Mentari

Mentari
pergi ke mall



Hari ini Mentari malas berbuat apa-apa. Moodnya masih buruk sejak pertemuannya tadi malam dengan keluarga Awan. Dia bergidik ngeri setiap membayangkan hamil ditengah sibuk-sibuknya nugas kuliah.


"Sebenarnya gue jodoh nggak sih sama om Awan? Mau dapet restu aja kenapa jadi ribet gini sih? Dan sialnya,gue yang paling tidak diuntungkan disini", Mentari bergumam sendiri di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi dia masih betah rebahan di atas kasur.


"aarrghhh!" Mentari menjerit mengeluarkan kekesalannya. Dia memukul-mukul kasur dan bantalnya.


Tok...tok... tok...


Mentari langsung bangun saat mendengar pintu rumahnya di ketuk. Tidak mungkin Awan, pasalnya lelaki itu baru saja mengabarinya kalau dia harus pergi ke Bandung hari ini.


Dengan malas, Mentari membuka pintu dan alangkah terkejutnya melihat siapa yang datang.


"Kak Cloudya? Ada apa kak? Kok kakak bisa sampai sini?", pertanyaan bertubi-tubi dari Mentari yang masih terkejut.


"Apa gue nggak boleh masuk?"


"Oh... iya. Silahkan masuk kak", Mentari gelagapan.


Cloudya masuk ke rumah Mentari sambil mengamati sekitarnya.


"Aku bikinin minum dulu. Kakak mau minum apa?", Bukannya sok menyediakan segalanya. Tapi Mentari takut kalau Cloudya punya pantangan dengan apa yang dikonsumsinya. Pasalnya, tubuh Cloudya terlihat sangat terawat. Wajar sih, Cloudya anak orang kaya.


"Nggak usah! gue mau to the point aja", jawabnya ketus. Mentari jadi berpikir kedatangan Cloudya adalah untuk melarangnya berhubungan dengan Awan. Mentari pasrah kalaupun Cloudya akan mengamuk nanti.


"Ada apa kak?", wajah Mentari terlihat pias. Dia sudah membayangkan hal-hal buruk.


"Lo nggak sekolah?", Cloudya menjawab dengan pertanyaan.


Mentari menggeleng.


"Ya udah ayo ikut gue!"


"Ke... Kemana kak?", Mentari masih bingung. Apa adik Awan ini akan menculiknya dan membuangnya jauh dari Awan?


"Ke mall"


"Hah?!", Mentari melongo. Untuk apa ke mall?


"Ayo tunggu apa lagi? Cepat ganti baju! Lo mau bikin gue nunggu lama?"


Mentari gelagapan. Titah calon adik iparnya membuatnya gugup. "i..iya...". Dia bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


***


"Kita mau ngapain ke mall kak?", Mentari masih ciut melihat raut Cloudya yang jutek.


" Lo pikir kalau ke mall itu ngapain?"


Mentari tersenyum kikuk. Galak sekali Cloudya ini. Dia bertekad tidak akan tinggal serumah dengan Cloudya kalau dia benar-benar menikah dengan Awan. Kalau itu sampai terjadi, pasti dia akan makan hati terus digalakin adik iparnya itu.


"Ayo turun!", kata Cloudya setelah memarkirkan mobilnya dengan benar.


Mentari masih bingung, jujur saja dia takut kalau Cloudya berbuat nekat. Cloudya bisa mempermalukannya atau membullynya di mall yang penuh pengunjung itu. Terbesit di otaknya untuk memberi tahu Awan tentang apa yang dialaminya. Tapi, urung saat Cloudya menarik tangannya.


"Ayo!! kita udah telat", Cloudya tak sabar melihat Mentari yang hanya mematung.


"Ada diskon besar di butik langganan gue"


Mentari melongo. Apa katanya? Diskon?? Jadi calon iparnya itu mengajaknya ke mall hanya untuk diskon? Bukannya dia kaya raya? Kenapa masih mikirin diskon sih?


"Ayo Mentari! Jangan diem aja. Lo nggak tertarik apa sama barang-barang bagus begitu?", Cloudya menarik Mentari yang bingung di ambang pintu butik. Dia terkagum melihat banyaknya orang yang sedang berebut heboh dengan yang lainnya. Ada tas, sepatu, pakaian bahkan pernak-pernik lucu pun ada.


"Lo bisa pilih yang lo suka, gue yang bayar", ucap Cloudya yang sibuk menjajal sepatu-sepatu bagus.


Sekali lagi Mentari terhenyak dengan kelakuan calon adik iparnya itu. Benar-benar berbanding terbalik dengan kecurigaan Mentari tadi.


