
Satu Minggu sudah berlalu selama pula Mentari end the Genk selalu mengerjai Radit, hingga pagi ini pun mereka masih menyusun rencana dengan baik.
"Ahahahhaha......." Rembulan tertawa terbahak-bahak saat mendengar ide konyol Mentari.
"Lu masih ketawa gua tampol ya," kesal Mentari.
"Iya Ulan, Mama juga kesel sama Radit....kamu bikin dia hari ini pusing tujuh keliling, abis nya dia suka banget berbuat sesukanya...nggak peka lagi," tambah Nina.
"Ulan, sebaiknya sudah tidak usah di teruskan.....nggak baik ngerjain suami terus-menerus, dosa lho Nak," kata Ranti menasehati Rembulan.
Ranti tidak ingin setelah ini Radit sadar ia dikerjai dan itu berdampak pada rumah tangga Rembulan. Ranti tahu putrinya itu sudah jatuh hati pada Radit, hingga ia ingin Rembulan kini menjadi istrinya yang mengerti akan kewajiban nya melayani suaminya.
"Sehari lagi dong Kak Ulan, hari terakhir," pinta Mentari.
Rembulan diam dan menimbang, kemudian ia melihat Mama mertuanya.
"Iya sehari lagi boleh lah ya," kata Nina sambil cekikikan.
Sementara Radit yang dari tadi berdiri di depan pintu yang setengah terbuka mendengar percakapan para wanita di dalam sana. Sebenarnya tadi Radit berpamitan untuk ke rumah sakit sebentar, namun saat sudah setengah perjalanan ia kembali memutar balik kendaraan nya. Karena ponselnya tertinggal di kamar, lagi pula ia takut jika nanti tiba-tiba Mama Nina menghubungi dirinya karena memberi tahu tentang Rembulan. Namun tiba-tiba telinga Radit mendengar percakapan yang cukup menggemparkan hatinya, hingga ia tertarik untuk mendengarkan percakapan para wanita di dalam sana. Radit mengangguk mengerti, kemudian ia melangkah masuk seolah biasa saja.
"Ehem....." Radit berdehem, kemudian ia melangkah masuk.
"Kak Radit," kata Mentari dengan suara pelan.
Nina langsung menarik Mentari untuk duduk di kursi, kemudian ia mengambil piring, "Kamu makan ya Ulan, kasihan sekali kamu Nak," kata Nina menggelengkan kepalanya seolah ia kasihan pada keadaan Rembulan.
Ranti hanya diam, sambil memijat kepalanya, "Kamu balik lagi Dit?" tanya Ranti.
"Iya Ma, ponsel Radit ketinggalan," Radit menunjuk ponselnya yang tergeletak asal di atas meja nakas, dan ia mengambilnya.
"Aduh Ulan kamu kenapa tidak mau makan," kata Nina sedang memainkan perannya.
"Kak Ulan nggak mau makan Tante?" tanya Mentari, yang ikut menimpali.
Nina memasang wajah sedih, "Iya, kasihan sekali," Nina seolah menatap iba, "Malang sekali nasib mu Ulan, apa lagi cucu ku yang kamu kandung, sungguh kasihan," kata Nina.
Radit diam sambil melihat Mamanya yang tengah beracting begitu baik sekali, mungkin Mama Nina sangat cocok jadi pemeran Ibu tiri menurut Radit. Radit berjongkok di samping Rembulan, Iya juga seolah tidak tahu apa-apa, "Kamu kenapa nggak mau makan?" tanya Radit.
Rembulan hanya diam saja seolah ia tidak ingin berbicara, padahal di hatinya ingin sekali tertawa. Karena ia sudah tidak kuat menjadi seolah gila ia pun sebenarnya tidak ingin nantinya benar-benar gila.
Radit mencari kontak dokter Sahara pada ponselnya, kemudian ia dengan cepat memanggil dokter Sahara. setelah panggilan terhubung terdengar suara dokter Sahara dari seberang sana, "Assalamualaikum.... Dokter Radit," jawab dokter Sahara.
"Wassalamu'alaikum dokter Sahara, dokter bisa tolong ke rumah saya," pinta Radit.
"Iya Dokter Radit kebetulan juga saya memang mau ke sana," jawab dokter Sahara.
