Mentari

Mentari
Episode 58



"Oke, saya antar, kita pulang" ucap Rionaldo yang membuat Mentari tiba-tiba senyum sumringah dan dengan cepat menghapus air matanya menggunakan tisu


"Nak.. kenapa keinginanmu aneh seperti ini" batin Arka dengan hati menjerit


Mereka jalan bertiga menuju mobil Arka. Posisi mereka, Rionaldo yang jalan duluan diikuti oleh Mentari yang digandeng oleh Arka sambil memegang tas istrinya itu


"Sayang hati-hati kalau jalan" Arka mengingatkan istrinya


"Iiii.. kak, aku ini bukan anak kecil lagi"


"Tetap aja, kalau kamu kenapa-napa?" Ucap Arka dengan bertanya


"Kan ada kak Arka" jawab Mentari sembari ia senyum dan mendongak melihat wajah suaminya itu


"Kamu ya" ucap Arka gemas dengan menarik pelan hidung istrinya


Rionaldo yang melihat itu langsung berdehem, "ehem.. mobilnya sebelah mana?" Tanya Rionaldo tiba-tiba. Ia terus mencoba untuk rela dan ikhlas walaupun kadang susah untuk mengawalnya


Arka dan Mentari kembali melihat Rionaldo, "sana, warna hitam" tunjuk Arka yang diangguki oleh Mentari


Rionaldo tanpa berpikir panjang langsung meminta kunci mobil Arka, "kuncinya mana? Tunggu disini" ucapnya lalu ia pergi tanpa melihat Mentari


"Hmmm... Rionaldo lagi ngambek" gumam Mentari lalu ia kembali menatap wajah suaminya itu


"Kak Arka cilok" ucap Mentari lagi dengan manja


"Iya iya, nanti kita singgah beli cilok tapi harus kakak diberi hadiah" ucap Arka memancing istrinya itu


"Hadiah apa? Aku gak punya uang mau beli hadiah" jawab Mentari sembari ia berpikir


"Gak dibeli" jawab Arka singkat dan bertepatan dengan Rionaldo berhenti tepat depan mereka berdua, "masuk sayang" sambung Arka lagi


Mentari masuk dalam mobil lalu diikuti Arka. Mentari dan Arka duduk dibelakang layaknya seorang bos dan memang mereka bos tapi yang lebih menyedihkan yaitu Rionaldo, ia seorang bos di perusahaannya tetapi demi Mentari siang ini dirinya jadi sopir.


Mentari yang masih penasaran dengan permintaan suaminya itu, maka dia kembali menanyakannya dalam mobil


"Kak hadiah apa yang gak dibeli?" Tanya Mentari lagi


Arka bingung mau jelaskan sementara dalam mobil ada Rionaldo, Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Mau beli cilok kan?" Tanya Arka mengalihkan pembicaraan


"Iya, tapi kakak bilang harus diberi hadiah, jadi Mentari tanya hadiah apa?" Tanya ulang Mentari


"Gini sayang, hadiah itu nanti kakak jelaskan dirumah.. ribet kalau disini" jawab Arka asal


"Ribet?.. jangan dikasih ribet, cari yang gampang-gampang aja" ujar Mentari santai dengan mata fokus di suaminya itu


Mentari rasa penasarannya semakin menggebu-gebu setelah melihat wajah suaminya hanya senyum tanpa menjawab


"Tidur ya" ucap Arka lagi


"Kak Arka aneh" kesal Mentari


Semua itu didengar langsung oleh Rionaldo, namun untuk melihat lewat kaca spion mobil ia tidak berani karena bagaimanapun Arka adalah dosennya dan Mentari sahabatnya


"Ini belok atau lurus?" Tanya Rionaldo lagi


"Lurus Rio" jawab Mentari


"Kakak hadiahnya apa?" Tanya Mentari lagi sedikit berbisik


Arka langsung menunjuk pipinya, Mentari yang tidak mengerti langsung bertanya lagi "sakit gigi?"


Arka langsung mendekat kearah telinga Mentari agar Rionaldo tidak dengar "hadiahnya itu cium pipi kakak"


Mentari seketika memukul lengan Arka lalu ia mengusap perutnya


"Iih gak modal.. masa aku yang kasih Hadiah"


"Oh jadi kakak yang harus kasih hadiah?.. boleh-boleh tapi lebih ya" goda Arka lagi


"Kok lebih.. dasar kak Arka.." ucap Mentari tiba-tiba berhenti


"Kenapa sayang?" Tanya Arka setelah melihat Mentari tidak melanjutkan ucapannya


"Malu" jawabnya singkat lalu ia menghambur didalam pelukan suaminya


"Hahahaha" suara tawa Arka sambil mengusap lengan istrinya itu


Rionaldo melihat keromantisan itu lewat kaca spion depan mobil Arka, awalnya selalu menahan diri untuk tidak melihatnya, namun percakapan pasutri itu yang membuatnya penasaran


"Andaikan aku bisa merebut mu maka aku akan merebut mu dari pak Arka" batin Rionaldo entah kenapa melihat keromantisan pasangan baru itu membuatnya terbakar api cemburu


Dalam perjalanan Rionaldo banyak diam, ia seakan tidak mendengar percakapan Arka dan Mentari dalam mobil lagi


"Maaf, rumahnya bagian mana?" Tanya Rionaldo lagi


"Itu" tunjuk Mentari dan Rionaldo mengarahkan mobil dengan pelan, "nah, sampaikan" sambung Mentari lagi


