu Dewi sang bayi terus menangis, lalu beralih kepada ibu Anita, dalam gendongan ibu Anita pun sama seperti ibu Dewi, bayi Mentari terus menangis.
"Coba para bapak-bapak" usul Arka.
"Enak ya bapaknya bilang seperti itu, dia malah santai duduk" ujar Aldi.
"Bukan tidak mau, tapi ibunya yang menyuruh saya diam" jawab Arka.
Bayi pun sekarang berada dalam gendongan Hadi tapi tidak berbeda jauh dengan Dewi dan Anita.
"Coba pak Rahmat, siapa tau rindu kakeknya" ucap Hadi.
Seketika bayi Mentari berada dalam gendongan pak Rahmat, awalnya ia berhenti menangis tapi tiba-tiba kembali bersuara.
"Ya Allah nak" Mentari heran dengan putri kecilnya itu.
"Sepertinya cucuku haus" Ucap pak Rahmat tiba-tiba mencoba memahami cucunya meskipun ia tidak tau apa benar ucapannya itu.
Si bayi kembali pada Mentari dan benar saja setelah minum ASI, ia diam dan langsung tidur. Semua dalam ruangan itu bernapas lega termasuk Arka.
"Sekarang kita pulang, sebelum dia menangis lagi" ujar Arka lagi.
Mereka keluar bersama, tapi yang membingungkan sekarang kenapa Aldi banyak bawa barang.
"Ini apa?" tunjuk Arka melihat tas besar yang Aldi pegang.
"Ulah ibu mu dan bunda, saya juga tidak tau isi tas ini apa" jawab Aldi.
Mereka pun sampai mobil, Arka langsung membuka pintu mobil bagian penumpang dan Mentari hendak masuk tapi tiba-tiba di cegah oleh para tetua ibu-ibu.
"Keluarkan isi tas nak" ucap ibu Anita.
"Memangnya..." Ucap Mentari dipotong langsung oleh ibu Anita.
"Demi cucu, iya kan Dewi?"
"Iya" jawab ibu Dewi sembari membentangkan kain untuk melapisi tempat duduk Mentari dan bayi.
Semua yang melihat itu heran kecuali ibu Dewi dan ibu Anita karena itu ide mereka berdua.
"Itu harus?" tanya Arka, ia tidak sampai kepikiran untuk melapisi tempat duduk kemudi mobil Aldi dengan kain.
"Iya, harus seperti itu. Masuk sayang" Ucap ibu Dewi dan mempersilahkan Mentari masuk dalam mobil.
"Bawa mobil pelan-pelan yaa" Sambung ibu Anita mengingatkan anaknya.
"Iya bun, mana ada sih ngebut bawa bayi" jawab Aldi asal lalu masuk dalam mobil dan duduk di bagian kemudi.
Semua sudah masuk dalam mobil kecuali Dewi dan Anita.
"Apalagi yang diurus bu?" tanya pak Rahmat.
"Tunggu, sebentar yah" jawab ibu Dewi, "Yah mobil kita duluan diikuti mobil Aldi dan disusul mobil pak Hadi, biar aman" sambungnya dan di oke kan oleh ibu Anita.
Dalam mobil mendengar arahan ibu Dewi itu, ada yang garuk kepala yang tidak gatal yaitu Arka dan Aldi malah menghela napas saking lamanya menunggu sejak tadi, sedangkan Hadi dan Rahmat hanya geleng kepala mau protes tapi mereka sadar yang dilawan ini ibu-ibu, semua percuma dan malah memperlambat semuanya.
...Semoga Suka 😊...
...Jangan lupa Like, Komen, Share ke teman-temannya yaa....
...Terima Kasih sudah mendukung Mentari sampai saat ini 🙏😊...