
"Jangan bilang anda tertarik dengan milik orang lain Pak", Jimi berkomentar setelah mendapati sang direktur yang sedang mengamati jalannya kegiatan dari sekumpulan para siswa SMA. Dan bisa ditebak, yang membuat tertarik bukan jalannya kegiatan, namun seorang gadis yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
"Aku jadi sanksi kalau Mentari benar-benar mencintai Awan", ucap Rayan tersenyum karena melihat tingkah Mentari."Lihatlah senyumnya. Lepas sekali, padahal baru saja mereka putus semalam"
"Anda tidak bersungguh-sungguh menginginkan dia kan Pak?", Jimi berdiri, ikut mengamati Mentari di bawah sana. "Awan Bimantara bukan rival anda,tapi dia rekan kerja anda Pak".
"Santailah Jim! Mereka jelas-jelas sudah putus semalam, aku lihat sendiri gimana wajah bodoh seorang Awan yang terkenal tegas dalam bisnisnya saat gadis itu menolaknya".
"Jangan sampai tindakan anda membawa dampak buruk dalam kerjasama yang sudah kita jalin",Jimi sekali lagi memberikan peringatan kepada Rayan.
Rayan masih senyum-senyum memperhatikan Mentari dan teman-temannya.
Jimi geleng-geleng kepala melihat Rayan,"Jangan-jangan anda tertarik padanya saat kita baru bertemu waktu itu"
Rayan tak menjawab pertanyaan Jimi. "Lihat laki-laki itu Jim, sepertinya dia menyukai Mentari",tunjuknya pada Angga yang sering memberi perhatian kepada Mentari saat kegiatan berlangsung.
"Sepertinya meeting disini dapet bonus gebetan ya Pak",cibir Jimi.
"Selama dia bukan milik siapa-siapa, sepertinya bukan masalah"
"Berhentilah bermain dengan sugar baby Pak. Cobalah serius dengan satu wanita yang sepadan dengan anda"
"Aku nggak akan jadiin dia sugar baby. Seperti dialah yang aku cari Jim. Cewek polos tapi lucu, seperti Amel 11 tahun yang lalu"
Jimi menghela napas. Lagi, sang direktur mengingat pacar pertamanya saat SMA yang kini sudah tiada.
"Semoga itu bukan sekedar obsesi anda terhadap Amel. Ingat Pak,Amel sudah tenang disana",Jimi berlalu meninggalkan Rayan keluar dari kamarnya.
"Hhhh...... Amel....", Lirihnya saat ia sudah sendiri dikamarnya. Pikirannya menerawang 11 tahun lalu saat menjalani kisah dengan Amel yang begitu mengesankan.
***
Awan terus mengajak Mentari bertemu untuk meluruskan masalah mereka, tentu saja Indra yang bertindak dengan segala caranya. Tidak mungkin seorang Awan akan nekat terang-terangan menghampiri Mentari secara langsung. Dia masih memikirkan nama baik Mentari di lingkungan teman sekolah dan gurunya. Karena sudah dipastikan kalau mereka bertemu pasti akan terjadi huru hara.
Mentari kekeh tak mau menemui Awan. Gadis itu menegaskan kalau keputusannya sudah bulat. Dia sudah memikirkan perkataan Meli yang menurutnya benar. Ditambah lagi insiden Lusi semalam meskipun hanya salah paham. Kini pikirannya menerawang kejadian tadi pagi saat ia jogging bersama teman-temannya.
"Sorry, bisa bicara sebentar",ucap salah seseorang yang menghampiri Mentari dan Meli,ia menatap Mentari,mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah Mentari.
"Saya?",tunjuk Mentari pada diri sendiri. Mentari cukup bingung. Mungkin orang minta tolong pikirnya kemudian.
"Iya, kamu. Bisa kita bicara disana?",perempuan itu menunjuk sebuah resto yang menyediakan aneka sarapan.
Mentari menyanggupi.Ia mengekori perempuan tadi menuju tempat yang dimaksud setelah berpamitan dengan Meli.
"Silahkan duduk",ujar wanita tadi saat sampai di sebuah meja yang sudah diisi oleh dua orang disana. Mentari mengenali salah satunya, dia istri Awan.
"Mau ngomong apa kak?", Mentari duduk dengan tenang. Berusaha tenang tepatnya, dia sedikit ciut nyali berhadapan dengan Lusi. Dia sadar,dia yang salah disini.
Lusi tersenyum sinis." Berani juga ya lo".
"Kakak mau ngomong apa? Saya masih ada kegiatan setelah ini", berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar.
"Lo pasti tau apa maksud gue". Mentari diam saja menunggu Lusi berbicara." Lo harusnya sadar diri akan posisi lo di samping Awan"
"Maaf sebelumnya kak, saya sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan om Awan", Mentari tidak berbohong.
"Jangan bohong kamu, kecil-kecil udah pinter bohong",cibir Lusi. Dua temannya hanya diam tapi nampak mengintimidasi.
"Kakak bisa tanyakan langsung sama om Awan"
"Lo pikir gue percaya?", Lusi terus mencibir. "kalau kata-kata lo ternyata salah, lo tahu apa akibatnya?"
"Lo bisa bayangin gimana reaksi teman-teman dan guru lo saat mereka tahu kalau salah satu siswi disekolah mereka adalah simpanan pria yang sudah beristri", ancam Lusi.
