
"Kakak jahat ngatain Tari peliharaan nya Mama!!!" geram Mentari, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
"Sayang itu enggak bener," Arka mulai ketakutan karena Mentari mulai marah.
"O, maksud kamu Mami bohong?" tanya Linda yang mulai berkacak pinggang.
"Aduh," Arka mendesus, ia sungguh tidak menyangka bisa begitu menyulitkan sekali saat ini.
"Awas lho Arka, Mami tagih itu ya. Bersihin rumah Mami!" kata Linda dengan begitu jelas.
"Tari mau pulang ke rumah Mama aja," kata Mentari, "Tari enggak mau ketemu dulu sama Kakak!"
"Sayang kok begitu sih," kata Arka, ia berjongkok di hadapan Mentari karena ketakutan.
"Puasa sampai empat puluh hari?" tanya Radit, "Tidak," jawab Radit lagi. Seolah ia tengah berbicara pada dirinya sendiri, "Sampai waktu yang tidak ditentukan..." Radit tersenyum puas melihat penderitaan Arka.
"Bacot, diam!" geram Arka,. Kemudian ia kembali melihat Mentari, "Sayang itu dulu ya, tapi sekarang Kakak udah sayang banget sama kamu," kata Arka lagi.
"Alah, enggak usah drama Tari," kata Rembulan juga yang mulai berbicara hingga semua mata menatap dirinya, "Kamu juga dulu ngomong, enggak sudi liat wajah monyetnya Arka. Sekarang aja sehari engga liat Arka rasanya dunia runtuh," kata Rembulan lagi.
Glek.
Mentari meneguk saliva, sungguh semua itu memang ia katakan dulu.
"Sayang itu benar?" tanya Arka.
"Hehehe...." Mentari cengengesan, "Ya, itu kan dulu Kak. Sekarang kan enggak," jelas Mentari. Karena ia juga takut Arka malah berbalik marah padanya.
"Sama aja dua-duanya," kata Rembulan sambil memijat kepalanya.
"Alah Kakak juga sama," geram Mentari karena Rembulan malah membeberkan aibnya, "Pura-pura gila, padahal pengen di deket Kak Radit terus," kesal Mentari.
"Sudah-sudah..." geram Ranti, "Tuan Anggara, jeng Linda, dan Jeng Nina maaf ya. Karena anak saya memang kalau sudah bergabung ya sudah begini," kata Ranti dengan tidak enak hati.
Nina dan Linda tersenyum, Mentari dan Rembulan memang selalu bertengkar bila bertemu. Tapi Nina dan Linda bisa melihat jika Kakak beradik itu selalu setia dan ikut merasakan kesedihan saudaranya, bila salah satu dari mereka sedang terluka.
"Kita pulang yuk," kata Linda.
"Mi, Tari pengen lihat baby twins S dulu," pinta Mentari.
"Iya," Linda tersenyum.
Arka mendorong kursi roda Mentari dengan perlahan, hingga yang lainya juga ikut menyusul dan mereka kini berada di ruangan baby twins.
"Sayang Sea mirip siapa ya?" tanya Arka, ia terus melihat wajah putrinya.
"Mirip Haikal," kata Radit asal.
"Bapaknya saya!" tegas Arka.
"Kak udah," Mentari tidak ingin ada keributan di sana.
"Sayang kita pulang yuk, kita doakan saja semoga secepatnya anak-anak bisa kita bawa pulang," kata Arka. Karena Mentari ingin menangis.
Jujur saja Mentari ingin sekali memeluk kedua buah hatinya, tapi belum bisa. Bahkan kedua bayi itu hanya minum susu formula saja. Karena Mentari tidak bisa memberikan asi, karena tidak ada asi sedikit pun. Walaupun Arka rela mengeluarkan uang banyak demi memberikan susu formula yang paling mahal dan bagus, tetap saja Mentari merasa sedih. Ia juga ingin merasakan seperti apa dulu ibunya memberikan asi untuknya, tapi apa yang bisa ia katakan. Karena semua memang harus begini dan ia masih terus bersyukur.
"Sayang kita pulang ya," Arka semakin tidak tega melihat butir-butir air mata Mentari yang jatuh di pipinya. Hingga Akhirnya Arka berjongkok di hadapan Mentari, "Kamu kenapa?" Arka menggenggam kedua tangan Mentari,dengan sebelah tangannya. Kemudian sebelah nya lagi mengusap air mata istrinya.