Mobil berhenti tepat didepan pagar rumah


"Maaf Mentari aku harus ke kantor sekarang" ucap Rionaldo lagi


"Terus naik apa kesana?" Tanya Mentari lagi


"Ada supir yang akan jemput saya disini, masuk saja kan kasihan pak satpamnya nunggu lama" ucap Rionaldo lalu ia menelfon supirnya itu


📞"Wa'alaikumussalam pak.. jemput saya sekarang ya pak.. alamatnya nanti saya kirimkan" ucap Rionaldo ditelepon lalu ia matikan


Mentari menawarkan Rionaldo untuk masuk, "Rio apa gak masuk dulu gitu, tunggu pak supirnya dalam rumah saja"


Rionaldo menolak dengan lembut "supir sudah di daerah sekitar ini"


"Ohhh gitu ya udah, kami masuk dulu ya" pamit Arka yang diangguki oleh Rionaldo dengan senyum seadanya,


Tidak lama kemudian supir yang jemput Rionaldo pun datang. Selama perjalanan menuju kantor dipikiran Rionaldo dipenuhi bayang-bayang Mentari, malah sekarang ia ingin kembali bertemu dengan Mentari lagi.


"Pak berhenti sekarang" ucap Rionaldo tiba-tiba


Supirnya heran dengan bosnya itu yang tiba-tiba minta untuk berhenti ditengah jalan


"Tapi pak ini belum sampai kantor"


"Sudah, turun saja... Ini uang cari taksi kembali dirumah" perintah Rionaldo lalu ia mengeluarkan uang 100 dua lembar dan menyuruh supirnya pulang


"Baik pak" jawabnya setelah menerima uang tersebut lalu menunggu taksi lewat sedangkan Rionaldo kembali melanjutkan dengan mengendarai mobilnya sendiri dan berhenti di toko bunga


"Tolong rangkaian buket bunga mawar 51 tangkai" ucap Rionaldo


"Baik pak, ditunggu ya pak" ucap penjaga toko itu lalu ia merangkaikan bunga sesuai pesanan Rionaldo


Sedangkan dikediaman Arka, sekarang Mentari malah menangis karena lupa beli cilok ditambah ia lupa mengucapkan terimakasih kepada Rionaldo.


"Ya sudah, sekarang kita cari cilok" Arka sudah capek dengan mode ngambeknya ibu hamil


Mentari dengan cepat bangkit dari kursi dan mengambil tas yang ada disamping suaminya itu


"Sayang, kan bisa aku yang ambilkan tasnya" ucap Arka lagi


Mentari senyum, "gak apa-apa, tapi kapan perginya?" Tanya Mentari karena melihat suaminya belum bangkit dari duduknya sedangkan dia sudah siap untuk kembali jalan


"Emang mau kemana?" Tanya Arka bingung karena Mentari belum meng iyakan tawarannya untuk keluar beli cilok


"Ya udah" jawab Mentari lalu ia jalan menuju kamar mereka dengan sesekali menghentakkan kakinya kelantai, "kesal aku jadinya" sambungnya yang sudah tidak didengar oleh suaminya


Arka disisi lain heran, bingung tapi lucu melihat tingkah Mentari yang ngambeknya tidak menentu


"Haduh.. ngambek lagi ni" batin Arka lalu ia bangkit dari kursi menyusul istrinya


Baru beberapa langkah ada yang mengetuk pintu rumah, Arka kembali membuat pintu


"Ini pak ada kiriman bunga" ucap satpam rumahnya


"Dari siapa?" Tanya Arka lagi


"Kalau itu, saya tidak tau pa tapi pengantarnya bilang untuk nyonya Mentari" jelas satpam tersebut


"Oohh.. ya sudah.. kembali kerja lagi" perintah Arka


Arka masuk dalam kamar dengan buket bunga lalu menaruhnya diatas meja dan dia memutuskan untuk ke ruang kerjanya sebentar sebelum sang istri selesai mandi. Setelah Mentari keluar dari kamar mandi melihat buket bunga itu yang awalnya marah berubah jadi senang


"Ternyata kak Arka belikan aku bunga" batinnya lalu dengan cepat mengambil buket itu dan menghirup bau wangi dari bunga mawar itu


"Harumnya, terima kasih kak" ucap Mentari yang masih menghirup bau dari bunga-bunga itu


"Aaa.. bunga itu bukan dari aku sayang"


"Terus dari siapa?" Tanya Mentari dan seketika senyum di wajahnya hilang


"Apa ada pesannya di buket itu?" Tanya Arka yang ikut penasaran


Mentari memperhatikan buket bunga itu dan ternyata benar di buket tersebut diselipkan dengan kertas kecil yang sudah pasti bagi yang lihat akan satu pemikiran yaitu ada sebait pesan dan nama pengirim


Mentari mengambil kertas itu lalu ia baca dengan jelas dan pelan agar suaminya bisa dengar


TO MENTARI


Terima bunga ini sebagai tanda terima kasih aku karena sudah menerimaku dalam hidupmu"


Mentari yang membaca itu langsung melihat suaminya lalu kembali menatap buket bunga itu, "Dari siapa sih ini bunga?" Batin Mentari sambil memperhatikan buket bunga itu


Mentari menghitung tangkai bunga tersebut, "51, maksudnya apa?" Batin Mentari lagi yang sudah berkecamuk dengan pertanyaan dalam kepalanya


Arka langsung mengambil bunga itu dan membuangnya dalam tong sampah kecil dalam kamar mereka


...**SEMOGA SUKA ❤️...


...JANGAN LUPA SUPPORTNYA, SUPAYA TAMBAH SEMANGAT UPDATE 😁...


...TERIMA KASIH 🙏**...