Radit menatap Rembulan kemudian menatap Mama Nina dan Mentari, setelah itu Radit kembali fokus berbicara dengan dokter Sahara, "Saya tunggu di rumah dokter Assalamualaikum...." panggilan terputus dengan Radit yang mengakhiri panggilan, sejenak Ia berpikir jika dokter Sahara juga ikut dalam memainkan peran ini. Karena ia sangat tahu dokter Sahara sangat cerdas jadi tidak mungkin dia bisa dibohongi oleh pasiennya, dokter Sahara juga sudah senior banyak pasien yang ia tangani dari yang paling ringan sampai yang sakit jiwa paling berat.
"Kalau misalnya ada orang yang membahagiakan lebih dari Radit, Mama akan sangat setuju Rembulan," kata Nina, tapi kata menatap Radit.
Radit kemudian melihat Mentari dan Nina secara bergantian, "Apa itu benar?" tanya Radit.
"Iya benar dong," jawab Nina sinis, "Dimas itu ganteng, baik, perhatian, dijamin Ulan pasti akan bahagia kalau nikah sama Dimas!" tegas Nina lagi.
"Baiklah kalau begitu, Radit ingin Rembulan bahagia....." kata Radit mengangguk, "Kalau memang Dimas adalah laki-laki terbaik Radit ikhlas Ma," jawab Radit dengan mantap. Radit bisa melihat perubahan wajah Mentari, Nina, Rembulan. sementara Ranti hanya diam menjadi penonton saja.
Rembulan, Mentari, Nina, saling melihat satu sama lain. ketiganya bingung karena Radit terlihat biasa saja.
'Panik nggak? panik nggak? panik lah masa enggak,' batin Radit. Ia juga tertawa dalam hati, karena melihat wajah-wajah bingung yang lainnya.
"Assalamualaikum...." terdengar suara dokter Sahara, dan ia mulai melangkah masuk.
"Waalaikumusalam...." jawab Ranti.
"Waalaikumusalam....." jawab Nina.
"Dokter Sahara, tolong periksa istri saya.....apa tidak ada perubahan sama sekali?" tanya Radit secara langsung.
Dokter Sahara mengangguk, ia kemudian melihat Rembulan. Dokter Sahara juga bingung apa yang mau ia periksa, karena Rembulan baik-baik saja.
"Dokter, apakah gangguan jiwa Rembulan sudah sangat parah?" tanya Radit, seolah panik.
Dokter Sahara melihat Nina, dan Nina mengangguk, kemudian Mentari dan Mentari juga mengangguk, dan kemudian Rembulan, "I...iya," jawab dokter Sahara dengan terpaksa.
"Baiklah, kita bawa saja Rembulan ke rumah sakit jiwa," kata Radit.
"Jangan!" kata Mentari dengan refleks.
"Kenapa?" tanya Radit santai.
"Enggak kenapa-kenapa juga sih," Mentari tersenyum dengan terpaksa, bahkan tangannya menggaruk kepalanya.
"Radit kamu apasih, istri sakit kamu bukannya rawat sendiri malah ngusulin ke rumah sakit jiwa," kesal Nina. Karena Nina tidak mau Rembulan di bawa kesana, lagi pula menantunya baik-baik saja.
"Iya Ma, tapi Radit enggak mau egois...." Radit menatap Rembulan yang tengah tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya, jantung Rembulan sudah berdetak karena takut jika nanti ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa, bahkan ia sampai gemetaran dan mengigit bibir bawahnya, 'Kok jadi gemas ya, abis ini abis bibir itu aku lahap lihat saja,' batin Radit.
"Kak Radit nggak usah ke rumah sakit jiwa juga kan?" kata Mentari.
"Dokter Sahara, saya rasa keputusan saya sudah bulat.....lebih baik istri saya di bawa ke rumah sakit jiwa, saya juga sedih tapi ini demi kebaikan nya," kata Radit seolah bersedih, "Dan setelah dia sembuh, Radit juga ikhlas kalau menurut kalian Dimas adalah yang terbaik untuk Rembulan," kata Radit seolah ia sudah sangat yakin dengan keputusan nya.
"Kak Radit..." kata Mentari mulai panik.
"Tidak apa Mentari, Kakak tidak mau terus membuat Rembulan begini," kata Radit seakan bersedih.
*
Jangan lupa like dan Vote ya, baru saya up lagi.