Mentari

Mentari
keputusan



Mentari terpaksa mengikuti Indra ke coffee shop bersama temannya. Mentari sesekali melirik takut kepada dua teman Indra. Sepertinya dia pernah melihat dua orang itu.


"Ngapain kamu lirik-lirik begitu? jangan bilang kamu naksir sama salah satu dari bapak-bapak keren ini?", celetuk Indra to the point tanpa saringan.


Mentari melotot ke Indra kesal. Dia juga malu dengan client Awan. "Eng...nggaklah om".


mereka malah kompak menertawakan Mentari. Jangan lagi tanyakan bagaimana Mentari,tentu saja dia malu setengah mati.


"Kamu tadi kenapa?",tanya Indra setelah selesai dengan tawanya.


"Nggak apa-apa",jelas saja Mentari malu curhat di depan banyak orang.


"Maaf pak Indra, kalau boleh tahu siapa Mentari ini?", ucap seorang dari mereka penasaran


"Jadi gini, Mentari ini kekasih dari pak Awan,eh ralat selingkuhan tepatnya", Indra tertawa sebentar, "Anda tahu sendiri kan boss saya sudah menikah beberapa minggu yang lalu"


Mereka berdua nampak kaget, tak percaya dengan kelakuan Mentari yang sepertinya gadis polos.


"Apa dia sugar baby?", pria perlente itu menaikkan satu alisnya.


Mentari berdiri tiba-tiba,dia tak terima dikatakan sebagai sugar baby." Saya nggak peduli siapa anda berdua. Tapi asal anda tahu,saya bukan sugar baby", kata Mentari lantang dan kurang sopan.


Indra merasakan situasi mulai tak nyaman. "Begini bapak-bapak, bukan dia bukan sugar baby. Dia ini beneran kekasih Awan. Tapi Awan malah dinikahkan dengan Lusi, pacar Awan sebelumnya tapi status mereka sudah putus", jelas Indra.


"Duduk Mentari! Dan cepat minta maaf",titah Indra.


Mentari yang memang bukan pembangkang akhirnya menurut. Ia duduk," Maaf om", cicitnya. Dia bukan tipe anak kurang ajar.


"Nggak apa-apa, saya juga minta maaf. Jangan diambil hati ya", ujar pria itu lembut.


Mentari tersenyum.


"Apa kamu tidak mengingat kami Mentari?",pria itu bersuara lagi.


Mentari menatap intens kedua orang itu. Benar feelingnya, seperti mengenal mereka. Mentari belum dapat jawaban siapa sebenarnya mereka.


"Baiklah kalau kamu lupa,kita kenalan lagi. Saya Rayan, direktur tempat ayah kamu dulu bekerja",ucapnya sambil menyodorkan tangan ke Mentari.


Mentari terkejut, menutup mulutnya.


"Ini asisten saya,Jimi",imbuhnya lagi.


"Tar?!", Indra menepuk lengan Mentari menyadarkan.


Mentari mengerjap gugup. "Ma..maaf pak, saya tidak mengenali pak Rayan dan pak Jimi"


Rayan tertawa kecil, "Tapi kamu sepertinya mengingat kami ya?",Rayyan paham gelagat Mentari.


Mentari mengangguk dan tersenyum.


"Jadi dulu sebelum meninggal ayah Mentari kerja di perusahaan Bapak?",tanya Indra


"Iya, mungkin Pak Indra juga mengenal ayah Mentari?"


"Maaf Pak Rayan, saya dan pak Awan mengenal Mentari saat beliau sudah tidak ada"


"Oh begitu", Rayan manggut-manggut. "Tapi maaf kalau pertanyaan saya bersifat pribadi pak Indra. Bagaimana bisa Pak Awan pacaran dengan gadis SMA seperti Mentari? Setahu saya permpuan disekitar Pak Awan selama ini adalah wanita dewasa semua dan mereka juga seksi"


Indra tertawa terbahak. " Jadi menurut anda Mentari ini tidak seksi begitu Pak Rayan?"


