
Hari ini keluarga besar berkumpul kembali di kediaman Purnawan untuk membahas aqiqah anak Arka dan Mentari. Semua berbagi tugas kecuali para ibu-ibu ditugaskan hanya untuk menemani dan memastikan Mentari dan anaknya aman-aman saja, meskipun ada orang suruhan Hadi dan Rahmat yang memantau dari jauh. Setelah membahas tentang aqiqah dibolehkan untuk istrahat.
Aldi duduk disalah satu kursi yang tidak jauh dari meja utama tempat mereka kumpul. Aldi sekali-kali melihat handphonenya seakan ada informasi yang ia tunggu dari ponselnya itu.
Tidak lama ponselnya pun bergetar tanda ada pesan masuk, dengan cepat Aldi membuka dan langsung membalas pesan yang baru masuk itu.
Keluarga besar yang awalnya masih asyik cerita setelah selesai membahas tentang aqiqah langsung fokus di sang peri kecil dalam rumah saat ini yaitu anak Mentari.
"Sampai kapan menunggu nama cucu kami, apa tidak bisa diberi tahu sekarang?" tanya ibu Anita.
"Tergantung kak Arka bun" Jawab Mentari.
"Nanti pas aqiqah bun, surprise" Ujar Arka.
"Anita, kita ini menunggunya dari dulu. Pertama menunggu kapan kita punya cucu sekarang sudah punya cucu ehh namannya lagi yang kita tunggu" Timpal ibu Dewi sengaja memancing lalu ia mengedipkan matanya kepada ibu Anita sebagai tanda kode.
"Benar Dewi, jadi kita harus sabar 3 hari lagi" sahut ibu Anita sambil mengangkat tiga jarinya.
Mentari yang menyaksikan itu, merasa tidak enak hati tapi kalau memberitahu ibu dan bunda, bagaimana dengan Arka yang sudah mengambil keputusan memberitahu nama anaknya nanti saat aqiqah.
"Kasih tau aja kak, kan neneknya juga" Bisik Mentari kepada suaminya.
"Nanti dilihat sebentar" jawab Arka asal yang diangguki oleh Mentari.
Berbeda jauh dengan Aldi, ia masih sibuk dengan benda pipihnya sejak pembahasan aqiqah selesai.
"Pokoknya kamu harus datang saat aqiqah ponakan aku" Batin Aldi setelah membaca pesan terakhir dari ponselnya.
Semua memperhatikan Aldi, semua berbisik-bisik menduga-duga apa yang dilakukan Aldi yang sedikit menjauh dengan yang lain.
"Bun, apa kak Aldi sudah punya pacar?" tanya Mentari kepada ibunya.
"Bunda juga gak tau nak" Jawabnya dengan tatapan mata sama Aldi.
"Tapi seperti orang jatuh cinta bun" Ucap Mentari lagi.
"Dugaan bunda juga, tapi kalau ditanya mana mau jujur, dia tertutup" Jelas ibu Anita.
"Hhmm, Papa paksa saja kak Aldi menikah dengan pilihan papa, gimana?" tanya Mentari meminta pendapat papanya.
"Itu bukan cara papa membahagiakan anak-anak papa seperti itu" Jawab Hadi dan Mentari seketika senyum mendengar ucapan ayahnya.
"Tapi papa kenapa dulu izinkan Mentari menikah cepat?" tanya Mentari penasaran.
"Awalnya papa ragu untuk mengizinkan kamu menikah dulu, tapi Arka tuh yang gak mau sabar" Ucap Hadi sambil menunjuk kearah Arka mantunya ayat atau suapi anak
Arka mendengar itu sebelum menjawab berdehem terlebih dahulu, "Ekhem, papa mertua niat baik itu harus disegerakan tidak boleh ditunda-tunda dan sekarang sudah ada hasilnya" Ucapnya dengan bahagia dan senyum lebar sambil memegang jari tangan anaknya dalam gendongan ibu Dewi.
