
Rembulan menunduk dan ia masih merasa sedih, karena barusan Radit cuek padanya.
"Umi...."Radit mengangkat dagu Rembulan hingga keduanya saling pandang, "Maaf ya...." pinta Radit lagi.
Rembulan cemberut tapi ia mengangguk, karena Radit terlihat begitu tulus meminta maaf.
Radit mengingat barusan ada kotak bekal yang di letakan Rembulan pada mejanya, ia menarik kotak itu agar dekat dengan nya, "Umi masak apa?" tanya Radit sambil tangannya bergerak membuka kotak bekal.
"Itu Mama yang masak," kata Rembulan.
Radit tersenyum, karena Rembulan barusan cemberut tapi kini sudah mulai membaik lagi.
"O.....Mama yang masak?"
"He'um...." Rembulan mengangguk.
Radit duduk di atas meja dan, Rembulan di kursinya dengan tubuh Radit sedikit condong pada Rembulan.
"Kapan dong Umi yang masakin buat Abi?" tanya Radit.
Rembulan menatap Radit yang sangat dekat dengan dirinya, "Emang Abi mau di masakin sama Umi?" tanya Rembulan dengan suara pelan, apa lagi dalam menyebutkan panggilan Umi Abi yang begitu membuat nya merasa panas dingin.
"Mau dong Umi....." Radit tersenyum, kemudian ia menyendok makanan tersebut pada mulutnya. Kemudian Radit menyendok untuk Rembulan.
Rembulan terdiam saat Radit mencoba menyuapi nya, ia melihat sendok yang berada di dekat bibirnya. Rembulan sedikit ragu untuk memakannya tapi ia juga sebenarnya ingin sekali, sungguh ini yang pertama kali nya untuk merasakan di suapi oleh Radit.
"Umi...." suara Radit yang penuh kasih sayang membuat Rembulan tersadar dari banyaknya pikiran di kepalanya.
Rembulan menatap Radit, kemudian ia membuka mulutnya dan menerima suapan Radit. Dengan susah payah Rembulan mengunyah nya, karena rasanya bahagia, malu dan jantung yang kembang kempis tidak bisa di kendalikan.
"Enak," kata Radit yang mulai menyuapi dirinya sendiri.
Hingga akhirnya keduanya makan dengan Radit yang menyuapi Rembulan, karena setelah ia meyuapi dirinya ia menyuapi Rembulan kembali.
"Umi belum makan ya?" tanya Radit, karena ia melihat Rembulan sangat lahap sekali makannya sampai makanannya habis.
Rembulan menggeleng karena memang ia malas makan, tapi ia senang ada Radit yang menyuapinya.
Radit mengangguk, dan ia memberikan air putih pada Rembulan. Setelah itu baru ia yang minum sisa Rembulan, tidak lupa Radit juga membersihkan mulut Rembulan dengan tissu hingga membuat Rembulan sangat tidak karuan. Panas bercampur dingin sangat terasa sekali.
"Tadi kesini Umi naik apa?" tanya Radit.
"Naik mobil," jawab Rembulan.
"Mobil?" tanya Radit, "Umi bawa mobil sendiri?" tanya Radit lagi.
"Iya," Rembulan mangguk-mangguk karena ia memang mengemudikan mobilnya sendiri.
"Ehem...." Radit sebenarnya kesal, tapi ia tidak mau memarahi Rembulan. Karena memang Radit belum pernah mengingatkan untuk tidak mengemudikan mobil sementara waktu ini. Radit mengeluarkan dompetnya, dan memberikan dua buah ATM pada Rembulan.
Rembulan melihat kartu ATM tersebut dengan bingung, "Untuk apa?" tanya Rembulan, karena ia masih punya uang tabungan. Lagi pula ia masih menerima uang transfer dari Papanya setiap bulan.
"Abi tahu uang di dalamnya tidak seberapa, tapi ini uang hasil kerja Abi sendiri," Radit menggerakkan tangannya dan meminta Rembulan mengambilnya.
Rembulan hanya menatapnya tanpa berniat mengambil nya.
"Umikan istri Abi.....jadi ini Umi yang pegang, dan jangan lagi terima uang dari Mama ataupun Papa, karena sekarang Umi tanggung jawab Abi," ujar Radit lagi, "Ayo ambil."
