
Seperti yang sudah dititahkan oleh Rayan. Mentari datang ke perusahaan Rayan setelah dirinya pulang sekolah.
"Selamat pagi Bu. Saya ada janji dengan Pak Jimi. Dimana saya bisa bertemu dengan beliau?"
"Tunggu sebentar dek, saya konfirmasi ke Pak Jimi dulu",ucap resepsionis itu ramah.
Beberapa saat Mentari menunggu mbak-mbak resepsionis yang sedang dalam panggilan, dia amati sekelilingnya. Perusahaan Rayan besar, sama seperti milik Awan. Ah, kenapa malah jadi inget Awan ya? Sekeras apapun dia berusaha melupakan Awan,tetap saja hati dan otaknya mengingat Awan.
"Adek bisa langsung ke ruangan Pak Rayan. Pak Jimi sudah menunggu disana"
"Terima kasih Bu"
"Sama-sama"
Meski agak ragu,Mentari tetap melangkahkan kakinya menuju ruangan Rayan. Seingatnya ruangan Rayan ada di lantai 10. Dia menaiki lift menekan angka 10. Dia mencoba mengingat dimana letak ruangan Rayan,karena terakhir kali dia datang kesini sudah cukup lama.
Mentari menatap pintu di depannya. Ada tulisan Direktur atas nama Rayan dan segala gelarnya disana. Ya, tata letaknya belum berubah dari terakhir kali Mentari kesana.
tok..tok...tok..
"Masuk!"
Mentari mendorong pintu berbahan kayu jati itu dan menemukan dua sosok lelaki tampan yang sedang duduk di sofa.
"Silahkan masuk dan silahkan duduk nona"
"Terima kasih Pak Jimi", Mentari duduk di sebuah sofa single di sana.
"Kamu sudah siap isi formulirnya?", pertanyaan itu datang dari Rayan.
"Udah Pak". Tapi Rayan melotot. "Eh Om"
Jimi yang sedang fokus memeriksa berkas palsu tentang beasiswa dari perusahaan Rayan, menghentikan aktifitasnya. Menatap pada Rayan dengan pandangan seolah bertanya 'sejak kapan dipanggil om?'
Rayan cuek,hanya menaikkan sudut bibirnya saja. "Baiklah, kamu bisa membahasnya dengan Jimi"
Rayan memperhatikan Mentari yang sibuk berbicara dengan Jimi. Mentari diminta mengisi formulir pendaftaran mahasiswa dari kampus yang telah dipilih Mentari. Hanya berkas dari kampuslah yang merupakan berkas asli. Sedangkan berkas dari perusahaan semuanya akal-akalan Rayan.
"Selamat Mentari. Kamu sudah terdaftar di kampus yang kamu inginkan dengan jalur khusus", Rayan menyalami Mentari. Tentu saja jalur khusus yang dimaksud adalah jalur yang melalui kekuasaan dan juga uang Rayan.
"Terima kasih banyak Om, akhirnya aku bisa kuliah juga". Ucap Mentari tulus.
"Belajarlah yang rajin. Dan kejar cita-citamu setinggi mungkin"
"Siap Om", Mentari memasang tangannya seperti prajurit hormat kepada komandannya. Sejak Rayan bertamu ke rumah Mentari kemarin, mereka menjadi lebih akrab. Mentari mengurangi bahasa formalnya kepada Rayan. Bahkan lelaki itu sendiri yang memintanya.
"Kamu sudah makan?", Rayan mengalihkan pembicaraan.
"Belum Om,tadi pulang sekolah langsung kesini"
"Kita makan dulu sebentar sebelum kamu pulang"
"Nanti aja Om, aku bisa makan sendiri. Om kan lagi kerja",Mentari menolak secara halus.
"Jangan menolak rejeki Mentari", Rayan menatap tajam Mentari. Sementara Jimi hanya geleng-geleng kepala saja.
"Baiklah... kalau om memaksa", Mentari tersenyum canggung. Ia segan kepada Rayan dan merasa tak enak hati menolak ajakan Rayan.
Rayan mengajak Mentari makan disebuah restoran yang cukup mewah.Mereka hanya berdua,karena Jimi menghandle semua kerjaan Rayan yang ditinggalkannya. Dasar atasan yang semena-mena.
"Kamu mau pesan apa?". Mereka sudah duduk manis di sana.
"Apa aja Om, aku nggak tahu makanan-makanan disini. Mungkin yang mengenyangkan saja" Mentari malu-malu mengatakannya. Tapi,dia memang harus mengatakan yang sebenarnya daripada salah pesan makanan.
"Baiklah kalau gitu. Biar aku yang pesenin". Rayan memesan makanan yang dia pikir sesuai dengan kriteria Mentari. Dia sendiri maklum akan keadaan Mentari. Ia kembali diingatkan tentang sosok Amel yang sederhana saat pertama Rayan mengajaknya makan di restoran mewah. Sedangkan Mentari sendiri, Awan belum sekalipun mengajak Mentari makan direstoran mewah. Mereka lebih suka delivery dan menghabiskan waktu di apartemen.
