
"Ulan kamu kenapa Nak?" tanya Ranti semakin panik.
"Enggak papa Ma, Ulan udah siap mandi.....Ulan ganti baju dulu ya," Rembulan keluar dari kamar mandi sambil tersenyum-senyum dan menuju lemari. Ia berjalan dengan baju yang masih basah kuyup di tubuhnya. Sesaat kemudian ia selesai dengan mengganti pakaiannya, Rembulan terus tersenyum dan keluar dari kamar.
Ranti yang masih berdiri di kamar Rembulan merasa bingung dengan tingkah Rembulan yang aneh, seketika kakinya ikut melangkah dan mengikuti kemana Rembulan pergi. Dan ternyata Rembulan pergi ke dapur.
"Ulan kamu mau makan ya Nak?" tanya Nina, karena Nina memang belum pulang. Ia kini hanya ingin merawat Rembulan bersama dengan besarnya Ranti.
Rembulan melihat Nina, tapi ia seakan tidak mengenali Nina, "Siapa ya?" tanya Rembulan, "Tapi tidak apa....kita makan bareng yuk, aku pengen di temani makan juga....." jawab Rembulan santai, "Bik Sum bawa semua makan aku lapar," teriak Rembulan pada Art.
"Iya Non," Bik Sum langsung menghidangkan makan.
"Hey," Rembulan memanggil Nina, "Makan bareng yuk," Rembulan duduk di kursi meja makan, dan mulai makan. Ia makan tanpa henti, bahkan seperti orang tidak waras.
"Ulan," Nina duduk di kursi bersebelahan dengan Rembulan, ia benar-benar bingung dengan tingkah Rembulan. Ia melihat Ranti berdiri di dekatnya, terlihat Ranti juga menatap bingung.
"Kamu tahu enggak, aku itu nikah karena di jebak sama temen aku sendiri....terus aku minta tanggungjawab, tapi lucunya aku malah nggak mau dia tanggungjawab.... Ahahahahah...." Rembulan tertawa dan meneguk air putih di atas meja, kemudian melihat Nina, "Bodoh banget kan aku, tapi enggak papa aku bisa kok besarin anak aku sendiri, lagian kalau memang benar dia cinta sama aku dia bakalan bela-belain dong buat dapetin maaf dari aku, tapi dia enggak.....dia pergi entah kemana, tadi pagi aja dia sama Diva calon istri nya," kata Rembulan seolah ia merasa Nina adalah temannya, atau mungkin orang lain.
"Ulan....." Nina menitihkan air mata, ia menggerakkan punggung Rembulan.
"Aku sekarang udah enggak mau pusing lagi, kasian anak aku padahal dia enggak salah.....tapi dia terus jadi korba," kata Rembulan seolah tanpa beban sama sekali, "Biarin aja lah ya, pengen seperti orang-orang tapi enggak bisa karena kami tidak senasib, aku pergi dulu ya....aku mau jalan-jalan aja," pamit Rembulan.
Rembulan turun dari kursi nya, dan ia melewati Ranti yang tengah berdiri sambil menangis menatapnya, "Mama kenapa? Kok nangis.....enggak usah nangis Ma, capek.....Ulan udah sering nangis terus capek Ma," kata Rembulan lalu ia melenggang begitu saja dan keluar dari rumah.
"Hiks.....hiks....hiks...." tangis Ranti pecah seketika menyadari anaknya sedang tidak baik-baik saja, ia terduduk di lantai dan merasa sesak di dada.
"Jeng," Nina langsung membantu Ranti untuk berdiri, ia sungguh sangat prihatin melihat keadaan Rembulan.
"Hiks....hiks....hiks....." Ranti hanya mengusap dada karena ia sangat terluka sekali.
Sementara di luar sana Rembulan kembali bertemu dengan Mentari.
"Mau kemana Kak?" tanya Mentari.
Rembulan hanya diam, diam sambil mendudukan tubuhnya di teras rumah.
"Kak Ulan....." kata Mentari lagi.
