
"Jadi gimana Jeng?"
"Saya setuju saja Jeng, jadi pernikahan dan resepsi sekalian saja Jeng," jawab Ranti dengan senyuman.
"Ma enggak usah pakai resepsi kali ya?" kata Rembulan yang terlihat keberatan dengan usul Mama Ranti dan juga Mama mertuanya.
Ranti dan Nina seketika bingung, kemudian ia melihat Rembulan.
"Udah punya anak Ma, malu aja," jelas Rembulan. Karena menurutnya itu terlalu berlebih-lebihan sekali, lagi pula ia dan Radit pun sudah kenal lama.
"Lho, jangan begitu dong, mau udah punya anak apa belum. Tetap harus ada resepsi, kasihan dong Mama Ulan," ujar Nina sambil menatap Radit.
"Kok kasihan Mana?" tanya Rembulan bingung.
"Mama cuman punya anak satu, si semprol itu. Terus kapan dong Mama rasain pesta anak sendiri," jelas Nina.
Radit langsung menatap tidak suka pada Nina, ingat kata yang di ucapkan oleh Nina tadi. Semprol. Sungguh sangat mengesalkan, "Saya Radit Mahesa Wijaya spesialis Obgyn, bukan semprol. Tolong di garis bawahi!" kata Radit.
"Mmmmfffffpp....." Rembulan menahan tawa melihat kekesalan nya Radit, karena Radit terlihat seperti anak kecil yang sedang ingin sesuatu tapi tidak ia dapatkan.
"Nyesel Mama bikin nama kamu Radit, seharusnya Semprol! Abis tingkah kamu ngeselin, Mama ngadain resepsi itu karena kasihan sama Rembulan. Menikah satu kali seumur hidup tapi cuman akad doang! Apaan laki model begini, kala Mama jadi Rembulan udah buntut pesta mewah!" kata Ranti yang kesal pada anak kesayangan nya Radit.
"CK....." Radit menggaruk kepalanya, seperti apapun ia belajar untuk berdebat bila kawan berdebatnya ada Nina Mama yang sangat ia cintai, ia tidak akan pernah menang. Dan pilihan terbaik adalah diam.
"Abi udahlah," Rembulan mengelus punggung Radit yang duduk di sampingnya, Rembulan hanya menahan tawa saat melihat wajah kesal Radit.
"Umi kita ke kamar aja yuk, biarin aja Mama di sini yang urus resepsi pernikahan kita," kata Radit yang ingin mengajak Rembulan ke kamar.
"Enak aja," Nina kembali menarik Rembulan untuk duduk di sofa, "Ulan, ini Mama punya contoh gaun. Nanti desainer nya yang datang ke sini," kata Nina sambil memberikan ponselnya.
Rembulan tampaknya tidak ingin membuat Nina kecewa, hingga ia pindah duduk ke samping Nina. Dan melihat-lihat semua contoh gaunnya, namun saat Nina melihat kesulitan akhirnya ia mengambil baby Raka. Dan memberikan nya pada Radit.
"Kamu jaga dulu anak kamu, sekarang waktunya untuk Rembulan bahagia. Dia harus luluran, terus lihat gaun," ujar Nina santai.
Mata Radit melongo karena melihat bertapa Mamanya lebih memilih Rembulan yang bahagia dari pada dirinya, "Tapi Ma, Radit mana ngerti ngurusin bayi," kata Radit.
"Itukan pelajaran kamu, kamu itu dokter Obgyn. Jadi Taulah masalah bayi!" kata Nina.
"Tapi Radit bagian mengandung dan melahirkan Ma, kalau masalah ngurus bayi itu dokter spesialis anak!" jelas Radit yang tidak mau kalah.
Nina menatap Radit, "Tapi kamu itu bukan hanya dokter orang hamil dan melahirkan!" tambah Nina lagi.
Radit bingung dan menatap Nina penuh tanya, "Maksud Mama?"
"Kamu itu selain bagian hamil dan melahirkan, juga turut adil dalam proses pembuatan!" ujar Nina dengan jelas.
Glek.
