Mentari

Mentari
Episode 126



"Abi," Rembulan panik saat Radit membuka bajunya dari bawah, dengan cepat tangannya menarik ke bawah kembali agar perutnya tidak terlihat.


Radit menggaruk tengkuknya, ia sedikit mundur karena Rembulan sangat aneh.


"Kamu mau ngapain?!" tanya Rembulan lagi, ia duduk karena benar-benar takut.


"Memangnya kenapa?" Radit kembali mendekat pada Rembulan, "Apa ada yang melarangnya?" kata Radit menggoda Rembulan. Karena ia tahu Rembulan tengah memikirkan hal lain.


"Radit....." lirih Rembulan dengan ketakutan, karena Radit terus mendekatinya.


Radit kembali membaringkan tubuh Rembulan, dan ia menyikap baju Rembulan ke atas. Tapi Rembulan masih memakai rok, jadi jika tidak di tutupi kain pun tidak akan menampakan bagian tubuh Rembulan sepenuhnya.


"Abi mau apa?" tanya Rembulan lagi, bahkan dengan badan gemetaran.


"Mau makan kamu!" jawab Radit asal.


Mata Rembulan melebar seketika mendengar perkataan Radit, bahkan keringat dingin mulai bercucuran.


"Umi ku gemes banget, ini mau di USG memangnya kamu mikir apa?" tanya Radit sambil terkekeh.


"Hah," Rembulan melihat sekeliling nya, ia merasa malu karena sempat lupa di mana kini mereka berada. Mereka berada di ruang pemeriksaan dan tadi Radit yang membawanya kesana, dan apa yang Rembulan pikirkan barusan. Sungguh sangat membuat nya kacau.


"Jangan bilang debayi nya minta di tengok sama Abi nya," seloroh Radit.


Glek.


Rembulan benar-benar haus, tenggorokan nya sudah sangat kering karena keseringan meneguk saliva sendiri.


Rembulan menatap Radit, namun Radit malah mengkedipkan sebelah matanya dengan menggoda Rembulan.


"Hiks......hiks....." tangis Rembulan pecah, karena tidak tau cara mengkondisikan hatinya saat ini. Ingin bilang ia tapi malu, ingin bilang tidak tapi hatinya ia. Ingin di manja Radit tapi masih terlalu gugup dan belum terbiasa, sahabat jadi cinta sungguh sangat menyulitkan sekali.


"Umi," Radit terkekeh melihat Rembulan yang menangis, bukan karena ia senang melihat Rembulan bersedih. Tapi wanita tomboi yang ia kenal dulu kini benar-benar lucu, ini adalah sisi lain yang baru di ketahui Radit hingga rasa cintanya semakin besar.


"Abi jahat....." kesal Rembulan.


"Sayang, bercanda," Radit dengan cepat memeluk Rembulan. Ia masih terus terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


Kedua suster yang dari tadi menyaksikan Radit dan Rembulan hanya diam, sambil mengigit pulpen di tangannya. Sungguh Radit dan Rembulan sangat menggemaskan.


"Gila Na, dokter Radit sama istrinya ternyata," bisik seorang suster pada temannya.


"He'um," suster Erina mengangguk, "Gue jadi deg deg kan," ujar suster Erina.


"Mau!!!" seru suster Rara.


"Iya, gumusss....parah," Suster Erina tersenyum-senyum, karena hanyut dalam kemesraan pasutri di hadapannya.


"Kalian berdua, tolong bantu istri saya," pinta Radit pada dua perawatan tersebut.


"Baik dok," perawat itu mendekat dan mulai mengerjakan hal yang biasa mereka kerjakan.


"Umi ini karya kita udah jadi ya," kata Radit pada Rembulan menunjukan sebuah monitor, dan di sana ada gambar janin Rembulan.


Rembulan menggulung-gulung ujung bajunya, kata-kata Radit sungguh sangat membuatnya tidak baik.


"Dan Abi nggak loyo ya Umi," jelas Radit lagi.


"Abi ish...." Rembulan kesal, karena Radit punya seribu cara untuk membuat nya kesal, dan merasa malu.


"Ok....ayo turun," Radit membantu Rembulan turun setelah selesai memeriksa Rembulan, "Tokcer ya Umi, sekali tabur benih langsung tumbuh dan berkembang," celetuk Radit berbisik di telinga Rembulan.


