
Sudah empat hari Mentari di rumah sakit, kondisinya semakin membaik. Empat hari di rumah sakit bukan hal mudah untuk Mentari, ia selalu meminta pulang namun keluarga tetap dengan keputusan mereka sampai benar-benar pulih dan dokter menyatakan sudah bisa keluar dari RS baru keluar.
"Kenapa sayang?" tanya Dewi kepada mantu kesayangannya itu dengan menyimpan kotak makanan diatas meja.
"Capek bu dikamar terus, apa gak bisa keluar dari kamar ini?" Tanya Mentari
Ibu Dewi bukan tidak mau untuk keluar mengajak mantunya itu hanya untuk menghirup udara segar. Namun, ia tidak bisa lakukan itu karena keadaan diluar tidak memungkinkan membawa mantunya meskipun sekitar RS.
"Gimana kalau kita makan sama-sama" Ibu Dewi mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mengeluarkan kotak nasi tersebut dalam tas-tas bekal itu.
"Ibu belum makan?" tanya Mentari
"Belum, tadi tunggu ayah tapi gitulah ke kantor" Ujar ibu dewi lagi sambil menyendok nasi dan lauk pauk yang ia bawa dari rumah memindahkannya kedalam piring.
"Mentari masih kenyang bu, tapi tenang nanti Mentari temani ibu makan" Ujar Mentari.
"Gak bisa dong, makan biar dikit aja. Ibu yakin deh pasti suka" Bujuk ibu Dewi. sembari senyum manis
Mentari mendengar itu merasa tidak enak, namun ia tahu menolak tidak mungkin tapi makanan itu bisa atau tidak untuk dirinya yang sedang proses penyembuhan saat ini.
Ibu Dewi tau betul dengan mantunya, jiwa super peka itu membuat Mentari kagum dan ingin seperti mertuanya.
"Tenang sebelum ibu masak semua ini" Ucapnya sambil menunjuk makanan diatas meja yang tidak jauh dari tempat tidur Mentari, "Ibu udah bertanya sama dokter yang menangani mu" sambungnya.
Mentari yang mendengar itu langsung senyum, tapi menaruh curiga sama mertuanya, "Ibu gak ngerjain Mentari kan?" tanya Mentari memastikan.
"Gak, masa iya mau bohong" ujar ibu Dewi lagi
Mendengar itu Mentari langsung minta bukan dengan ucapan, tapi langsung buka mulut. Ibu Dewi yang lihat itu seketika ketawa melihat tingkah mantunya itu dan ia menyuapi Mentari makan layaknya seorang anak sendiri.
Makanan rumah memang enak apalagi itu masakan orang-orang yang mencintai kita, seperti ada bumbu tambahan yang membuat masakan itu terasa enak dan sedap. Mentari makan sambil bersenandung dan akan berhenti jika sendok sudah datang lagi padanya.
"Bu, masakan ibu itu, enak banget banget banget banget" puji Mentari sambil mengangkat jempolnya dan sesekali bersenandung sambil menggoyangkan kepalanya.
Ibu Dewi melihat tingkah mantunya itu seperti bahagia tanpa beban padahal diluar sana ada orang yang mencoba merebut kebahagiaannya. Ibu Dewi terus melihat mantunya itu lekat.
"Nak, suatu saat nanti jika tiba-tiba Arka selingkuh, apa yang kamu lakukan?" tanya Ibu Dewi itu.
"Gak percaya bu kalau kak Arka selingkuh" Jawaban santai dari Mentari itu membuat ibu Dewi kembali bertanya.
"Kenapa?"
"Masih muda saja gak ada yang mau, apalagi kalau sudah tua dan ditambah kalau sudah baby. Iyakan baby?" tanya Mentari sambil mengusap perutnya yang buncit itu.
Ibu Dewi senyum dan dalam hati membenarkan ucapan mantunya itu, "Iya juga, tapi santi?" Batin ibu Dewi.
