
"Mentari....", Awan berlari ke arah Mentari yang sedang tertidur tak sadarkan diri diatas ranjang sebuah kamar, saat pintu itu terbuka.
"Bangun baby....", Awan serasa ingin menangis melihat Mentari tak sadarkan diri. ia terus menggoyangkan tubuh Mentari di pelukannya.
Asik dengan acara tangisnya, Awan sampai melupakan di sekitarnya.
"Pak Awan", Awan terpaksa menoleh saat Jimi memanggilnya diantara Indra, James dan beberapa anak buahnya.
"Maaf sebelumnya, Mentari kami bius karena untuk mengelabui pak Rayan"
"Maksudnya?", Awan masih memeluk Mentari.
" Pak Rayan akan menganggap Mentari mati jika Mentari tak sadarkan diri. Dia akan di ingatkan kembali ke masa lalunya saat bersama Amel"
" Bukankah itu sama aja dengan menambah parah penyakitnya?"
" Ya mungkin begitu. Tapi menurut pak Wisnu, dalam kondisi sadar atau tidaknya pak Rayan saat ini, sama saja beliau dalam gangguan Jiwa. Jadi di saat-saat terpukulnya pak Rayan kembali lagi seperti ini, beliau akan di bawa ke Singapura untuk berobat lagi tapi dengan metode lain"
"Sekarang dimana dia?"
"Beliau sudah di Bandara. Akan segera tebang ke Singapura bersama pak Wisnu dengan jet pribadi milik pak Wisnu"
Entah rencana apa yang telah kakak Rayan lakukan, hingga beliau membawa Rayan ke Singapura dalam kondisi sama seperti Mentari. Tak sadarkan diri. Mungkin, beliau yang paling tahu tentang cucunya.
*****
Hari pernikahan Awan dan Mentari hari ini di gelar dengan megah. Tak kalah mewah dari pernikahan Awan sebelumnya.
Mentari sudah cantik dengan balutan kebaya modern yang cantik dan mewah. sangat serasi di tubuh mungilnya. Sementara Awan dengan gagahnya sudah duduk di hadapan penghulu dan Rendy. Rendy lah yang akan menjadi wali nikah untuk Mentari.
Ikrar ijab qobul baru saja terucap oleh Awan dengan tegas dan lantang. Sepertinya ia sangat bersemangat. Ya, inilah momen yang sudah ia tunggu sejak lama.
Saat Ini, Mentari telah mendapatkan instruksi untuk menemui Awan, sang suami. Mentari yang di gandeng oleh Cloudya dan juga kakak iparnya, berjalan anggun menuju Awan. Sementara Awan sendiri sampai tak berkedip saking terpananya dengan penampilan Mentari yang luar biasa.
Sampai di tempatnya, Mentari di bimbing untuk mencium punggung tangan Awan, dan Awan mencium kening Mentari. Jantung keduanya sangat riuh dengan euforia kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Tibalah saat Awan dan Mentari menduduki singgasana mereka. Pelaminan megah yang membuat semua orang iri ingin menempatinya juga suatu saat nanti bagi para lajang. Apalagi keromantisan dari kedua mempelai yang terus di umbar sejak tadi.
"Mas juga ganteng", Mentari membalas ucapan Awan sambil tersipu.
"Aku jadi nggak sabar acaranya selesai", bisik Awan. Sesekali mereka melempar senyum tulus nan merekah untuk para tamu undangan yang hadir.
"Apa masih ada acara lagi setelah acara ini?", Dengan bodohnya Mentari bertanya.
"Ada. Acara khusus kita berdua"
"Oh ya?!", Mentari antusias.
"Tentu saja. Acara di dalam kamar hotel yang sangat mendukung untuk kita berbagi keringat"
"Emang acaranya melelahkan?".
" Lelah, tapi menyenangkan"
"Oh ya?! Acara macam apa itu mas", Mentari masih kebingungan.
"Acara malam pertama kita". Jawaban Awna membuat Mentari melotot horor.
"Dasar mesum!", umpat Mentari.
"Nggak Apa-apa udah sah"
Tiba-tiba Mentari tertawa kecil yang membuat Awan heran.
"Kenapa?"
"Kalo itu, aku juga mau", ujar Mentari sensual tepat di depan telinga Awan.
Dan, malam ini sepertinya akan menjadi malam panas yang panjang bagi Awan dan Mentari.
end