Rembulan hanya diam, kemudian Mentari merasa haus, "Kak Tari ambil minum dulu abis itu Tari temenin ya," kata Mentari dan ia masuk ke dalam rumah. Sampai di dapur Mentari melihat Mamanya tengah menangis, "Mama kenapa?" tanya Mentari.
"Tari....Kak Ulan....sekarang sudah seperti orang gila," jelas Ranti sambil menangi.
Mentari menutup mulutnya, dan ia cepat-cepat minum kemudian kembali keluar melihat keadaan Rembulan. Tapi sampai di luar sana ia tidak melihat Rembulan.
"Kak Ulan!!!!" teriak Mentari mencari Rembulan.
Mentari keluar dari gerbang rumah kedua orang tuanya, tapi Rembulan juga tidak kelihatan. Mentari mulai panik ia berdiri di tengah jalan dan tiba-tiba ada mobil yang melintas.
Tin tin tin.
Mobil itu terus melaju dan hingga akhirnya menabrak gerbang rumah, demi menghindari Mentari yang menjadi korban nya
"Aaaaaa!!!!" teriak Mentari mendudukan diri ya di tengah jalan, sambil menutup wajah dengan tangan.
"Kak Arka," Mentari terkejut karena ternyata Arka di sana, dengan cepat ia memeluk Arka dengan erat.
"Sayang kamu enggak papa kan?" tanya Arka panik.
"Arka ada apa ini?" tanya Linda. Ia cepat-cepat keluar dari rumah saat mendengar ada suara benturan keras di depan rumahnya, "pun Arka kamu nabrak pagar?"
"Iya Mi, tadi Arka menghindari Mentari hampir aja Arka tabrak, karena dia tiba-tiba lari ke tengah jalan," jelas Arka sambil terus memeluk Mentari.
"Ya ampun Tari," Linda melihat keadaan Mentari, "Tapi kamu enggak apa-apa kan Nak? Ada yang lecet enggak?" tanya Linda.
"Enggak Mi, maaf ya Mi....tadi Tari panik soalnya nyariin Kak Ulan," jelas Mentari.
"Memangnya Kak Ulan kemana?" tanya Linda.
"Enggak tau Mi, tapi Kak Ulan kayak orang stres Mi," kata Mentari lagi.
"Ya ampun Ulan," kata Linda yang juga turut kasihan.
"Kak kita cari Kak Ulan ya," pinta Mentari, "Kita pergi naik mobil Tari aja," kata Mentari lagi, karena melihat mobil Arka yang harus di perbaiki terlebih dahulu.
"Tapi kamu masih pucat begini," Arka tidak mungkin membiarkan terjadi hal buruk pada Mentari.
"Ayo Kak," pinta Mentari, "Kalau nggak Dari pergi sendiri aja," kata Mentari lagi.
"Yaudah Kakak bantuin," terpaksa Arka setuju, karena ia tidak mau sampai Mentari pergi sendiri.
"Hati-hati ya Nak," kata Linda.
"Iya Mi," jawab Mentari.
Arka dan Mentari terus menyusuri kompleks perumahan tempat tinggal mereka, namun sampai sore hari pun Rembulan belum mereka temukan.
"Kak Ulan kamu dimana sih?" Mentari mulai panik, dan merasa takut.
"Sayang kita pulang dulu ya, mana tau Kau Ulan udah di rumah," kata Arka.
Arka mulai merasa tidak beres, karena wajah istrinya terlihat semakin pucat. Dokter sudah berkali-kali mengingatkan Mentari punya resiko lebih tinggi karena hamil di usia terlalu muda, Arka sangat takut kalau terjadi hal yang tidak di inginkan pada istrinya.
"Kak Ulan belum di rumah Kak, ini Tari chat Mama barusan, kita cari Kak Ulan Sampek ketemu ya Kak," pinta Mentari penuh harap.
"Tapi kamu tenangnya, enggak boleh panik," pinta Arka.
"Iya," Mentari mengangguk.
"Kita ke temui Radit saja, pria brengsek itu harus bertanggungjawab!" ujar Radit.
"Kakak tahu dimana Kak Radit?" tanya Mentari.
"Lelaki kurang ajar itu harus di hajar agar otak nya bekerja dengan baik."