"Ayo Mentari! Lo tuh harus selalu berpenampilan cantik kalau mau jadi istri kakak gue. Kakak gue itu seleranya tinggi", Cloudya tak habis pikir kok ada perempuan yang seperti tak tertarik dengan barang-barang bagus begini, mana diskon lagi.


"Eh, iya...iya...", mau tak mau Mentari ikut-ikutan memilih barang disana. Dia tak mau mengecewakan Cloudya yang sepertinya sudah memberinya lampu hijau.


Mentari jadi terbawa Cloudya yang sedang memilih-milih barang disana. Padahal hanya diskon 20% saja tapi banyak sekali pengunjung yang datang. Tapi jika dipikir lagi, semua barang di butik itu memang sangat mahal untuk kantong Mentari.


Mentari mendesah setiap melihat barang yang disukainya. Dia menghitung dulu harga yang ia peroleh jika menemukan barang ia sukai. Bahkan tak ada satupun barang yang cocok dengan kantongnya. Mentari berpikir, bagaimana jika dia meminta uang Awan untuk membayar belanjaannya? Apa Awan akan illfeel kepadanya? Tapi, jika dia tidak meminta, seluruh uang tabungannya akan ludes cuma gara-gara dia tak ingin mengecewakan Cloudya. Meskipun Cloudya bilang akan membayar belanjaannya, tapi Mentari sungkan.


"Tenang aja, gue yang bayar", Cloudya mengagetkan Mentari yang terlihat mematung sambil memegangi price tag di sebuah gaun pendek.


Mentari tersenyum kikuk, dia merasa malu kepada Cloudya. Tapi, memang inilah keadaannya.


"Kalau duit gue sampai nggak cukup, kita bisa pake uang kak Awan. Sayang punya calon suami tajir kalau nggak pernah lo manfaatin"


Mentari hanya nyengir menanggapi Cloudya. Prinsip itu sangat bertentangan dengan prinsipnya. Dia selalu merasa sungkan kepada orang yang baik kepadanya


"Iya, gue tahu lo tuh terlalu baik jadi orang. Tapi kalau lo pakai uang dia cuma buat mempercantik diri, gue rasa itu masih wajar. Lagian lo cantik kan buat dia juga, pasti kak Awan seneng liat lo cantik"


Pada akhirnya Mentari Mentari memilih satu gaun tanpa lengan dengan panjang selutut berwarna hitam. Tapi Cloudya yang gemas dengan Mentari, turun tangan mencarikan sepatu yang cocok untuk Mentari yang hanya memilih satu barang. Awalnya dia pilihkan sebuah wedges untuk pasangan gaun Mentari. Tapi Mentari menolak karena dia tak terlalu suka dengan pilihan Cloudya. Cloudya paham, selain sederhana Mentari juga masih SMA yang identik dengan keremajaannya. Sebagai pilihan akhir, Cloudya memilihkan flat shoes senada dengan warna gaun Mentari.


Setelah puas berbelanja dan sempat berkeliling mall, Cloudya mengajak Mentari makan di restoran jepang. Kalau untuk ini, Mentari pernah melakukannya bersama keluarganya dulu. Jadi, dia tidak terlalu kesulitan untuk mengimbangi Cloudya


Ponsel Mentari berdering. ia keluarkan benda itu dari dalam tas selempangnya. Dia menemukan nama Rayan tertera di layar ponselnya. Dengan sengaja Mentari langsung menolak panggilan itu.


"Kenapa direject?", Cloudya bertanya sambil mengunyah makanannya.


"Nggak apa-apa, nggak penting", ia tak mau mengganggu waktunya bersama calon iparnya. Biarlah nanti saja ia hubungi Rayan lagi.


Cloudya sempat melirik id caller di layar ponsel Mentari. Dia bisa menyimpulkan sebuah kemungkinan dari gelagat Mentari yang menurutnya mencurigakan.


"Awas lho jangan suka ngasih harapan ke laki-laki lain saat lo udah berkomitmen dengan kak Awan"


"Nggak ada kak, tadi itu yang punya perusahaan tempat ayah kerja dulu sebelum beliau meninggal", jelas Mentari. ia tak mau Cloudya salah paham.


" Ada urusan apa dia nelpon lo?"


Mentari mengedikkan bahunya. "Nggak tahu kalau sekarang. Tapi, dia kasih beasiswa aku buat kuliah sebagai kompensasi kecelakaan kerja ayah"


"Ayah lo meninggal karena kecelakaan kerja?",tebak Cloudya.


Mentari mengangguk. Ya, wajar menurutnya hal semacam itu, asuransi pendidikan untuk ahli waris karyawan yang meninggal karena kecelakaan kerja. Tapi, Cloudya mencurigai sesuatu yang ganjil disana. Entahlah, dia sendiri tak mau cepat menyimpulkan.