Mentari

Mentari
Episode 153



"Mas Haikal udah pulang belum dari Kairo?" tanya Mentari.


"Kayaknya sih udah, kenapa?" tanya Rembulan balik.


"Mas Haikal itu siapa yang?" tanya Arka. Walaupun tetangga tampaknya Arka begitu cuek hingga tidak tahu siapa tetangganya sendiri.


"Ya ampun Kak Arka, Mas Haikal itu yang kuliah di Kairo...dia itu pernah bilang kalau udah selesai kuliah mau lamar Tari, nah rencana nya Tari mau minta tolong sama Mas Haikal buat ambil buah mangga yang di atas pohon," Mentari menunjuk mangga yang sangat ia inginkan.


"Kakak yang panjat!" kata Arka dengan cepat takut bila Mentari benar-benar malah meminta tolong pada lelaki lain.


"Enggak usah Kak, biar Mas Haikal aja......takutnya Kakak jatuh lagi," Mentari sebenarnya tidak tega pada Arka yang memanjat tapi Arka sepertinya memaksakan diri.


"Hati-hati ya Kak," kata Mentari yang berada di bawah pohon.


Arka sudah naik, namun belum setengah jalan ia merasa ada yang tidak beres, "Semut," Arka mencoba menepuk semut itu. Sampai ia lupa untuk memegang pohon dan ia terjatuh.


Buk!!!


Suara Arka terjatuh.


"Tari kok kayak ada suara nangka jatuh?" tanya Rembulan.


"Bukan nangka Kak, itu suami tercintanya Tari," jawab Mentari dan ia mulai mendekat pada Arka.


"Aduh....." Arka merasa cukup sakit sekali pada bokongnya.


"Sakit Kak?" tanya Mentari.


Arka menatap Mentari, 'Ya ampun istri ku polos banget ya, kalau jatuh pasti sakit,' batin Arka. Namun ia menatap Mentari sambil tersenyum, "Enggak sayang, Kakak enggak apa-apa," bohong Arka.


"Ya udah enggak usah Kakak panjat, Mas Haikal yang tetangga sebelah itu jagonya manjat Kak....dia pasti dengan senang hati mau manjatin buah mangga nya buat Tari," kata Mentari.


Mentari kasihan pada Arka, karena Arka kelihatan nya tidak bisa memanjat. Sedangkan Haikal sangat pandai memanjat, bahkan dulu sering Haikal yang memetik mangga itu untuk dirinya.


"Sayang, kamu apasih," Arka kembali berdiri. Tentu saja ia tidak mau kalah dengan tetangga nya itu. Apa lagi sampai-sampai Mentari begitu membanggakan Haikal, itu sangat membuat harga diri Arka terjatuh kan di hadapan istrinya. Sementara Arka tidak ingin ada yang berani mengalahkan dirinya, karena dimata Mentari harus ia yang paling hebat.


"Kenapa Adik Ipar," Radit mulai mendekat pada Arka dan Mentari. Bahkan ia sedang ingin mengolok-olokkan Arka.


"CK...." Arka tahu kedatangan Radit hanya untuk mengejek dirinya, "Brisik!" ketus Arka.


"Kak bisa nggak?" sejujurnya Mentari takut Arka terjatuh lagi, dan ia juga tidak ingin Arka terluka. Hingga Mentari lebih memilih untuk meminta bantuan pada yang sudah jagonya dalam memanjat dan itu adalah Haikal. Namun sayang Mentari dapat Melihat Arka yang sangat yakin memetik mangga sendiri untuk dirinya. Sebenarnya tidak ada niat Mentari ingin memanas-manasi Arka. Namun tanpa Mentari sadari jika Arka sudah sangat panas saat Mentari membanggakan pria lain. Padahal tidak ada di hati Mentari membanggakan yang lain, karena dimata Mentari Arka sudah lebih dari sempurna.


Arka masih terus mencoba, walaupun gagal tapi ia terus berusaha tanpa mengenal rasa menyerah.


"Awas....jatuh dari pohon tidak seindah jatuh cinta," goda Radit, saat Arka sudah naik di setengah pohon.


