
Kembali di rumah
Hari ini tepat umur 6 bulan Balqis, sesuai kesepakatan dulu kalau umur 6 bulan maka Mentari dan Arka kembali ke rumah mereka.
Barang yang mereka bawa pulang sementara disiapkan semua dan ibu Dewi memutuskan untuk mengantar sang cucu sampai dikediaman mereka.
Balqis saat ini dalam gendongan ibu Dewi sementara Mentari lagi siap-siap untuk pulang sedangkan Arka dan pak Rahmat sedang keluar sejak pagi, entah kemana perginya.
Mentari datang menghampiri ibu mertuanya, "Bu ayah Balqis udah pulang?" tanyanya.
"Belum, ayah juga belum pulang" Jawabnya.
"Kemana ya?" Gumam Mentari
"Gak usah dipikirin, mungkin mereka sudah dijalan pulang" Ucap Ibu Dewi lagi, "iya kan Balqis?" Sambungnya sembari main bersama cucunya.
"ya udah kalau gitu Mentari cek dulu barang-barang yang mau dibawa ya bu" pamit Mentari.
"Iyaa" Jawabnya singkat karena ia fokus dengan Balqis.
Pagi ini sangat sibuk, yang membuat Mentari sedih tidak ada satu pun keluarganya datang dirumah Purnawan. Mentari kurang semangat, hanya ibu Dewi yang menemani.
"Bu, apa bunda menelfon?" tanya Mentari setelah kembali.
"Tidak, sepertinya mereka sibuk" jawab ibu Dewi lagi.
"Apa bunda lupa yaa?"
Mentari kembali ke kamar mencari ponselnya. Ia langsung menelepon bundanya, tersambung tapi tidak dijawab.
"Bunda sengaja atau lupa?" Ucap Mentari seorang diri dikamar sembari mengetik di ponselnya mengirim pesan kepada ibunya.
Pesannya terkirim tapi tidak dibaca. Mentari makin kesal, ia kembali menelfon papanya tapi begitu juga dan harapan satu-satunya yaitu sang kakak.
Kembali Mentari menelfon Aldi, kali ini bukan tidak dijawab tapi tidak aktif.
"Isshhh, bikin kesal" Gumamnya lalu kembali ke ibu mertuanya.
Mentari baru mendaratkan bokongnya di sofa, ibu Dewi memberitahu Mentari.
"Sayang, kita berangkat sekarang, ayah baru aja menelfon dia sudah dijalan untuk menjemput kita"
"Arka dimana?" tanya Mentari.
Ibu Dewi mengedikkan bahunya, "ibu dan Balqis tidak tau, iya kan Balqis?" jawabnya sembari bertanya kepada cucunya itu.
Balqis yang dimain-mainkan seperti itu hanya ketawa.
"Awas kak Arka" Monolognya, ia rasa Arka sudah berlebihan saat ini, tanggung jawabnya ia serahkan kepada orang tuanya.
Mobil Ayah Rahmat berhenti depan rumah. Mentari mengambil tasnya dan yang terpenting tas perlengkapan anaknya.
"Bu, apa ini gak kebagian, baru jam 9" Ucap Mentari sembari melibat jam dilengannya.
"Lebih bagus dong" Jawab ibu Dewi dan Mentari hanya mengangguk pasrah.
Awalnya semangat setelah mendengar akan kembali dirumah tapi kalau seperti pagi ini, ia tinggal dirumah mertuanya selama-lamanya pun tidak masalah.
Mereka jalan bertiga diikuti oleh asisten rumah tangga yang pegang tas satu orang. Mereka masuk dalam mobil, setelah dipastikan semua barang sudah ada dalam mobil ayah Rahmat pun kembali membawa mobilnya menuju kediaman anaknya.
Mentari sudah tidak tahan untuk tidak bertanya, "Ayah, Ayah Balqis mana?"
"Ayah tidak tau,. memang keluar dari rumah sama-sama tapi kami mengendarai mobil yang berbeda dan ayah tadi itu duluan" Jelas Ayah Rahmat.
"Ayah kemana tadi? apa Ayah Balqis menelfon ayah tadi?" tanyanya lagi.
