Mentari

Mentari
Episode 135



"Iqbal.....?" Rembulan masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Iqbal karena dari tadi Iqbal hanya diam, bahkan ia terlihat seperti orang ketakutan.


"Aku pulang dulu ya, lain kali kita ketemu lagi."


Iqbal berusaha menghindari Rembulan, karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Rembulan. Di satu sisi Rembulan sahabatnya tapi di sisi yang lain Radit juga sudah seperti saudaranya sendiri, Iqbal seperti terperangkap dalam ucapannya sendiri atau permintaan maaf yang ia sampaikan pada Rembulan.


Rembulan tentu saja masih sangat penasaran hingga ia tidak ingin Iqbal pergi sebelum menjelaskan apa yang dimaksud Iqbal barusan, "Kamu harus jelasin ke aku, kita ini sahabat kamu, Luci, Reni, aku, dan Radit. Aku harap gak ada yang disembunyikan di antara kita, aku mohon jelasin."


Iqbal melihat Rembulan kemudian melihat luci sejenak ia menimbang apakah berbicara pada Rembulan atau tidak, tapi wajah Rembulan terus menatapnya dengan perasaan berharap hingga Iqbal kembali duduk di sofa.


Ayo Bal ceritain sama aku sebenarnya apa yang terjadi," pintar Rembulan.


"Iqbal ngomong dong," Luci yang dari tadi diam ikut emosi karena ia juga sangat penasaran. Apa yang sebenarnya dirahasiakan antara Iqbal dan juga Radit.


"Aku yang masukin obat ke minuman kamu dan itu karena Radit yang minta, awalnya aku keberatan tapi aku tahu sejak dulu dia itu udah sayang sama kamu sampai akhirnya aku setuju buat bantuin dia dan malam itu sebenarnya bukan kesalahan, tapi memang sudah dibuat sampai akhirnya pernikahanmu batal, dan saat kamu meminta pertanggungjawaban pada Radit sebenarnya tanpa kamu minta pun Radit akan menikahi mu, hanya saja Radit berpura-pura diam karena dia tidak ingin kamu tahu dan takut kamu pergi darinya," jelas Iqbal.


Iqbal sebenarnya merasa ini bukan haknya untuk menceritakan kepada Rembulan, dan ia tidak berhak untuk ikut campur. Tapi karena Rembulan memaksanya dan karena kesalahannya yang meminta maaf pada Rembulan yang tiba-tiba hingga Rembulan curiga dan memaksanya untuk bicara. Dan kini ia mengatakannya walaupun dengan perasaan bersalah pada Radit, bukan bermaksud untuk berkhianat. Hanya saja itulah kebenarannya Ia pun merasa berdosa sudah ikut adil dalam membuat Rembulan menderita.


Rembulan tertunduk, air matanya menetes begitu saja tidak menyangka ternyata Radit sendiri yang menciptakannya masuk kedalam perangkap ini, "Ini Bukan soal perasaan Iqbal, tapi karena masalah ini aku ditimpa masalah yang sangat besar, kamu tahu Iqbal aku hampir mati karena bunuh diri. Dan itu karena keluargaku membenci aku, saat malam itu terjadi aku pergi dari hari pernikahan aku, sampai adikku Tari harus rela gantiin aku. Ini sangat menyakitkan, aku hamil dan menyembunyikan semuanya dari keluarga ku kalau kamu bilang Radit begitu menyayangi aku, sejak dulu kenapa dia pergi setelah menikahi aku, apa dia tidak memikirkan perasaanku saat itu. Aku hanya berpikir untuk mendapatkan Maaf dari orang-orang yang Aku sakiti termasuk Arka, aku hanya ingin meminta maaf darinya sampai aku memohon pada Radit untuk menikahi ku dan ternyata....." Rembulan menitihkan air mata sambil menarik rambutnya ke belakang, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan ternyata semua bukan karena kesalahan tapi murni karena rencana Radit sendiri.


"Aku benar-benar minta maaf Lan," pinta Iqbal lagi.


