Mentari

Mentari
Episode 201



Mulai hari ini Rembulan sudah tinggal di rumah mertuanya Mama Nina, karena kini Radit sudah Menikahi Rembulan secara resmi hingga Mana Ranti tidak bisa lagi menahan Rembulan tetap tinggal di rumah nya. Ada rasa sedih, namun rasa bahagia jauh lebih besar. Karena Rembulan dan Radit kini sudah menikah tanpa ada lagi kesalahpahaman.


"Sering-seringlah main ke rumah Oma ya Raka," Oma Ranti menciumi wajah cucunya.


Tiga puluh menit kemudian, Radit menepikan mobilnya di depan rumah yang cukup mewah.


"Umi, turun yuk," Radit tersenyum dan ia duluan turun, kemudian ia membuka pintu untuk Rembulan.


"Makasih Abi," Rembulan tersenyum karena Radit begitu perhatian terhadap dirinya.


Kaki keduanya mulai melangkah, memasuki pintu utama. Dan sampai di sana ternyata Oma Nina sudah menunggu.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumusalam....." jawab Oma Nina sambil berjalan ke arah pintu dan mengambil alih Raka dari gendongan Rembulan, "Aduh cucu Oma," Mama Nina terus menciumi pipi tembem cucunya dengan penuh kasih sayang, "Ulan ayo masuk," kata Mama Nina.


"Iya Ma," Rembulan tersenyum, dan ini pertama kali nya Rembulan menginjakkan kaki di rumah Radit. Jika waktu sekolah dulu ia hanya mendatangi apartemen milik Radit bersama dengan teman-temannya, jadi Rembulan memang tidak pernah kesana.


"Kita ke atas yuk, kamar kita di atas," tangan Radit menunjuk lift yang ada di sebelah tangga.


"Kenapa kita enggak naik tangga aja," kata Rembulan yang lebih tertarik menaiki anak tangga.


Radit tersenyum, "Naik lift saja, biar kamu enggak kecapean," kata Radit lagi.


"Em," Rembulan mengangguk dan menurut saja, apa yang di katakan oleh Radit tidak pernah membuatnya sulit. Dan ia pun tidak berani menentang kata-kata Suaminya.


Ting!"


Keduanya sampai di lantai tiga, Rembulan kagum dengan interior di sekitarnya yang terlihat begitu memukau.


"Abi ternyata bukan orang susah ya, tapi kok dari sekolah dulu kayaknya Abi biasa aja. Malahan kadang Abi naik motor butut?" tanya Rembulan saat Radit bersekolah dulu ia memang sederhana, bahkan Rembulan tidak menyangka jika suaminya itu juga seorang pewaris perusahaan raksasa.


Radit terkekeh mendengar penuturan Rembulan, "Mama sama Papa dari ketik memang begitu, hidup harus sederhana. Tidak boleh memamerkan sesuatu yang lebih pada orang lain," jelas Radit, "Itu kamar kita," tangan Radit menunjuk pintu berwarna hutang dengan berukuran sangat besar.


Rembulan mengangguk dan keduanya masuk, mata Rembulan menyapu sekeliling nya. Melihat kamar itu yang memang sama seperti kamar laki-laki pada umumnya, tanpa meja hias dan juga sangat polos tanpa ada pajangan apa-apa.


"Umi kenapa?" tanya Radit yang tahu Rembulan menatap kamarnya tanpa exspresi.


"Enggak papa."


"Umi enggak suka, sama kamar kita?"


"Suka, tapi...." Rembulan menatap Radit tatapi ia tidak berani protes.


"Kamar ini udah jadi kamar kita, jadi terserah kalau Umi mau merubah nya seperti apa," jelas Radit agar Rembulan betah tinggal bersama nya.


"Hehehe.....di ganti aja cat nya warna pink Saya Abi, terus ranjangnya juga ganti yang lebih cerah. Soalnya kamar ini kalem banget," kata Rembulan.


"Terserah saja," Radit menutup pintu dan memeluk tubuh Rembulan dari belakang, "Abi enggak nyangka banget kalau impian Abi sejak dulu sekarang tercapai," ujar Radit sambil menyembunyikan wajahnya di tengkuk Rembulan.