"Hasil apa?" tanya Mentari kebingungan dengan ucapan suaminya itu.
Semua disitu mengerti hanya Mentari yang tidak paham ucapan itu.
"Ini hasilnya" jawab ibu Anita sembari senyum melihat cucunya yang sudah mulai sering membuka mata, "Iya kan cucu oma yang super cantik, oh kasian dia menguap.. Ngantuk yaa" Sambungnya lagi seakan mengajak cucunya berbicara.
"Kamu hasil ya nak?, nenek mu pun tidak mengerti kalau kamu itu anak aku bahkan kak Arka pun mengatakan hal yang sama" Ucap Mentari kepada anaknya itu.
"Inilah yang sering bunda khawatirkan" Ucap Ibu Anita yang membuat Mentari semakin bingung.
"Salah bun?" tanya balik Mentari.
"Iya, tapi lupakan" Ucap Ibu Anita yang membuat Mentari penasaran tetapi untuk bertanya kembali tidak mungkin.
Mentari menoleh melihat suaminya lalu ia senyum. Arka dapat menangkap maksud istrinya itu.
"Nanti kakak yang jelaskan rasa penasaranmu" Ucap Arka dengan nada pelan.
"Iya, terima kasih" Ucap Mentari dan Arka hanya membalas seulas senyum.
...💛💛💛...
Aqiqah akan digelar 3 hari lagi dari sekarang, semua perlengkapan harus dipastikan sudah lengkap tidak berkurang sedikitpun. Aldi pun diarahkan untuk ke panti asuhan, ia mengundang secara langsung kepada ibu panti untuk ke acara aqiqah nanti.
Seharian sibuk, Aldi dan Asisten Brian kesan kemari memastikan gedung dan sebagainya.
"Haaa" Aldi buang napas setelah mengurus semua acara aqiqah ponakannya itu, "Kita pulang Brian, sudah sore" sambungnya lagi.
Aldi dan Asisten Brian pun pulang ditempat masing-masing, ia langsung balik rumah tanpa singgah ke rumah Purnawan lagi.
Aldi istrahat sejenak lalu kembali mengirim pesan seseorang.
"Jangan lupa datang, nanti aku jemput" pesan Aldi lalu sedikit memejamkan mata hanya untuk istirahat, ia begitu lelah hari ini.
Di rumah Purnawan Hadi dan Anita pamit pulang, sebelum itu ibu Anita menggendong cucunya.
"Nanti diatur Anita. Hari Senin, selasa dan Rabu disini kalau Kamis, Jum'at dan Sabtu bersamamu, hari Minggu baru sama orang tuanya" Timpal Dewi.
Arka dan Mentari hanya saling tatap satu sama lain, bagaimana mungkin bersama anaknya hanya satu hari, sedangkan Mentari ingin menjaga anaknya sendiri dan melihat tumbuh kembangnya.
"Kalian berdua ini, apa kalian tidak pikir perasaan ke dua orang tuanya?" tanya Rahmat.
"Itu gampang, nanti mereka produksi lagi, gimana Anita?" jawab Dewi dan berakhir bertanya kepada Anita.
"Iya, masih muda-muda, jadi 5 atau 6 anak cukup" Jawab Anita dengan enteng.
"Kak rasa sakit saat melahirkan belum hilang, ibu dan bunda sudah bahas anak lagi" gumamnya pelan dengan wajah cemberut.
"Pura-pura gak dengar, tapi kalau kamu mau aku gak masalah" Jawaban Arka itu awalnya membuat Mentari tenang tapi diakhir kalimatnya membuat tercengang.
"Kakak kira gampang apa punya anak 6, kalau kakak yang hamil gak masalah" Jawab Mentari lalu pergi dari ruangan keluarga.
"Bisa-bisanya punya anak 5 atau 6, emang saya kucing apa hanya melahirkan kerajaannya gak ada yang lain" Ucap Mentari sambil jalan menuju kamar.
Arka melihat Mentari pergi, ia langsung menyusul.
