Mentari

Mentari
Episode 192



Sudah dua hari Radit dan Rembulan tidak bertemu, rasanya sangat menyiksa sekali bahkan Radit merasa itu bukan dua hari tapi dua bulan.


Dreett!


Ponsel Rembulan berbunyi dan tertulis nama "Abi," Rembulan mengambil ponselnya dan langsung menerima Panggil telpon itu.


"Umi," rengek Radit di sebelah sana saat Rembulan sudah menerima panggilan nya, padahal Rembulan belum berbicara sama sekali, "Umi, Abi kangen," kata Radit lagi.


"Mmmmfffffpp," Rembulan menahan tawa karena merasa lucu dengan tingkah suaminya ya g terlihat sangat aneh sekali.


"Umi kok gitu sih?" tanya Radit dengan kesal, "Abi kangen lho, banget!" tambah Radit lagi dengan putus asa.


"Kangen?" tanya Rembulan yang senyum-senyum karena tingkah Radit yang lucu, bayangkan saja kini keduanya seperti ABG yang tengah menjalani LDR, dan tengah di Landa rindu yang begitu membuncah. Sungguh sangat terlihat aneh, namun sedikit menggemaskan juga tentunya.


"Umi enggak kangen ya sama Abi?" kesal Radit, karena ia sangat kesal pada tanggapan Radit saat ini.


Rembulan diam dan sejenak memikirkan Radit, bagaiman bisa ia tidak merindukan Radit. Mungkin jika dulu ia bisa saja tidak rindu, bahkan tidak perduli sama sekali. Tapi untuk saat ini Rembulan juga sangat merindukan Radit, saat-saat Radit tersenyum dan memeluknya dengan begitu hangat.


"Umi," panggil Radit, karena Rembulan hanya diam saja. Sedangkan Radit sangat menantikan jawaban dari Rembulan.


"Kangen Enggak ya?" seloroh Rembulan.


" Umi enggak kangen ya sama Abi! Jangan gitu dong Mi," ujar Radit di seberang sana, "Mi, ketemu yuk," pinta Radit.


Rembulan menaikan sebelah alisnya matanya, sebenarnya ini terdengar konyol. Tapi ia juga sangat merindukan Radit.


"Tapi enggak di bolehin sama Mama, terus ada Tari yang sekarang jadi satpol PP yang meresahkan Abi," jawab Rembulan.


"Kita ketemu nya diam-diam aja, ayo dong sayang. Mana tahu bisa sekali," ujar Radit.


"Sekali?" tanya Rembulan bingung.


"Enggak maksud Abi, sekali ketemu kangennya bisa berkurang. Bukan yang lain, jangan mikirin yang aneh-aneh ya, Abi juga lagi enggak pengen yang begitu. Atau Umi yang pengen ya!!!!" kata Radit memutar balikkan fakta.


"Iya sih, tapi Abi enggak pengen ya enggak jadi," jawab Rembulan kesal, karena ingin mengerjai Radit. Kini Rembulan sudah cukup pintar dalam mengerjai suami tercintanya itu, karena Radit pun sudah tahu jika kini ia sudah sangat mencintai Radit.


Glek.


Radit meneguk saliva, dan tidak percaya jika Rembulan begitu berani berkata demikian, tapi sayang tadi ia terlanjur mengatakan tidak.


"Umi serius pengen?" tanya Radit lagi dengan jelas berharap Rembulan berubah pikiran.


"Iya, tapi tadi. Tapi juga Abi enggak mau kan?Jadi ya udah," jawab Rembulan santai, sebenarnya Rembulan ingin tertawa karena ia tahu kini Radit pasti akan mencari beribu alasan lainnya.


Benar saja Radit yang berada di rumah Arka merasa kesal, karena ia tidak menyangka jika Rembulan begitu saja mau, "Mi, ketemuan yuk, kangen banget," pinta Radit penuh harap.


"Gimana caranya Abi? Pintu kamar Umi di kunci dari luar. Dan kuncinya sama Tari," jawab Rembulan, "Lagian Abi kenapa enggak temuin Arka."


"Kok Arka?"


"Kan Abi sama Arka itu love!"


"Enak aja kalau ngomong jangan asal, sama kamu iya. Sama Arka mah ogah!" kesal Radit, "Sayang kamu enggak kangen sama Abi?"


