
"Assalamualaikum....." kata Mentari yang berjalan masuk bersama dengan Arka.
"Waalaikumusalam....." jawab Ranti yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ranti tersenyum karena anak dan menantunya terlihat begitu bahagia, "Kalian udah makan siang?" tanya Ranti.
"Udah Ma, di kantor Kak Arka," jawab Mentari.
"Arka ke kamar dulu ya Ma," pamit Arka, karena ia merasa cukup lelah.
"Iya," kata Ranti tersenyum.
"Tari juga ya Ma," pamit Mentari.
"Tari tunggu," tangan Ranti langsung menarik. lengan Mentari, hingga akhirnya Arka terlebih dahulu masuk.
"Kenapa Ma?" tanya Mentari yang menatap Ranti penuh tanya.
Ranti melihat sekitarnya, dan mematikan jika Arka pun sudah tidak ada di antara mereka.
"Mama kenapa sih?" tanya Mentari semakin bingung dan juga penasaran.
"Jadi gini," Ranti mengecilkan suara nya agar tidak ada yang mendengar perkataan nya, "Kak Ulan sama Kak Radit, dari siang tadi belum keluar kamar," kata Ranti dan ia kembali melihat sekitarnya.
"Iya," kata Mentari yang kesal, karena Ranti yang berbicara sepotong-sepotong dan itu membuat Mentari sang wanita gesrek penasaran.
"Mama mau minta tolong sama kamu, kamu ke kamar Kak Ulan...... terus suruh Kak Ulan makan, nanti dia sakit," kata Ranti.
"Caelah Mama, itu doang pakek bisik-bisik," kesal Mentari, "Tari pikir apa."
"Tari," Ranti geram karena anak bungsunya itu entah kapan bisa menjadi dewasa, bahkan Mentari sama sekali tidak mengerti dengan maksud nya, "Udah cepat ke kamar Kak Ulan sekarang!" kesal Ranti.
"Iya," ketus Mentari.
"Tari......jangan sembarang masuk, ketuk pintu dulu," kata Ranti memberikan peringatan.
"CK......Mama apasih ribet banget deh jadi emak-emak," gerutu Mentari, sementara ia kini sudah menaiki anak tangga. Dan sesaat kemudian ia sampai di kamar Rembulan, Mentari berdiri di, depan pintu, "Makan aja di paksa," kata Mentari berbicara sendiri. Mentari berniat mengetuk pintu namun belum sempat mengetuk, pintu sudah terbuka dan Rembulan di sana.
"Apa!!!" kesal Rembulan, sebab karena ide gila Mentari ia yang tadi menjadi sasaran Radit.
Mentari menatap sinis, ia bahkan memandang Rembulan dari ujung kaki sampai ujung rambut, "Jutek amet...." ketus Mentari.
"Heh.... gara-gara ide lu, gue yang kena imbasnya!" kata Rembulan sambil berkacak pinggang.
"Emang apa imbasnya?" tanya Mentari santai.
"Sayang," terdengar suara Radit dari dalam kamar.
"Bentar," jawab Rembulan yang masih berdiri di depan pintu, wajahnya hanya menatap Mentari dengan kesal.
Mentari tersenyum, "Caelah Kak Ulan," Mentari mulai memiliki bahan untuk mengejek Rembulan, "Sayang," Mentari menirukan suara Radit yang tadi memanggil Rembulan, tidak lupa sambil cekikikan karena melihat wajah Kakaknya yang bersemu merah, "Itu muka apa tomat," celetuk Mentari lagi.
"Apasih lu Dek!" Rembulan memang tidak akan pernah bisa menang dari Mentari, karena adiknya itu punya segudang cara untuk membuatnya kesal.
"Caelah Kak," Mentari mendekati Rembulan dan menghirup aroma tubuh Kakaknya, "Wangi banget Kak," kemudian Mentari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, "Jam 04:20," kemudian Mentari melihat Rembulan penuh intimidasi, "Gimana Kak?" Mentari dengan jailnya menaik turunkan alis matanya.
Rembulan ingin sekali mengucek wajah Mentari, "Bisa nggak sih sehari aja enggak cari ribut sama gue!"
"Enggak!!!" jawab Mentari enteng.
"Minggir!" Rembulan menyenggol Mentari sedikit, lalu ia pergi dari hadapan Mentari.
"Kak!" teriak Mentari.
"Apaan?" Rembulan berhenti melangkah dan berbalik melihat Mentari yang masih berdiri di depan pintu kamar nya.
"Wajah lu pucat banget, mainnya pelan-pelan aja kesihan ponakan gue!" seloroh Mentari.