"Aku kira ngambeknya hanya pas hamil ternyata ini penyakit bawaan perempuan suka ngambek tidak jelas" Batin Arka.
Arka ke kamar untuk membujuk sang istri tiba-tiba ada pesan masuk dari asisten Brian bahwa ada kerjaan di Bali yang tidak bisa diwakilkan kecuali Arka sendiri.
Arka langsung menelpon Asisten Brian.
📞 Arka : Berapa hari disana asisten Brian?...Ok, kamu tau kan kalau aqiqah anak saya 3 hari lagi. Ok, siapkan semuanya, assalamualaikum" kalimat Arka dalam telepon bersama Brian.
Waktu begitu cepat berlalu tidak terasa diluar sudah gelap sedangkan Mentari masih dikamarnya bersama Arka dan sang bayi bersama kakek dan neneknya.
"Kak kalau begini terus, bisa-bisa aku lupa tugasku seorang ibu" Ucap Mentari yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar anaknya sambil melihat ibu dan ayah mertuanya menjaga anaknya.
"Jadi keinginan mu bagaimana sekarang?" tanya Arka. Ia mencoba untuk memahami perasaan istrinya itu.
"Kita balik rumah, aku rindu rumah kita" Ucap Mentari lagi.
"Setelah aqiqah nanti baru bisa balik rumah, untuk saat ini belum bisa. Gak apa-apa kan?" tanya Arka lagi dengan hati-hati.
Mentari mendongak melihat wajah suaminya itu sembari senyum, "terima kasih kak, sudah mencoba memahami perasaan Mentari" Ucapnya lalu memeluk suaminya.
Arka membalas pelukan istrinya itu lalu mengarahkan tangannya dikepala sang isteri dan mengusapnya lembut.
"Sama-sama" Ucap Arka.
"Begitu mudah membahagiakan istri cukup memahami perasaannya" Batin Arka.
Setelah sedikit lama memperhatikan orang tua mereka yang menjaga anaknya, sekarang Mentari dan Arka menghampiri.
"Putri kecil ibu ini anteng-anteng aja dijaga kakek dan neneknya" puji Mentari pada anaknya itu.
"Oma sayang, cucu ibu ini nanti panggilnya oma saja, lebih bagus dan lebih muda kedengarannya" Ucap ibu Dewi.
"Oma, panggilan gaul" Jawab Mentari sembari memuji sedikit, "Apa gak nangis tadi bu?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Tidak, anak pintar" Ucap ibu Dewi, lalu kembali melihat Arka, "Jangan macam-macam dulu ya anak kamu masih kecil" sambungnya mengingatkan anaknya itu.
"Macam-macam apa bu?, pikiran ibu yang macam-macam, segala sesuatu ibu pikirkan biar yang tidak masuk akal" jawab Arka lagi.
"Ibu jaga-jaga saja" Ucap ibu Dewi.
"Apa Brian menelepon mu?" tanya ayah Rahmat.
"Iya yah, ini yang saya mau bicarakan juga sekaligus izin pada istri dan putrinkecilku ini" Ucap Arka menghampiri ranjang anaknya.
Mentari yang mendengar itu langsung menoleh kepada ayah mertuanya meminta penjelasan, karena mendengar ucapan suaminya seakan pergi lama.
"Hanya satu hari" Ucap ayah Rahmat lagi.
"Oh gitu, gak apa-apa" Ucap Mentari lalu menghampiri suaminya yang sedang menatap anaknya itu.
"Dek, sepertinya rindu berat nanti kalau jauh dengan kalian berdua" Ucap Arka itu didengar langsung oleh kedua orang tuanya.
Orang tua yang baik, mereka diam-diam meninggalkan kamar cucunya itu, ia memberi ruang untuk keluarga kecil anaknya.
...Semoga Suka 😊...
...Jangan lupa Like, Komen, Share ke teman-temannya yaa....
...Terima Kasih sudah mendukung Mentari sampai saat ini 🙏😊...