"Kalau Santi?" tanya ibu Dewi lagi.
"Ular betina gatal, gak suka dengar namanya" Ucap Mentari yang sudah selesai makan lalu dia minum yang sudah disediakan diatas mejanya dekat ranjangnya.
"Siapa ular betina?" tanya Pak Rahmat yang membuat Ibu Dewi dan Mentari menoleh seketika ke sumber suara.
"Aaa.." Mentari bingung untuk menjelaskan itu dan saat itu Arka baru masuk dan melihat istrinya seperti sedang kebingungan untuk menjawab.
"Yah, sudah makan?" tanya Arka itu untuk mengalihkan fokus ayahnya pada Mentari.
"Belum, tapi ayah penasaran dengan ucapan Mentari tadi" Jelas ayahnya lagi.
"Nanti ayah, makan dulu" Ucap Arka, tapi dalam hati ia sebenarnya ikut penasaran dengan ucapan sang istri yang membuat ayahnya itu bertanya.
Ayah Rahmat pun mengalah dan Arka kembali membuka pintu kelaur dari ruangan tanpa ada satu kalimat untuk sang istri.
Mentari mengerucutkan bibirnya kesal tidak tapi seakan-akan suaminya hari ini berbeda.
Ibu Dewi yang menyadari itu hanya mengusap punggung mentari sembari berkata, "Sabar bukan hanya kamu yang dicuekin ibu juga" Ucapnya yang membuat Mentari menunduk seketika mendengar itu.
...💛💛💛...
Waktu sudah sore dan saat ini ibu Anita dan Papa Hadi akan kembali ke RS untuk menemani Mentari. Ibu Anita sibuk membawa perlengkapan selama dirumah sakit.
"Bun, sudah selesai siap-siapnya kita pergi sekarang" Ucap Hadi.
"Sudah, ayo" jawab ibu Anita.
Anita dan Hadi di pintu utama rumah melihat Aldi baru turun dari mobil langsung sedikit lari.
"Pada mau ke RS, sudah beres urusan kantor?" Tanya hadi memastikan dan Aldi pun hanya senyum
"Alhamdulillah pa" Jawab Aldi dan masuk dalam mobil kemudi.
Sepanjang perjalanan dalam mobil hanya diam-diaman tidak ada yang mengeluarkan suara satu orang pun. Aldi fokus bawa mobil, Papa Hadi fokus di ponselnya dan ibu Anita melihat diluar kearah samping.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai, sesampainya di RS, mereka memeluk Mentari dan tidak lupa cium kening. Setelah itu Hadi memanggil Rahmat untuk sedikit berbincang.
"Kami keluar sebentar" izin Hadi kepada semua orang dalam ruangan itu.
"Aneh, papa dan pak Rahmat ini sedikit-sedikit keluar bersama" Ucap Ibu Anita.
"Entahlah mereka dewi" jawab ibu Anita lalu berdiri menghampiri putrinya itu, "Bagaimana keadaan mu sayang?" tanyanya sambil mengusap kepala yang dilapisi jilbab itu.
"Alhamdulillah Bun. Boleh gak bun kita pulang saja nanti rawat jalan gitu, aku tuh disini sudah bosen" Mentari kembali mengeluarkan unek-uneknya pada bundanya setelah ibu Dewi.
"Sabar dong sayang, kami juga bosen disini tiap hari lihat kamu duduk, tidur dan makan, pengen tau bunda ingin menghabiskan waktu seharian penuh sama putri bunda ini" Jawaban itu membuat Mentari merentangkan tangannya.
"Peluk dong bun" manja Mentari.
"Hahahaha.. iya iya" Ucap ibu Anita lalu mereka pelukan.
Arka yang melihat itu langsung pindah duduk kesamping Aldi, "Di, apa Mentari ngidamnya peluk-peluk ya?" tanya Arka dengan pandangan kearah Mentari dan mertuanya itu.
