Mentari

Mentari
Episode 146



Karena Rembulan tidak juga membuka pintu, akhirnya Radit terpaksa mendobrak pintu. Karena Radit sungguh begitu khawatir akan Rembulan di dalam sana.


Brak.


Pintu terbuka, Rembulan yang duduk di lantai seketika berhenti tertawa. Ia melihat kerah pintu.


"Ulan...." Radit panik saat melihat Rembulan duduk di lantai, di tambah lagi ia sudah basah karena air shower yang terus menyala. Dengan langkah yang cepat Radit masuk dan mematikan air shower, kemudian ia mengangkat Rembulan, "Kamu terpeleset?" tanya Radit.


Rembulan diam saja, ia jadi merasa berdosa karena Radit yang terlihat panik melihatnya. Tapi apa mau dikata misi belum selesai, semua butuh waktu hingga Rembulan harus kuat menahan godaan ini. Karena Radit begitu baik padanya, sungguh ini juga cobaan yang sangat menyulitkan.


"Kamu basah begini," Radit tidak perlu dengan tubuh Rembulan yang basah, yang setengah basah. Dengan cepat Radit membaringkan Rembulan di ranjang, kemudian ia menuju lemari dan mengambil satu buah daster untuk Rembulan.


Rembulan mulai panik karena Radit berjalan kearah nya dengan membawa sebuah daster, apakah Radit akan mengganti pakaiannya? Ini seperti niat meludahi langit. Tapi malah ternyata ia sendiri yang terkena percikan saliva, rasanya terjebak dalam rencana sendiri begitu menyakitkan.


"Kami duduk ya, aku yang akan bantu buat kamu ganti pakaian," Radit duduk di sisi ranjang, kemudian ia membantu Rembulan untuk duduk.


'Senjata makan tuan,' batin Rembulan. Jantung Rembulan semakin tidak karuan saat Radit mulai menegang piama yang masih melekat di tubuhnya, walaupun tidak ada lagi yang harus di tutupi dari Radit. Tetap saja Rembulan masih terlalu merasa horor, 'Ya Allah tolonglah hamba mu ini ya Allah, inikah hukuman istri yang durhaka pada suaminya,' batin Rembulan terus saja berdoa berharap ada sebuah keajaiban yang akan membuat Radit urung menggantikan pakaiannya.


"Radit, Rembulan......" pintu terbuka dan Nina langsung masuk, "Mama boleh masuk?" tanya Nina yang kepala nya sudah masuk terlebih dahulu baru bertanya.


"Ada apa Ma?" tanya Radit.


Nina mulai melangkah masuk, kemudian ia melihat benda yang ia cari, "Ponsel Mama tadi ketinggalan, ini dia," Nina mengambil ponselnya yang tergeletak asal pada ranjang, sebab tadi ia memang duduk di ranjang, "Rembulan kenapa? Kok bajunya basah begitu?" tanya Nina.


"Nggak tau Ma, entah Rembulan terpeleset atau gimana, tapi tadi Radit Sampek dobrak pintu karena Rembulan hampir satu jam nggak keluar-keluar juga..." jelas Radit.


"O...." Nina mangguk-mangguk, "Yaudah kamu bantu Rembulan buat ganti baju," kata Nina lagi.


Rembulan langsung melongo, ia tadi sudah sangat bersyukur karena kedatangan Mama Nina yang sangat tepat waktu. Namun ternyata kedatangan Nina bukan menolong nya, melainkan hanya mengukur waktu saja. Rembulan akhirnya bangun dari kemudian 8a turun dari ranjang, "Dingin," kata Rembulan, kemudian ia menuju lemari.


"Ulan," Rembulan langsung mendekati Rembulan, "Kamu kenapa begini, aduh....." kata Nina lagi sambil melihat Radit, "Dit, bantuin Rembulan dong!"


Rembulan kesal kepada mertuanya, tapi apa yang bisa ia lakukan. Otaknya masih belum menemukan ide yang baik, hingga akhirnya Radit sudah berdiri di samping nya.


"Ulan, ini dasternya udah aku bawain.....jadi tinggal di ganti," kata Radit.


