Mentari

Mentari
Episode 121



"Assalamualaikum....."


Ucap Lala dan Rika. Keduanya pagi ini mendatangi rumah Mentari, atau lebih tepatnya rumah Linda Mami mertua Mentari. Karena Mentari mulai pagi ini akan pulang pergi bersama dengan mereka, sebab Arka tidak mengijinkan jika Mentari pergi sendiri. Hingga Arka memberikan dua pilihan, satu pergi bersama Lala dan Rika. Kemudian yang kedua di antar sopir, dan Mentari memilih pergi dengan kedua sahabatnya saja.


"Waalaikumusalam....." jawab Linda.


Rika mencium punggung tangan Linda, begitu pun dengan Lala.


"Maaf Tante, aku Rika dan ini Lala," ucap Rika dengan sopan, "Tante kami temannya Mentari," kata Rika lagi.


"O....." Linda tersenyum ramah, "Tapi wajah kamu seperti Tante pernah lihat ya," kata Linda yang merasa pernah melihat Rika.


"Saya anaknya Papa Ibrahim Tante," ucap Rika lagi.


"O....iya," Linda tersenyum karena sudah tahu siapa Rika, "Ayo masuk...." Linda mempersilahkan Lala dan Rika untuk masuk.


"Iya Tante terimakasih," kata Rika.


"Kamu lurus aja ke sana ya, Tari lagi di meja makan," kata Linda menunjukan arah letak meja makan.


"Em....enggak papa kita langsung masuk Tante?" Rika ragu karena rumah itu terlihat besar dan mewah sekali, apa lagi Rika dan Lala belum pernah datang ke rumah tersebut.


Linda kembali tersenyum, "Memangnya kenapa? Tante juga sering kan datang ke rumah kamu, Papa kamu juga kemarin dari sini," jelas Linda, "Sudah-sudah ayo masuk, tidak usah segan....." kata Linda lagi.


"Em...." Rika mengangguk dan tersenyum, kemudian ia bersama Lala langsung menuju dapur.


Tidak berselang lama Rika dan Lala melihat wanita yang ia cari, di sana Mentari juga Arka dan ada Dimas juga.


"Assalamualaikum...." sapa Rika.


"Assalamualaikum...." timpal Lala.


Arka, Mentari dan Dimas langsung melihat kearah suara, dan mereka dapat melihat dua gadis remaja di sana.


"Waalaikumusalam...." jawab Mentari dengan senyum bahagia, "Sarapan dulu yuk," Mentari menarik Rika dan Lala untuk ikut duduk di kursi meja makan.


"Enggak usah," Rika menolak, "Kita langsung ke kampus aja yuk," kata Rika lagi. Karena di sana ada Arka. Jadi bagaimana bisa Mentari mengajaknya untuk satu meja makan dengan Arka, sungguh itu sangat horor.


"Iya Tar, kita ke kampus sekarang aja," kata Lala juga, ia juga tidak punya nyali untuk berdekatan dengan mantan guru nya itu.


"Iya udah, aku ke kamar dulu....." pamit Mentari, karena ia harus mengambil tas miliknya.


"Tar jangan lama ya," kata Rika lagi.


"Kalian duduk dulu, jangan berdiri aja," Mentari lagi-lagi menarik Lala dan Rika untuk duduk di kursi.


"Nggak usah," tolak Rika yang di anggukki oleh Lala juga.


Arka bangun dari duduknya dan ia berjalan mendekati Mentari, "Yuk," Arka langsung melingkarkan tangannya di pinggang Mentari.


"Aku ambil tas bentar ya," pamit Mentari lalu pergi begitu saja, bersama Arka.


"Gila Pak Arka dingin parah ya," kata Rika pada Lala yang berdiri di sampingnya.


"Iya, terus gimana mereka?" Lala menatap Rika penuh tanya.


Rika juga melihat Lala, keduanya senyum-senyum karena pikirannya yang sudah berkeliaran.


"Jangan bilang yang kita pikirin sama!" tebak Lala.


"Emang," kata Rika sambil cekikikan.


"Ahahahhaha....." keduanya tertawa terbahak-bahak, karena merasa lucu.


"Ehem!" Dimas yang dari tadi diam mulai berdehem, ia kini melihat dua bocah yang berdiri di hadapannya.


"Sut!" Lala menyenggol lengan Rika, karena Seolah bertanya.