Di sebuah sudut restoran yang lain,Awan menatap nyalang dua orang yang sedang berbicara dengan asyik itu. Ya, Awan disana. Menyaksikan sendiri Mentari dan Rayan datang berdua ke restoran itu.
"Udahlah boss,sabar sebentar lagi. Pasti Mentari balik ke lo lagi", Ucap Indra setelah sesaat mengikuti pandangan Awan.
Awan mengusap kasar wajahnya. "Lo nggak lihat sikapnya yang sok manis itu? Bikin gue muak"
"Wajar donk kan lagi PDKT"
Awan masih menatap sengit kedua orang tersebut. Indra berpindah tempat ke sebelah Awan. Mengambil kepala Awan untuk ia arahkan ke tempat lain. "Nggak usah dilihatin terus, lo juga nggak bakalan bisa berbuat apa-apa. Kalau lo nekat yang ada Mentari malah makin jauh dari lo"
"Lo harus segera selesaikan masalah Lusi Ndra". Wajah Awan muram.
"Lo nggak mau?",tegas Awan.
"Ck, iya iya...", Indra berdecak kesal. "Lagian kan udah ada James"
Awan mendengus. "Sialan!! Gue bisa gila lama-lama lihat drama kaya gitu setiap hari"
"Makanya punya burung tuh dikandangin yang bener,biar nggak bikin masalah kayak gini", Indra sedikit mencibir.
"Indra!"
"Hmmm",jawabnya enteng. Indra belum melihat ekspresi wajah Awan yang seperti ingin menerkamnya. Ia sedang sibuk dengan gawainya.
"Lo mau gue pecat atau bini lo gue balikin ke mantannya?", Suaranya lirih tapi penuh penekanan.
Indra mendongak menatap Awan,dia tersenyum kikuk,tak menyangka bossnya akan marah dengan candaannya itu. "Gue bercanda boss. Lo mah sekarang sensitif banget kayak pantat bayi"
Awan mendengus kasar. "Jangan bikin mood gue makin hancur Ndra"
"Iya iya...peace", Indra menaikkan jarinya membentuk huruf V.
Awan dan Indra masih mengawasi Mentari. Awalnya pertemuan itu tidak disengaja. Awan memang sedang bertemu clientnya ditemani Indra. Setelah clientnya pergi, mereka berniat ngobrol sebentar sambil ngopi santai. Tapi, apa yang mereka lihat sekarang? Sungguh pemandangan yang membuat hati Awan bergejolak.
***
Awan menunggu seseorang membukakan pintu sebuah rumah minimalis yang terlihat mewah. Ia disambut seorang asisten rumah tangga yang sudah paruh baya.
"Tuan", sapa ART kepada Awan sambil membungkukkan badannya. Ia nampak terkejut melihat Awan pulang. Setahunya Awan jarang sekali mengunjungi rumahnya itu.
Awan mengangguk samar. "Dimana Lusi?"
"Ibu ada di atas Tuan"
"Hmmm", Awan hanya berdehem singkat lalu meneruskan langkahnya mencari Lusi.
Awan memelankan langkahnya kala mendengar suara Lusi yang sedang tertawa-tawa. Ia tajamkan pendengaran demi menguping pembicaraan Lusi. Dia tempelkan telinga ke daun pintu kamar Lusi yang seharusnya menjadi kamar mereka berdua.
"Jangan sekarang ketemunya. Kamu harus sabar", Suara Lusi terdengar ceria. "Nanti aku kasih tahu kalau semua udah aman"
"......"
"Kalau kamu mau tetap kita berhubungan, jangan berani-berani muncul di depan Awan. Ingat! hubungan kita cuma sebatas mau sama mau, nggak ada kata suka sama suka"
"....."
" Kamu emang partner terbaikku"
"....."
"Oke, sampai ketemu lagi nanti. Bye!!"
Meskipun tak dapat mendengar secara utuh isi percakapan Lusi dan seseorang di seberang telepon,Awan sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi.
Krieetttt, Awan membuka pintu kamar Lusi tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Untung saja pintunya tidak terkunci.
"Sayang!", Lusi terkejut. Ia meletakkan sembarangan ponselnya yang ia gunakan tadi dan menghampiri Awan." Kamu pulang juga akhirnya", Lusi memegang lengan Awan. Ia amat senang dengan kedatangan Awan.
Awan menyentak tangan Lusi."Gue cuma mau bilang, jangan lupa datang ke rumah mama Mayang besok malam"
"Mama mau ngadain makan malam keluarga?",tanya Lusi antusias.
"Ya", jawab Awan singkat. Kemudian ia berbalik dan keluar dari kamar Lusi.
"Sayang,malam ini nginep disini aja", Lusi mengikuti Awan menuruni tangga.
"Jangan berharap banyak Lus!"
"Tapi..."
Belum sempat Lusi meneruskan kata-katanya, Awan sudah berbalik menghadap Lusi sambil menaikkan telapak tangannya tanda Lusi harus berhenti berbicara.
Tanpa berbicara apapun, Awan berbalik lagi dan melangkah ke luar dari rumah itu. Sungguh,Awan tak ada niat sama sekali untuk tinggal bersama istrinya itu barang setu malam saja.
.