Mentari

Mentari
obsessive love disorder



"Ndra, cepet hubungi James sekarang!"


"Ada masa masalah apa?", Indra yang baru saja masuk ke ruangan Awan langsung di sambut oleh teriakan Awan.


"Mentari di culik", Awan gusar.


"What?!"


"Ini serius apa bagian dari rencana kejutan lagi?", Indra masih sempat-sempatnya bercanda.


"Lo budeg? kalo gue yang bilang, itu berarti serius, bangsat" , Awan mengumpat Indra saking emosi nya." Cepet hubungi James!"


"Oke, gue kerjain", setelahnya Indra langsung menghubungi James,orang kepercayaan keluarga Mahardhika yang telah mengabdi belasan tahun.


"James langsung ke lokasi. Lo mau kesana atau gimana?", Indra bertanya selembut mungkin. Tak ingin menambah beban pikiran sang sahabat.


"Kita kesana!", tanpa berpikir Awan segera melesat dengan segudang ke khawatiran dan emosi yang masih meledak mendahului Indra yang mengekor di belakangnya.


Rupanya kabar di culiknya Mentari telah di Dengar oleh pak Roby. Pria itu tak kalah terkejutnya mendengar hal itu, namun beliau masih bisa berpikir jernih. Dan sekarang, seluruh keluarga besar Awan sudah berada di rumah Awan untuk mengorek informasi dari Cloudya yang masih shock. Awan tak jadi ke TKP setelah mendapat kabar dari James jika tak ada tanda-tanda petunjuk tentang Mentari.


"Jelasin apa yang terjadi dengan kalian Dy!", Awan berusaha berbicara tenang kepada adiknya.


"Gue nggak tau kak. Gue tungguin Mentari sampe slese kuliah soalnya mama minta Mentari di pingit. Abis itu udah.... kita langsung pulang. Tapi pas di jalan ada yang nabrak mobil gue"


"Siapa?", sentak Awan tak sabaran.


"Gue nggak tau, pas gue turun mereka juga turun. mereka sangar semua"


"Apa mereka yang nyulik Mentari?"


Cloudya mengangguk. Seketika air matanya meluruh mengingat kejadian tadi. Ia merasa bersalah karena ia tetap memaksa keluar padahal Mentari melarang nya.


"Ini salah gue", Cloudya terisak bahkan sampai tersedu.


"Gue maksa keluar tadi karena gue emosi. Padahal Mentari udah cegah gue", tangisnya semakin pecah.


"Kenapa lo ceroboh banget Dy?", Awan frustasi dan semakin membuat Cloudya menangis.


"Udah Awan, Cloudya juga shock", mama memeluk Cloudya.


Awan menyugar rambutnya kasar, bahkan sampai menjambaknya. Bagaimana tidak gila? Gadis pujaannya diculik oleh orang-orang tak bertanggung jawab seperti itu. Apa lagi dalam waktu kurang dari tiga hari mereka harusnya menikah.


"Apa selama ini Mentari punya masalah?", Pak Roby yang sedari tadi diam, akhirnya mengeluarkan suara.


"Mentari itu anaknya polos pa, mana mungkin dia punya masalah sama orang", jawab Awan yang masih gusar.


"Atau malah kamu yang punya musuh?", satu alis pak Roby terangkat.


"Kecuali saingan bisnis, Awan nggak punya musuh"


"Mungkin nggak kalo ini kerjaan Lusi? Barangkali dia nggak terima lo tinggal nikah?", Indra mengeluarkan pendapat.


"Saya rasa keluarga mereka tak akan seberani itu Ndra", Pak Roby berusaha berpikiran positif.


"Tapi bisa aja pa", mama ikut bersuara. "Apa mereka menyebutkan sesuatu yang janggal saat Mentari di culik Dy?", mama beralih ke Cloudya.


Cloudya hanya menggeleng sambil menangis.


"Sudah kamu selidiki semuanya James?", Sepertinya pak Roby yang paling bisa mengontrol emosinya.


"Sudah pak"


"Apa yang kamu dapatkan?"


"Seperti dugaan sebelumnya, ini penculikan berencana. Semua rekaman CCTV di sepanjang jalan itu tak bisa di lacak pak"


" Mungkin itu juga yang bikin jalanan jadi sepi. Pas aku mau minta pertolongan, tiba-tiba nggak ada kendaraan yang lewat sama sekali, bahkan satu orang pun nggak ada", Cloudya sudah bisa berbicara sedikit tenang.