Rembulan menggangguk, perlahan tangan nya bergerak dan mengambil dua ATM yang di berikan oleh Radit. Sebenarnya Rembulan ragu karena ia tidak pernah menerima uang dari laki-laki, tapi karena mengingat Radit adalah suaminya Rembulan mengambilnya. Dan apa yang dikatakan oleh Radit memang benar, ia adalah tanggungjawab Radit sekarang.
"PINnya tanggal lahir Umi," kata Radit lagi.
"Tidak usah bingung, sejak dulu juga PINnya tanggal lahir Umi," jelas Radit, agar Rembulan tidak lagi bingung.
Rembulan meneguk saliva, dan ia menyimpan ATM yang di berikan oleh Radit.
"Umi...udah periksa kandungan bulan ini?" tanya Radit.
"Belum," kata Rembulan menggeleng.
"Karena Umi udah di sini, sekalian saja kita periksa ya," kata Radit.
Rembulan mengangguk, dan menurut nya apa yang di katakan Radit sangat benar.
"Kita ke ruang pemeriksaan," Radit mengulurkan tangannya untuk pegangan Rembulan.
Perlahan tangan Rembulan bergerak dan menerima tangan Radit, tangan Radit menggenggam tangan Rembulan begitu erat seakan tidak ingin melepaskan nya lagi. Sampai akhirnya mereka sampai di depan ruang pemeriksaan.
"Dokter Anggia," Radit tersenyum saat bertemu dengan presiden direktur rumah sakit Bahagia Ibu, tepat di depan ruangan pemeriksaan kandungan, dia adalah Anggia Tifani seorang dokter senior sekaligus pemilik rumah sakit yang tiga tahun lalu baru di bangun.
"Dokter Radit," sapa dokter Anggia, dengan ada suaminya Bilmar di sampingnya.
Radit tersenyum melihat dua pasang romantis itu, dimana Bilmar selalu ada untuk dokter Anggia. Lihatlah saat ini pun Bilmar dengan wajah dinginnya berdiri di samping istrinya dokter Anggia.
"Ini siapa?" tanya dokter Anggia dengan ramah.
Radit menatap Rembulan dengan wajah bahagia, "Ini istri saya dokter," jelas Radit, kemudian ia kembali menatap dokter Anggia.
"O....." dokter Anggia mengangguk, "Sudah berapa bulan kandungan nya?" tanya Anggia ramah.
"Tiga bulan dok," jawab Rembulan dengan wajah bahagia.
"Selamat dokter Radit, saya tidak tahu ternyata anda sudah menikah, bahkan akan menjadi seorang Ayah," ujar dokter Anggia, karena memang benar begitu adanya.
"Setelah anak kami lahir, kami akan melangsungkan resepsi dok," jelas Radit.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi," pamit dokter Anggia. Ia pergi bersama suaminya yang terus memeluk pinggangnya sambil berjalan di sampingnya.
Radit kembali menatap Rembulan, dan keduanya masuk keruang pemeriksaan. Ada dua orang suster disana yang biasa membatu dokter.
"Ayo berbaringlah," kata Radit. Namun anehnya Radit malah mengangkat Rembulan untuk berbaring di atas ranjang.
Rembulan terkejut dan wajahnya memerah pertama kali Radit mengangkatnya dan itu membuatnya sangat tidak karuang.
Perlahan Radit membaringkan Rembulan di atas ranjang, Rembulan berbaring dan Radit yang condong pada Rembulan. Radit masih sama mengangumi Rembulan sejak dulu sejak bagi Radit Rembulan masih begitu cantik, tanpa yang berubah.
"Umi, tangannya di lepas dulu ya," kata Radit. Karena tangan Rembulan yang masih melingkar di lehernya hingga Radit tidak bisa menjauh.
Dua suster yang melihat Rembulan dan Radit begitu mesranya seakan hanyut dalam hayalan, keduanya saling menyenggol karena gemas pada dokter Radit dan seorang wanita yang barusan di angkat Radit. Mereka ingin bersorak meluapkan perasaan nya, tapi tidak berani karena dokter Radit tidak suka di ajak bercanda. Bahkan dokter Radit sangat dingin hingga membuat para dokter maupun peratwat sangat segan padanya.
"Sayang lepas," kata Radit lagi.
Glek.
Rembulan tersadar, dan ia cepat-cepat melepaskan tangannya yang melingkar pada tengkuk Radit.
*
Tolong Batu Vote ya Kakak.