Radit meneguk saliva, ia padahal sudah tahu jika berdebat dengan Nina hanya akan mendapatkan kekalahan. Tapi masih juga nekat ingin mencoba, dan hasilnya tetap sama. Lihatlah jawaban aneh Mama Nina, sungguh tidak beres. Apa lagi Mama Nina berbicara begitu di depan Mama Mertua nya, akhirnya Radit hanya diam menunduk dengan wajah memerah.
Sedangkan Rembulan tidak tahu lagi harus apa, sipat pemalu sangat melekat pada Rembulan. Ia memang nakal tapi hanya saat bersama teman-teman akrab nya, jika dihadapkan orang tua ia cukup mengerti akan sopan santun.
"Itu anak kamu, yang buat kamu. Dan kamu haru ini urus anak kamu, Mama sama Ulan mau ke salon....biar cantik," kata Nina lagi.
"Tidak ada penolakan, kamu jaga Raka ya," Nina melihat Rembulan, "Ulan ayo kita ke salon," kata Nina.
Rembulan tanpaknya ragu ia menatap Radit, apakah mengijinkan dirinya pergi. Dan Rembulan sangat tidak ingin pergi jika Radit tidak mengijinkan nya untuk pergi, saat hari Diva membawa dirinya Rembulan ingat jika saat itu Radit berat untuk mengijinkan nya keluar rumah. Akan tetapi ia terus saja memaksa, hingga kini Rembulan tidak ingin terulang untuk yang kedua kalinya.
"Kamu takut keluar kalau enggak di ijinkan Radit?" tanya Nina yang mengerti dengan tatapan Rembulan pada Radit.
Rembulan menatap Nina, kemudian kembali melihat Radit.
"Radit, Rembulan sama Mama mau keluar! Kamu ijinkan atau tidak?" tatapan mata Ni a sangat tajam, bahkan terlihat seperti ada pengancaman di sana, "Iya bolehkah kan?!" kata Nina lagi, "Boleh dong pasti!" jawab Nina lagi. Padahal sepertinya Radit ingin berbicara, tapi dengan cepat Nina yang menimpalinya.
"Kalau dia yang jawab sendiri, ngapain di tanyakan," gumam Radit kesal. Karena Nina bertanya pada nya tapi malah Nina yang memutuskan sendiri..
"Kamu bicara sesuatu?" tanya Nina.
Glek.
Radit meneguk saliva, "Boleh Ma, tapi....." Radit tidak berani melanjutkan pembicaraannya karena tatapan Nina sangat tajam.
"Kalau mau bicara Mama cuman mau dengar kata boleh, kalau tidak tidak usah bicara!"
"Boleh," kata Radit dengan terpaksa, lagi pula apa yang harus ia jawab. Sejenak Radit tersenyum, biarkan saja Rembulan ke salon. Setelah itu Rembulan akan sangat wangi sekali dan pikirannya mulai traveling.
"Kamu mikirin apa?" tebak Nina.
"Apasih Ma!" ketus Radit.
"Jeng ayo kita ke salon, kita ke salon saya yang baru di buka. Kita luluran, kita semuanya lah sampai kinclong," kata Nina pada Ranti.
Ranti sangat senang sekali jika ada yang mengajaknya ke salon, untuk bayar saja ia sangat senang apa lagi gratis. Tentu saja sangat menyenangkan sekali, "Saya setuju Jeng," kata Ranti tersenyum.
"Ayo Ulan," Nina menarik Rembulan. Kemudian sebelum pergi Nina kembali melihat Radit, "Kamu jagain Raka ya, kita mau seharian di salon," kata Nina dengan senyuman bahagia nya.
"Abi Umi keluar dulu ya," pinta Rembulan. Rembulan menatap kasihan pada Radit yang harus menjaga anaknya.
Tidak lama kemudian Mentari dan Arka muncul kembali dan melihat yang lainnya akan pergi.
"Mau kemana Ma, Tante?" tanya Mentari.
"Mau ke salon," Nina.
"Kak Ulan ikut?" tanya Mentari.
"Iya," jawab Rembulan.
"Raka sama siapa?" tanya Mentari lagi.
"Sama Abinya," jawab Nina cepat.
"Mmmmfffffpp.....nasib mu malang sekali bro," kata Arka mengejek Radit.