Sementara Arka hanya diam sambil terus berusaha memanjat, tapi di hatinya ia juga berdoa semoga Rembulan juga meminta mangga. Dan yang memanjat harus Radit.


"Abi," Rembulan melihat Radit penuh harap.


"Iya Umi ku?" Radit tersenyum sambil melihat Rembulan yang berdiri di sampingnya.


Rembulan diam, karena ia tidak berani mengutarakan keinginannya.


Rembulan tersenyum dan melihat buah mangga yang masih ada di atas pohon sana.


Glek.


Radit meneguk saliva, tampaknya ia tahu jika Rembulan juga ingin mangga tersebut. Sedangkan ia juga sama seperti Arka yang tidak pandai memanjat.


"Abi sayang enggak sama anak kita?" tanya Rembulan ragu, "Enggak usah di jawab Abi, karena Umi pengen Abi panjat mangga yang di pucak sana..... kalau. Abi mau berarti jawab nya iya, kalau enggak berarti...." Rembulan menatap Radit dengan wajah sedihnya.


"I....iya," jawab Radit dengan cepat, karena ia tidak ingin lagi ada pertengkaran apa lagi ada masalah. Karena baru saja ia merasa indahnya saat-saat bersama Rembulan, tentu saja ia tidak ingin berjauhan lagi.


"Abi," Rembulan langsung memeluk Radit dari samping "Makasih Abi," kata Rembulan tersenyum.


Radit berkeringat dingin, bukanya karena Rembulan. Tapi karena pohon yang sangat tinggi, di tambah lagi ia harus mengambil buah mangga yang paling puncaknya.


"Kak Ulan juga mau buah mangga?" tanya Mentari.


"Iya, dan Kak Radit mau manjat juga," kata Rembulan dengan bahagia, "Iya kan Abi?" tanya Rembulan lagi pada Radit.


"I....iya," Radit menggaruk tengkuknya, tidak bisa memanjat namun ia juga tidak ingin senyum bahagia Rembulan menghilang begitu saja.


"Semangat Kak Arka, karena Kak Radit juga akan menyusul," teriak Mentari, karena Arka sudah berhasil memanjat pohon mangga.


Arka tersenyum dan ia langsung melihat wajah kusut Radit, "Tuhan memang maha adil," kata Arka penuh bahagia, "Dia tidak membiarkan aku menderita sendiri," Arka sangat bahagia karena doanya barusan sangat cepat terkabul.


"Kak, lempar buahnya," pinta Mentari.


"Sayang enggak usah di tangkap, Kakak aja yang bawa turun," kata Arka, karena ia takut jika salah-salah malah terkena perut Mentari, apa lagi juga kaki Mentari tersandung saat berusaha menangkap mangga nya.


"Iya udah, yang penting Tari dapat mangga nya," Mentari tersenyum penuh bahagia.


"Abi," Rembulan juga sudah ingin, tapi Radit masih diam di bawah pohon.


"Iya," kata Radit dengan keringat dingin nya, kemudian ia melihat keatas dan pohon itu cukup tinggi. Hingga mata Radit melihat ada tangga di dekat mereka, seperti mendapat jalan pintas di tengah jauhnya perjalan yang di tempuh. Radit langsung. Mengambil tangga itu, dan mulai memanjat dengan tersenyum.


"Sial," Arka ingin mengejek Radit, tapi sepertinya jalan Radit menaiki pohon sangat mulus sekali. Tidak seperti dirinya, yang sampai beberapa kali terjatuh. Bahkan sampai di gigit semut. Arka cepat-cepat turun setelah mendapat mangga nya dan Mentari tersenyum bahagia.


"Makasih Kakak," ucap Mentari penuh bahagia.


Dan Radit si atas sana hanya santai saja, "Umi mau yang mana?" tanya Radit dengan angkuhnya.


"Yang itu," Rembulan menunjuk mangga yang ia inginkan.


"Iya sayang," kata Radit seolah membusung dada, setelah memetik beberapa mangga Radit bersiap-siap untuk turun.


"Radit...." kata Ranti yang baru saja ikut bergabung di antara anak menantunya, "Itu tangganya sudah rusak Nak," kata Ranti panik.


"Rusak?" tanya Radit.


Buk!


"Aaau......"