
"Kenapa diam?"
Rembulan tersenyum dengan terpaksa, sangat memalukan sekali apa yang pernah ia lewati bersama Radit.
Flashback on.
Hari ini akan ada kegiatan di sekolah, sebuah drama yang di persembahkan oleh murid baru untuk Kakak kelas mereka.
Rembulan terpilih sebagai pemeran utama wanita dan Radit sebagai pemeran utama pria, saat itu Rembulan merasa santai-santai saja. Sebab ia dan Radit sudah bersahabat akrap, hingga ia tidak merasa canggung ataupun merasa kesal pada pasangannya dalam drama tersebut. Saat acara di mulai yang artinya semua bersiap untuk memberikan pertunjukan yang membuat semua sisa siswi yang menonton memukau.
Rani yang berperan sebagai perempuan jahat yang berusaha mendapatkan hati seorang Radit. Tapi apa daya karena Radit sudah jatuh hati pada seorang wanita biasa ataupun hanya wanita sederhana dia Rembulan. Berbagai cara di halalkan Rani, demi. mendapatkan Radit, tapi semua cara itu gagal begitu saja hanya karena cinta Radit pada gadis biasa begitu besar.
"Radit aku kurang apa?" seru Rani dengan wajah marah, ia seakan kesal pada Radit, "Aku kaya, harta orang tua ku berlimpah," kata Rani lagi.
Semua guru dan siswa siswi yang melihat pertunjukkan itu, seakan hanyut dalam drama yang tengah di mainkan oleh beberapa siswa di depan sana. Mereka semua diam dalam mata yang terus menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan ada yang sampai terharu karena Radit yang terlihat benar-benar mencintai wanita biasa itu.
"Aku tidak memandang harta!" jawab Radit kemudian ia menatap Rembulan dengan pakaian kusut di samping Rani, "Aku mencintainya lebih dari aku mencintai diri ku sendiri! Dan dia adalah nafas ku!" tegas Radit.
Rembulan tertunduk seakan ia terharu dengan apa yang di katakan Radit, karena Radit sangat menghayati perannya saat ini.
"Tinggal kan saja dia, nanti kau jika akan melupakannya!" dengan cepat Rani mendorong tubuh Rembulan, seolah ia sangat membenci Rembulan. Lagi pula adegan saat mereka latihan memang begitu, namun sayang tiba-tiba semua berubah. Rembulan yang seharusnya terjatuh karena di dorong Rani malah Radit yang dengan cepat memegang tubuh Rembulan.
Dalam sekejap cerita yang mereka susun berubah alur nya, bahkan hampir saja berantakan. Namun ternyata dramanya kini lebih menarik tanpa di duga oleh semua pemeran.
"Waaaaaa.....!!!!"
"Waaaaaa.....!!!!"
Banyak siswa-siswi yang histeris sampai berteriak dan berloncatan, karena Radit yang memeluk Rembulan dalam posisi miring seolah Rembulan akan terjatuh. Jika Rembulan bingung dengan alur yang mendadak berubah, maka tidak dengan Radit. Radit hanya diam dan menatap manik mata indah Rembulan.
Cup.
Radit mengecup kening Rembulan, sungguh adegan itu tidak ada dalam cerita. Apa lagi saat latihan. Dengan cepat Rembulan berdiri begitu juga dengan Radit dan mereka melihat para siswa-siswi dan juga guru-guru yang malah histeris di sana.
"Waaaaaa........"
"Aku mau!!!!!"
"Hati ku jantung ku kembang kempis!!!!"
Semua benar-benar histeris melihat adegan terakhir, bahkan guru-guru sampai senyum-senyum saat melihat nya.
"Bu," seorang guru olah raga menyenggol guru wanita lainnya, karena memang keduanya saling suka tapi diam-diam.
"Pak Ujang," jawab Bu Sukiyem, dengan malu-malu. Padahal hatinya berbunga-bunga.
"I love you!" ujar pak Ujang.
"Waaaa......" teriak beberapa siswa, karena Pak Ujang dan Bu Sukiyem tidak sadar ada banyak siswa siswi lainnya juga di sana.
"Cie Bu Sukiyem!!!!" sorak para murid.
"Pak Ujang malu tau," Bu Sukiyem mencubit lengan pak Ujang dengan manja dan malu-malu.
"Mau jadi pacar pak Ujang?" pak Ujang berjongkok di hadapan Bu Sukiyem.