"Maksud saya jelas berbeda Pak, tubuh remaja dan orang dewasa yang sudah matang, ya Bapak tahu sendirilah, pandangan kita sebagai lelaki", Alasan Rayan dengan kikuk.


Mentari cemberut,merasa jadi bahan ledekan. Indra yang melihat reaksi Mentari malah semakin tertawa terbahak-bahak.


"Ehem, Jangan suka meledek anak kecil Pak! Ingat anda menyukai tipe-tipe sugar baby", baru berbicara sekali dari tadi tapi mampu membungkam Rayan dan Indra dari tawanya. Rayan malu dan Indra terkejut.


Kini malah Mentari yang tertawa melihat reaksi mereka. "Rasain,!!satu sama. Makanya jangan suka meledek anak kecil",cibir Mentari. "Pak Jimi emang hebat!",puji Mentari.


Dari situ mereka langsung bisa nampak akrab satu sama lain. Meskipun mereka welcome tapi Mentari tetap tahu batasan. Ditengah keseruan mereka, ponsel Indra berdering.


"Cari Mentari Ndra! Jangan sampai dia berduaan sama cecunguk itu. Dia nggak datengin gue dari tadi". Indra sampai menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga mendengar suara petasan Awan.


"Mentari sama gue boss"


"Kenapa dia sama lo?", Awan kaget.


"Lo yang kenapa,tadi Mentari nangis-nangis pas ketemu gue,tapi dia nggak mau cerita"


"Lo dimana sekarang?"


"Di coffee shop"


"Tunggu gue kesana sekarang". Sambungan telepon itu terputus sepihak.


"Om Awan mau kesini?",Tanya Mentari.


"Hmm"


"Ya udah aku balik aja ke kamar",Mentari beranjak dan ditahan oleh Indra.


Mentari menimbang perkataan Indra. Dia memutuskan untuk duduk lagi menunggu Awan.Baru saja Mentari menjatuhkan bokongnya, Awan sudah datang dengan setengah berlari.


"Pak Rayan? Pak Jimi? anda disini juga?", Awan terkejut mendapati dua kolega bisnisnya. Ia menyalami kedua orang itu.


"Iya Pak Awan,kami sedang merencanakan pembangunan hotel di lahan sebelah sana", tunjuk Rayan pada sebuah lahan luas yang nampak masih tak terurus.


"Wow hebat sekali anda ini, semua wilayah sudah dijajah dengan bangunan pak Rayan"


"Anda terlalu memuji Pak Awan, Anda saja lebih sukses dari saya,bisnis anda datang dari bermacam perusahaan, dari produk makanan sampai bahan bangunan, belum yang lainnya, seperti bisnis retail juga pakaian"


"Itu semua masih milik kakek saya Pak, berbeda dengan anda yang sudah memiliki perusahaan sendiri"


"Pak Awan bisa saja,itu juga warisan", pernyataan Rayan menimbulkan gelak tawa dari para pria dewasa itu.


Momen itu, Mentari gunakan untuk diam-diam melarikan diri. Ia berjalan mundur pelan-pelan. sambil mengamati situasi. Setelah dirasa cukup aman, Mentari berbalik dan siap ber....


"Mentari!! Mau kemana kamu?". Mentari berhenti saat mendengar instruksi itu.


"Mohon maaf Pak Rayan, saya masih ada keperluan. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol lebih banyak lagi", Awan harus secepatnya menjelaskan kepada Mentari.


"Oh iya silahkan! Selamat berjuang Pak Awan"


Meskipun bingung, Awan mengiyakan saja ucapan Rayan. Ada yang lebih penting yang harus ia lakukan di sekarang. Awan segera mengejar Mentari yang sudah mendahuluinya setelah berbasa basi dengan Rayan.


"Kenapa Pak Awan tidak jujur aja sama keluarganya Pak Indra?",tanya Rayan penasaran saat Awan berlalu.


"Tentang apa pak?"