Rika memutar bola matanya dengan jenuh, karena ia sangat kenal dengan pria yang gagal menikah sampai tiga kali itu.


"Biasa aja!" kata Dimas, karena Kakak beradik itu memang selalu terlibat cekcok. Baik di rumah maupun di tempat lainnya.


"Lu kenal Ka?" bisik Lala.


"Dia itu cowok gagal nikah sampai tiga kali!" ketus Rika, dengan wajah masamnya.


"OMG.....tiga kali," mata Lala melebar mendengar apa yang di katakan oleh Rika, "Tapi di ganteng banget," Lala menangkup wajahnya dan melihat Dimas dengan kagum.


Peltak.


Rika menyentil dahi Lala, "Model tapak rem begitu lu bilang ganteng!" Rika menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan apa yang di katakan Lala.


Dimas kesal pada Rika, namun ia diam saja karena adiknya itu memang suka bicara sembarangan.


Dimas diam saja bahkan membuang pandangannya.


"Caelah gagal kawin aja belagu!" kesal Rika.


"Nggak papa cinta itu butuh perjuangan," kata Lala dengan kocaknya, persetan dengan rasa karena ia sudah terlanjur tertarik pada Dimas.


"Apasih lu Lala!" Rika masih sangat kesal pada Lala yang seakan merendahkan dirinya.


"Lu yang apasih! Kok lu kayak punya dendam kesumat sama babang tampan itu..." Lala kembali tersenyum pada Dimas.


"Dasar aneh, harga diri woy!" kata Rika menginginkan Lala.


"Masa bodo dengan harga diri, kalau cinta sudah melekat tai kucing serasa coklat, babang tampan ganteng!" Lala tersenyum pada Dimas.


Dimas malah merinding melihat Lala, baru pertama kali ada wanita seaneh Lala.


Sementara Mentari dari tadi tidak bisa keluar dari kamar, karena Arka terus meluk dirinya


"Kakak...." pinta Mentari, untuk melepaskan diri dari Arka.


"Apa?" jawab Arka santai.


"Tari mau kuliah....."


"Pergi aja," Arka masih terus memeluk Mentari, bahkan tanpa ingin melepaskan nya.


"Gimana caranya?" Mentari menunjukan tangan Arka.


"Kenapa?" kata Arka berpura-pura bodoh.


"Ini Sabaruddin!" Mentari memegang tangan Arka.


"Sabariah!" kata Arka.


"Kak!"


"Apa?"


"Lepas!"


"Baju?" tanya Arka.


"Ahahahhaha......" Mentari malah tertawa geli, karena Arka kini sangat parah sekali. Apa lagi dalam urusan ranjang.


"Iya kan,?" tanya Arka, "Ayo Kakak buka."


Plak.


Mentari memukul tangan Arka, "Ahahahhaha....." Mentari tertawa, karena merasa lucu, suaminya itu kini seperti anak kecil.


"Kamu boleh pergi sayang kalau goyang dulu, kalau nggak Kakak nggak ijinin...." kata Arka memberikan penawaran.


"Tari nggak bisa goyang Kak, kecuali jadi joki Tari jagonya!" Mentari menepuk dada dengan bangga.


Arka malah tertawa mendengar yang dikatakan oleh Mentari, "Ya udah ayo menunggangi kuda kalau begitu!" seloroh Arka.


"Ahahahhaha.....Kakak apa sih, Tari kapan kuliahnya kalau begini!" Mentari juga tertawa geli, karena ia kini sudah dewasa sebelum waktunya. Tidak masalah bagi Mentari karena kini ia sudah bahagia.


"Nanti kalau sudah latihan jadi joki handal dulu," ujar Arka.


"Kak!!!!" seru Mentari sambil tertawa, karena sepertinya Arka benar-benar ingin ia menjadi joki di pagi ini.


"Latihan dulu, takut kamu kelupaan!"


"Ahahaha.....di bawah ada Lala sama Rika Kak!" kata Mentari ya g mengingat dua sahabatnya yang menunggu.


"Biarkan saja, ini pahala juga kan sayang.....ibadah biar masuk surga!"


"Kak geli....."


Plak.


Mentari memukul tangan Arka yang berkeliaran sembarangan.


"Tapi suka kan?" tanya Arka dengan menggoda Mentari.


"Apanya?" tanya Mentari sambil cekikikan.


"Yang geli-geli itu loh!"


"Ahahahahah......"