Mentari

Mentari
Episode 186



"CK...." Radit kesal pada Arka.


"Tari kamu ikut juga yuk, sekalian perawatan biar kinclong," kata Nina, "Ini salon terbaru Tante, baru launching. Kamu juga harus ikut kita nyalon bareng," kata Nina lagi.


"Tari setuju Tante," Mentari sangat bersemangat ketika ada yang mengajaknya ke salon, ia juga butuh sedikit kesegaran. Kemudian ia menatap Arka, "Kak Tari ke salon ya nitip baby twins, bye sayang," Mentari langsung ikut dengan yang lainnya dan mereka bergegas pergi.


"Sayang," panggil Arka.


"Enggak lama kok Kak, cuman beberapa jam aja," jawab Mentari santai lalu mereka benar-benar pergi.


"Mmmmfffffpp.....malang sekali nasib mu bro!" kata Radit yang kini mengejek Arka, seperti tadi Arka yang mengejeknya.


"Kampret lu!" geram Arka.


"Tenang kita menderita bareng!" Radit tersenyum paling tidak ia tidak menderita sendiri.


"Sialan lu menderita aja ngajak-ngajak!" geram Arka.


"Gue enggak ngajak! Gue emang menderita. Tapi elu sangat menderita!" tegas Radit.


Arka langsung melihat Radit, karena ia belum mengerti dengan maksud Radit, "Maksud Lo?" tanya Arka.


"Caelah, elu dua baby. Nah gue, satu. Mampus lu!" jelas Radit.


Arka menggaruk kepalanya, ia baru sadar akan hal itu. Dan wajahnya mendadak tidak karuan, "Terus gimana dong?" tanya Arka dengan bodohnya.


"Ya enggak gimana-gimana, selamat menderita!" jawab Radit mengejek.


"Aduh!" Arka duduk di sofa, ia mengacak rambut nya habis-habisan. Kemudian Arka duduk di sofa, seketika otaknya kembali bekerja dengan baik.


"Kenapa lu? Dah enggak waras?!" tanya Radit yang bingung melihat exspresi Arka.


"Gue mau ngajak Dimas menderita bareng kita, enak aja dia santai-santai aja," kata Arka sambil mulai mencari nama Dimas pada ponselnya, tapi tidak terlalu sulit untuk mencari nomer Dimas. Sebab jumlah kontak pada ponsel Arka kurang dari dua puluh nama saja, sebab Arka memang hanya menyimpan nomor orang terdekat nya. Jika yang lainnya Arka akan memberikan nomer Dimas saja.


"Otak licit lu emang mantap!" Radit sangat setuju dengan ide Arka, karena Dimas pun harus merasakan apa yang mereka rasakan.


Dreet.


Dimas yang tengah minum kopi dengan santai di rumah, tidak perduli dengan ponsel nya. Karena menurut Dimas waktu istirahat nya sangat berharga, jadi tidak ada yang boleh mengusiknya.


Arka yang berada di seberang sana merasa kesal, kemudian ia mengirim chatting.


[Dimas, cepat ke sini. Ada yang harus kita selesaikan, penting. Tentang Lala,] bos Arka.


Pesan terkirim, dan ponsel Dimas berbunyi.


Ting.


Dimas mengambil ponselnya dan ia terkejut melihat chat Arka yang menyebutkan nama Lala, Dimas kini sudah tidak seperti dulu. Jika dulu ia sangat cuek dan kasar pada Lala namun kini Sudah sangat berbeda, hingga setengah Lala menghilang dan kembali ia temukan dalam keadaan yang sangat menyakiti.


Dimas cepat-cepat bergegas menuju rumah Arka, bahkan ia terlihat sangat buru-buru sekali. Sampai di rumah Mama Ranti pun Dimas masih saja sama, ia cepat-cepat masuk dan mencari Arka. Namun matanya malah melihat dua baby twins, satu yang tengah di gendong Arka dan satu lagi berbaring di kasur bulu yang sangat tebal sekali.


Kemudian Dimas melihat Radit juga yang tengah bergoyang-goyang, karena berusaha menidurkan baby Raka. Seketika Dimas mengerti jika ia dibohongi, Dimas perlahan berbalik dan ingin berlari.