"Kangen, tapi gimana lagi. Sabar aja Abi, kan tinggal tiga hari lagi, nanti kita udah ketemu lagi," kata Rembulan, sebab memang tinggal beberapa hari lagi keduanya sudah bisa bertemu kembali.


"Mi, Abi punya ide," Radit mendadak mendapatkan ide yang sangat cemerlan, "Tapi Umi pengen nggak ketemu sama Abi?"


Rembulan diam dan menimbang permintaan tawaran Radit, sebenarnya Rembulan juga sudah tidak tahan karena rindu yang semakin membuncah. Tapi bagaimana kalau Mama Ni a tahu, itulah yang tengah di pikirkan oleh Rembulan.


"Umi, sayang...." kata yang di ucapkan oleh Radit seakan membuat Rembulan bergetar, dan membuatnya lagi-lagi berbunga-bunga.


"Iya udah, tapi caranya gimana?" tanya Rembulan yang setuju dengan permintaan Radit.


BIP.


Rembulan kesal, karena Radit memutuskan sambungan telepon tanpa memberi tahu pada dirinya. Namun tidak lama kemudian terdengar suara ketukan.


Tok tok tok.


Rembulan melihat jendela, sebab memang suara ketukan itu berasal dari sana. Rembulan perlahan turun dari ranjang, bahkan dengan gerakan yang sangat pelan agar Raka yang tengah terlelap tidur tidak terganggu, Rembulan melihat Radit di balik jendela. Dengan cepat Rembulan membukanya dan wajah Radit yabg terlihat lelah ada di sana.


"Abi ngapain?" Rembulan panik, sebab kini Radit tengah berada di atas tangga karena kamar nya berada di lantai dua. Dan juga Rembulan takut bila nantinya Radit malah terjatuh.


"Hehehe...." Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kangen," kata Radit sambil cengengesan. Radit sadar tingkahnya saat ini cukup menggelitik tapi bagaimana lagi, rindu yang terlalu sungguh tidak bisa terbendung lagi. Hingga Radit dengan nekatnya memanjat, demi bisa melihat sang pujaan hati.


Rembulan menggeleng, kemudian ia melihat Radit yang penuh dengan keringat, "Terus kok keringatan begini?"


"Hehehe....ini pun demi cinta, apapun untuk mu sayang ku," ujar Radit dengan penuh cintai.


"Ish Abi apasih...." Rembulan terharu dan senyum-senyum karena gombalan sederhana namun terasa begitu membahagiakan.


"Abi punya sesuatu buat Umi," Radit mengeluarkan setangkai bunga dari saku celana bagian belakang nya. Dan memberikan nya pada Rembulan, "Buat Umi," kata Radit.


Rembulan tersenyum bahagia, ia terharu karena bunga yang di berikan oleh Radit. Namun sedetik kemudian bunganya mala patah, karena tadi yang terjepit.


"Abi?" tanya Rembulan.


"Hehehe.....maaf ya Umi," kata Radit.


"Enggak papa," Rembulan tetap mengambil bunga itu dan menghirup aromanya.


"Wangi ya Umi?" tanya Radit.


"Lumayan," jawab Rembulan.


"Wangi-wangian cinta itu," kata Radit lagi.


"Alah gombal!" kata Rembulan yang senyum-senyum.


"Mi, Abi masuk ya?"


"Kalau ketahuan Mama sama Tari gimana Bi?" tanya Rembulan panik.


"Mereka enggak akan tahu, kan nanti subuh Abi cepat-cepat pergi sebelum Mama datang, dan Tari lihat," kata Radit yang memaksa.


"Apanya yang Tari!!!!" seru Mentari sambil membuka jendela nya, sebab kamar Rembulan dan Mentari bersebelahan jadi tidak terlalu sulit untuk menjaga ketat kedua orang itu.


"Umi," Radit menatap Rembulan, "Abi masuk ya?"


Dan tidak lama kemudian Arka menggerakkan tangganya, hingga Radit terjatuh.


"Arka!!!" teriak Radit.


Buk!


Radit terjatuh di atas rerumputan, dan itu terasa cukup sakit.


"Aduh," Rembulan menutup mulutnya, karena ia merasa kasihan pada suaminya.


"Gimana bro?" tanya Arka tersenyum penuh kemenangan.


"Sialan lu!" geram Radit.