
"Anak Mommy sayang," Mentari mulai memberikan asi pada Sea, walaupun ia masih cukup kesulitan tapi Mentari kini lebih berani. Karena mau bagaimana pun Sea dan Satya adalah anak-anak nya, dan Arka bersama Mentari pun sudah sepakat untuk tidak memakai baby sitter. Walaupun ini terdengar konyol tapi Mentari kini ingin merasakan mengurus bayi mereka dengan tangan mereka langsung, walaupun nanti mungkin akan memakai jasa babysitter juga. Tapi tidak untuk saat ini.
"Tari, megang kepala bayi itu langsung di peluk di dekap gitu Nak. Jangan pegang kepalanya begitu," kata Ranti yang berusaha mengajari sang anak, Ranti merasa wajar jika Mentari tidak paham dalam mengurus bayi. Mengingat anaknya itu sangat tomboy sekali, apa lagi Mentari menikah disaat yang belum tepat. Tapi Ranti juga terharu karena Mentari terus berusaha menjadi istri yang baik, dan kini ia tengah belajar menjadi seorang ibu. Bagi dua bayinya sekaligus.
Arka yang bagaikan ulat yang terus menempel pada pohon, dan kini pun ia sudah duduk di sisi sofa. Dengan Mentari yang tengah memberikan asi pada bayinya, "Megang nya itu bukan kepalanya yang, kamu pikir itu basoka keramat apa. Cuman Megang kepalanya aja udah mantap," bisik Arka.
Mentari langsung menatap suaminya dengan tajam, karena ada saja pembahasan Arka yang tidak baik untuk lama-lama di dengar.
"Hehehe.....damai Emak Sabariah," Arka tersenyum dan menunjukan dua baris gigi rapinya, karena takut jika Mentari akan marah.
"Kalian enggak mau pakai babysitter?" tanya Linda, karena ia kasihan melihat Mentari yang sangat kesulitan.
"Pakai sih Mi, tapi enggak sekarang. Biar Tari belajar dulu, nanti kalau memang Tari perlu..... baru Tari pakai jasa babysitter," jawab Mentari.
"Iya sudah, terserah kalian saja," kata Linda yang menyerahkan semua keputusan pada Mentari, bagaimana pun Mentari adalah istri dari Arka. Dan Mami Linda tidak ingin ikut campur tangan dalam urusan rumah tangga anaknya, semua keputusan ada pada Mentari dan Arka ia hanya ikut saja.
"Assalamualaikum," terdengar suara Dimas yang mulai masuk, dan ia langsung ikut bergabung bersama yang lainnya. Dimas duduk di singel sofa .
"Waalaikumusalam," jawab Mami Linda dan Mama Ranti.
"Kamu dari mana?" tanya Mami Linda.
"Dari kantor Mi, Dimas datang buat bawa kerjaan Arka," jawab Dimas, karena ia memang membawa tas.
"Arka kamu kerja dari rumah?" tanya Mami Linda.
"Iya Mi, kecuali nanti ada yang memang harus di kerjakan di kantor. Baru Arka ke kantor," jawab Arka. Karena ia belum ingin bepergian sampai Mentari benar-benar pulih.
"O," Linda mengangguk mengerti.
Karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Mentari, kini Rika dan Lala langsung menghampiri Mentari ke rumah. Mereka sangat bahagia saat Mentari memberikan kabar jika baby twins sudah di bawa pulang.
"Assalamualaikum," ucap Rika dan Lala bersamaan.
"Waalaikumusalam," jawab yang lainnya dan langsung mereka semua tersenyum saat melihat kedatangan dua sahabat Mentari.
"Aduh, Rika sama Lala. Ayo kemari, kita duduk bareng," Linda menepuk sofa kosong di samping nya.
"Iya Tante," Rika langsung mencium punggung tangan Linda, kemudian tangan Ranti.
Lala juga sama ia mencium punggung tangan Linda dan Ranti, tapi ada satu yang aneh. Ia juga mencium punggung tangan Dimas.