"Tapi Abi pakai cara curang," goda Rembulan.


Radit memutar tubuh Rembulan agar menghadap padanya, setelah itu Radit kembali menarik Rembulan pada pelukannya.


"Apapun asal untuk mu, Umi masih kesal sama Abi?"


Sedetik kemudian Radit mengangkat tubuh Rembulan keatas ranjang, dan kini tubuhnya condong kepada Rembulan. Tatapan penuh cinta terpancar dari mata keduanya, dan sedetik kemudian Radit mulai bergerak dengan bebasnya.


"Sssssttt......" Rembulan lagi-lagi merintih karena sentuhan Radit yang begitu hangat, namun tiba-tiba Rembulan mendorong tubuh Radit. Setelah itu ia turun dari atas ranjang, "Huuueeekkkk..... Hueeekk....." Rembulan tidak bisa lagi menahan mual yang tiba-tiba saja datang, beberapa hari ini ia memang sering mual dan muntah tiba-tiba. Bahkan Radit juga tidak memperbolehkan baby Raka untuk minum asi lagi. Sudah hampir satu bulan ini baby Raka minum susu formula, padahal asi Rembulan masih saja sangat berlimpah.


"Mual lagi?" tanya Radit.


Rembulan mengangguk, "Maaf ya Abi, Umi jorok banget.... toiletnya di mana?" tanya Rembulan.


"Itu," Radit menunjukan salah satu pintu yang berwarna hitam lainnya.


"Maaf ya Abi, Umi jorok banget," kata Rembulan lagi tidak enak hati, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, "Huuueeekkkk..... hueeekk.... hueeekk....." Rembulan kembali memuntahkan isi perutnya, walaupun kali ini hanya cairan saja yang keluar. Tapi tanpaknya ia merasa cukup kelelahan, apa lagi baby Raka juga sekarang sedang rewel, usia bayi tiga bulan memang masih sangat rentan. Dan Rembulan harus memiliki tenaga yang extra, untuk merawat bayinya.


"Umi," Radit menyusul Rembulan dan ia bisa melihat wajah pucat istri nya.


"Mual banget," Rembulan kembali memegang perutnya yang terasa tidak nyaman, dan perasaan ini sama seperti saat ia awal-awal hamil Raka.


Rembulan mulai was-was, dan seketika ia menatap Radit yang tampak tersenyum hingga Rembulan bingung, "Abi Kenapa?"


"Enggak papa."


"Aneh," Rembulan langsung membasuh wajah nya dan keluar dari kamar mandi, dengan Radit juga menyusul dari belakang, "Abi, Umi harus cari kain pel di mana?" tanya Rembulan, karena muntahannya masih berserakan di lantai.


"Nanti ada yang membersihkan, sekarang Umi mau istirahat?"


"Iya, tapi Raka gimana?"


"Raka sama Mama saja, nanti ada baby sitter juga untuk Raka," jelas Radit.


Rembulan terdiam tampaknya ia kurang setuju dengan usul Radit, "Abi, tapi Raka itu dari semenjak Umi hamil dia terus jadi korban. Bahkan dia kurang di perhatikan, apa iya dia harus di rawat baby sitter juga," ujar Rembulan tidak setuju dengan usul Radit.


"Tapi kamu sakit, Mama juga udah tua. Mama enggak akan sanggup ngurusin Raka 24 jam sayang," jelas Radit.


"CK!" Rembulan masih tidak setuju dengan usul Radit, dan kini ia naik keatas ranjang dengan kesal.


Radit tersenyum dan ia juga ikut naik, berbaring di samping Rembulan. Dan langsung memeluk Rembulan.


"Apasih!!" kesal Rembulan dan menepis tangan Radit.


Radit tersenyum karena kini Rembulan bahkan memunggungi dirinya.


"Abi!" panggil Rembulan dengan ketus.


"Em...." jawab Radit yang berada di belakang Rembulan.


"Ish....jutek banget sih!" kesal Rembulan lagi.


"Apa?" jawab Radit sambil terkekeh.


"Peluk!!!"


"Tadi enggak mau?" goda Radit lagi, "Bumil ini memang banyak maunya," lanjut Radit.


Rembulan langsung berbalik dan menatap wajah Radit dengan bingung, "Hamil?"