Mentari

Mentari
kecurigaan Cloudya



Selepas pulang dari mall, Cloudya bukannya pulang ke rumah tapi malah dengan santainya rebahan di kasur empuk Mentari. Tentu saja kasurnya nyaman, dan itu berkat Awan, begitupun dengan fasilitas AC dan lemari pendingin yang ia letakkan di kamar Sempit Mentari.


"Nyaman juga kamar lo", Cloudya bergumam sambil berguling-guling memainkan ponselnya.


"Benarkah?", hanya itu jawaban Mentari.


"Jangan bilang ini privilege dari kak Awan?", Cloudya sebenarnya hanya basa basi.


Mentari hanya nyengir menanggapi dan jawaban itu tentu saja membuat Cloudya sedikit terkejut. Dia tahu arti cengirannya itu.


"Apa kak Awan juga sering nginep disini?", Cloudya malah jadi menyelidik.


"Sering sih enggak, tapi pernah", jawab Mentari kikuk, sekali lagi dia nyengir.


"Kalian tidur bareng?", nada bicara Cloudya naik satu oktaf. Dia semakin ingin tahu hubungan kakaknya dengan gadis SMA itu sudah sejauh apa.


Mentari menggaruk kepalanya. Apa yang harus dia katakan? "Emmm, begini Clou..."


"Bukan Clou tapi Dy", gadis itu mengingatkan. Cloudya memang lebih suka dipanggil Dy. Entah kenapa, cuma dia yang tahu. Sejak jalan di mall tadi, mereka sudah sangat akrab seperti sudah lama berteman saja.


"Iya Dy, maksudnya emmm..."


"Udah kan? Lo ngaku deh!", sentak Cloudya memotong pembicaraan Mentari lagi.


"Bu..bukan Dy. Dengerin dulu", Mentari harus cepat mengklarifikasi. Dia mengibaskan tangannya berulang kali.


Cloudya masih menatap Mentari tajam. Menunggu jawaban jujur dari Mentari.


"Emang kita tidur bareng, tapi cuma tidur biasa. Bukan tidur yang...", Mentari menggerakkan tangannya membentuk tanda kutip.


"Bagus deh. Semoga lo nggak sebodoh kak Lusi", helaan napas lega terdengar dari Cloudya. Dan Mentari hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku mau mandi dulu ya", pamit Mentari sebelum Cloudya bertanya lebih jauh lagi.


"Hmmm", dia hanya bergumam malas menanggapi Mentari.


Mentari berlalu menuju kamar mandi yang berada di depan kamar Mentari, kamar mandi itu satu-satunya di rumah itu. Sedangkan Cloudya kembali sibuk dengan gawai di tangannya. Ia sibuk memfoto barang-barang belanjaannya. Kemudian ia posting di akun sosial medianya.


Ponsel Mentari berdering, Cloudya mengalihkan pandangan pada ponsel di sampingnya itu. Ia melihat nama Awan sedang melakukan panggilan video ke nomor Mentari.


"Dasar bucin", cibir Cloudya pada kakaknya.Terbitlah senyum jahil di bibirnya saat ia memegang ponsel itu.


" Halo kakakku yang paling ganteng", sapa Cloudya setelah panggilan itu ia angkat.


" Loh?", kening Awan nampak berkerut. ia mengecek lagi ponselnya. Tapi benar, dia sedang menelpon Mentari. Awan mengamati background Cluodya yang tertangkap kamera ponsel. Ya, Awan kenal tempat itu. Itu kamar Mentari.


"Kenapa? Heran ya?", ledek Cloudya.


"Ngapain kamu disana?", sentak Awan.


"Emang kakak tahu aku dimana?", Cloudya menggoda sang kakak yang sudah nampak khawatir.


"Kamu jangan nekat Dy"


"Nekat apa sih?", Cloudya menaikkan satu alisnya. Masih berniat menggoda.


"Kamu jangan macam-macam sama Mentari!"


"Macam-macam gimana sih? yang ada cuma satu macam", Masih dengan seringai jahilnya.


"Maksud kamu apa?", Awan membentak Cloudya. Laki-laki itu khawatir pada gadisnya yang tidak terlihat sama sekali batang hidungnya. Setahunya, Cloudya tidak suka dengan Mentari. Sontak saja pikiran negatif menyergapnya.


"Aku cuma ajak Mentari ke mall"


"Ngapain?", Awan belum paham maksud adiknya.