"Bodo amet!" jawab Rembulan dan ia kembali menuruni anak tangga, karena perutnya sudah sangat lapar sekali.
"Iya Ma," Rembulan menarik kursi meja makan, dan segera duduk. Sambil tangannya memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu belum makan kan?" tanya Ranti, "Radit mana? Kok enggak ikut turun?" tanya Ranti lagi.
"Radit di sini Ma," kata Radit yang berjalan kearah meja makan, dan ia ikut duduk di kursi bersebelahan dengan Rembulan.
"Ayo makan," Ranti memang sudah menyajikan makanan dari tadi, karena Rembulan belum makan. Kandungan Rembulan tidak seperti Wanita lainnya, karena sudah berulang kali pendaran membuat Ranti sangat menjaga kandungan Rembulan dengan baik.
"Iya Ma," jawab Rembulan dan mengambil nasi.
"Mama ke depan dulu....mau nyiram bunga mawar kesayangannya Mama," pamit Ranti lalu pergi.
Rembulan terus memijat kepalanya, rasanya sangat pusing sekali.
"Kamu kenapa?" tanya Radit.
"Kepala aku pusing banget," jawab Rembulan.
"Yaudah, kamu makan dulu ya....nanti Abi pijitin," Radit mengisi nasi di piring, "Mau makan pakek apa?" tanya Radit lagi.
"Apa aja, aku udah lapar banget," jawab Rembulan.
"Enggak bisa apa aja," jawab Radit santai.
"Kenapa?" tanya Rembulan bingung.
"Karena nanti aku kasih makan cinta kamu enggak kenyang," goda Radit.
"Ish....Abi apasih....gombal lagi deh," kata Rembulan dengan pipi memerah merona, dan seperti banyak love kecil berwarna pink yang bertaburan di sekeliling.
"Ish.....gemusnya," kata Radit sambil terkekeh.
"Ehem-ehem......" Mentari ikut duduk di kursi meja makan.
Rembulan menatap Mentari dengan kesal, karena ia tahu Mentari pasti hanya menjadi perusak suasana.
"Ngapain tu mata, ini masih rumah Mama gue juga ya Kak!" kata Mentari yang mengerti dengan tatapan Rembulan.
"Sayang makan dulu, Abi suapin," Radit sudah mengerti tentang Rembulan yang selalu terlibat cekcok kecil. Tapi ia juga tahu jika adik Kakak itu sangat saling menyayangi. Hingga ia merasa tidak perlu ambil pusing dengan kecerewetan Mentari.
Rembulan membuka mulutnya, dan menerima suapan Radit. Kemudian ia mengunyahnya dengan santai.
"Udah waras kok masih di suapin!" seloroh Mentari.
"Tari!" Rembulan menatap tajam Mentari.
Mentari mengibas-ngibaskan tangan nya, seolah tidak perduli pada Rembulan, "Kak Radit tahu enggak, kalau kemarin Kak Ulan pura-pura gila karena pengen di suapin dan di kelonin Kak Radit," kata Mentari sambil tertawa kecil.
Radit menatap Rembulan dengan senyuman, sementara Rembulan sudah tidak punya muka dihadapan Radit.
"Terus ya Kak, kalau Kak Radit pergi Kak Ulan galau karena kangen sama Kak Radit," kata Mentari lagi.
Apa yang dikatakan Mentari benar-benar membuat Rembulan sangat malu.
Radit masih tersenyum pada Rembulan, Bahkan Radit mengkedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Rembulan tersenyum sambil menggosok-gosok wajahnya, Radit seperti sedang tebar pesona. Sangat tampan sekali di mata Rembulan.
"Terus ya Kak Radit," Mentari kembali bersuara, dan Radit pun melihat Mentari yang duduk saling berhadapan dengan nya, "Kalau pas Kakak pulang, dia gintip dari balkon....terus dia buru-buru dandan, karena Kakak pulang, Ahahahah......" Mentari benar-benar tertawa lepas melihat Rembulan yang malu dan kesal padanya. Mungkin sebentar lagi Rembulan akan menerkam nya. Sebenarnya Mentari sengaja mengatakan itu, karena ia tahu Rembulan sangat mencintai Radit begitu pun sebaliknya. Hanya saja keduanya gengsi, jadi dengan mengungkapkan itu semua Mentari berharap Radit dan Rembulan bisa saling terbuka karena sudah saling mengetahui perasaan masing-masing nya.
*
Jangan lupa Like dan Vote. Dan semangat ya akhir bulan nanti Othor bakal bagi-bagi pulsa. Terima kasih.