"Apasih!!!" kesal Dimas.
"Itu percobaan atuh Aa. Nanti kalau kita udah halal Lala udah biasa, dan enggak canggung lagi," jawab Lala dengan konyolnya.
"Ahahahhaha," Linda langsung tertawa, karena Lala sangat konyol dan unik. Bahkan mungkin Lala juga tidak kalah unik bila dibanding dengan Mentari menatu kesayangannya.
Sementara Dimas menunjukan wajah tidak sukanya, karena Lala selalu saja bertingkah semau nya. Dimas sangat tidak suka dengan wanita yang terus mengejar laki-laki, dan Dimas yakin kalau Lala seperti itu pada setiap pria di luar sana.
"Dimas Lala ini paket komplit lho," timpal Ranti, "Cantik, baik, humoris, tunggu apa lagi?" tanya Ranti yang sangat mendukung Lala dengan Dimas. Ranti sudah sangat tahu seperti apa Lala, karena Lala dan Mentari berteman dengan begitu dekat.
"Aa Dimas ada rencana buat nikah?" tanya Lala.
Dimas menatap Lala, "Ada," jawab Dimas.
"Yaudah datang ke rumah Lala, buat ketemu Ayah biar kita cepat nikah," kata Lala lagi.
"Wahahaaaa....." semuanya tertawa histeris, karena apa yang di katakan oleh Lala sangat menghibur mereka.
"Apa lagi Dim? Saya udah punya anak dua, Radit udah punya anak satu. Tinggal kamu," kata Arka menertawakan nasib Dimas, "Enggak kapok di tinggalin pas lagi sayang-sayangnya?" tanya Arka.
"Kak Dimas itu tunggu Rika nikah duluan Pak Arka, setelah itu baru dia nikah," timpal Rika mengejek Dimas, ia kesal pada Dimas karena selalu menolak Lala dengan terang-terangan.
"O, begitu. Biasanya kalau orang dilangkahin gitu bakalan susah buat nikah," jelas Linda.
"Enggak apa Mi, biar Dimas jadi Kakek perjaka," celetuk Arka.
"Ahahahhaha......" Mentari dan yang lainya tertawa saat mendengar kata Kakek perjaka.
"Sialan lu, ayo kita keruang kerja. Kita bicara berdua saja," kata Dimas. Karena Dimas merasa di sudut kan, jadi ia lebih memilih mulai bekerja saja.
"Kamu ajak saya ke ruang lainnya?" tanya Arka seolah ia kesal sekali, "Jangan bilang, kamu menolak Lala karena kamu udah suka sama saya. Apa kamu udah belok?" tanya Arka penuh intimidasi.
"Brengsek!!" geram Dimas, "Aku masih normal ya, cuman belum punya cewek yang pas aja buat aku nikahin," jelas Dimas dengan kesal.
"O, asal begitu aku sudah lebih tenang," Arka mengusap dadanya, seolah jika ia cukup lega setelah Dimas meyakinkan dirinya.
"Jual mahal! Padahal gratis aja enggak laku!" geram Rika, Kakak beradik itu tampaknya tidak pernah akur. Hingga ada saja alasan untuk keduanya terlibat pertengkaran.
Dimas tidak ingin menanggapi Rika, ia bangun dari duduknya dan segera menuju ruang kerja Arka. Tidak ingin terlalu pusing dengan masalah wanita, karena bagi Dimas wanita hanya racun yang perlahan menghancurkan dirinya. Berulang kali ia terjerat cinta pada wanita yang mampu mengalihkan dunianya, bahkan sudah berkomitmen akan menikah. Namun sayang saat itu hampir tiba ia di tinggalkan begitu saja tanpa alasan yang jelas, Dimas merasa tidak ada yang tulus mencintai dirinya. Semua wanita hanya ingin uang nya saja, sebab Dimas memang sangat royal pada wanita yang sangat ia cintai, bahkan tidak jarang tagihan kartu kredit Dimas membengkak hanya karena berusaha ingin membahagiakan sang kekasih.