Mentari

Mentari
Episode 187



"Ahahahhaha......" Radit tertawa terbahak-bahak, karena melihat wajah Dimas yang terlihat melas, "Rasain, Ahahahhaha....." Radit terus tertawa mengejek Dimas.


"Kurang ajar!" geram Dimas.


Oe oe oe....


Baby Raka yang baru saja tertidur merasa terusik, karena suara Radit yang sangat kuat dan kencang. Sementara Raka tengah di pelukan Radit.


"Cup....cup.... cup....." Radit tersadar jika Raka baru saja tertidur, padahal tadi ia sudah sudah susah payahnya untuk menidurkan Raka. Tapi kini tangisan Baby Raka semakin kuat.


Oe oe oe.


Raka tampaknya sangat marah, hingga ia terus menangis tanpa henti. Seolah ia sangat marah karena tidurnya terganggu akibat suara sang Abi yang cukup kencang.


"Sayang," Radit semakin panik dan ia terus berusaha untuk membuat Raka kembali tertidur.


Dimas tersenyum melihat penderitaan Radit, ia tersenyum pada Radit karena ia tidak menderita sendiri saja, "Azab!" kata Dimas penuh kemenangan.


"Sialan lu!" geram Radit, lalu ia kembali fokus pada baby Raka, "Cup....cup....sayang," Radit dengan susah payah menidurkan Raka.


Radit kini sudah selesai mengganti popok Satya, bahkan Satya terlihat begitu tampan. Jangan lupakan sudah sangat wangi juga, bahkan mungkin melebihi wangi karena parfum yang baru si belikan Oma Linda untuk cucunya habis satu botol.


"Ponakan Om Dimas ganteng, kamu ganteng banget sih kayak Om Dimas. Untung kamu enggak kayak Daddy kamu!" kata Dimas menyindir Arka.


Arka yang sudah berhasil menidurkan Sea merasa senang, karena usahanya yang begitu susah payahnya kini terbayar karena bayinya sudah tertidur pulas. Namun Arka menatap Dimas karena mendengar Dimas menyindir dirinya.


"Maksud mu apa?!" tanya Arka dengan wajah dinginnya.


Dimas tersenyum miring, setelah itu ia kembali melihat Satya yang berbaring di kasur, "Coba kalau kamu mirip Daddy kamu, udah jelek. Bawel, dingin, banyak bacot, sok keren, sungguh tidak ada baiknya sama sekali!" kata Dimas seolah berbicara pada baby Satya.


"Kalau ngomong hati-hati!" geram Arka.


Radit menatap Arka, karena baby Raka sudah kembali tertidur lelap. Tapi suara Arka sangat kencang, dan ia takut tidur baby Raka kembali terusik, "Huss.....kalau bicara pelan-pelan," kata Radit dengan suara pelan, "Itu Satya, sama Sea juga udah pada tidur. Kalau mereka kebangun, nangis, kita enggak bisa santai," kata Radit.


Dimas mengangguk dan kali ini membenarkan apa yang di katakan oleh Radit, begitu juga dengan Arka. Ia juga merasa cukup lelah dan ingin segera tidur siang, agar bisa mengembalikan tenaga yang terkuras karena berperang melawan baby agar tertidur lelap.


Kruk....


Perut Dimas berbunyi, memang ia belum makan dari tadi siang. Sementara jam sudah menunjukan pukul 03:00 hingga perutnya sampai berbunyi karena lapar.


"Perut lu brisik!" kesal Arka.


"Hehehe....." Dimas tertawa pelan, "Gue makan dulu, lapar," kata Dimas, lalu ia segera menuju dapur dan makan.


Setelah ia makan dan merasa kenyang, kini Dimas kembali ke ruang keluarga. Ia duduk di sofa.


"Akhirnya kenyang juga," kata Dimas mengelus perutnya.


Semua diam Arka pun hampir terlelap, begitu juga dengan Radit yang mulai tidak bisa menahan kantuknya. Namun tiba-tiba kaki Dimas menginjak sebuah mainan, dan membuat ketiga bayi itu terusik.


Cittttttt.


