Mentari

Mentari
Episode 95



Semua keluarga kumpul di kediaman Purnawan. Anita dan Hadi ke kamar istrahat begitupun dengan mertua. Dikamar tinggal Mentari dan Aldi yang sedang menggendong ponakannya.


Mentari capek berdiri karena mengendong anaknya yang menangis tiada berhenti dan sekarang ia ketiduran diatas tempat tidur dengan posisi terlentang saking lelahnya, sedangkan Aldi masih berdiri menggendong ponakannya.


Aldi sudah beberapa kali menguap dan sekali-kali menoleh kearah adiknya berharap Adiknya itu bangun.


"Enak bangat emak satu ini ya" gumam Aldi.


Mentari malah memperbaiki posisi tidurnya seakan lupa kalau dia sudah punya anak.


"Dek, gantian dong" Ucap Aldi pelan.


"Hmmm" Respon Mentari tanpa sadar.


"Ini anak tidur mati kayaknya, gak ingat apa kalau dia sudah jadi emak-emak satu anak" Ucap Aldi lagi dan kembali melihat ponakannya yang begitu pulas.


"Bodoh-bodoh kenapa gak aku baringkan aja di keranjang bayi" Gumam Aldi menggerutui dirinya sendiri.


Aldi pun membaringkan ponakannya dengan pelan dan hati-hati dan alhasil tidak menangis, disitu Aldi langsung senyum dan berpikir akhirnya dia akan istrahat. Aldi duduk dibibir ranjang sambil memijit lengannya dan sekali-kali memijit betisnya seakan pegal akibat lama berdiri. Kemudian Aldi mulai membuang badannya diatas tempat tidur meskipun kakinya ia juntaikan.


"Alhamdulillaah, sudah gak nangis kayaknya aman" Batinnya.


Dan dihalaman rumah sudah ada mobil yang berhenti yaitu mobil Arka bersama Asisten Brian. Arka masuk dengan membuka pintu rumah menggunakan kunci yang ia pegang sendiri. Arka sengaja pegang satu kunci rumah, jadi kalau orang tua dan dia pergi maka mereka menyuruh pembantu untuk kunci pintu utama meskipun ada satpam dan penjaga yang lain yang sering memantau dari jauh semenjak Mentari mengalami kejadian di bengkel dan berakhir di rumah sakit.


"Brian, malam ini tidur saja disini" Ucap Arka dan asisten Brian pun hanya mengangguk, "Istrahatlah saya juga mau istirahat, sepertinya orang dalam rumah sudah tidur semua" sambung Arka lagi.


"Baik pak" Jawab Asisten Brian.


Arka ke kamar dan mendapatkan Mentari sedang tidur tapi ada yang menggemaskan yaitu posisi Aldi yang sedang tidur dengan posisi duduk.


"Kenapa siksa diri bro?" tanya Arka yang belum tau apa-apa.


"Pakai nanya lagi, ponakan aku menangis terus" Jawabnya dan langsung terbaring lagi, "Susahnya menahan kantuk" sambungnya lagi.


"Tidurlah nanti aku yang ganti" Ucap Arka, "Tapi saya mau mandi dulu" sambungnya.


Aldi mendengar itu yang setengah sadar, "pergilah cepat sebelum bocil itu menangis" Ucap Aldi dan Arka pun segera membersihkan badannya dikamar mandi dengan gerakan cepat.


Aldi pun tertidur dikamar itu dan setelah Arka kembali, ia membangunkan iparnya itu.


"Di, bangun, istrahatlah. Nanti aku yang jaga kalau putri kecilku ini tiba-tiba bangun" Ucap Arka sembari senyum dan membangunkan Aldi dengan menggoyangkan lengannya.


Aldi pun tersadar penuh kali ini, membuka mata pelan-pelan dan ia kaget melihat Arka.


"Hee, kapan tiba?, kok aku gak sadar ya" ucap Aldi kepada Arka.


"Belum lama, saya kira kamu tau, saya tanya malah jawab juga pertanyaanku tadi" Jelas Arka yang membuat Aldi mengerutkan kening heran.


"Iya kah?, aku tidak sadar mungkin jawabnya tadi. Semangat ya aku mau istrahat dulu betis dan lenganku seakan mau patah ini" Ucap Aldi dan bangkit dari tempat tidur.


"Terima kasih sudah membantu Mentari" Ucap Arka dan Aldi yang sudah pergi meninggalkan tempat tidur beberapa langkah langsung berhenti dan menoleh.