Dimas berbalik dengan ragu, ia melihat Arka dan Radit tengah menatap dirinya. Kedua pria itu kini berada di ruang keluarga dan menjaga bayi bersama-sama.


"Apa bos tadi berbohong?!" tanya Dimas to the point.


Arka mengangkat kedua alis matanya, "Kau jaga Satya, dan aku jaga Sea," titah Arka.


"Apa?" Dimas shock dengan perintah Arka, ia tidak pernah bermimpi untuk menjadi baby sitter di saat melajang maupun sudah menikah nanti. Tapi kini Arka malah memintanya menjaga bayi, "Bos saya tidak pandai mengasuh bayi," kata Dimas yang masih berusaha mengelak.


"Justru itu, kau harus belajar. Nanti kalau kau sudah punya bayi tidak sulit lagi, itung-itung magang lah," jelas Arka santai.


"Magang?" Dimas masih tidak ingin mengerjakan apa yang di katakan oleh Arka, karena Dimas memang tidak mengerti dengan masalah mengurus bayi.


"Cepat! Kalau tidak kau tidak akan ku bantu lagi dalam urusan Lala!"


"Bos ngancam?" tanya Dimas.


"Tidak. Hanya peringatan!" jawab Arka.


"CK," Dimas berdecak kesal sambil menggaruk kepalanya, "Sama aja," gumam Dimas.


"Cepat!" kata Arka lagi.


Dengan terpaksa Dimas perlahan mengangkat baby Satya, dan berusaha untuk menidurkan.


"Ussss......." Dimas tidak tahu harus mengatakan apa selain kata usss.


"Apa nya yang usss. Kamu pikir anak saya ayam!" kesal Arka.


"Hehehe....." Dimas melihat Arka, "Terus gimana dong bos?" tanya Dimas.


"Kamu letakan lagi, terus kamu ganti popok nya," kata Arka.


"Ganti popok?" tanya Dimas shock, "Tapi bos, saya nikah aja belom. Apa lagi punya anak, kok udah gantiin popok aja?" kata Dimas yang mulai risih dengan perintah Arka.


"Magang! Nanti udah punya anak sendiri udah pintar!" jawab Arka.


Dimas tidak lagi membantah, tanpaknya seperti apa pun alasannya ia tetap lah kalah bila berdebat dengan Arka. Ia mulai meletakan Satya, dan mulai membuka popok Satya. Dimas sangat jauh dari Satya, karena ia takut bila benda keramat Satya nanti mencuci wajahnya yang tampan itu.


"Gimana kamu masangnya, kalau jauh begitu!" kata Radit yang kesal, karena jujur saja Radit tengah berdoa semoga Satya menyembur wajah Dimas dengan air ajaibnya.


"Iya....iya," Dimas merasa aman dan Satya pun tidak menunjukan akan mengeluarkan air ajaibnya, Dimas tersenyum dan mulai memasangkan popok. Bentuk nya jangan di tanya, karena kacau sekali. Tapi tidak apa karena masih belajar, "Mulus, sukses gua," kata Dimas dengan bangga.


Arka tampak tidak suka dengan kesuksesan Dimas dalam mengganti popok Satya, hingga wajah keduanya terlihat kesal.


"Udah pakein celananya," kata Arka ketus.


"A......Satya pinter, ponakan Om," Dimas tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Arka, karena ia masih terlalu bangga dengan hasil kerjanya. Lagi pula ini untuk yang pertama kalinya dan tentunya menjadi suatu kebanggaan. Namun tiba-tiba terdengar suara kentut, dengan bunyi yang sangat besar. Dan bukan hanya angin yang keluar tapi ada sebuah benda berwarna kuning, walaupun kuning tapi bukan emas tentunya.


Arka dan Radit tentu saja langsung melihat Dimas dan ternyata apa yang di dapatkan oleh Dimas, lebih mengerikan dari doa Arka dan Radit.


"Satya," kata Dimas yang ingin menangis, karena popok yang di pasang oleh Dimas miring akhirnya benda kuning itu mengenai tangannya. Bahkan sampai mengenai kemejanya juga.