"Benar pak", James yang menjawab. "Sepertinya ada orang hebat di balik penculikan ini. Saya dan anak buah saya cukup kesulitan melacak"


"Lapor polisi Ndra!", tiba-tiba Awan berteriak. Penampilan pria itu sudah acak-acakan tak berbentuk, menandakan betapa stressnya dia.


"Saya sudah melakukan nya pak", James yang menjawab sebelum Indra bertindak. "Bukannya saya nggak bisa di andalkan, tapi saya rasa kali ini kita butuh bantuan polisi. Orang yang menculik Mentari bukan orang sembarangan", James menjelaskan.


"****!", tiba-tiba Awan mengumpat keras. Membuat semua mata tertuju padanya.


"Cari Informasi tentang Rayan dari perusahaan kontruksi itu James!"


"Baik pak!", James langsung keluar dari rapat keluarga dadakan itu untuk segera mencari Informasi tentang Rayan. James cukup tahu dengan semua partner bisnis Awan dan pak Roby.


"Rayan siapa?", pak Roby masih bingung. Beliau bertanya saat James sudah menghilang.


"Rayan,cucu pak Wisnu kolega kita pak", Indra yang menjawab.


"Ada apa dengannya?"


"Dia sepertinya terobsesi dengan Mentari"


"Apa mereka saling kenal sebelumnya?"


"Almarhum ayah Mentari pernah bekerja di perusahaan mereka pak. Dari sanalah mereka saling mengenal", Indra yang menjelaskan karena Awan masih tersulut emosi. Lelaki itu cukup sadar diri. Dari pada berbicara tapi yang ada hanya emosi, mending dia diam sambil menunggu hasil penyelidikan James.


Saat semua keluarga tengah hening dengan pikiran kalut masing-masing, ponsel Awan berdering. Ada nomor baru tak dikenal menghubunginya.


Awan mengernyit sebelum mengangkat.


"Halo", kini semua mata tertuju kepada Awan dengan pandangan penasaran. Awan menekan tombol pengeras suara agar semua keluarga mendengar nya.


"Dengan pak Awan?"


"Ya saya sendiri"


"Silahkan datang ke Villa yang alamatnya akan saya kirimkan nanti. Mentari sedang ada di sana bersama pak Rayan"


"Siapa kamu? Dari mana kamu tau?", pertanyaan Awan penasaran.


"Saya Jimi , asisten pak Rayan. Saya memberi tahu anda atas perintah pak Wisnu"


"Maksud kamu apa?"


"Nanti akan saya jelaskan di sana. Di sana ada pak Rayan dan juga pak Wisnu"


"Bicara sekarang! Jangan main-main", suara Awan meninggi.


"Anda tenang saja pak Awan. kami ada di pihak anda. Pak Wisnu sudah mengatur segalanya tanpa sepengetahuan pak Rayan. Kami pastikan Mentari selamat"


"Bicara apa anda? Jangan berbelit-belit"


"Baiklah kalo bapak memaksa", ada jeda sebentar dari seberang sana.


" Pak Rayan menderita OLD atau obsessive love disorder saat bertemu Mentari. Dan saya yakin anda pernah mendengar pak Rayan mengalami gangguan mental sebelumnya. Nah, hal itu adalah pemicunya. Mentari dianggap sebagai Amel, perempuan yang telah membuat pak Rayan mengidap gangguan mental sebelumnya", Jimi bebicara panjang lebar.


"Apa hubungan Amel dengan Rayan?"


" Mereka sepasang kekasih sebelum Amel meninggal. Dan pak Rayan menganggap Mentari adalah Amel nya dari masa lalu"


"lantas bagaimana keadaan Mentari?"


"Kami sudah mengatur semuanya, sebisa mungkin agar pak Rayan tak menyakiti Mentari"


"Kenapa kalian membiarkan orang gila seperti dia?"


"Kalau kami gegabah, bisa saja pak Rayan akan menyakiti dirinya sendiri atau bahkan bunuh diri karena merasa tak bisa mempertahankan Mentari, seperti dia yang tak mampu menyelamatkan Amel waktu itu. Saya mohon, anda mengerti. Kami menjamin keselamatan Mentari"