Mentari

Mentari
Episode 174



Satu minggu sudah Rembulan tidak sadarkan diri, selama satu minggu Radit juga semakin terpuruk. Tiada hari-hari yang ia lalui selain menunggu Rembulan di rumah sakit.


"Assalamualaikum," kata Nina yang pagi ini datang melihat keadaan Rembulan, tidak lupa Nina juga membawa baby boy yang sudah di beri nama Raka. Awalnya Radit tidak ingin memberikan nama untuk anak mereka sebelum Rembulan sadarkan diri, tapi karena itu tidak mungkin akhirnya Radit memberikan nama Raka untuk putra mereka.


"Waalaikumusalam," jawab Radit.


Nina duduk di sofa tepat di samping Radit, perlahan tangan Radit bergerak mengambil alih Raka dari tangan Nina. Radit mengecup wajah putranya itu, dan memegang pipi putra nya itu, wajah murung Radit seakan menyiratkan kesedihan. Kebahagiaan yang kini ia rasakan karena kehadiran baby Raka tidak seiring dengan keinginan di hatinya, karena kebahagiaan itu tidak lengkap tanpa Rembulan.


"Assalamualaikum," Mentari juga menjenguk baby twins, dan ia akan melihat keadaan Rembulan. Selalu begitu, setiap ia mengunjungi baby twins pasti Mentari akan masuk juga keruangan Rembulan.


"Waalaikumusalam," jawab Nina.


Menteri yang duduk di kursi roda dengan didorong Arka mulai masuk, Mentari duduk di dekat ranjang Rembulan. Tidak ada kemajuan dengan keadaan Rembulan, dan entah sampai kapan ini akan terjadi.


Oe.....Oe....Oe...


Terdengar suara Raka yang mulai menangis, dengan cepat seorang baby sitter membuatkan susu formula untuk Raka. Setelah babysitter itu memberi susu Raka langsung diam meminum susu formulanya.


"Kak Ulan kayaknya betah banget di sini, padahal Raka butuh kakak. Kakak tahu nggak Raka itu siapa? Kakak mana tahu Kakak masih betah di sini. Raka itu nama yang dibuat Kak Radit untuk anak Kakak dan Kak Radit," Mentari terdiam sejenak namun kembali menatap Rembulan, "Raka butuh seseorang Mama Kak, dan kakak masih betah di sini. Kasihan Raka Kak," Mentari melihat Radit yang tertunduk sambil memijat kepalanya, kemudian ia kembali melihat Rembulan, "Kak Radit juga sekarang nggak keurus Kak, rambutnya panjang Udah seminggu bajunya juga nggak diganti," kata Mentari lagi seolah berbicara kepada Rembulan, "Kalau memang Kakak lebih betah di sini enggak apa-apa kita bakalan setia kok jengukin Kakak setiap hari, tapi Kak Radit dan Raka butuh seseorang untuk mengurus mereka. Mungkin orang yang tepat itu adalah Diva," kata Mentari.


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan Mentari, apalagi mendengar nama Diva yang disebutkan. Bahkan Ranti pun langsung menatap Mentari dengan tajam, Ranti yang baru saja sampai dan mendengar nama Diva disebutkan merasa kesal.


"Mentari Kamu bicara apa?" geram Ranti.


Mentari terdiam seolah Ia memang sangat bersedih, tapi kini ia menatap Radit, "Kasihan Kak Radit Ma, lihat Kak Radit sekarang. Hidup terus berjalan kan Ma, gimana juga dengan Raka dia butuh seorang ibu yang memberikan kasih sayang," jelas Mentari lagi.


"Raka memang butuh Ibu, tapi bukan Diva!" tegas Ranti.


"Kak Radit, Tari rasa mungkin lebih baik Kakak menikah lagi, kasian Raka Kak. Kakak juga Biar ada yang ngurusin," pinta Mentari sambil mengusap air matanya.