"Arka tidak menelfon juga" Jawab ayah Rahmat lagi.
"Kemana mereka, Kak Aldi, Bunda, Papa dan Ayahmu Balqis" Ucapnya sambil menunjuk anaknya yang direspon dengan tawa, "tidak jelas kemana, hati ibu ini sakit" sambungnya
Dan ibu Dewi mendengar itu langsung merespon cepat, "mungkin sibuk, jadi biarkan saja yang penting kita selamat sampai rumah"
"Iya bu" Jawab singkat dari Mentari lalu melihat kearah luar.
"Kenapa mereka pada santai ya? rasanya disini hanya aku yang pusing" Monolognya.
10 menit kemudian sampai dirumah yang selalu ia rindukan selama 6 bulan ini. Mereka masuk dalam rumah hanya disambut oleh ART.
"Ayah Balqis tidak datang disini?" tanya Mentari kepada ART rumahnya itu.
"Tidak Bu" Jawabnya.
Mentari menghela napas dan duduk sejenak di sofa untuk menelpon suaminya sambil mengomel.
"Kemana sih mereka, Papa, Bunda, kak Aldi, dan Siska juga. Mereka hilang seketika" Mentari kesal.
Rahmat dan Dewi hanya melirik mantunya sejenak lalu pamit masuk kamar dengan Balqis.
"Sayang, Balqis kami bawa dikamar yaa. Urus dulu tu suamimu" Ucap Ibu Dewi.
"Iya Bu, kak Arka bikin aku marah dan khawatir kali ini" Jawabnya lagi sembari kembali menelfon sang suami.
Ponsel suaminya tidak aktif, "seharian aku hanya urus benda pipih ini"
"Assalamualaikum Bu, apa ini rumah pak Arka?" tanyanya yang membuat Mentari bingung.
"benar, tapi didepan bukan ada satpam. Seharusnya tanya satpam yaa" tegur Mentari, "ada apa?" Sambungnya.
"Ini ada paket" Ucapannya lagi sembari memberikan sebuah kotak kecil.
"Oh iya, terima kasih" Ucap Mentari.
"Sama-sama, mari bu" Pamitnya.
"Iya" Jawab mentari singkat dan penasaran dengan isi paket tersebut karena Arka tidak bilang kalau ada paket sampai.
Mentari membuat paket tersebut, isinya hanya kertas dengan gambar anak panah dan diberi nomor dan tertulis keterangan disesuaikan.
"Ini paket atau apa?, gak ngerti aku paket seperti ini" Mentari sedikit membanting kotak itu.
Ponselnya bunyi dan seketika mengukir senyum, "Rionaldo" Gumamnya lalu ia jawab teleponnya.
📞 Rionaldo : Hay apa kabar?" tanyanya di telepon itu.
📞 Mentari : Alhamdulillah baik" Jawab Mentari lalu diam.
📞 Rionaldo : Aku minta maaf Mentari, aku banyak salah sama kamu, karena keteledoran ku kamu masuk rumah sakit"
Mentari mendengar itu sedikit gemetar, ia kembali teringat kejadian dimasa lalu yang hampir meninggal dan kehilangan calon bayinya.
Rionaldo menghela napas, ia sangat menyesali perbuatannya. Karena terlalu cinta dan takut kehilangan sehingga membuatnya seperti ini.
📞 Rionaldo : "Anak buahku salah paham, ia kira perintah yang dia dapat dari Santi itu dari saya ternyata aku tidak tau apa-apa kejadian itu. Makanya aku malu menemui, saat akikah Balqis pun aku ada ada disana dan saat itu aku berusaha untuk minta maaf melalui bantuan siska tapi kamu malah ketakutan duluan mendengar namaku"
Mentari tidak menjawab hanya air mata yang terus jatuh tanpa permisi.
📞 Mentari : "Kamu jahat Rio, aku menerimamu sebagai sahabat sangat tulus tapi kamu malah kerja sama dengan Santi untuk menghancurkan rumah tangga aku. Aku gak nyangka sejahat itu kamu sama aku"
Mentari meluahkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini kepada sahabatnya itu.