"Mama...." gumam Rembulan, ia sudah mati-matian mencari ide. Tapi malah Nina menggagalkan nya begitu saja. Bahkan tangan Radit mulai membuka kancing bajunya, oh.....wajah Rembulan semakin memerah, 'Aku bisa gila sungguh,' batin Rembulan, "Ish," Rembulan menepis tangan Radit, "Kamu mau apa?!" seru Rembulan dan ia berniat pergi tapi lengannya di pegang Radit hingga ia tertarik ke belakang dan Radit dengan cepat menahan tubuh Rembulan.


"Cantik sekali," kata Radit sambil menatap wajah Rembulan.


Wajah Rembulan seketika memerah, karena kata-kata Radit barusan. Bahkan hampir saja ia lupa jika kini tengah berpura-pura.


"Sssttttt....." Rembulan mendesis saat perutnya terasa tidak enak, mungkin karena terlaku lama memakai pakaian basah.


"Kenapa?" tanya Radit.


"Sssttttt......" Rembulan memegang Radit, sebagai tumpuan agar tidak terjatuh.


"Ulan," Radit kembali membantu Radit duduk di ranjang, "Perut kamu kram ya?" tanya Radit, "Kamu ganti baju ya, takut masuk angin...."


Rembulan dengan cepat bangun dan membawa baju dasternya menuju kamar mandi, sedangkan Radit menatap bingung. Hingga sesaat kemudian Rembulan keluar dan mulai susah menggunakan pakaian bersih. Tapi perutnya yang kram masih membuatnya tidak nyaman, ia berjalan sambil memegang perutnya.


"Ulan," dengan cepat Radit mengangkat Rembulan, ia membaringkan nya di ranjang. Tapi Radit juga ikut tidur di samping Rembulan.


Jantung Rembulan semakin tidak bisa di kondisikan, bayangkan saja Radit malah dengan santai meletakan tangannya pada perutnya. Tapi tidak dipungkiri ini terasa nyaman sekali, hingga Rembulan tertidur pulas di pelukan Radit.


Radit menatap wajah Rembulan yang terlihat tertidur dengan begitu nyaman, andai Rembulan tidak sakit mungkin ia tidak akan berani memeluk Rembulan seperti ini. Karena Radit takut bila Rembulan emosi lalu pendarahan lagi, sangat egois sekali bila Radit suka saat ini dimana. Rembulan diam saja saat ia peluk. Tapi bukan berarti Radit senang dengan Rembulan yang terus sakit-sakitan.


Tidak lama kemudian Radit merasa perut Rembulan bergerak, Radit tersenyum. Karena pertama kalinya ia merasakan gerakan anaknya, rasa bahagia Radit semakin terasa. Namun Rembulan malah terbangun, karena kuatnya janinnya bergerak ia sampai terjaga.


Tangan Rembulan bergerak dan meletakkannya di atas pertanyaan, namun ternyata ia salah memegang. Karena ternyata tangan Radit yang ia pegang. Seketika Rembulan sadar jika Radit tengah memegang perutnya.


"Apa dia sering bergerak begini?" tanya Radit, saat menyadari Rembulan sudah terbangun.


Rembulan membuang pandangannya ke arah lainnya, bahkan ia mengigit kukunya sungguh wajah Radit begitu dekat dengan nya. Hingga ia bisa merasakan deru nafas Radit yang sangat hangat sekali.


"Tidur lagi ya," Radit Kembali memeluk Rembulan, dan tangannya mengelus dahi istrinya. Seolah ia benar-benar ingin memberikan ketenangan dan kasih sayang pada Rembulan seperti apa yang di sarankan oleh dokter Sahara.


'Ya ampun, jantung aku kenapa?' batin Rembulan, seketika ia ingat jika ia tengah beracting. Dan ia berbalik hingga keduanya sama-sama tidur miring dengan saling berhadapan, dengan cepat tangan Rembulan melingkar pada perut Radit kemudian ia tertidur begitu saja. Hal ini sudah lama sekali di inginkan Rembulan, tapi baru kali ini ia dapatkan, hingga kemarin sebelum mendapatkan nya ia hanya ingin marah-marah tidak jelas.