Mentari

Mentari
Episode 169



"Kita semakin dekat," kata Radit yang terus memperhatikan ponsel nya, "Arka berhenti," pinta Radit.


"Kenapa?" tanya Arka, yang seketika menghentikan laju mobilnya.


"Gps nya mengarahkan ke sana," kata Radit menunjuk arah utara, "Kita turun di sini saja," kata Radit yang langsung turun dan di ikuti Arka.


"Tapi ini hutan lebat, coba lihat mungkin ada bekas jalan," kata Arka.


"Itu ada jalan setapak," Radit menunjuk jalan, dan sepertinya bekas langkah kaki.


"Apa GPS nya menunjuk ke sana?" tanya Arka.


"Iya, ayo," Radit cepat-cepat melangkahkan kakinya mengikuti jalanan itu, dan semakin di ikuti. Rembulan terasa semakin dekat.


Malam semakin larut, Rembulan masih terduduk di tanah tepat di depan gubuk kecil. Ia hanya di terangngi sinar bulan yang memancarkan cahaya nya.


"Sssssttt......auuuuu...." rintih Rembulan yang merasa semakin sakit saja, "Tolong....!!!!" teriak Rembulan berharap ada yang mendengar suara teriakan nya.


Kaki Radit bergetar saat melihat tubuh Rembulan terbaring di tanah, "Umi," seru Radit dan ia langsung mengangkat tubuh Rembulan.


Di tengah kesadaran yang semakin menghilang Rembulan sayup-sayup melihat Radit yang mengangkat dirinya, "Abi," Rembulan masih bisa melihat wajah Radit, "Sssssttt....." Rembulan kembali merintih karena kesakitan nya.


Radit melihat ada cairan yang sudah keluar dari tubuh Rembulan, "Arka ayo kita kembali ke mobil, sisanya kita urus setelah ini," kata Radit yang ingin segera menangani Rembulan.


"Iya," Arka hanya ikut saja, karena keadaan Rembulan memang begitu memperhatikan.


"Umi, bertahan......kamu kuat," kata Radit berusaha menguatkan Rembulan.


"Sssssttt......." rintih Rembulan menahan sakit yang kian semakin luar biasa, "Abi, Sssssttt......umi udah enggak kuat," keluh Rembulan.


Arka membuka pintu mobil, dan Radit langsung meletakan Rembulan pada jok bagian belakang mobil, "Kamu kuat," kata Radit yang tidak ingin Rembulan kehilangan kesadaran nya. Sebab bila Rembulan tidak sadarkan diri maka janin Rembulan yang menjadi taruhannya, karena bayi itu akan segera keluar. Dan di tengah hutan itu tidak bisa melakukan tindakan, karena tidak memiliki alat.


"Sakit......" rintih Rembulan lagi.


Radit mengambil handuk miliknya pada tas yang selalu tersedia di bagian belakang mobil nya, dan juga beberapa kaos miliknya di sana. Radit sadar peralatan kerjanya tadi ia bawa turun, dan tidak ia bawa lagi karena panik, "Arka ambilkan gunting di dasbor mobil," pinta Radit.


"Sebentar," Arka langsung mencari apa yang di pinta oleh Radit.


"Kotak P3K juga," pinta Radit, ia menggunakan alat seadanya untuk bisa menyelamatkan Rembulan dan anaknya.


"Abi..... Sssssttt....." Rintih Rembulan dengan keringat yang semakin banjir.


"Tahan sakitnya, sebentar lagi kamu harus mengejan. Ini belum waktunya," kata Radit, karena pembukaan yang belum sempurna.


"Bi, sakit.....Umi udah enggak kuat," kata Rembulan lagi.


Radit mencari obat di bagian depan mobilnya, dan ada pil di sana, "Telan ini," kata Radit.


Rembulan langsung menelan obat itu, dan sepertinya itu adalah obat perangsang. Rasa sakit yang di rasakan oleh Rembulan semakin tidak tertahankan, karena pembukaan semakin sempurna.


"Hiks....hiks.....hiks....." Rembulan menangis karena rasanya semakin sakit dan tidak terkendali, "Abi!!!!! sakit....." rintih Rembulan.


