
"Masa gak tau, orang tua macam apa ini, iya gak Assisten Brian?" Tanya Aldi yang membuat Brian bingung untuk menjawab.
"Mungkin nona hanya lupa karena habis tertawa tadi" jawab Brian mencari jalan aman.
"Hhmmm asisten Brian ini seperti cari aman" Aldi sedikit menyelidiki
"Hehehe, pak Aldi bisa aja, saya harus pulang, lagian sekarang sudah sore" ujar Brian lagi. Ia sudah tidak ingin berlama ditempat yang membuat tidak punya harga diri
"Eeiittss.. jangan dulu bapak Brian, Bapak Brian belum menyanyi" ucap Mentari sambil mengangkat tangannya melarang Brian untuk pulang
Asisten Brian mendengar itu membuat badannya seketika lemas. Bagaimana tidak, ia tidak bisa menyanyi.
Aldi yang mendengar itu langsung menengadahkan tangannya keatas sambil berkata "terima kasih ya Allah, aku tau engkau maha Adil" ucap Aldi lalu menurunkan tangannya
"Ayo asisten Brian, ini demi ponakan aku" ucapnya dengan senang, "Ternyata bukan hanya aku yang menanggung malu saat ini" sambungnya lagi
Arka, Mentari dan Brian heran dengan ucapan Aldi itu. Mereka paham kalau tadi Aldi menyanyi bikin malu untung hanya didepan sahabat dan saudaranya serta Asisten Brian, kalau depan umum dijamin pasti malu tidak ketulungan.
"Kak Aldi kenapa sesenang itu?" Tanya Mentari.
"Bahagia aja dek, kalau akikah nanti bisa tuh yang shalawatan aku dan Brian.. hehehehe" ucap Aldi sengaja yang membuat Brian hanya pasrah sedang suami istri itu hanya ketawa
"Gak mau, aku mau undang ustadz atau ustadzah saja"
Mentari tidak mau kalau anaknya di shalawatkan oleh orang yang baru belajar menyanyi. Ia tidak mau momen sekali seumur hidup anaknya di rusak dengan penyayi baru yang suaranya membuat orang istighfar nanti.
Sambil mengusap perutnya Mentari mengajak anaknya komunikasi, "baby, kalau kamu cowok jangan kayak kak Aldi yaa dan kalau kamu cewek seperti bunda saja".
"Hahaha.. baby, bundamu gak bisa masak" timpal Aldi yang membuat Mentari mengerucutkan bibirnya.
"Tau ah, aku mau dengar bapak Brian menyanyi" ujarnya lagi, "kebetulan rambutnya sebagian masih diikat jadi yang cocok bawakan lagu anak-anak" sambungnya lagi.
Tiga laki-laki diruangan itu spontan diam, karena Mentari tidak menutup kemungkinan kalau suaminya tidak terlibat dalam kemauannya saat ini.
"Ayo bapak Brian"
Mentari sudah tidak sabar lagi, Brian berdiri tepat didepan Mentari. Mentari seperti dewan juri yang sedang menunggu peserta untuk menunjukkan kemampuan menyanyinya.
Brian terlebih dahulu menghela napas, lalu menyanyikan
Balon ku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Merah kuning..
Mentari langsung mengangkat tangannya tanda untuk berhenti
"Bapak Brian gak cocok sendiri, tambah personil" ucap Mentari, "kak Aldi ke depan" sambungnya yang membuat Aldi hanya bernapas berat
"Potong bebek angsa" Mentari mulai menyanyi sambil memainkan tangannya, "ayo kak, bapak Brian. Aku ulang yaa.. potong bebek angsa" ulangnya
Aldi dan Brian bukan menyanyi tapi malah diam, diam bukan tidak mau tapi mereka tidak tau
"Gak mau menyanyi?" Tanya Mentari sudah mulai kesal
"Bukan gitu dek, tapi aku dan Brian kasihan sama angsanya mau dipotong, apa salahnya angsa?" Tanya Aldi pura-pura tidak mengerti
"Itu hanya lagu anak-anak kak, hitung-hitung belajar untuk anak kakak nanti"
"Dek yang belajar itu seharusnya kamu dek, kan tidak lama lagi akan punya anak" jelas Aldi. Ia mencoba memberi pemahaman untuk adiknya itu
Asisten Brian hanya berdiam diri, ia tidak ikut campur agar dia tidak kena tambahan tugas. Tugas saat ini saja sudah membuatnya pusing apalagi kalau ditambah dengan yang lain
"Baby pengen dengar suara orang orang terdekatnya" ujar Mentari lagi dengan lembut dan memelas agar keinginannya itu berhasil
Arka yang mendengar itu langsung minta izin, ia tidak mau image-nya rusak didepan asistennya itu atau tidak nanti
"Sayang baby, aku ke kamar mandi dulu sebentar ya" pamit Arka lalu ia pergi dengan cepat
Aldi langsung menunjuk Arka, "lho dek!!, seharusnya suamimu ikut juga dong"
"Takut suruh suami nanti durhaka" jawab Mentari membuat Aldi dan Brian tercengang
"Terserah dek" Aldi sudah pasrah
"Ya udah, aku mau dengar lagu naik-naik ke puncak gunung" ujar Mentari lagi
Aldi dan Brian spontan bersuara bersamaan, "ya Allah ya Rabbi" lalu mereka diam.