"Aku nggak ngerti kenapa kalian setega ini sama aku. Aku nggak tahu salah aku apa sama kalian, tapi yang aku tahu aku benci sama kamu, kamu tega!" bibir rembulan semakin bergetar seiringan dengan sakit hati yang ia rasakan air matanya terus saja basah di pipi, rasanya sangat sakit sekali. Segala penderitaan yang ia rasakan dan ternyata penyebabnya adalah suaminya sendiri, Radit orang yang katanya mencintainya tapi dengan tega membuatnya menderita.


"Lan maaf," lirih Iqbal.


Rembulan bangun dari duduknya ia mengambil tas tangan miliknya yang terletak di meja kemudian ia keluar dari Restaurant dan segera menaiki taksi, air matanya terus saja tumpah membasahi pipi. Mengapa sakit sekali rasanya jika memang benar begini kenyataannya. Kenapa di saat dia membutuhkan seseorang di sampingnya Radit harus pergi. Kenapa Radit tidak terus berada di sampingnya kalau memang Radit merasa bersalah, kalau memang Radit mencintainya. Kenapa Radit harus menjauh darinya saat itu.


Kaki Rembulan turun dari taksi , ia langsung masuk ke dalam rumah dengan air mata yang terus mengalir sampai tiba-tiba Mama Ranti melihat Rembulan yang berjalan di hadapannya.


"Ma Ulan ke kamar dulu ya," pamit Rembulan, kemudian ia langsung menaiki anak tangga tanpa menunggu jawaban Mama Radit.


"Ulan kamu Kenapa Nak?" tanya Mama Ranti lagi, namun ia hanya diam tanpa berani mengejar Rembulan yang sudah perlahan menghilang dari pandangannya.


Rembulan menutup pintu kamar ia menangis tersedu-sedu, sungguh ia tidak menyangka jika Radit begitu tega padanya. Jika memang Radit tulus padanya mengapa Radit membiarkan nya sendiri di saat ia sangat butuh sandaran. Sulit di pahami tapi Rembulan sangat terluka dengan kenyataan yang ia terima.


Sementara Ranti merasa khawatir melihat keadaan Rembulan yang tiba-tiba menangis, padahal tadi Rembulan saat berpamitan keluar masih baik-baik saja. Hingga akhirnya ia menyusul Rembulan, ia sangat khawatir sekali.


"Kak Ulan Mama masuk ya," Ranti langsung memutar gagang pintu dan masuk, ia sudah sangat panik akan keadaan Rembulan, hingga matanya melihat Rembulan yang duduk di lantai sambil menangis, "Ulan kamu kenapa Nak?" Ranti mulai mendekat pada Rembulan ia ikut berjongkok.


"Mama, hiks....hiks....hiks...." Rembulan langsung memeluk Ranti, rasanya hanya Radit yang mampu menopang segala beban yang ia rasakan.


"Ulan kamu kenapa Nak?" tanya Ranti lagi.


"Radit jahat Ma....hiks.....hiks....hiks...." Rembulan terus menangis, tanpa bisa berkata-kata. Sungguh apa yang tadi ia dengar sangat menyakitkan, karena ternyata Radit tidak sebaik yang ia bayangkan.


"Radit?" Ranti masih bingung dan ia mulai menangkup wajah Rembulan, "Kamu bertengkar sama Radit?" tanya Ranti.


"Nggak!" Rembulan menggeleng dengan tangis yang terus saja terdengar dari mulutnya.


"Ulan, kamu udah dewasa.....kalau ada masalah itu di selesaikan baik-baik Nak, jangan begini, coba bicara dengan baik-baik sama Radit," kata Ranti berusaha menasehati Rembulan.


Rembulan menggeleng, "Radit jahat Ma, dia udah jebak Ulan Sampek Ulan tidur sama Radit....Ulan kabur di hari pernikahan Ulan sama Arka karena Radit yang udah ambil kesucian Ulan Ma. Ulan nikah sama Radit karena hanya cara itu Arka mau maafin Ulan, dan Mama tau, setelah kami menikah Radit pergi gitu aja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.....tanpa memikirkan Ulan yang di benci sama Mama, Papa, Tari dan Arka, Sampek Ulan coba bunuh diri.....terus tiba-tiba Ulan ketemu Radit di hari pertunangan nya dengan wanita lain, apa dia nggak merasa bersalah sama Ulan Ma?" tanya Rembulan penuh luka.


*


tolong Like dan Vote ya Kakak.