Disisi lain, disalah satu kamar yang berada di ruangan itu salah satu tampak gelisah, siapa lagi kalau bukan Arka. Arka berdiri lalu duduk dan berdiri lagi dan kembali duduk lagi melihat istrinya menelfon sambil menangis.
"Sabar dong" Kata Aldi santai.
"Gimana mau sabar, ini istri saya lho. Saya saja menjaga agar air mata istri saya tidak jatuh. Siapa laki-laki itu?" tanyanya lagi.
"Ini masih dalam pantauan" Ucap Aldi lagi.
Mereka memantau Mentari lewat CCTV. Arka sengaja pasang cctv dengan tujuan mengerjai istri, tapi malah dia yang panas dingin.
Dalam pantauan mereka, Mentari kembali menelfon tapi beralih ke Video call.
"Siapa lagi itu?" tanya Arka.
"Diam dong" Bunda Anita menegur Aldi dan Arka.
Kali ini bukan hanya Arka yang kesal melainkan Aldi juga. Bagaimana tidak, dilayar mereka terlihat jelas kalau Mentari sedang Video Call dengan Rionaldo dan Siska.
"Ternyata menolak ku gara-gara Rionaldo" Monolog Aldi.
"Itu bukan siska?" tanya ibu Anita.
"Bukan Bun, itu hanya mirip" Jawab Aldi dan melihat kearah jendela., "Kita akhiri sebelum Mentari besar, gak lupa kan kalau marah gak mau ngomong" sambung Aldi.
"Benar, kita keluar saja dari sini.. sudah siap kan?" tanya Arka.
"Siap apa?, bukan diruang sebelah perayaan ulang tahun sekaligus penyambutan Balqis dirumah orang tuanya sendiri" Timpal Ibu Dewi.
"Oh iya, tunggu disana aku keluar untuk menyuruh ART mengantar Mentari keruangan.
"Oke" Mereka menjawab dan bergegas dari ruangan itu menuju salah satu ruangan yang sudah didekor dengan bagus.
Setelah Arka menyuruh ART, Arka ke ruangan dimana semua keluarga besar sudah disana.
"Maaf bu, Bik antar ibu untuk istirahat" Ucapnya.
"gak usah bik, rumah sendiri masa harus diantar" Tolak mentari dengan sopan, dan kembali melihat layar ponselnya.
📞 Mentari : sudah dulu yaa, aku doakan kalian segera menikah supaya Balqis punya teman.. assalamualaikum".
"Maaf bu, kamar ibu dan bapak dulu sedang direnovasi, jadi saya antar ibu dikamar baru" Tawarnya lagi.
Karena Mentari tidak enak kepada ARTnya yang ia pun menurut dan mengikuti kemana arah ARTnya melangkah.
"silahkan masuk bu" Ucapnya lagi.
"Lah kok disini?" tanya Mentari bingung dan ARTnya menjawab sembari senyum lalu membuka pintu, "silahkan masuk bu, sudah ditunggu"
Kalimat itu membuat Mentari penasaran, ia pun masuk dan betapa terkejutnya ruangan yang sudah didekorasi dan disana terpampang jelas fotonya dan Balqis dan sebagian foto mereka bertiga. Yang membuat Mentari terharu adalah kue ulang tahun dan baru ia ingat kalau dirinya hari ini umurnya sudah 23 tahun.
"Selamat ulang tahun" Ucap Arka dengan membawa Balqis dalam gendongannya.
"Kadonya mana? terus ini, masa gak ada lilinnya" protes Mentari menunjuk kue ultah tersebut.
"Gak boleh, kita muslim tidak boleh tiup lilin, dan kadonya ini" Jawab Arka sembari mengangkat Balqis dan Balqis seketika tertawa.
"Ya ampun ketawa mu itu lho nak" Ujar Bunda Anita dan ibu Dewi gemas yang membuat Mentari menoleh kearah samping.
"Kapan bunda kesini?" tanya Mentari bingung.
"Kami dari pagi sudah disini" Jawab Aldi lagi bersama papa dan ayah Rahmat.