"Ya belanjalah..." jawabnya santai, padahal kakaknya di seberang sana sedang khawatir setengah mati. "Kayaknya kakak akan cepat kaya kalau married sama Mentari"


Awan mengernyit. Apa sih yang dibicarakan Cloudya?


"Kakak tahu nggak? Mentari itu ternyata nggak suka belanja. Tadi aja kalau nggak aku paksa dia nggak bakalan mau belanja. Padahal udah aku bilang suruh pakai uang kakak", Cloudya bicara menggebu menceritakan harinya dengan Mentari yang sepertinya menyenangkan. Awan seketika lega melihat gelagat dan cara bicara adiknya.


"Ada ya cewek nggak suka belanja?", Cloudya heran.


" Bukan nggak suka, tapi lebih ke menghemat pengeluaran Dy. kamu tahu kan kondisi Mentari? Jangan samakan dengan kamu", Awan menasehati Cloudya. Sementara Cloudya hanya mengangguk membenarkan.


"Sekarang Mentari mana?"


"Lagi mandi. Nggak usah ganggu dia"


"Ya udah, nanti aku telpon lagi. Awas! Jangan apa-apain mentari", Awan mengingatkan dengan nada mengancam.


"Iya... Buciiinn", teriak Cloudya yang Setelahnya mematikan sepihak panggilan itu.


Setelahnya, ia letakkan sembarangan ponsel Mentari. Namun baru ia letakkan sebentar, ponsel Mentari berdering lagi.


"Iihhh.. Dasar bucin", cibir Cloudya kesal karena Cloudya pikir Awan menghubungi lagi.


Keningnya langsung berkerut saat tak mendapati nama kakaknya disana. Tetapi nama Rayan lah yang sedang memanggil. Cloudya hanya diam mengamati ponsel yang masih terus berdering tanpa menjawabnya. "Sepertinya ada yang nggak beres sama ini orang", gumamnya sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel dengan jari telunjuknya. Dia sudah punya rencana untuk memberitahukan kepada Awan perihal Rayan. Ia tak rela jika kakaknya kalah saing dengan lelaki lain. Apalagi Mentari yang sedikit polos begitu, bakalan gampang dibodohi.


***


Cloudya masih belum beranjak dari rumah Mentari. Rupanya dia senang sekali dengan Mentari. Seperti mendapatkan saudara perempuan. Asyik diajak bercanda, curhat, dan tadi mereka juga sudah berbelanja. Mungkin lain kali Cloudya akan mengajak Mentari ke salon.


"Baby, aku kangen", ucap Awan saat Mentari membuka pintu. Dia langsung memeluk Mentari dengan erat sampai Mentari terangkat. Awan sudah siap menghujani Mentari dengan ciuman jika tidak dihentikan oleh deheman dan cibiran.


"Ehem", itu suara Indra yang membawa tentengan penuh di kedua tangannya.


"Dasar bucin akut" , Cloudya mencibir sambil mencebik. ia melipat tangannya di depan dada.


"Kenapa sih harus ada kalian?", Awan frustasi karena tak dapat menyalurkan rasa rindunya pada sang pujaan hati.


"Kalau nggak ada gue siapa yang bawain pesenan Cloudya?", Indra berkata ketus.


Cloudya yang mendengar ucapan Indra,langsung menghampiri Indra dan mengambil semua tentengan Indra. Wajahnya berbinar.


"Ayo Tari, kita makan", ajak Cloudya menarik tangan Mentari. Sedangkan Awan dan Indra saling pandang. Tak terima mereka diabaikan dan tak diajak makan.


"Itu yang beli gue Dy", Indra tak mau kalah. Dia juga harus ikut makan.


"Makan tinggal makan", cetus Cloudya enteng. Ya, sedekat itulah Indra dengan keluarga Awan. Bahkan, anak istri Indra juga sudah akrab dengan mereka.


Indra melotot. Tapi tetap menghampiri makanan. Sedangkan Awan mendekati Mentari. Mendudukkan tubuhnya rapat sekali dengan Mentari.


"Apaan sih Om? Sempit tau", Mentari kesal, waktu makannya diganggu Awan. Gadis itu sedikit mendorong Awan menjauhkan tubuh Awan darinya.


"Om?! Lo masih panggil dia om?", Cloudya menunjuk Awan dengan isyarat matanya. Dia tampak tak percaya dengan panggilan itu.


"Emangnya kenapa?", Awan yang menyahut.


"Nggak romantis banget sih. Kaya sugar Dady aja", cibir Cloudya. Mungkin Cloudya akan memberikan julukan untuk Awan sugar dady yang bucin. Ia tertawa dalam hatinya.