
Ibu Dewi langsung bertanya pada polisi tersebut, "Maaf pak, ini ada apa ya?"
"Begini bu, kami dapat informasi kalau diruangan ini ada yang menyamar jadi dokter" polisi itu menjelaskan tujuannya kemari.
Aldi yang mendengar itu hanya menghela napas kasar sambil membatin, "terus ngapain aku baring berjam-jam disini kalau ujung-ujungnya panggil polisi"
Ibu Tuti dan Santi langsung panik mendengar ucapan polisi tersebut, tetapi sebisa mungkin mereka sembunyikan.
Polisi tersebut kembali bertanya, "Maaf bu, apa disini ada yang mencurigakan?" tanya Polisi itu lagi.
Ibu Anita yang habis telepon dengan suaminya dan sudah diberi tahu semua kejadian sejak sore tadi sampai saat ini. Dengan santai Anita masuk dan menghampiri Dewi yang masih bingung dengan pertanyaan polisi. Dewi bingung karena ia kita hanya akting tanpa melibatkan polisi.
"Ada pak" jawab Anita sambil menatap penuh menyelidiki kedua orang yang pakaian seragam putih itu. Ia belum mengetahui kalau itu Santi dan ibunya, "Ini orangnya pak" tunjuk ibu Anita
"Ibu Anita gak bisa gitu dong, itu namanya menuduh tanpa bukti" Ucap ibu Dewi sambil mengedipkan matanya sebelah pada ibu Anita.
Aldi yang mendengar itu hanya menghela napas kasar dan menggerutu dalam hati, "Tante, kenapa harus sandiwara lagi? tidak tau apa aku sudah pegal baring miring dari tadi."
"Maaf bu, kalau memang kami berdua dianggap seperti itu maka kami akan keluar sekarang" Ucap ibu Tuti dengan lembut lalu mereka berdua pun hendak keluar dari ruangan itu.
"Tunggu, kenapa putri saya harus disuntik intravena? Dokter bilang anak saya itu hanya menunggu kondisinya benar-benar baik dan cukup minum vitamin" Ucap ibu Anita lagi dengan sengaja agar polisi semakin percaya dan curiga.
Ibu Tuti dan Santi sedikit menoleh dengan senyum jahatnya dibalik masker, lalu melangkah membuka pintu tanpa menjawab pertanyaan ibu Anita.
Dari luar ruang rawat inap Mentari itu tidak terduga datang lagi seorang polisi dengan surat penangkapan ditangannya, saat itu bersamaan Ibu Tuti membuka pintu dan berpapasan depan pintu dengan polisi tersebut. Dengannya santai mereka lewati polisi itu. Namum, polisi tersebut baru dua langkah Ibu Tuti dan Santi dari arah pintu kelaur sudah dipanggil oleh polisi disertai dengan memperlihatkan surat tahanan yang berada ditangannya sejak tadi.
Awalnya Santi hanya menoleh untuk melihat itu dan sekarang ia membalikkan badan secara sempurna depan polisi itu, "Apa hubungannya dengan kami berdua?" Tanya Santi.
"Maaf, kami menangkap anda atas.." Ucap polisi itu dan dipotong langsung oleh Santi.
"Coba suratnya" Minta Santi sambil mengulurkan tangannya didepan.
Polisi memberikan surat tersebut kepada Santi. Santi langsung membuka surat itu dan membaca isi surat itu. Santi membaca dengan fokus tanpa sadar ibunya ikut baca surat itu.
"Jangan ngarang dong pak, ini tidak benar" Ucap Santi menyangkal dengan isi surat itu.
"Iya pak, anak saya tidak mungkin melakukan itu" ibu Tuti mencoba membela putrinya.
"Kurang ajar keluarga Algantara dan Purnawan" Batin ibu Tuti penuh emosi.
"Maaf bu dan mbak, nanti dijelaskan dikantor polisi saja" Ucap polisi tersebut.
"Oke, tapi bisa kami ganti baju dulu" izin ibu Tuti lagi sambil mengedipkan mata kepada putrinya itu, Santi tau maksud ibunya tapi apa boleh buat mereka sudah tertangkap basah tidak mungkin mereka kabur seperti anak buahnya yang lain yang selalu stay di RS selama Mentari masuk RS itu.
