Mentari

Mentari
Episode 202



"Abi serius enggak sih!!" kesal Rembulan dan ia langsung duduk dan menatap Radit yang tidur miring, sambil tersenyum menatap nya.


"Ayo udah telat berapa hari?" tanya Radit yang kembali bertanya.


Rembulan mencoba menghitung dengan jarinya, tapi untuk tanggal hari ini saja ia lupa tanggal berapa.


"Abi sekarang tanggal berapa?" tanya Rembulan.


Radit tersenyum, "Umi udah telat tiga Minggu!" jelas Radit.


"Sok tahu!" kesal Rembulan, "Yang datang bulan Umi, tapi Abi yang sok tahu!!!" ketus Rembulan lagi.


"Karena Abi enggak ada libur, kalau urusan hitung-hitung masalah datang bukan itu sih pelajaran Abi. Gimana coba enggak tahu!" jawab Radit dengan sombongnya.


"Ish!" Rembulan masih tidak ingin mengalah, "Terus kenapa bisa Umi hamil!" tanya Rembulan.


Radit langsung terperanjat kaget dan ia seketika duduk, "Karena di masukin buaya!" jawab Radit, "Ooon!" Radit menyentil kepala Rembulan, karena ia merasa Rembulan yang pintar mendadak bodoh.


"Bukan itu maksud Umi," Rembulan juga mulai merutuki kebodohannya, kenapa bisa ia bertanya dengan aneh, "Maksud Umi, Abi kan ahli kandungan. Itu Raka masih bayi, kenapa Abi enggak nyaranin Umi buat KB atau ngatur jarak, kalau begini kasihan Raka Abi," kesal Rembulan.


Radit mengangkat kedua bahunya, "Umi bilang begitu karena Umi enggak kangen sama Abi, pakek acara di pingitlah apa lah! Mana bisa otak Abi encer, sebenarnya ini masih terlalu berbahaya. Tapi tidak apa Abi yang akan menjaga Umi," kata Radit lagi.


"Makanya itu adik Abi tolong dong jangan masuk sarang Mulu!" kesal Rembulan dan ia turun dari atas ranjang.


"Ets!!!!" Radit menatap Rembulan dengan bingung, "Umi juga mau."


"Ish....ngalah dong!" kesal Rembulan, "Dulu aja pas kita masih sekolah Abi ngalah Mulu sama Umi, sekarang Umi baru ngomong sedikit Abi udah panjang!" geram Rembulan.


"Panjang mana sama adik nya Abi?" goda Radit.


Rembulan semakin kesal, ia mengambil bantal sofa dan melemparnya pada Radit.


"Ahahahhaha......" Radit sangat suka melihat wajah Rembulan yang seperti ini, tanpaknya hamil anak yang kedua ini Rembulan yang kalem akan sedikit cerewet, "Tanpaknya Umi setelah lahiran yang kedua ini harus hamil lagi secepat mungkin!" kata Radit.


"Maksud Abi apa!"


"Soalnya Umi itu menggemaskan kalau cerewet begini," jawab Radit sambil terkekeh, semakin Rembulan marah ia semakin bersemangat menggoda istrinya itu.


"Abi!!!!" kesal Rembulan sambil menghentakkan kakinya.


"Umi ngapain begitu!!! Mau bunuh anak kita yang di dalam!!!" kesal Radit yang tidak suka dengan tingkah Rembulan.


"Maaf lupa!" jawab Radit dengan wajah cemberut.


"Awas kalau di ulangin lagi!" ancam Radit.


"Hiks.....hiks....hiks....." Rembulan langsung menangis karena Radit memarahi dirinya.


"Kok nangis?"


"Abi jahat!"


"Kok jahat?"


"Iya jahat!"


Radit turun dari atas ranjang, dan mendekati Rembulan.


"Mi, mandi bareng yuk," ajak Radit.


"Males!" ketus Rembulan.


"Ayolah," Radit menarik Rembulan kedalam kamar mandi.


"Enggak! Umi lagi males mandi!" tolak Rembulan.


"Lagi hamil enggak boleh males mandi!" kata Radit yang berusaha membuat Rembulan agar mau ikut mandi dengan nya.


Mama Nina yang ingin memberitahukan jika baby sitter untuk baby Raka sudah datang seketika terkejut, karena mendengar kata hamil.


"Hamil?" tanya Mama Nina.


"Mama masuk kok enggak ijin dulu sih!" kesal Radit, "Gimana kalau Radit sama Ulan lagi eng ing eng?" ujar Radit kesal.