"Tentang hubungannya dengan Mentari"


"Kalau soal itu ,anda tahu sendiri kan perkawinan bisnis antar pengusaha?!", Jelas Indra dengan tertawa kecil,memperkuat alasannya. Indra jelas tak berani mengatakan yang sebenarnya bahwa Lusi hamil diluar nikah. Itu akan sangat mencoreng nama baiknya.


"Jadi Pak Awan korban perjodohan? kasihan sekali dia"


Indra hanya tersenyum menanggapinya.


***


"Baby, pleasa kamu jangan lari terus", Awan sudah ngos-ngosan mengejar Mentari.


"Siapa suruh ngejar?"


"Kamu kenapa sih, Baby?", Awan mendekati Mentari yang telah berhenti karena terpojok pagar pembatas jurang.


"Tanya sama om sendiri, aku yakin om tahu jawabannya".


Awan mengungkung tubuh Mentari dengan tangan yang menyangga pagar pembatas. Posisi mereka sangat dekat. "Kamu lihat Lusi tadi?", tanya Awan.


"Pikir sendiri!", Mentari masih ketus meskipun jantungnya dag dig dug akibat berdekatan dengan Awan.


"Mungkin kamu lihat aku tolongin Lusi tadi. iya kan?"


Mentari diam.


"Aku nggak tahu kalau dia juga disini, sepertinya dia sengaja. Tapi sumpah aku juga kaget ada dia tadi"


Mentari melengos,ia memutar tubuhnya membelakangi Awan. Ia tatap pemandangan malam dengan kerlip lampu-lampu yang indah dibawah sana.


"Dia tadi katanya keram perut, terus minta tolong sama aku buat bantuin ke kamar. Dan aku juga baru tahu kalau ternyata kamar kami bersebelahan", Jelas Awan. Ia lingkarkan tangannya ke perut Mentari,memeluk gadis itu dari belakang.


"Aku udah ambil keputusan om", jawaban dari Mentari membuat Awan mengernyikan alis.


"Aku mau kita nggak berhubungan lagi om"


"Maksud kamu apa?", Awan kaget. Dia membalikkan tubuh Mentari dengan kasar.


"Aku mau kita sudahi hubungan konyol ini",memandang lebih dalam manik Awan,dan mendapatkan balasan yang sama.


"Aku yang akan dicap jelek nanti ketika hubungan kita ketahuan.Kalau om serius sama aku, segera selesaikan urusan om dengan istri om. Baru setelah itu datang kepadaku", dia berusaha menghalau jatuhnya air mata.


"Iya, aku pasti selesaikan Baby, tapi se..."


"Aku mau kita nggak berhubungan lagi sebelum om selesaikan urusan om", Mentari memutus penjelasan Awan.


"Tapi Baby, aku cu....", sekali lagi perkataan Awan terpotong. Kali ini dengan ciuman Mentari di bibirnya. Ia jelas kaget,tapi tetap membalas ciuman Mentari.


Saat Awan sedang menikmati ciuman di tempat sepi itu, Mentari lebih dulu menghentikan.


"Kenapa?", Awan berpikir Mentari malu jika dilihat orang ," Nggak ada orang baby"


"Ini ciuman perpisahan kita. Jangan temui aku secara sengaja kalau om belum selesai dengan istri om. Aku nggak mau menyakiti perempuan lain, apalagi dianggap sebagai perusak rumah tangga orang", Jelas Mentari panjang lebar sebelum berlari meninggalkan Awan. Air matanya mulai tak terbendung.


Awan bingung kenapa Mentari seperti itu tiba-tiba. Padahal soal Lusi, dia sudah jelaskan tadi. Tapi sekarang, jangankan mempercayai penjelasan Awan, Mentari justru tak menghiraukan alasan Awan.


Jarak beberapa meter dari tempat itu, ada dua orang yang sedang mengamati di tempat yang berbeda. Satu dengan tatapan sinis namun senang, satu lagi dengan rasa penasaran yang amat tinggi. Dia adalah Lusi dan juga Rayan sang pecinta sugar baby.