Oe oe oe.


Baby Sea mulai menangis, dan karena baby Sea menangis baby Raka juga ikut menangis karena suara baby Sea cukup kencang.


Oe oe oe.


"Dimas!!!" geram Arka dan Radit berteriak bersamaan.


Oe oe oe.


Baby Satya juga mulai terkejut dan ia pun langsung menangis dengan suara yang cukup kencang.


Oe oe oe.


"Ini gara-gara kamu!!" geram Arka. Ingin sekali ia menghajar wajah Dimas, tapi untuk saat ini tidak mungkin karena baby Sea jauh lebih penting. Hingga Arka lebih memilih untuk menggendong bayi nya, dan berusaha untuk membuat Sea tidur kembali.


"Dasar!!!" Radit juga tidak kalah geram pada Dimas, hingga ia merasa ingin juga memberikan bogem pada Dimas. Namun sejenak harus ia tahan karena baby Raka lebih penting.


Dimas juga merasa kesal pada dirinya sendiri, karena baru saja ia ingin bersantai. Tapi sudah merasakan penderitaannya. Akhirnya ketika pria itu kini berusaha keras untuk menidurkan bayi masing-masing yang mereka jaga, setelah satu jam berjuang dan ketiga bayi itu pun tertidur.


"Lelah sekali bos," keluh Dimas yang membaringkan tubuhnya pada sofa.


"Jangan brisik!" geram Radit.


"Suara mu itu!" kesal Arka.


"Kalau saya punya anak nanti, abis di lahirkan emaknya saya tarok di kamar. Udah besar baru saya ambil," kata Dimas asal.


"Enggak usah menghayal punya anak dulu, emaknya dulu di cari!" ejek Arka.


"Tau nih anak, emaknya aja belom ada. Bahkan tanda-tanda nya aja belom terlihat jodoh mu siapa!" timpal Radit yang ikut menertawakan nasib Dimas.


"Lala yang mati-matian ngejar kamu aja sudah di gaet orang!" kata Arka lagi.


"CK....." Dimas mengacak rambutnya dan membenarkan apa yang di katakan oleh kedua manusia di hadapannya.


Tiga pria itu kini mulai menyusul ketiga bayi yang tertidur lelap, mereka juga tidur dengan lelap. Bahkan tidur dengan asal.


"Assalamualaikum....."


Mentari, Rembulan, Mama Ranti, dan Maka Nina kini sampai di rumah. Setelah berjam-jam perawatan akhirnya mereka kini merasa lebih segar, namun sampai di rumah mereka shock melihat rumah seperti kapal pecah. Tidak ada lagi barang yang terletak pada tempatnya, tapi satu hal yang terlihat indah. Ketiga bayi itu tidur dengan lelapnya.


"Ini rumah apa kapal pecah?" kata Rembulan sambil melihat baby Raka yang tertidur pulas.


"Ya ampun Satya, kau wangi banget," kata Mentari yang melihat anak laki-laki nya.


Nina mengambil parfum yang tergeletak begitu saja pada lantai, "Ini parfum kayaknya tadi masih banyak," kata Nina sambil terus melihat botol parfum itu.


Ranti melihat apa yang di lihat Nina, "Ini baru saya beli Jeng, pantas saja wangi. Sekali semprot parfumnya habis satu botol," kata Ranti.


Kini ketiga bayi itu sudah di pindahkan ke kamar, dan setelah satu jam ketiga pria itu terbangun dari tidurnya.


"Mmmmm......" Arka membuka matanya dan melihat anaknya tidak ada, ia mengusap matanya sampai beberapa kali. Namun sama saja, kemudiannya ia melihat Raka dan Satya juga tidak ada tempat nya. Arka semakin shock, karena beranggapan ketiga bayi itu hilang, "Dimas, Radit!!!!" seru Arka sekencangnya.


"Emmmmm!" kata Dimas masih menutup mata nya dan malas bangun.


"Apasih!" kata Radit yang juga masih sangat mengantuk.


"Woy bangun, Raka, Sea sama Satya di culik!!!" seru Arka dengan panik.