"Saya bisa pastikan yang saya bilang itu benar kak", ujar Mentari. Dia takut sekarang. Tak pernah terbayang dia akan dilabrak dari istri kekasihnya dengan dua temannya. Sementara dia sendiri dalam posisi yang salah.
Mentari menghela napas lega. Masih untung dia tidak ditampar dan dipermalukan. Tapi,tetap saja dia merasa takut dan akhirnya menangis sendiri. meresapi perannya sebagai tersangka atas tuduhan pelakor,juga peran sebagai korban dari cinta Awan. Hal itulah yang membuat Mentari yakin harus menjauhi Awan.
"Dorrr!!!", teriakan Lusi menyadarkan Mentari dari lamunannya." Ngapain sih ngelamun?"
"Siapa yang ngelamun?", Kilahnya.
"Lo lah...buktinya nggak tahu kan kita datang?"
Mentari melihat sudah ada Angga and the genk juga disana. Dia benar-benar larut dengan lamunannya tadi.
"Mikirin apa sih ay?", Angga duduk sebelah Mentari.
"Nggak mikirin apa-apa",masih berkilah.
"Oke, kalau gitu gimana kalau kita naik itu?"
Semua serempak menoleh mengikuti arah tunjuk Angga. Sebuah wahana flying fox yang sudah ramai orang mengantri.
"Seru tuh kayaknya", Deny bersuara.
"Kalian aja deh, gue capek abis games tadi",Mentari benar-benar sedang buruk moodnya.
"Ah elah kayak nenek-nenek aja lo Tar, segitu doank udah capek", cerocos Arya.
"Gue tadi gendong Meli tau pas game tadi", Mentari beralasan
"Harusnya tadi lo segrup aja bareng Angga,biar lo yang digendong",ujar Deni. Setelah Arya, Deni juga cukup cerewet, berbeda dengan Ardi yang sama coolnya sama Angga hanya berbeda Angga lebih playboy dan Ardi terkesan introvert.
"Nah itu juga yang diharepin Meli, segrup sama Ardi biar digendong Ardi. Tapi malah gue yang jadinya gendong dia",keluh Mentari. Pasalnya dalam satu grup tidak boleh berbeda gender.
"Lo berdua harusnya cosplay dulu jadi cewek bro", ucap Arya kepada Angga dan Ardi. Mereka jelas tahu hubungan Meli dan Ardi
"Sial lo!",umpat Angga. Sedang Ardi hanya tersenyum sinis nan misterius.
Ditengah serunya obrolan, Mentari melihat Awan dan Indra berada tak jauh dari mereka. Mentari menemukan sebuah ide brilian. ia akan melancarkan aksinya untuk menjauhkan Awan darinya. Itu tekadnya. Ia tidak mau lama-lama terjebak hubungan konyol dengan suami orang. Bodohnya dia kemarin. Untung sekarang sadar.
"Angga,boleh minta minumnya,aku haus",Mentari melihat air mineral Angga yang tinggal separuh isinya.
"Tapi bekas aku ay"
Mentari menyambar botol itu. "Ngga apa-apa, boleh kan?"
Angga sedikit bingung ,Mentari mau minum sebotol dengannya. Padahal selama ini terkesan menjaga jarak. Akhirnya dia mengangguk mempersilahkan Mentari meneguk minumannya.
Mentari yang juga sedang hauspun meneguk air itu hingga tandas.
"Cie... kalian tahu? itu artinya Angga sama Mentari ciuman bibir secara nggak langsung", suara siapa lagi kalau bukan Arya yang nyeleneh.
"Oh my God!",seru Meli. Sementara yang lain terkekeh geli.
"Apaan sih Mel berisik?!", Mentari salah tingkah sendiri.
Begitupun dengan Angga. Dia sempat mengira Mentari mulai membuka diri sebelum ia tahu kemana arah pandang Mentari. Dia menyeringai kemudian. Sepertinya dia harus memanfaatkan situasi memburuknya hubungan Awan dan Mentari. Meskipun dia tak tahu pasti kenapa ada Awan disana. Setidaknya dia ingin membuktikan pada Awan sedekat apa ia dengan Mentari.
Angga malah merapatkan duduknya dengan Mentari. Menyuruh gadis itu menghadapnya. Ia menyelipkan anak rambut Mentari yang tertiup angin kebelakang telinga. Mentari semakin salah tingkah karena Angga. Dia juga malu kepada teman-temannya. Lebih mengagetkan lagi saat Angga malah mengikat rambut Mentari dengan sapu tangannya dari arah depan.
"Aku bantuin. Kamu lagi bikin dia panas kan?", lirih Angga dekat sekali dengan wajah Mentari. Hanya ia dan Mentari yang mendengar.
Mentari yang sudah salah tingkah duluan ,kini tersenyum, ia senang Angga mendukungnya. Meskipun ada kecewa sedikit sekali ketika tahu Angga juga hanya akting sama seperti dirinya. Tapi biarpun hanya akting, Jantung Mentari tetap melompat-lompat tak karuan. Gila!!! bisa-bisa gue suka beneran sama ini playboy, batinnya Menjerit.
Meli dan yang lain melongo melihat adegan live di depan mereka. Bahkan Meli sampai menutup mulut, dan Arya dengan konyolnya menutup matanya sendiri dan mata deni dengan tangannya.
Jangan tanyakan reaksi Awan. Mulutnya terkatup rapat,rahangnya mengeras dan tangannya mengepal sempurna. Oke,gue nggak akan ganggu lo lagi kalau itu mau lo. Nafasnya terlihat naik turun menahan amarah.