
Mentari menatap lagi seserahan di atas ranjangnya yang belum ia buka sama sekali. Semalam dia hanya menggeser sebagian dan menumpuk barang yang sekiranya tidak mudah rusak, agar ia bisa berbaring di atas ranjangnya. Beginilah jadi calon istri orang kaya. Ia menghela napas dan menutup pintu kamarnya.
"pagi...", teriak Cloudya yang ternyata juga ada di dalam mobil Awan. Mentari kira hanya Awan yang mengantarnya ke kampus.
"Ngapain kamu Dy? Aku tuh cuma mau ke kampus loh. Tapi kalian malah heboh mau nganterin segala", Mentari duduk di samping Awan yang mengemudi,lalu memasang seat belt nya.
"Dasar kepedean! Siapa juga yang mau anterin lo?", Cloudya menyambar.
"Lha terus apa maksudnya kamu ikutan Om, em.... maksudnya mas Awan nganterin aku?"
"Hahahahaha...." Cloudya tergelak hebat mendengar Mentari memanggil Awan dengan sebutan 'mas'.
"Berisik", sungut Awan yang merasa dirinya ditertawakan.
Cloudya berusaha menghilangkan tawanya. "Gue ada perlu di kampus. Dan pas tadi kak Awan bilang mau nganterin kamu ke kampus Nusantara, aku pikir sekalian aja aku nebeng. Nanti pulangnya bisa nungguin kamu. Kamu cuma ngelengkapin administrasi aja kan?"
"Kamu ngapain ke kampusku?"
"Itu juga kampus gue", Cloudya menjawab santai.
"Oh....", Mentari mengangguk. "Tapi, bukannya kamu udah selesai kuliahnya?", Mentari tiba-tiba teringat jika Cloudya sudah lulus skripsi.
"Masih ada perlu sama dosen. Kan gue belum wisuda"
Sekali lagi Mentari mengangguk.
"Jangan pikir kakak nggak tau kamu ngapain ke kampus", Awan terkesan dingin nada suaranya.
"Ya elah kak. Papa aja setuju loh sama Rendra"
"cih", Awan hanya berdecih.
"Rendra siapa?", Mentari penasaran.
"Pacar Cloudya",Awan yang menjawab.
"Kamu punya pacar Dy?", Mentari antusias. Sekarang malah menyerongkan duduknya menghadap belakang.
"Lo pikir gue cantik-cantik gini jomblo?"
Mentari nyengir. "Lo kan nggak pernah cerita sama gue", Mentari berkilah.
"Awas aja kalau kamu pacaran macem-macem lagi", Peringatan dari Awan untuk Cloudya. Pasalnya, lelaki itu pernah memergoki adiknya dengan pacarnya sedang bercumbu mesra.
"Ye... kayak kakak sama Mentari nggak gitu aja"
"Gitu apaan sih?", Mentari masih penasaran dengan pembicaraan kakak beradik itu. Apalagi menyangkut pacar Cloudya yang membuat Mentari makin penasaran.
Cloudya memperagakan ciuman dengan tangannya. Dan Mentari yang mengerti langsung cekikikan bersama Cloudya.
"Awas kamu. Kakak bilangin papa", Awan kesal dengan adiknya yang jika dinasehati soal pacarnya selalu bebal. Padahal pria itu hanya khawatir.
"Nanti aku juga bilangin gaya pacaran kakak sama papa", Cloudya mengancam balik.
"Papa sudah tau", jawab Awan santai. "Kalau kakak, sedahsyat apapun bercumbu dengan Mentari, kakak pasti tahan agar nggak berbuat lebih. Kalau pacar kamu itu? jelas banget mupengnya kalau deket kamu"
"Aduh, bukan begitu baby...", Awan menyadari salah bicara.
"Sukurin! Ayo marah Tari! Nggak usah ditanyain lagi. Kalau perlu batalin pernikahan sekalian", Cloudya bertepuk tangan heboh. Senang melihat kakaknya tak berkutik karena Mentari.
"Jadi kamu juga nggak mau punya kakak ipar aku?", Mentari salah sangka.
Seketika wajah Cloudya berubah cengo. Awanpun malah tergelak.
"Lo lagi PMS ya?", tebak Cloudya. Pasalnya Mentari tak bisa di ajak bercanda.
"Kok lo tau? Lo nggak ngintipin gue kan?", tiba-tiba Mentari bergidik.
"Enak aja....Kurang kerjaan amat ngintipin lo. Lo tuh yang nggak bisa bercanda dari tadi", sungut Cloudya.
Mentari memilih diam. Kalau dipikir bener juga ya kalau dia terlalu sensitif dengan obrolan Awan dan Cloudya.
Sampailah mereka di kampus Nusantara tempat Mentari akan menimba ilmu. Kedatangan ketiganya sontak menjadi perhatian para mahasiswa disana. Selain karena Cloudya yang cantik juga menyandang predikat sebagai mahasiswa disana, sebagian dari mereka mengetahui jika Awan adalah kakak Cloudya yang merupakan CEO M&J corp dengan wajah yang tampan, badan tegap dan atletis juga kaya raya.
Saat mereka menuju ruang administrasi, banyak yang menggoda Cloudya.
"Clou, makin cantik aja"
"Kenalin donk kakaknya Clou"
"Titip salam buat kakak lo ya Clou"
"Hay calon ipar"
Dan masih banyak celotehan para mahasiswa dan mahasiswi yang membuat kuping Mentari panas. Dengan sengaja ia menggandeng Awan dengan mesra, biar mereka tahu kalau Awan sudah ada yang punya.
Awan megerutkan keningnya melihat Mentari yang mendusel kepadanya. Tapi, kemudian dia sadar ketika melihat seringai sok angkuh yang Mentari tunjukkan kepada para mahasiswi itu. Benar-benar lucu di mata Awan.
"Aku seneng kamu cemburu gitu. Jadi makin gemesin dan pengen makan", bisik Awan di sebelah telinga Mentari.
Mentari melotot, tapi sebisa mungkin cepat menormalkan ekspresinya dengan gaya seperti 'pemilik Awan' . Rasanya dia ingin berteriak jika Awan itu calon suaminya.
"Banyak juga penggemar kamu", Mentari manyun sekarang. Dia merajuk. Mereka telah sampai di depan ruang administrasi mahasiswa. Mentari melepaskan dengan kasar pegangan tangannya kepada Awan.
"Emang banyak. Makanya gue suka kesel kalau kak Awan dateng ke kampus", Cloudya yang menimpali.
"Resiko orang ganteng", jawab Awan enteng.
Mentari kesal, ia masuk begitu saja ke dalam ruang administrasi sambil menghentakkan kakinya.
****
Jimi berdiri di depan Rayan yang masih diam saja tanpa melakukan apapun di singgasananya. Jimi sudah merasakan Aura mencekam dan firasat buruk. Namun, sama dengan Rayan, dia masih diam dengan sikap tegap.
"Apa kamu sudah tau kabar terbaru dari Mentari?"
Deg, jantung Jimi memacu kencang tiba-tiba. Dugaanya benar, ini soal Mentari yang memang audah ia ketahui,namun ia sembunyikan dati Rayan.
Rayan menyeringai sinis melihat reaksi Jimi yang bahkan sudah bisa ia baca. "Jadi benar dia dan Awan akan segera menikah? Jawab Jim!"