Mentari

Mentari
Episode 167



"Aku tidak bisa," dengan cepat Rembulan meneriaki taxi yang lewat, "Taxi!!!!"


Taxi itu berhenti, namun saat Rembulan akan berjalan bersama Ranti tiba-tiba seorang pria bertubuh kekar turun dari mobil milik Diva. Bahkan dengan tangan yang memegang benda tajam.


"Masuk, atau," pria itu mengarahkan benda tajam itu pada perut buncit Rembulan.


"Pak, tidak jadi," Diva meminta taxi yang sudah berhenti karena Rembulan untuk pergi.


"Apa mau mu?" tanya Rembulan.


"Kalian mau apa?" tanya Ranti yang mulai gemetaran, "Dan kami siapa?" tanya Ranti lagi, bahkan ia sudah sangat ketakutan.


"Aku adalah wanita yang bertunangan dengan Radit saat itu, tapi anak mu ini datang dan merusak semua. Aku terhina di hadapan orang banyak! Aku juga kini terhina di hadapan keluarga besar ku! Dan ini karena putri mu!" tegas Diva, "Bawa!" titah Diva pada anak buahnya.


Rembulan menurut masuk ke mobil milik Dia, sebab benda tajam itu semakin menekan kulit perutnya. Sebagai seorang wanita yang juga akan menjadi seorang ibu, tentu saja Rembulan lebih memilih ikut dengan apa yang di katakan oleh Diva. Asalkan anaknya baik-baik saja.


"Ulan!!!" seru Ranti.


Ranti menatap mobil yang sudah membawa Rembulan, Ranti sebenarnya dari tadi ingin juga di bawa. Tapi Diva merasa tidak memerlukan Ranti,dan tidak ada sangkut pautnya dengan Ranti. Jadi Diva hanya membawa Rembulan saja, lagi pula dengan membebaskan Ranti nantinya akan cukup menguntungkan dirinya. Dengan begitu Radit akan ikut menyusul Rembulan, karena Ranti yang memberitahukannya.


Tangan Ranti gemetaran, ia mengambil ponselnya dan berulangkali mencoba menghubungi Radit. Tapi Radit tidak menjawab panggilan tersebut, karena ia tengah menangani pasiennya di meja operasi. Ranti tidak langsung menyerah ia menghubungi Arka, dan sama saja Arka yang beberapa hari ini terus bekerja dan menjaga Mentari juga sulit di hubungi. Karena ia tertidur. Akhir nya Ranti pulang ke rumah, otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ia turun dari taxi dengan air mata yang terus turun begitu saja.


"Mama kenapa?" tanya Arya yang melihat istrinya menangis.


"Papa kemana aja! Dari tadi di hubungi enggak ada yang bisa!" geram Ranti sambil menarik kerah kemeja milik suaminya.


"Papa, abis dari perkebunan.... ponsel Papa kehabisan daya," kata Arya. Arya juga mulai panik karena Ranti yang menangis tersedu-sedu.


"Ulan di bawa orang Pa, di culik...." Ranti langsung jatuh pingsan. Hatinya benar-benar takut jika nanti Rembulan dan cucunya akan di sakiti.


"Mama...." Arya berusaha membangunkan Ranti, hingga dengan cepat ia membawa Ranti masuk dan membaringkannya di sofa ruang tamu, "Ma," Arya terus berusaha membuat istrinya sadar hingga sebuah mobil berwana putih milik Radit mulai memasuki gerbang.


"Assalamualaikum...." Radit menenteng tas kerjanya, kemudian jas kebanggaan nya yang ia gantung di lengan sebelah kanannya.


"Ma, bangun," Arya tidak menyadari kedatangan Radit. Ia hanya fokus pada Ranti yang belum sadarkan diri.


"Mama kenapa Pa?" tanya Radit yang mulai melihat ada Ranti yang terbaring di atas sofa. Kakinya berjalan cepat mendekati Ranti.


Arya melihat Radit, "Dit, tolong Mana kamu, dia tiba-tiba pingsan," ujar Arya panik.


Radit mulai memeriksa keadaan Ranti, "Tekanan darahnya naik Pa, apa Mama barusan mengalami shock?" tanya Radit.