"Haaa" Hanya itu yang keluar dari mulut Mentari, "Papa" Mentari lari dan memeluk papanya.
"Maaf ya Arka" Ucap Papa Hadi yang diangguki oleh Arka.
"Seperti ini saja aku sudah bahagia. Terima kasih untuk semuanya" Ucap Arka, "kita foto bersama, fotografer sudah aku bayar mahal baru tidak digunakan, kan rugi" sambungnya dengan canda ditanggapi suara tawa oleh keluarga mereka.
Sesi foto-foto itu berjalan begitu lama, momen yang bahagia itu tergambar jelas di wajah para tetua, ditambah hadirnya seorang cucu diantara mereka membuat Balqis seperti piala bergilir satu minggu dirumah Purnawan dan satu minggu kemudian lagi dirumah Algantara.
Setelah sesi foto selesai mereka pun memberikan kado kepada Mentari sembari menyampaikan pesan.
Kado dari ibu Dewi untuk mantunya bentuknya termasuk yang paling kecil dari yang lain, "Jadilah ibu yang sabar ya buat cucuku Balqis dan kalau ada kesalah pahaman selesaikan dengan kepala dingin".
Lalu berlanjut Ibu Anita, ia terlebih dahulu mencium anaknya itu, "dulu permata kami yang selalu dikhawatirkan setiap saat, seiring berjalannya waktu semakin dewasa hatiku mulai takut, takut siapa nanti suamimu, takut dengan siapa kamu bergaul dan paling kami khawatir saat itu memilih untuk hidup tanpa pengawasan pengawal. Tapi setelah Arka datang dirumah melamar kamu, kami tidak berpikir panjang untuk menerimanya sebagai suamimu meskipun saat itu bunda sedikit ragu. Tapi kecemasan itu hilang ketika melihat Arka sangat sayang kepadamu" Ucapnya lalu memeluk Mentari, "Arka, saya titip permata kami dan cucu kami kepadamu, jagalah mereka dengan baik" Sambungnya lalu ia melepas pelukannya.
Papa Hadi memberikan langsung sebuah kunci, "Kunci apa ini pa?" tanya Mentari.
"Kunci villa" Jawab Hadi dengan santai.
"Makasih papa" Ucap Mentari lalu memeluk papanya.
Dalam pelukan itu Hadi berkata, "Jika ingin santai maka ke villa pilihan yang bagus dan suasananya juga tenang, disana juga ada kolam ikan" Jelasnya membuat Mentari senang bukan main.
"Sekarang giliran pak Rahmat ya" Ujar Hadi dan ditanggapin dengan sebuah senyuman oleh pak Rahmat.
Rahmat memberikan sebuah kotak yang lumayan besar buat Mentari, "semoga bermanfaat, dan ayah doakan kebahagiaan selalu menyertai kalian nak" Ucapnya dan Mentari memeluk Ayah mertuanya itu sembari berkata, "terima kasih yah"
Aldi dia membawa paper bag dan memberikannya kepada sang adik itu.
"apa ini kak, bisa dilihat gak?" tanya Mentari.
"Boleh dong" Jawab Aldi dengan santai.
Mentari mengeluarkan isi paper bag itu ternyata gaun kesukaan Mentari yang pernah ia ceritakan ke kakaknya minggu lalu dan satu lagi gaun itu sama dengan Balqis hanya Balqis ditambah dengan bando sehingga terlihat lucu.
"Makasih lho kak" Ucap Mentari.
"Iya sama-sama. Soalnya aku melihat hadiahnya sudah pada lengkap semua jadi aku hadiahkan baju saja" Ucapnya santai.
"Aku senang kak, sekali lagi makasih lho kak" Ucap Mentari dan memeluk kakaknya itu.
Dan ditutup oleh Arka ucapan terima kasih kepada keluarga besarnya. Kata demi kata yang ia sampaikan Arka membuat yang mendengarnya bangga dan terharu, terutama Mentari sang istri. Bagaimana tidak, kalimat pujian dan rasa syukur mendapatkan istri seperti Mentari tidak luput dari ucapannya.
Sekian...