Mentari

Mentari
Episode 149



"Dit....." kata Rembulan masih dengan gemetaran.


Radit mengangkat sebelah alis matanya, tadi Rembulan memanggil Abi. Sekarang memanggil nama, "Tadi kau memanggil Abi, sekarang memanggil nama ku! Apa jangan-jangan karena pura-pura kau jadi benar-benar gila...." tanya Radit penuh intimidasi.


"Aku nggak gila...." jawab Rembulan dengan cepat, "Aku baik-baik saja....." Rembulan mencoba bernegosiasi dengan Radit. Karena Radit diam saja Rembulan tersenyum, "Abi...." panggil Rembulan sambil memainkan kancing kemeja Radit.


"Nggak mempan!" kata Radit. Padahal hatinya sudah sangat bahagia, sebab belum pernah Rembulan begitu berani padanya.


"Ish...." Rembulan terdiam dan otak nya berusaha mencari ide, "Janji nggak akan ngulangin lagi," tawar Rembulan.


Radit masih diam saja, ia seakan tidak tertarik dengan kata-kata manis Rembulan. Sebenarnya Radit hanya ingin melihat sampai dimana keberanian Rembulan.


"Abi....Radit, Kalau Umi Ulan dibawa ke rumah sakit jiwa.....gimana nasibnya Umi sama dedebayi kita?" tanya Rembulan dengan wajah melas, bahkan di buat seakan ia tengah begitu sedih.


"Nanti Abi sediain kasur, pokonya kamar khusus buat Umi," jawab Radit dengan datar.


Glek.


Rembulan meneguk saliva, sulit sekali membujuk Radit, "Umi nggak gila!!!!" kata Rembulan lagi bahkan ia hampir menangis.


"Terus kenapa pura-pura depresi?" tanya Radit, ia duduk di sisi ranjang dan ikut menarik Rembulan untuk ikut duduk di sana. Tapi Rembulan duduk di pangkuan Radit.


Deg.


Rembulan tidak biasa dengan hal ini, sungguh ini sangat menegangkan. Ia berusaha turun, tapi tangan Radit melingkar erat di pinggang nya, "Abi," lirih Rembulan.


"Ayo turun," titah Radit.


Rembulan turun dengan cepat karena Radit sudah mengijinkan nya.


"Sekaligus turun kebawah, ada ambulance...." lanjut Radit lagi.


"Enggak," Rembulan menggeleng, ia cepat-cepat duduk lagi di pangkuan Radit. Tapi Radit tidak mau ia berulang kali menjauhkan Rembulan.


"Ayo turun!" kata Radit lagi.


"Enggak, Umi dudu di pangkuan Abi aja," kata Rembulan ketakutan. Lebih baik duduk di pangkuan dari pada di bawa keruman sakit jiwa pikir Rembulan.


"Yakin?" tanya Radit.


"Yakin," jawab Rembulan cepat.


"Sini," Radit menepuk pahanya untuk di duduki Rembulan.


Dengan cepat Rembulan duduk di pangkuan Radit, 'Hawanya makin panas,' batin Rembulan setelah ia duduk manis di pangkuan Radit.


"Umi belum jawab pertanyaan Abi? Kenapa pura-pura gila?" tanya Radit yang mulai melanjutkan pembicaraan mereka tadi yang sempat terpotong.


"Hehehe....." Rembulan cengengesan, "Ya....maaf," jawab Rembulan.


"Bukan itu jawabannya!" kata Radit, "Berarti kemarin Umi minta peluk, minta di temenin itu kenapa? Sadar atau sedang gila?" Radit sebenarnya ingin tertawa, bayangkan saja selama beberapa hari ini. Rembulan tidur di peluk, makan di suapi. Semua harus ia lakukan. Tapi Radit senang, karena dengan begitu artinya Rembulan ingin terus berdekatan dengan nya. Dan pikiran Radit tentang Rembulan yang membencinya itu salah.


"Ish.....Abi apasih," Rembulan semakin malu saat Radit mengingatkan nya tentang itu semua.


"Kenapa?" tanya Radit tersenyum sambil menatap Rembulan, yang duduk di pangkuannya tapi sambil menunduk memainkan kedua tangannya.


"Tapi Abi lebih suka Umi gila," kata Radit.


Seketika membuat Rembulan langsung menatapnya kesal.


"Karena kalau Umi begini nggak ada manja-manja, kalau kayak kemarin-kemarin nempel terus......memang orang gila tidak tahu malu ya Mi," kata Radit lagi sambil terkekeh geli.


