Mentari

Mentari
kebenaran mengejutkan



Awan benar-benar mengizinkan Mentari ke Bali. Bahkan semua fasilitas yang diperlukan Mentari pun ia siapkan. Eh, ralat. Indra yang menyiapkan, tentunya dengan bantuan orang-orang di bawah perintahnya. Awan sangat menyayangkan kesibukannya seminggu ini sehingga tidak bisa ikut ke Bali bersama Mentari. Jangan lupakan Bodyguard yang sudah Awan siapkan untuk menjaga Mentari dari jauh. Bukan karena Angga, tapi dia lebih khawatir akan ancaman Rayan.


"Sudah semua kan?"


"Sudah", Mentari senang sekali Awan masih menyempatkan diri mengantarnya ke Bandara.


"Hati-hati ya disana. Jaga diri baik-baik". Awan mengelus pipi Mentari.


"Ya elah lebay amat sih Om. Kayak ABG aja", Angga mencibir.


Awan tak terima perkataan Angga. "Hey bocah! Suka-suka gue ya gue mau ngapain. Bukan urusan lo!"


"Tapi gue muak lihatin lo", Angga memutar bola matanya malas.


"Nggak usah dilihatin kalo lo muak"


"Gue punya mata, dan mata gue masih normal. Jadi bohong kalau gue nggak lihat adegan sok romantis lo itu. Auw!", Angga memekik saat perutnya dicubit oleh Nadia, pacar Angga yang paling bertahan lama setelah Mentari. Entah karena cocok atau emang dia udah bosen jadi playboy, sampai Angga bisa bertahan sebulan lebih dengan pacarnya itu.


"Bilang aja lo iri", sarkas Awan. Hampir saja Awan bicara kalau Angga itu cemburu, tapi ia berpikir lagi bagaimana perasaan pacar Angga jika sampai kalimat itu keluar dari mulutnya.


"Udah... Sejak kapan kalian jadi suka adu mulut gini sih?", Mentari mengentikan aksi saling serang kata-kata antara Awan dan Angga.


"Dasar perjaka tua!", Angga mencibir.


"Gue bukan perjaka ya asal lo tau"


"Kasihan sekali Mentari dapet bekas", Angga masih kuat berdebat. "Aduh... Sakit Nad", sekali lagi pacarnya mencubit perutnya. Kali ini lebih keras lantaran pacarnya itu tidak bisa diperingatkan.


"Eh lo, awas lo ya", Awan mendekat ke arah Angga namun di cegah oleh Mentari.


"Udah Om....", Mentari kesal. Malu juga dilihatin banyak orang." Lo juga Ngga, sejak kapan sih lo seneng ngajak om Awan ribut?"


"Sejak gue tahu kalau dia temen bang Romy"


"Bang Romy siapa?", Mentari bingung, apa hubungannya dengan bang Romy yang namanya baru ia dengar.


"Bang Romy kakak gue yang punya apartemen yang gue tinggalin. Yang lagi ngelanjutin Study lanjutan di luar"


"Oh ya?", Mentari terkejut. Ternyata dunia memang sempit. Bahkan yang lain juga ikut melongo kaget


"Dan sialnya bukan cuma temen, tapi mereka sahabatan. Sama itu juga tuh kak Indra", Angga menunjuk Indra yang duduk malas di kursi tunggu.


"Lo panggil Indra Kak dan panggil gue Om?", Awan tak terima. "Sini lo!", Awan langsung memiting Angga yang memang lebih pendek darinya.


"Beraninya sama anak kecil lo", Angga berteriak sambil meronta berusaha melepaskan lengan Awan.


"Lo nggak inget? Siapa yang suka kasih duit lo pas lo mau beli mainan dan nggak di bolehin abang lo? Siapa juga yang belain lo pas diomelin sama abang lo hah?"


"Beraninya lo mau ngerebut cewek gue", Awan melepas cengkeramannya.


"Lagian lo percaya aja gue ancem begitu", jawab Angga cuek sambil merapikan pakaiannya yang berantakan akibat Awan.


"Lo nggak tau aja gimana rasanya cewek lo di rebut orang"


"Gue udah tau rasanya. Dan yang ngerebut cewek gue itu lo sendiri kalau lo lupa"


"Berarti lo kalah pesona dari gue boy", Awan menepuk pundak Angga. Lebih kelihatan bersahabat


" Ntar dulu. Ini maksudnya gimana sih?", Mentari masih bingung sambil garuk-garuk kepala.


" Beberapa hari yang lalu Romy pulang dan ngajakin ketemuan. Nggak taunya bawa anak cengeng ini", celetuk Indra mendekati mereka.


"Gue udah nggak cengeng", sanggah Angga.


"Halah", Indra mencibir. "Ayo balik. Sebentar lagi jadwal rapat", Indra beralih ke Awan.


"Ya udah hati-hati ya di sana. Sering kasih kabar. Aku pulang dulu",Awan pamit dengan lembut kepada Mentari.


"Hei bocah. Awas kalau lo nggak jagain Mentari",Awan mengancam Angga.


"Iye... Dasar bucin", Angga mengumpati sahabat kakaknya itu. Ya, Awan adalah orang yang paling membela Angga saat ia dimarahi kakaknya ketika Angga melakukan kesalahan. Itu terjadi saat mereka masih sama-sama kecil. Awan SMA dan Angga belum bersekolah. Angga selalu menjadi adik kesayangan bagi Romy, Indra dan Awan waktu itu. Angga yang cengeng dan lucu saat dijahili oleh ketiganya.


"Lo harus cerita sama gue Ngga",Mentari berkata pada Angga.


"Lo penasaran ya?',Angga meledek.


"Nggak cuma Mentari, tapi kita semua penasaran", Meli ikut berbicara.


"Okelah gue akan cerita"


Angga bercerita panjang lebar mengenai pertemuannya dengan Awan dan Indra saat diajak hang out kakaknya yang baru pulang dari pendidikan. Saat itu semua shock kecuali Romy tentunya. Hingga terbukalah satu kebenaran yang mengejutkan. Saat itulah Awan dan Angga mulai sering terlibat cek cok karena Angga sengaja menakutinya dengan cara dia akan merebut Mentari. Itulah mengapa Awan masih saja khawatir dengan Angga yang menurutnya menang muda.


"Kok lo nggak jeles sih Nad?", Meli berbicara pada adik kelasnya itu. "Dari yang kita denger tadi, nggak mungkin kan lo nggak tahu kalau mereka pernah pacaran". Pesawat sudah lepas landas. Mereka duduk bersebelahan.


"Gue tau kali kak. Lo lupa kita satu sekolah? Mana mungkin gue nggak tahu mereka pacaran"


"Lo nggak berniat jahat sama Mentari kan?", Meli khawatir Nadia bertindak nekat karena cemburu.


" Gue nggak sejahat itu kali", Nadia malah tertawa."Gue udah tau dari Awal. Bahkan Angga sendiri yang ngomong kalau dia belum lupa sama kak Mentari. Tapi tekat gue buat Angga berhenti jadi playboy udah bulat"


"Wow, gue excited banget loh dengernya", Meli melongo takjub dengan adik kelasnya itu. Sebenarnya Meli sengaja bertukar tempat yang awalnya mereka bersama pasangan masing-masing. Angga dengan Nadia dan Meli dengan Ardi. Karena Meli sangat penasaran dengan Nadia dan takut terjadi apa-apa dengan Mentari, jadilah ia ingin mengintrogasi Nadia.