"Ikhlas gak?" Tanya Mentari lagi.
Aldi dan Brian bingung, jujur pasti salah dan bohongpun sudah tidak ada gunanya.
"Dek.. Sebenarnya anakmu nanti mau jadi apa?" Tanya Aldi lagi.
Ia sudah tidak tahan dengan keinginan Mentari itu
"Belum lahir kak, masih lama. Jadi belum memikirkan hal itu" jawab Mentari santai
"Maaf nona, tapi sebaiknya orang tua itu harus merencanakan dari sekarang untuk masa depan anaknya, misalnya ia ingin jadi seorang pengusaha berarti dia harus disekolahkan yang berhubungan dengan bisnis, atau anaknya mau jadi ustadz atau ustadzah berarti dia sekolahnya harus berbau islam kalau tidak mondok. Jadi orang tua harus memikirkan masa depan anaknya mulai dari sekarang jangan sampai tumbuh dengan tujuan yang dia sendiri tidak tau kemana arahnya" jelas asisten Brian yang membuat Mentari manggut-manggut paham
"Mudah-mudahan kamu mengerti dek" timpal Aldi lagi dengan nada yang sudah tidak semangat
"Iya, aku mengerti. Kalau gitu gak jadi menyanyi karena aku gak mau anakku jadi penyanyi dan sekarang aku mau makan" ujar Mentari yang disambut oleh Aldi dan Brian
"Makan apa dek?" Tanya Aldi dengan wajah semangat
"Iya nona nanti saya pesankan" timpal Brian
"Jangan, aku mau makan masakan kak Arka" jawabnya lagi
"Berarti kami bisa pulang.. yes yes" gumam Aldi penuh semangat, tapi masih bisa didengar oleh Mentari
Brian pun tidak kalah senang mendengar penuturan istri bosnya itu, ia hanya senyum untuk menggambarkan kebahagiaannya
"Jangan, makan malam aja disini" tawar Mentari
"Iya in aja, dari pada kita dapat imbasnya" ucap asisten Brian yang diangguki oleh kedua makhluk itu
"Udah sore ya?" Tanya Mentari lagi yang diangguki cepat oleh Aldi dan Brian
Mereka kembali duduk setelah Brian menjelaskan tadi, Mentari mengajak mereka untuk nonton bareng diruang tengah
"Gimana kita nonton aja dulu" ajak Mentari lagi
"Boleh" jawab Aldi lalu jalan menuju ruang tengah yang diikuti oleh Brian dan Mentari
"Kalian duduk dulu yaa, saya minta mbok buatkan air minum" ujar Mentari lalu menuju dapur.
"Mbok, bawakan air minum untuk kak Aldi dan bapak Brian yaa"
Setelah memberitahu ARTnya itu Mentari menuju kamar, sampai disana ternyata Arka baru selesai mandi.
"Asisten Brian dan Aldi sudah pulang?" Tanya Arka melihat Mentari yang sudah duduk dibibir ranjang.
"Belum" jawab Mentari singkat, "apa kak Arka mau yaa buat makan malam kali ini" sambungnya membatin
Mentari memutar otak untuk mencari ide.."nah aku punya ide" batin Mentari sembari senyum
"Kak Arka" panggil Mentari
Arka yang mengeringkan rambutnya pakai handuk kecil itu langsung menoleh dan menghampiri istrinya itu
"Iya dek, kenapa?" Tanya Arka yang tidak curiga
"Apa gak kangen sama Mentari?" Tanya Mentari lagi
"Kangen dong, sini aku peluk" ucap Arka mengerti maksud dari istrinya itu. Ia merentangkan tangannya, "gak mau dipeluk.. hmm?" Sambungnya lagi
"Mau dong" jawab Mentari. Ia langsung menyambut tangan suaminya itu dan memeluknya dengan erat, "kak Arka mau gak ya?" Sambungnya lagi membatin
"Kak Arka harum bangat, sabun mandi baru yaa?" Tanya Mentari lagi
"Bukan" jawab Arka lagi
"Kak Arka, boleh minta sesuatu?" Tanya Mentari dengan hati-hati
Arka mengerutkan kening sambil menunduk melihat wajah istrinya itu karena tidak biasa seperti itu.
"Apa menguntungkan buat saya?" Tanya balik Arka
"Hmmm.. simbiosis mutualisme kak" jawab Mentari lagi.
...SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏...