Mentari

Mentari
Episode 181



Kini Arka dan Mentari tengah sarapan pagi, mungkin lebih tepatnya sarapan pagi sekaligus makan siang. Karena keduanya baru bangun tidur setelah pukul 01:00 siang ini, sungguh terdengar konyol. Tapi tidak bisa di tutupi keduanya sangat bahagia dengan kehadiran baby twins, rasa lelahnya terbayar saat melihat wajah kedua bayi mungil itu.


"Sayang makan sayurnya juga," Arka mengambil sayur dan membubuhkan pada piring Mentari.


"Kak, Tari enggak suka sayur," kata Mentari, karena sejak dulu ia memang paling anti makan sayur.


"Sayang, kasihan baby twins," kata Arka penuh harap, "Mereka berdua harus minum asi berkualitas, lagian mereka berdua di larang lapar. Dan cuman bisa haus!" kata Arka lagi.


"Kok dilarang lapar Kak?" tanya Mentari penasaran.


"Karena mereka hanya minum asi, bukan makan. Jadi mereka haus bukan lapar sayang," jelas Arka lagi.


Mentari tersenyum mendengar jawaban konyol Arka, suaminya itu kini terlihat semakin konyol. Entah di mana Arka yang dulu, pendiam, cuek. Tidak banyak bicara. Kini Arka benar-benar menjadi pria yang banyak bicara dengan segala keanehan nya, tapi Mentari suka lelaki seperti Arka. Ia terlihat cair bila bersama dengan dirinya.


"Kakak ada-ada aja, tapi iya juga ya...." Mentari mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh suami nya, "Tapi kenapa ya Kak, bayi itu enggak bisa langsung di kasih makan?" tanya Mentari lagi.


"Iya juga ya, Kakak baru kepikiran juga sih," jawab Arka yang juga sejenak bingung dan memikirkan apa yang di katakan oleh Mentari, "Mungkin karena mereka belum bisa cari uang, jadi mereka enggak boleh lapar," jawab Arka konyol.


"Ahahahahah......" tawa Mentari benar-benar pecah, Arka memang aneh. Bukan hanya aneh mungkin sudah tidak waras, tapi tidak di pungkiri rasa lelahnya tadi malam terbayar karena keanehan Arka, "Yaudah Kak, sekalian aja mereka enggak usah di pakein baju, kan mereka juga belum bisa cari uang buat beli baju," usul Mentari.


"Betul," Arka mengacumkan jempol nya, "Kalau mereka berdua enggak pakek baju pasti keren, terutama Satya, basokanya bisa dikerumuni lalat-lalat nakal," celetuk Arka.


"Ahahahahah....." Mentari terus saja memegangi perutnya, ia merasa ini sangat lah lucu sekali. Apa lagi pikiran Arka yang lebih parah darinya.


"Sayang, udah ketawanya," Arka tersenyum karena Mentari yang sangat bahagia, ia sadar ia kini tengah bertingkah bodoh. Tapi demi melihat senyum dan tawa Mentari yang ingin ia lihat hari ini, ia rela. Karena senyum dan tawa itu benar-benar pengobat rasa lelah dan juga beratnya pekerjaan yang juga menuntut nya di perusahaan.


"Ini ada apa sih?" tanya Ranti yang baru saja datang ke rumah besarnya, ia ingin melihat kedua cucunya. Tapi saat mendengar tawa Mentari yang menggelegar, ia malah penasaran dan segera menuju dapur.


Arka dan Mentari mulai melihat Ranti, "Mama udah lama di sini?" tanya Mentari.


"Baru aja, tadinya Mama mau lihat cucu Mama. Tapi pas denger tawa kamu malah Mama ke sini," jelas Ranti.


"O, Sea sama Satya tadi di ruang keluarga sama Mami Ma. Lagi minum kopi mereka berdua sama Opanya," jawab Mentari sambil cekikikan.


"Hus....jangan ngaur kamu," kata Ranti.


"Ahahahhaha.....mereka lagi ngopi buat stok begadang nanti malam Ma," ujar Mentari lagi sambil terus cekikikan.


"Lho, memangnya semalam mereka begadang?" tanya Ranti penasaran.


"Mereka semalam meronda Ma, takut ada maling kayak nya. Makanya Tari sama Kak Arka baru bangun juga ini, dan ini baru sarapan pagi Ma, lanjut makan siang kalau udah selesai sarapan," jelas Mentari.


Ranti memijat kepalanya, tidak tahu Mentari bisa segesrek ini turun dari mana, "Namanya juga punya anak aneh, ya gitu lah. Tahu kan kamu rasanya jadi Mama?" omel Ranti.


"Nyesel kan jadi pembangkang terus?" tanya Ranti lagi.


"Kalau yang itu enggak Ma," jawab Mentari tersenyum.


Ranti memiringkan tubuhnya, ia tersenyum aneh pada putrinya bungsunya yang memang memiliki kelakuan aneh itu, "Maksud kamu!"


"Maksud Tari Ma, Tari nyesel dulu itu nakalnya cuman segitu doang. Karena Mentari juga akan merasakan beratnya membesar anak, jadi kalau Mentari itu udah pernah nakal kan Tari enggak terlalu galau kalau sudah punya anak Ma. Minimal Tari pernah nakal," jelas Mentari dengan enteng, tapi walaupun begitu ia tetap sangat menyayangi sang Mama.


"Kamu itu nakalnya bukan minimal, tapi maksimal!!" kesal Ranti, dan ia segera pergi. Karena Ranti ingin segera melihat cucu-cucu nya yang lucu dan menggemaskan itu. Daripada harus berdebat dengan putri bungsunya yang tidak mengenal kalah itu.


"Sayang kamu enggak boleh gitu ngomong sama Mama," kata Arka yang memberikan sedikit peringatan.


"Maafkan aku suamiku, istri mu ini memang masih butuh bimbingan," Mentari bangun dari duduknya dan memeluk lengan Arka.


"Lebay," Arka menyentil kepala Mentari, karena istrinya itu memang terlihat aneh.


"Sakit tau Kak," gerutu Mentari.


"Tari!!!!!!" seru Linda.


"Iya Mi, Tari kesana," kata Mentari dan ia melihat Arka.


"Tari, Sea haus cepat!!!" teriak Linda lagi yang berada di ruang keluarga. Sebenarnya itu bukan benci, tapi Linda kini sangat senang sekali. Sebab kehadiran baby twins membuat rumahnya tidak sepi. Apalagi saat dulu Arka berada di luar negeri, ia selalu kesepian. Berbanding terbalik dengan saat ini, rumah nya benar-benar menyenangkan baginya.


"Sayang kamu tau apa yang Kakak pengen?" tanya Arka, sebelum Mentari benar-benar pergi menuju ruang tamu.


"Apa?" tanya Mentari, ia tengah bersiap menunggu jawaban Arka. Sudah di pastikan pasti ada kata yang aneh yang akan keluar dari mulut suaminya itu.


"Kakak pengen denger, Mami teriak gini," Arka mulai mempraktekkan gaya bicara Mami Linda, "Tari cepat kemari, Arka haus!!!!" seru Arka seolah itu Mami Linda yang berbicara, akan tetapi suara Arka tidak terlalu kencang. Jadi hanya keduanya saja yang mendengar, karena kalau terdengar di telinga Mami Linda tidak apa. Tapi di ruang tamu ada Mama Ranti, Mama mertua nya itu akan terdengar sangat memalukan sekali.


"Ahahahhaha......Kakak ada-ada aja, dasar aneh," kata Mentari dengan cekikikan, otak Arka benar-benar hebat bisa berpikir begitu cerdas. Bahkan tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan Arka saat ini, "Udah ah Kak, bicara sama Kakak makin ngaur aja!" omel Mentari, kemudian ia bangun dari duduknya dan segera berjalan menuju ruang tamu.


"Sayang!!!" Arka memanggil Mentari kembali, padahal Mentari sudah berjalan beberapa meter darinya.


"Apa?" Mentari berhenti melangkah, dan berbalik menatap Arka. Tidak lupa ada tawa kecil yang masih keluar dari bibirnya.


"Bayangin bertapa bahagianya, kalau Mami teriak nya bilang Tari cepat Arka haus...." seloroh Arka.


"Ahahahhaha....dasar tidak waras," Mentari segera menuju ruang keluarga tanpa mendengar Arka yang masih memanggil nya.