"Maaf, tidak bisa bu. Ikut kami sekarang" ucap polisi tersebut dan mengangkat tangan tanda memanggil temannya dan seketika dua orang polisi muncul entah dari mana tau-taunya sudah dibelakang Sinta dan Tuti.
Salah satu diantara mereka membawa borgol dan spontan Santi bersuara, "Kami orang bertanggung jawab jadi tidak perlu diborgol hanya untuk membawa kami ke kantor polisi, saya dan ibu saya tidak buta masih bisa lihat jalan untuk ke kantor bapak"
"Silahkan kalau seperti itu" ucap polisi tersebut. Akhirnya Santi dan ibunya dibawah di kantor polisi.
Sedangkan dalam kamar Aldi sudah bangun dan sekarang sudah berubah posisi dengan duduk sambil memijit lengannya karena pegal, ibu Anita langsung menghampiri putranya itu.
"Sini sayang, bunda bantu pijitin" Ucap Ibu Anita menawarkan diri pada putranya itu.
"Sudah mendingan kok bun" Ucap Aldi sembari ia senyum, "Eehh, bun siapa yang suruh polisi kesini?" sambung Aldi yang tiba-tiba serius. Karena dia tidak menghubungi polisi sama sekali, jangankan hubungi polisi telepon saja anak buahnya tidak sempat dengan rencana yang serba mendadak.
"Papa" jawab ibu Anita singkat.
"Papa" ulang Aldi, "Papa tau dari mana?" tanya Aldi lagi yang masih belum mengerti.
"Tuh" tunjuk ibu Anita. Disudut kamar itu ada kamera tersembunyi sengaja Hadi selipkan diantara bingkai gambar hiasan ruangan agar mudah ia pantau dari jauh tidak.
"Maksud aku bun, tau dari mana kalau aku akan disuntik?" tanya Aldi lagi.
"Bunda yang bilang" Jawabnya lagi dan Aldi hanya mengangguk paham, dan Aldi kembali kepikiran dengan akting ibu Dewi, "terus tante tadi?" tanya Aldi lagi.
"Aku ikut alur saja, menyempurnakan akting ibu Anita, hehehe" Jawabnya lalu ia ketawa.
Aldi yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala tidak menyangka kedua ibu didepannya saat ini tiba-tiba bisa drama dalam sekejam yang membuatnya bingung seketika.
Aldi turun dari tempat tidur itu dan membuka semua perban yang menutupi selang infus ditangannya itu. Ujung selang infus itu sengaja diperban banyak agar tidak ketahuan kalau hanya ditempel biasa ditangan Aldi.
"Papa utang cerita pada Aldi" gumamnya lagi.
Tidak membutuhkan waktu lama Aldi keluar dari kamar mandi dan sekarang sudah berpakaian rapi, sementara ibu Anita dan Dewi pun sudah siap-siap untuk pulang. Mereka pulang naik taksi, dalam perjalanan Aldi mendapat telepon dari Arka kalau mereka saat ini ada dikediaman Purnawan, dan saat itu juga mobil mengarah ke kediaman Purnawan.
20 menit kemudian mereka sampai dan disana terlihat Mentari sedang duduk santai sambil nonton TV sendirian. Mereka duduk di ruang tengah sambil cerita menceritakan kejadian hari ini yang saat itu Arka pun penasaran.
"Kalau tadi Aldi tau ada polisi yang datang, gak perlu tuh aku pakai daster Mentari, mana tidurnya harus menyamping lagi" Protes Aldi pada ayahnya itu.
"Itu genting Di, lagian mana ada ibu hamil tidur terlentang" timpal Arka.
Aldi mendengar ucapan iparnya itu langsung ia jawab "Iya iya"
"Tadi itu sebenarnya tidak ada niat untuk telepon polisi hanya saja kata bunda mu, Santi dan ibu Tuti mau suntik intravena" Jelas Hadi pada putranya itu.
"Jadi kami disini panik, untung kalau disuntik penggugur janin kalau obat yang beracun gimana?" jawab Arka dengan diakhiri pertanyaan.
Aldi langsung mengangkat satu jarinya menunjuk Arka, "benar, aku gak kepikiran itu, soalnya di RS tadi pegal seluruh badan belum tante dan bunda akting, itu bikin aku sakit kepala" Aldi mengeluarkan unek-unek dalam hatinya membuat yang dengar tertawa lucu
"Hahahah, papa yang suruh" jawab ibu Anita sambil menunjuk suaminya itu.