"Santai, dia ponakan aku juga jadi gak masalah" Jawabnya lalu pergi.


"Sekali lagi terima kasih" Ulang Arka membuat Aldi senyum dan geleng kepala tanpa menoleh kembali bersuara.


"Terima kasih sudah menjaga adik aku" Ucap Aldi lalu ia pergi.


Semua orang dalam rumah heran dengan perubahan jam tidur anak Arka dan Mentari. Dan semua senang kecuali Aldi bangun pagi dengan mata sayu karena kurang tidur. Dapat dilihat pagi ini Aldi seperti tidak ada gairah hidup, begitu loyo dan badannya pegal-pegal.


Aldi menghampiri keluarga besar di meja makan, "Bagaimana si bocil?" tanya Aldi.


"Bocil siapa?" tanya ibu Anita bingung karena ia baru dengar.


"Iya, ada bocil dirumah ini?" timpal ibu Dewi dengan pertanyaan pula.


Aldi melihat ibu dan ibu mertua adiknya itu silih berganti, "Maksud aku itu anak Mentari dan Arka"


"Oh, lucu juga kalau kita panggil bocil" ucap ibu Dewi mendukung.


"Bu, anak Mentari ada namanya bu, masa dipanggil bocil" Protes Mentari.


"Nyatanya nama si bocil itu lucu, lagian sekarang kami belum tau namanya, jadi bagaimana manggilnya. Lagian kenapa lama bangat cari nama" Jawab Aldi.


"Hmmm, rawan ribut" Ucap Hadi, "Arka mana?" Sambungnya dengan diakhiri pertanyaan kepada anaknya itu.


"Jaga baby pa, tadi aku suruh makan duluan nanti aku nyusul tapi kak Arka gak mau" Jawab Mentari.


"Mungkin Arka kangen sama anaknya" Timpal ibu Anita.


"Bunda, emang Arka itu berapa hari sih ke Bali sampai kangen berat" Ucap Aldi lagi.


"Sewot amat sih, makanya nikah supaya dalam hati itu ada rasa kangen juga. Supaya tau kangen itu berat bukan hanya rindu" jawab Mentari.


"Iya iya dek, kamu yang menang" jawab Aldi lalu melihat papanya, "Pa kasih Mentari piala dunia, tanda kalau kali ini menang dari kakaknya" sambung Aldi lagi membuat ibu Dewi dan Rahmat ketawa sedangkan ibu Anita malah geleng kepala sembari menahan tawa mendengar ucapan anak sulungnya itu.


"Enak ya Anita punya anak dua, kalau aku lihat Aldi dan Mentari saat ini gak kebayang lucunya waktu mereka masih kecil"


"Waktu kecil malah damai-damai saja Dewi, gak tau kenapa setelah besar hasilnya seperti ini" Jawab ibu Anita sambil melihat Aldi dan Mentari.


Aldi dan Mentari diperhatikan oleh ibu Anita langsung senyum sebahagia mungkin sembari mereka berkata.


"Supaya ramai dalam rumah bun" Jawab Aldi.


"bukan bun, itu hanya alibi kak Aldi. Yang benar itu Bun, kak Aldi suka lihat adiknya ini setiap saat sarafnya pada tegang semua" Mentari menimpali dengan cepat.


"Nah kan, siapa disini yang sarafnya suka tegang" Ucap Aldi sambil menunjuk Mentari dengan mata sedikit membulat seakan ekspresinya menunjukkan bahwa Mentari yang suka memulai perdebatan.


"Jangan dibulatkan seperti itu matanya, kayak mata burung hantu saja, hahaha" Ucap Mentari dengan mengakhiri suara tawa.


"Susah berdebat dengan anak kecil yang sudah memiliki baby, karena orang besar akan selalu salah dan berakhir kalah" Ucap Aldi.


"Oke, sekarang perdebatannya sudah selesai berarti sekarang kita makan" Ucap Anita, "Beginilah drama dirumah kami Dewi setiap sarapan atau makan malam bersama, pasti ada yang diributkan" sambungnya.


"Gak masalah, kita makan sekarang" Ucap pak Rahmat dan mereka makan tanpa ada perdebatan lagi antara Aldi dan Mentari.


...Semoga Suka 😊...


...Jangan lupa Like, Komen, Share ke teman-temannya yaa....


...Terima Kasih sudah mendukung Mentari sampai saat ini 🙏😊...