Radit menitihkan air mata dan ia semakin tidak kuasa melihat penderitaan Rembulan, rasanya Radit sangat tidak tega melihat kesakitan Rembulan. Andai rasa sakit itu bisa di bagi, ia akan dengan senang hati untuk membatu mengurangi rasa sakit itu dengan memindahkan sakitnya pada dirinya. Tangan Radit mengusap keringat yang meluncur dari dahi Rembulan.


"Sssssttt......" Rembulan menggeleng, "Umi udah enggak kuat," kata Rembulan, "Sakit," dari tadi Rembulan sudah cukup lama menahan sakit, apa lagi perjalan yang jauh membuat nya lelah. Hingga ia lebih banyak kehilangan tenaga.


"Dorong ya," kata Radit. Karena ia melihat wajah Rembulan kini berubah pucat, sementara air ketuban sudah pecah dari tadi. Dan Radit pun takut Rembulan kehilangan kesadaran sebelum bayinya lahir.


"Sssssttt....." Rembulan meremas apa saja yang ada di dekatnya, ia bahkan sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya.


"Sayang sedikit lagi, kamu bisa. Kamu itu wanita luar biasa, kamu wanita kuat dan hebat," kata Radit yang terus memberikan semangat.


Setelah beberapa kali Rembulan gagal dan untuk kesekian kalinya Rembulan berhasil melahirkan seorang putra.


Oe....Oe....Oe....


Radit tersenyum karena bayinya sudah lahir, cepat-cepat Radit menangani anaknya. Ia membalut putranya dengan handuk miliknya, "Arka cepat masuk!" kata Radit.


"Kenapa?" tanya Arka yang tidak mengerti.


"Cepat masuk dan duduk!" kata Arka menunjuk kursi depan di samping kemudi.


Arka tidak membantah, ia tahu kini Radit tengah panik. Dan setelah ia duduk Radit langsung meletakan bayinya pada pangkuan Arka, "Radit, aku tidak berani...." kata Arka, karena Radit meletakkan nya pada pangkuan Arka.


"Tidak apa, kau jangan bergerak!" jawab Radit.


Arka hanya diam dan tidak bergerak, bila Nisa memilih. Ia lebih memilih untuk menghadapi pria bertubuh kekar dari pada memangku bayi, karena Arka memang belum pernah memangku bayi, bahkan kedua anaknya sekalipun. Karena bayinya yang juga masih di rumah sakit dan belum bisa dibawa pulang.


"Abi," Rembulan menggenggam tangan Radit. Dan sedetik kemudian ia sudah tidak sadarkan diri.


"Umi," Radit menepuk-nepuk wajah Rembulan. Tapi Rembulan memang sudah tidak sadarkan diri, "Arka, kita ke rumah sakit sekarang."


"Pegang ini," Arka memberikan bayi di tangannya pada Radit, dan ia mulai mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.


"Umi, bangun!!!!!" pinta Radit.


Banyaknya kain tidak bisa menampung cairan merah yang terus tumpah dari tubuh Rembulan, karena penanganan yang seadanya membuat keadaan Rembulan tidak baik-baik saja.


"Umi, bangun!!!" pinta Radit penuh air mata.


Perlahan Rembulan membuka matanya kembali, ia melihat Radit menangis untuk dirinya, "Aku enggak papa," kata Rembulan dengan suara lemahnya. Walaupun ia sudah tidak begitu jelas melihat Radit, tapi Rembulan tetap berusaha kuat di hadapan Radit.


"Kamu kuat," kata Radit sebelah tangannya menggenggam erat tangan Rembulan.


"Iya," kata Rembulan mengangguk dan menutup matanya.


"Umi," Rembulan lagi-lagi menggoncang kan tubuh Rembulan, agar istrinya tidak kehilangan kesadaran.


"Iya, Umi tidak apa," Rembulan kembali membuka matanya, dan tersenyum agar Radit yakin ia memang tidak apa-apa. Namun sedetik kemudian Rembulan tidak lagi mendengar Radit yang terus memanggil dirinya, ia benar-benar tidak lagi bisa membuka mata.


*


Kak tolong Like dan Vote, nanti Othor up lagi ya. Tolong bet.