Rembulan sangat malu sekali saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Radit, apa lagi Mama Nina adalah mertuanya. Bagi Radit mungkin itu hak biasa, lalu bagaimana dengan dirinya. Apa Radit tidak memikirkan nya.


"Abi kalau ngomong disaring!!" geram Rembulan.


Mama Nina mengibaskan tangannya, karena ia tidak perduli dengan kemarahan Radit. Yang di perdulikan Mana Nina kini kata-kata Radit barusan tentang kehamilan.


"Apa Ulan hamil lagi?" tanya Mama Nina.


"Iya Ma," jawab Rembulan dengan wajah tertunduk.


Mama Nina seketika menatap Radit dengan kesal, "Bener-bener suami enggak ada akhlak! Kamu kenapa bisa hamilin Ulan?"


"Ya gimana Ma, abis enak!" jawab Radit seketika ia sadar dan langsung menutup mulut nya.


"Aduh," Rembulan mengusap wajah karena lagi-lagi Radit berbicara asal.


"Dasar bocah edan!!!!" kesal Mama Nina kemudian ia mencubit perut Radit.


"Aduh Ma, sakit Ma," Radit menggosok perutnya yang terasa sakit.


"Enak....sih....enak! Tapi jangan sampai hamil juga dong!" omel Mama Nina lagi.


"Ya gimana udah masuk! Enggak mungkin di kuras kan Ma, di luar enggak enak!"


"Dasar anak kurang ajar! Ngomong enggak mikir!!" geram Mama Nina.


Mama Nina mengambil kemoceng dan langsung memukuli Radit tanpa ampun.


"Ampun Ma!!!" teriak Radit.


"Maksud Mana jangan hamil dulu, kan bisa KB kamu enggak mikir keselamatan istri kamu. Kamu enggak mikir kala Raka nantinya kurang kasih sayang! Pakek Otak jangan enaknya aja!" omel Mama Nina, dan kini ia menatap pada Rembulan, "Kasih bocah ini pelajaran, suruh puasa satu minggu ya Nak," kata Mama Nina.


"Satu Minggu?" tanya Rembulan terkejut, karena kini sebenarnya bukan Radit yang sering menggoda dirinya. Tapi ia yang sering menggoda Radit, mungkin karena sedang mengandung jadi Rembulan ingin terus berada di pelukan Radit.


"Iya, biar dia tahu rasa!" teriak Mama Nina sambil menatap Radit, "Awas kamu kalau sampai Ulan kenapa-kenapa!!" kata Mama Nina dengan nada mengancam.


"Mana apasih, anak Mama Ulan apa Radit?"


"Ulan!" jawab Mama Nina lagi dengan nada yang tinggi.


Radit langsung bergidik ngeri, dalam sekejap posisinya langsung terganti oleh Rembulan, "Mana apasih, Radit lho anak yang Mama lahirin."


"Bukan!" ketus Mama Nina dan ia berjalan kearah pintu, tapi tiba-tiba ia berhenti melangkah dan kembali berbalik, "Mana tadi kemari ngapain ya?" tanya Mama Nina karena ia lupa tujuan awalnya, "O iya," Mana Nina mulai mengingat nya, "Baby sitter untuk Raka sudah datang," kata Mama Nina lagi.


"Iya Ma, Ulan bakalan temuin," kata Rembulan.


"Awas kamu ya! Kalau Ulan kenapa-kenapa, cucu Mama yang di dalam juga kalau tidak di jaga dengan baik. Kamu berhadapan dengan Mama!" kata Mama Nina menatap Radit.


"Iya....iya," kata Radi dan Mama Nina langsung keluar dari kamar, kemudian Radit menatap Rembulan, "Umi, sakit," Radit menunjukan tubuhnya yang tadi di pukuli oleh Mana Nina.


Rembulan langsung menatap kasihan pada suaminya, kini Rembulan memang tidak bisa berjauhan dari Radit.


"Aduh kasihan," Rembulan langsung memeluk Radit.


"Umi wangi banget sih," kata Radit.


"Belum mandi tapi."


"Mandi bareng yuk," ajak Radit.


"Yuk," Rembulan mengangguk dan setuju, "Tapu tadi Mama minta Umi buat nemuin baby sitter," kata Rembulan yang kembali mengingat kata-kata Mama Mertua nya.


"Nanti aja, mandi dulu yuk!"


"Hehe....ayo...."