Arya mulai mengingat kata sebelum istrinya jatuh pingsan, "Dit, kata Mama barusan Ulan di culik," kata Arya.


Jarum suntik yang di pegang Radit langsung saja terjatuh, ia terkejut mendengar kata yang di ucapkan oleh Arya.


"Ulan Pa?" tanya Radit menatap Arya.


"Tadi Mama sempat bilang begitu Dit, Papa juga tidak mendengar dengan jelas," jawab Arya lagi.


Radit tidak lagi mengingat Ranti yang butuh penanganan nya, ia cepat-cepat keluar dan kembali masuk kedalam mobil untuk mencari keberadaan Rembulan.


Arka mengetuk jendela mobil Radit, dan Radit membukanya.


"Buru-buru?" tanya Arka.


Radit turun dari mobil, ia menarik Arka untuk masuk kedalam mobilnya.


"Sialan apa yang kau lakukan!" geram Arka yang belum tahu apa-apa.


"Istri ku di culik," kata Radit dengan wajah serius.


"Di culik?" Arka juga terkejut, ia duduk di dalam mobil dan tidak lagi berbicara.


Radit menutup pintu Arka, dan ia memutari mobil lalu masuk dan duduk di kursi kemudi. Tangannya mengambil ponselnya, karena cincin yang di pakai Rembulan terpasang GPS di dalamnya. Bahkan tidak di ketahui oleh Rembulan sekalipun, karena cincin itu memang di rancang khusus dan ia memberikan nya pada Rembulan saat beberapa bulan yang lalu.


Ting.


Ponsel Radit berdering.


"Diva," Radit bingung mengapa Diva menghubungi dirinya. Tidak ingin banyak berpikir Radit langsung menerima panggilan itu.


"Em!" jawab Radit setelah panggilan terhubung.


"Pilihannya hanya dua Radit, kau menikahi aku atau istri dan anak mu aku lenyapkan!" kata Diva dan panggilan nya ia putuskan sepihak tanpa menunggu jawaban dari Radit.


Bip.


"Halo....halo..." Radit mencoba berbicara, tapi Diva sudah memutuskan nya terlebih dahulu.


"Tenang," Arka yang selalu berpikir jernih dalam segala hal mencoba menenangkan Radit.


"Bagaimana aku bisa tenang, nyawa istri ku terancam!" tegas Radit penuh amarah.


"Aku mengerti, tapi berpikir jernih....kita harus segera melakukan sesuatu. Tetap tengang," Arka mengerti dengan keadaan Radit, bahkan Arka pun dapat merasakan apa yang Radit rasakan. Walaupun Radit berusaha tenang tapi itu tidak akan sepenuhnya tenang, "Apa nomer ponsel barusan bisa di lacak?" tanya Arka.


"Terlalu lama, sebaiknya kita lihat saja dimana GPS yang terpasang di cincin Ulan saja. Itu lebih cepat," kata Radit yang kembali membuka ponselnya.


"Bagus, ayo cepat!" kata Arka.


Arka maupun Radit sebenarnya sama saja, karena Mentari pun sama. Mentari juga tidak tahu jika pada cincinnya terpasang GPS. Karena itu sangat di perlukan bila terjadi sesuatu, apa lagi mereka bukan lah orang sembarang dan sewaktu-waktu bisa saja ada yang berbuat jahat pada mereka.


"Ini tempatnya," Radit menunjukan ponselnya pada Arka.


Arka melihatnya, "Tapi ini terus berjalan, sepertinya mereka sedang dalam perjalanan,' kata Arka.


"Iya, ini kearah hutan," kata Radit.


"Sebentar," Arka menghubungi Dimas, dan meminta untuk membawa beberapa orang untuk menyusul mereka. Karena mungkin saja itu di perlukan bila nanti ada hal yang mengancam mereka di sana. Arka turun dari mobil, ia menarik Radit juga turun, "Aku yang mengemudi," Arka duduk di kursi kemudi setelah Radit turun.


Radit tidak membantah, ia tahu kemampuan mengemudi Arka seperti apa. Ia pun ingin segera bisa menyelamatkan istri dan anaknya. Doa yang terus keluar dari bibir Radit tidak pernah hentinya. Keselamatan anak dan istrinya sangat membuatnya ketakuan.