"Abi!!!!" Rembulan sudah tidak punya muka untuk menatap Radit, memang ia sadar kalau beberapa hari ini ia selalu ingin bersama Radit.


"Tapi sekarang juga boleh kok Mi, Abi ini kan punya Umi...." goda Radit.


Brak.


"Mama?" kata Rembulan dengan bingungnya.


Sementara Radit juga bingung apa yang di lakukan mertua dan Mamanya di sana.


"Hehehehe....Oh....ketahuan deh....." Nina berdiri sambil cengengesan.


"Tadi Mama kepeleset," bohong Ranti sambil menggaruk kepalanya. Sebenarnya keduanya mengintip apakah Radit dan Rembulan bertengkar atau tidak, namun keduanya malah betah berlama-lama di sana melihat kemesraan pasutri itu. Hingga tidak sengaja pintu terdorong dan keduanya jatuh.


Rembulan masih diam dan bingung ia menatap Radit begitu juga sebaliknya.


"Ulan," panggil Nina.


Rembulan melihat Nina yang kini dengan amarah yang menggebu, terutama pada Radit, "Kita di kibulil.....ternyata nggak ada ambulance di bawah!" kata Nina seolah ia benar.


Rembulan langsung turun dari pangkuan Radit, ia sangat terkejut sekali, "Kamu ngerjain aku?" kesal Rembulan.


"Impas kan?" tanya Radit terkekeh.


"Ish....." Rembulan mengambil guling dan memukuli Radit demi meluapkan kekesalannya.


Kemudian Radit merebut bantal yang di pegang Rembulan, setelah itu ia memutar tangan Rembulan kebelakang.


"Kenapa marah?" tanya Radit dengan wajah yang begitu dekat.


"Jeng, ini sepertinya sudah mendekati itu deh," bisik Nina di telinga Ranti.


"Kit keluar Jeng," kata Ranti.


"Pintu nya tutup saja," kata Nina dan keduanya keluar dengan menutup pintu begitu rapat.


"Kemari kamu minta apa?" tanya Radit, ia kini melepaskan tangan Rembulan. Tapi tangannya tetap melingkar di pinggang Rembulan.


"Abi, lepas....." pinta Rembulan.


"Kemarin Umi minta peluk kan?" jawab Radit lagi, ia ingin menggoda Rembulan yang sudah mengerjainya dengan begitu rapi.


"Abi apa sih, malu tau Bi," Rembulan tertunduk malu.


"Memangnya sejak kapan Umi punya malu," tanya Radit lagi.


"Abi apasih!!!" kesal Rembulan.


"Abi udah kenal Umi dari dulu, luar dalam Abi udah ngerti," jelas Radit.


"Abi!" Rembulan menutup mulut Radit yang terus saja membuka masa lalu yang membuatnya merasa malu.


Cup.


Radit mengecup tangan Rembulan yang menutup mulutnya.


Mata Rembulan melebar sempurna, sejak kapan Radit seberani itu pikir Rembulan.


Lama Radit menatap bibir Rembulan, begitu juga sebaliknya.


Tubuh Rembulan mulai gemetaran, dan merasa udara semakin panas. Hingga Radit mendekatkan wajahnya, hingga akhirnya Rembulan menutup mata dan dengan cepat Radit mengecup bibir Rembulan begitu mesra. Dan sedetik kemudian Radit menjauh, tapi pandangan keduanya masih terus bertemu. Dengan cepat tangan Rembulan menarik kemeja Radit, hingga Radit terhuyung ke depan. Radit terkejut karena tidak menyangka Rembulan bisa melakukan itu, tapi tidak di pungkiri ia juga bahagia. Kesempatan tidak datang dua kali, Radit dengan cepat membalas dengan senang hati. Sesaat kemudian Rembulan tersadar dan ia menjauh, tapi Radit menahan tengkuk Rembulan. Hingga akhirnya semuanya semakin menuntut, tangan Radit mulai berkeliaran.


"Sssstttt....." rintihan Rembulan mulai terdengar, tidak ada penolakan yang di lakukan Rembulan. Tubuhnya bahkan menerima dengan baik.


"Sayang....." bisik Radit sambil menatap Rembulan.


Rembulan mengangguk, kemudian dengan cepat Radit mengangkat Rembulan keatas ranjang dan setelah itu kemudian lampu mati Athor nggak liat karena gelap. (Hehehehe)


*


Jangan lupa Like dan Vote ya.