"Terima!!!"
"Terima!!!"
"Terima!!!" para murid bersorak dengan histeris.
"Waaaaaaa"
Semua benar-benar berteriak histeris, karena Buk Sukiyem dan Pak Ujang resmi jadian.
"Yeee....." Rembulan juga itu berteriak, ia bahkan sampai memeluk Radit yang berdiri di sampingnya, "Gemes banget mereka Dit," Rembulan menarik masing-masing pipi Radit dengan gemas. Seolah ia tengah merasa bahagia melihat dua guru mereka yang sudah resmi berpacaran.
"Kita juga pacaran yuk?" kata Radit, sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rembulan.
"Oke.....siap, asal ada contekan semua beres!" seloroh Rembulan, karena ia tahu Radit hanya sedang bercanda saja, "Gendong," Rembulan meloncat naik ke punggung Radit, dan Radit langsung menggendong Rembulan.
"Kemana?" tanya Radit yang mulai berjalan, dengan Rembulan di atas punggung nya.
"Ke pelaminan!!!" jawab Rembulan dengan asal.
"Kita malamnya ngapain abis duduk di pelaminan?" tanya Radit lagi.
"Bikin debay lah!" kata Rembulan lagi.
"Berapa?" tanya Radit.
"Berapa kamu sanggup," kata Rembulan lagi sambil terkekeh geli, "Ahahahaaa.....aku takutnya belum apa-apa kamu udah loyo!" Rembulan tertawa sambil turun dari punggung Radit, ia melihat wajah Radit yang hanya tersenyum manis padanya.
"Mau coba?" tanya Radit dengan wajah serius.
"Nikahin dulu," ujar Rembulan lagi sambil tertawa, terbahak-bahak.
"Kawin dulu yuk, biar tau kalau aku nggak loyo!"
"Ahahahahah....." keduanya tertawa, karena yang mereka bahas sungguh sangat aneh. Seragam abu-abu yang mereka pakai seakan menjadi saksi bertapa persahabatan mereka sangat baik. Bahkan terjalin sampai mereka lulus kuliah, Rembulan kuliah hanya di universitas Jakarta dan Radit di universitas Jerman. Namun komunitas mereka tetap terjaga dengan baik, saat Radit kembali ke tanah air mereka dan teman-teman lainnya akan berkumpul bersama seperti dulu.
Flashback off.
Rembulan mengusap wajahnya dengan kasar, candaan mereka yang dulu menjadi pengiring tawa seakan berubah menjadi nyata. Saat ia ia berpikir hanya untuk Senda gurauan saja, dan semua gurauan itu benar-benar terjadi. Ia dan Radit terjebak cinta satu malam yang sangat panas, sungguh semua di luar akal sehat nya.
"Masih bingung?" tanya Radit lagi, "Aku serius lho...kawinin kamu....aku loyo nggak?" tanya Radit lagi menggoda Rembulan.
Wajah Rembulan kembali memerah, jantung terpacu dengan kencang. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, ia ketika potongan-potongan ingatan itu muncul, dan ia mengingat cukup baik beberapa potongan yang terjadi saat itu.
"Loyo nggak?" goda Radit lagi, sebab Rembulan hanya diam dalam wajah yang memerah, "Aku harap enggak!" ujar Radit lagi sambil terkekeh.
"Ya ampun!" Rembulan menggigit jagungnya dan mengunyah dengan cepat, tapi tanpa di duga Radit mendekatkan wajahnya. Matanya hanya fokus menatap bibir Rembulan.
Rembulan menutup mata mematikan nya, namun ternyata Radit hanya mengambil satu butir jagung yang menempel di sudut bibir Rembulan. Lalu Radit memakannya.
"Umi kenapa tutup mata?" tanya Radit menggoda Rembulan, padahal ia tahu jika Rembulan mengharap yang lainnya. Sebenarnya Radit juga mau, tapi itu adalah tempat umum. Ada banyak orang Radit menghargai yang lebih tua darinya di sana.
Deg.
Rembulan membuka mata dengan rasa malu, apa lagi saat melihat Radit yang tersenyum menggoda nya.
"Mau?" tanya Radit dengan senyum tampannya.
Rembulan cepat-cepat membuang pandangannya, dan ia tidak ingin semakin bertingkah konyol.
*
Malas up Vote dan Like nya bikin sesak di dada.