"Ya elah, cemburu"
"Bukan cemburu Di, tapi takut aja ketemu dokter Rehan tiba-tiba minta peluk itu jadi panjang ceritanya" Jelas Arka lagi. Ia membayangkan Dokter Rehan dengan istrinya berpelukan membuatnya bergidik ngeri dan mengusap tangannya yang merinding.
"Kenapa?" tanya Aldi melihat Arka mengusap tangannya.
"Merinding aku banyangkan istriku pelukan dengan dokter rehan" Jawab jujur Arka membuat Aldi pecah ketawa.
"Hahahaha.. Lagian ss...iihhh" ucap Aldi melambat setelah ia tertawa.
Mentari menatap Aldi dan Arka dengan tatapan tajam, "Tertawa kayak rumah sendiri, bikin kaget aja."
"Idih, ibu hamil tapi dikit-dikit sarafnya tegang" Jawab Aldi.
"Kak Aldi, awas ya kalau nanti istri kakak hamil. Aku jahilin nanti sampai marah" Ucap Mentari tidak mau kalah.
"Awas dek nanti anakmu nanti tukang ngambek lho" Aldi mengingatkan adiknya itu tapi karena dari awal sudah saling menganggu jadi apa yang diucapkan kakaknya itu Mentari tidak percaya.
"Gak akan, hum" jawabnya lalu menoleh ketempat lain dengan memeluk badannya sendiri.
"Iii iii, sudah mau punya anak tapi masih ambekkan" ujar Aldi lagi.
Mentari tidak menjawab malah merubah posisi membelakangi kakaknya itu.
"Kenapa kalian dua ini selalu bertengkar, ayo Dewi kita keluar biarkan mereka bertiga disini atau Arka mau ikut juga?" Tanya ibu Anita.
"Tidak bun, jadi penengah disini" Jawab Arka santai sembari ia senyum.
"Oke lah" jawab ibu Anita lalu pergi bersama Dewi.
Ibu Dewi dan Anita pergi, ayah Rahmat dan Papi Hadi datang dan mereka berpapasan dilorong ruang Mentari itu.
"Lho" Ucap Hadi sambil menunjuk istrinya.
"Urus anak mu lagi bertengkar" Ucap Anita lalu pergi bersama Dewi.
"Anita, tidak seperti tadi" Ucap Dewi.
"Biarkan papanya yang tegur, kalau saya Dewi percuma ditegur" Ucap Anita sambil duduk dikursi taman RS.
"Kalau pak Hadi?" tanya Dewi.
"Manja sama papanya, apalagi Mentari. Jadi sekreatif papanya aja" Ucap ibu Anita sambil menghirup udara segar dari luar.
Dewi dan Anita berbagi cerita sampai membahas zaman SMA sambil ketawa jika itu mereka berdua merasa lucu.
Sedangkan diruangan Mentari, Hadi dan Rahmat masuk dengan cepat dan menyuruh Arka dan Aldi untuk memasukkan barang-barang Mentari termasuk kedua ibu tetua tadi.
"Kenapa pa?" tanya Aldi heran.
"Iya, kenapa yah?" tanya Arka bingung kepada ayahnya itu.
"Cepat" perintah Rahmat dengan tegas.
"Bikin takut aja" gumam Mentari.
Papa Hadi lalu menghampiri putrinya itu, "Pakai ini nak"
"Kok jubah pa?" tanya Mentari.
"Untuk kali ini ikuti papa nak" Ujar Hadi dengan lembut lalu menarik kursi roda yang sudah mereka sediakan, "Duduk disini nak" Sambungnya lagi dan Mentari hanya mengangguk nurut apa yang diucapkan papanya itu.
"Sudah semua" Ucap Arka dan Aldi.
"Kita kecolongan selama ini" Ucap Pak Rahmat.
Seketika Aldi dan Arka menoleh dengan tatapan serius, "Maksudnya yah?" tanya Arka.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...