"Kak, apa Tari gagal jadi Ibu," tanya Mentari dengan wajah menunduk, "Padahal seharusnya mereka masih belum waktunya lahir, tapi....." air mata Mentari benar-benar jatuh tanpa bisa di bendung.
"Sayang," Arka memeluk Mentari dan berusaha memberikan rasa nyaman pada istrinya, "Kamu itu udah memberikan yang terbaik. Bahkan mereka sudah lahir dengan selamat, tapi insyaAllah semua akan baik-baik saja," kata Arka lagi. Ia menjauh sedikit dari Mentari, "Kamu sudah memberikan yang terbaik, jangan bilang begitu ya.....kamu adalah wanita yang sempurna. Karena sudah memberikan Kakak anak, bahkan dua sekaligus. Kamu hebat sayang."
Mentari tersenyum, ia merasa nyaman bila terus berada di dekat Arka. Karena Arka mampu membuat nya lebih tenang dan nyaman, hingga perasaan gundah nya perlahan menghilang, "Sayang abis ini kita kejar target ya," kata Arka karena ia tidak ingin istrinya terus bersedih.
"Iya, Kakak pengen sepuluh anak. Jadi masih kurang delapan lagi, jadi kalau kita berkumpul pad 12 orang," jelas Arka.
"Kakak ish..... hehehe...." Mentari terkekeh mendengar pemintaan Arka yang aneh, namun bisa membuat nya terhibur, "Emangnya piring apa, selusin," kata Mentari lagi.
"Cie...." Arka mencolek dagu Mentari, "Kan senyum begini cantiknya balik lagi," kata Arka dengan menggoda Mentari.
"Jadi tadi Tari enggak cantik?"
"Cantik dong, tapi kalau senyum begini ada manis-manis nya gitu," ujar Arka.
"Emangnya minuman ada manis-manis nya?" Mentari masih terkekeh karena Arka yang mendadak aneh, bahkan Arka bergurau seakan semuanya begitu membahagiakan. Hingga membuat Mentari tersenyum kembali seperti biasa nya.
"Kami komplit yang, minuman dan makanan Kakak sekaligus," kata Arka sambil tersenyum.
"Bicara sama Kakak enggak jelas," kesal Mentari, tapi di hatinya tersenyum karena Arka terlihat begitu bahagia.
Tiba-tiba seorang perawat masuk, "Ibu, Bapak, tolong jangan membuat keributan di sini," kata perawat tersebut menegur, karena mereka masih di ruangan yang cukup banyak bayi di sana.
"Kakak sih," kata Mentari.
"Yaudah, kita keluar yuk."
"Pamitan dulu sama anak kita," kata Mentari.
"Sabariah, Sabaruddin, jangan nakal ya." kata Arka.
"Kakak apasih," Mentari mencubit lengan Arka karena kesal, sebab ia tidak suka jika anaknya di panggil dengan nama itu.
"Sayang sakit," kata Arka yang menggosok lengannya.
"Namanya Satya dan Sea Kak, bukan Sabariah dan Sabaruddin!" geram Mentari.
"Sama aja!" jawab Arka tidak mau kalah.
"Sama apanya?" tanya Mentari masih dengan raut wajah emosi.
"Sama cintanya Kakak sama kamu, malahan makin besar," jelas Arka.
Mentari tertunduk malu, entah mengapa ia lupa dengan kemarahan nya. Yang ada ia seakan berbunga-bunga karena perkataan manis Arka.
"Kamu malu-malu begitu kayak bikin Kakak merinding yang."
"Emang Tari setan apa!" jawab Mentari kesal, karena baru saja romantis tapi sudah rusak lagi karena Arka.
"Bukan, kamu itu cinta sejati Kakak."
"Ish.... gombal?"
"Serius!"
"Ayo pamitan, biar cepat pulang," kata Mentari, tapi sebenarnya ia tidak kuat dengan gombalan Arka yang membuatnya terbang.
"Biar cepat juga bikin adik buat Sea, sama Satya ya kan Yang?"
Mentari tersenyum dan mencubit lengan Arka, ia kesal tapi juga gemas pada suaminya.
*
Mana Vote nya nih, sebenarnya tadi mau bagi-bagi pulsa. Tapi pas liat Votenya. Di tunda dulu lah, Sampek Votenya sedikit bagus. Hahahhah.