Sementara Mentari yang menunjukkan tangan Rembulan yang mulai bergerak kepada Radit, Mentari menaikkan sebelah alis matanya dan memberi kode kepada Radit. Mentari pernah membaca artikel dan disana tertulis jika seseorang yang koma, itu dapat merespon orang yang berbicara kepadanya. Dan Mentari tidak ingin putus asa walaupun harapan hanya sedikit saja Ia tetap berusaha, dan masalah hasilnya belakangan saja menurut Mentari.


"Cuman Kak Diva yang menurut Tari cocok buat Mamanya Raka, karena Kak Diva udah jelas sayang sama kakak pasti dia juga bisa nerima Raka," ada Mentari lagi.


Semua mata menatap Radit dengan penuh tanya dan menantikan apa yang akan dikatakan oleh Radit.


"Sepertinya kamu benar Tari, Mau sampai kapan kakak begini terus. Raka juga butuh Ibu," jawab Radit dengan perasaan bersedih.


"Radit, apa kamu juga sudah gila!" kali ini Nina yang ikut berbicara, Ia sangat kesal kepada apa yang sudah dikatakan oleh Radit yang setuju saja dengan apa yang diusulkan oleh Mentari, "Diva yang bikin Rembulan seperti ini, dan kamu ingin menjadikan dia pengganti Rembulan?!" Nina menggelengkan kepalanya dan tidak habis pikir dengan apa yang diusulkan oleh Mentari kepada Radit, sedangkan Radit terlihat menerima saja apa yang dikatakan oleh Mentari.


"Mau gimana lagi Ma, Rembulan juga nggak bangun-bangun. Radit juga harus menjalankan hidup Radit bersama dengan Raka, Kalaupun kita terus menunggu Rembulan di sini sampai kapan Ma?" tanya Radit dengan penuh keyakinan.


"Radit, baru satu minggu Rembulan Di Sini. Tapi kamu sudah mengatakan itu!" timpal Ranti juga.


"Mama jangan gitu dong, Tari tahu Kakak Ulan itu anak mama. Tapi Mama juga harus mikirin perasaan kak Radit, Kak Radit dan Raka butuh seseorang yang mengurus mereka," kata Mentari lagi seolah berpihak kepada Radit.


"Kamu bilang kamu cinta kepada Rembulan, tapi baru sampai di sini kamu sudah ingin menikah lagi." Ranti menatap Radit dengan tajam, "Mama kecewa sama kamu Radit, ternyata kamu tidak benar-benar mencintai anak Mama Rembulan!" kata Ranti lagi sambil menangis.


"Kak Wulan, Maaf ya. Walaupun keluarga nggak setuju sama usul Mentari dan Kak Radit, tapi ini harus dilakukan. Kasihan Kak Radit dan Raka," Tari menggenggam erat tangan Rembulan.


Radit bangun dari duduknya dan ia mendekati ranjang Rembulan, sedetik kemudian Radit duduk di sisi ranjang. Sebelah tangan Radit memegang tangan Rembulan, dan mengecup kening istrinya dengan penuh kehangatan.


"Umi, Abi sayang sama umi," kata Radit dengan wajah tertunduk dan meneteskan air mata, "Tapi aku butuh seseorang, Raka butuh seorang ibu. Kamu masih di sini dan tidak ingin bangun, aku minta maaf aku harus menikah lagi demi Raka dan juga untuk diriku," kata Radit dengan wajah yang bersedih. Radit terdiam dan menatap wajah Rembulan, Iya hanya berdoa sambil menunduk semoga Rembulan segera membuka matanya, "Umi kayaknya betah banget ya di sini, tidak apa-apa Abi berdoa semoga suatu hari nanti Umi segera membuka mata. Dan kalaupun nanti Umi membuka mata di saat Abi sudah menikah lagi, tidak akan terlalu menyakitkan karena Abi sudah pernah mengatakan ini kepada Umi."


"Radit kamu sudah gila, kamu sudah tidak waras ya!" geram Nina juga, "Kalau masalah Raka biar Mama yang mengurus," kesal Nina.


"Maaf Ma, keputusan Radit udah bulat akan menikah lagi."