"Huuuufff....." Rembulan membuang nafasnya, sungguh ia ingin pulang saja.


"Senyum dong," Radit mencolek hidung Rembulan, kemudian ia menatap Radit dengan kesal. Padahal hati nya berbunga-bunga, hingga ia kini berada di depan pintu yang tertutup. Rembulan berbaik dan berniat ingin cepat-cepat keluar karena ingin mencari udara segar.


Pakkk....


"Umi," dengan langkah yang lebar Radit mendekati Rembulan, dan ia cepat-cepat mengelus dahi Rembulan yang terlihat sedikit membiru.


"Malu banget," batin Rembulan.


Buk.


Rembulan menutup mata dan jatuh di lantai, tapi tidak terjatuh sepenuhnya karena Radit menahannya dan dengan cepat mengangkat Rembulan. Lalu membaringkan nya kembali di ranjang.


"Umi," Radit terlihat panik, namun sesaat kemudian ia memiliki ide yang cemerlang, "Suster keluar!" titah Radit.


Kedua suster itu keluar dan kembali menutup pintu, meninggalkan Radit dan Rembulan di sana.


"Wah Umi kamu sakit nya parah banget, perlu di suntik sampek 10 kali," kata Radit, seolah ia tengah berbicara pada Rembulan yang tengah terbaring.


"10 kali?" batin Rembulan, karena ia berpura-pura pingsan. Karena berniat menutupi rasa malunya. Tapi justru kelihatannya idenya saat ini salah, karena Radit adalah seorang dokter.


Radit tersenyum karena melihat exspresi Rembulan, ia tahu istrinya itu tengah sedikit ketakutan. Karena ia pun hanya menakut-nakuti Rembulan, "Tapi sebelum itu sepertinya Umi butuh nafas buatan," ujar Radit lagi seolah berbicara sendiri.


Deg deg deg.


Rembulan semakin ketakutan saat Radit mengatakan nafas buatan.


"Keadaan kamu sangat parah," Radit mencondongkan tubuhnya pada Rembulan, dan bersiap untuk memberikan nafas buatan pada Rembulan.


"Aaaaaaa....." teriak Rembulan dengan refleks, karena bibir Radit hampir saja menyentuh bibirnya. Sebenarnya tidak masalah, hanya saja Rembulan belum biasa akan hal itu mungkin ia butuh sedikit belajar, "Huuuufff," dengan cepat Radit menutup mulut Rembulan yang berteriak.


Kemudian Radit kembali melepaskan tangannya, "Jangan berteriak, nanti orang berpikir yang tidak-tidak," kata Radit.


Rembulan mengangguk dengan nafas yang terengah-engah, sungguh rasanya sangat panas sekali.


"Umi boong ya...." Radit tersenyum pada Rembulan.


Rembulan sadar tadi ia tengah berusaha menipu Radit, untuk menutupi rasa malunya saat terbentur pintu. Tapi bukannya menutupi rasa malu, yang ada justru ia bertambah malu dengan ulahnya sendiri.


"Suami mu ini dokter Istri ku!" ujar Radit menatap Rembulan dengan serius.


"Hehehe......" Rembulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil merutuki kebodohannya.


"Lupa?"


"Iya," kata Rembulan mangguk-mangguk.


"Asal kau tidak melupakan aku tidak apa," kata Radit lagi.


Rembulan mengusap dadanya, "Kasih aku waktu buat nafas, please...." pinta Rembulan.


Untuk kali ini Rembulan ingin menjadi diri nya yang tenang dan berpikir sebelum melakukan sesuatu, bukan seperti orang bodoh karena setiap kata yang di ucapkan oleh Radit.


"Kenapa?" tanya Radit pada Rembulan yang duduk di atas ranjang, bahkan ia mendekat kan wajahnya.


Rembulan menatap Radit begitu juga dengan Radit.


Clek.


Pintu terbuka, dan seorang dokter masuk, "Dokter Radit, anda masih di sini?" tanya Dokter Veli. Karena ini sudah waktunya ia yang masuk.


"Sial" umpat Radit, padahal hampir saja ia menggapai bibir Rembulan.


Rembulan hanya menunduk sambil menyimpan kekecewaan nya. Tapi wajahnya juga memerah karena malu, dalam hati Rembulan ini adalah rasa malu untuk yang ketiga kalinya saat bersama Radit. Tapi tidak apa ia sangat bahagia.


*


Vote ya Kak tolong ya.