"Sebenarnya bukan hanya Hadi, tapi kami semua disini" ujar Rahmat lagi.
"Benar kata pak Rahmat kalau kami andalkan kalian berdua gak kelar-kelar urusannya" ucap pak Hadi lagi.
Disitu Rahmat dan Hadi menceritakan kenapa saat Mentari masuk RS tidak langsung dijenguk sampai Mentari kesal pada mertua dan ayahnya itu, karena mereka saat itu masih mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi dan disitu mereka temukan yang begitu mengagetkan kalau dokter yang menangani Mentari adalah sahabat ibu Tuti dan saat itu ia sengaja mengulur-ulur waktu dengan alasan berbagai hal agar Mentari tidak keluar dari RS itu sampai obat penggugur janin yang sengaja ibu Tuti pesan dari luar negeri benar-benar sampai di RS itu dan tadi pagi obat itu sampai kemudian sore ini waktunya disuntikkan pada Mentari.
"Itu kan pa penggugur janin" ucap Aldi lagi.
"Benar penggugur janin tapi obat yang ibu Tuti bawa itu ada dua jenis, satunya itu obat penghilang daya ingat" jelas pak Rahmat.
"Astaghfirullah" ucap Aldi, ibu Anita dan ibu Dewi bersamaan.
"Makanya kami ambil jalur cepat, dan sekarang mereka sementara diproses" Timpal Arka lagi.
"Terus obat yang mereka bawa?" tanya Aldi lagi penasaran.
"Sudah diambil oleh pihak berwajib sebagai barang bukti" jelas Arka lagi
"Alhamdulillah" ucap mereka lagi bersamaan dan perasaan mereka seketika lega.
"Apa mereka kemungkinan akan dipenjara?" tanya Aldi lagi.
"Iya, karena papa dan ayah sudah menemukan semau bukti kejahatan mereka termasuk Rionaldo" Jawab Arka lagi
"Bagus, gregetan aku dengarnya" Ucap Aldi lagi dan bersandar di Sofa untuk istirahat sejenak.
Berbeda dengan Mentari, sejak tadi hanya nonton sambil menikmati cemilan yang tersimpan diatas meja, ia sangat menikmati malam ini tanpa harus makan bubur di RS.
Ibu Anita dan Dewi membersihkan tempat tidur mereka sebelum sang suami masuk kamar. Setelah selesai, keluar dari kamar dan menghampiri anak sekaligus mantu kesayangan.
"Istrahat kalau capek nak" Ucap ibu Dewi.
"Iya, jangan nonton terus, ingat istrahat yang cukup dan minum vitaminnya" timpal ibu Anita.
Mentari mendengar itu mengangguk sembari senyuman, "Siap madam nyonya" Jawabnya sambil mengangkat tangannya dan menempelkan diatas samping ujung alis tanda ia beri hormat.
Seketika ibu Anita dan Dewi memeluk Mentari, "Sayang, jaga diri baik-baik yaa kamu sangat rawan disimpan sendiri" ucap ibu Dewi. Ia sangat menyayangi mantunya itu.
"Jangan mudah percaya sama orang lain, apalagi orang itu Santi dan Rionaldo" timpal ibu Anita.
Mentari mendengar itu yang awalnya senyum seketika hilang mendengar nama sahabatnya itu disebut, rasanya sedih jika harus menjauhi sahabat sendiri tapi ia sadar itu demi kebaikannya sendiri. Mentari mengangguk dengan senyum yang ia paksa.
"Iya bu bunda, tenang Mentari udah besar jadi gak usah khawatir" jawab Mentari meyakinkan ibu mertua dan ibunya itu.
Ibu Anita dan Dewi melepas pelukannya sembari berkata, "tapi sayang sering ceroboh" ucap Dewi bersamaan dan Anita lalu mereka tertawa bersama.
Dari jauh Arka melihat itu tidak kalah bahagia, "Kamu bersyukur sayang dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangi dan mencintaimu dengan tulus" Batin Arka lalu ia pergi, ia tidak mau menganggu momen kebersamaan orang- orang yang dicintainya.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...