
Handoko pun pulang dengan rasa kecewa, karena ternyata kini ia tahu biang masalah semua yang terjadi adalah karena Diva putrinya sendiri. Namun tetap saja ia tidak tahu permasalahan yang lebih jelasnya lagi, karena Arka tidak menjelaskannya secara detail. Perasaan marah kini ia tahan dengan mengepalkan tangannya, hingga ia masuk kedalam mobilnya dan sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Handoko mulai mengeluarkan ponselnya dan menghubungi putrinya, setelah mengetahui dimana keberadaan putrinya kini ia langsung menuju ke sana. Sampai akhirnya ia sampai di sebuah rumah yang cukup besar, Handoko tidak tahu itu rumah siapa tetapi itulah alamat yang diberikan oleh putrinya.
Tok tok tok.
Handoko mengetuk pintu dan tidak lama kemudian pintu terbuka, dan yang membuka adalah Diva sendiri.
"Masuk Pa," kata Diva mempersilahkan Papanya untuk masuk.
Handoko tidak langsung masuk ia malah melayangkan tangannya ke wajah putrinya.
Plak!
Wajah Diva terbawa ke kanan, dan ia langsung memegang wajahnya yang terasa cukup sakit. Diva perlahan menatap Handoko dengan penuh tanya, akibat tidak merasa bersalah sama sekali Diva mulai bertanya.
"Pa, kenapa dengan Diva?" katanya Diva dengan geram bercampur kesal, tanpa basa-basi sedikitpun sang Papa langsung melayangkan tangan di wajahnya dengan begitu keras.
Handoko masuk dengan perlahan, "Apa yang sudah kamu lakukan, kepada keluarga Wijaya?!" tanya Handoko to the point, tidak ada kata basa-basi lagi yang keluar dari mulutnya. Yang ada Handoko hanya diselimuti penasaran sebelum Diva menjawab dengan pasti.
Deg.
Diva sangat takut dengan pertanyaan Handoko, "Memangnya apa yang Diva lakukan Pa?" tanya Diva balik karena ia takut sekali bila sang Papa tahu tentang apa yang sudah ia lakukan.
"Jangan bertanya kembali, Papa bertanya padamu! Jawab dengan baik!" sergah Handoko.
Diva hanya diam sambil tertunduk, tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Jawab!" bentak Handoko.
"Diva nggak apa-apa in kok Pa, Diva cuman kasih sedikit pelajaran sama Rembulan. Papa tahu kan selama Rembulan datang, pertunangan Diva batal dan yang lebih menyakitkan keluarga besar semua menyurutkan Diva. Mulai dari teman-teman Diva sampai orang yang tahu tentang Diva? Diva malu," jelas Diva.
Handoko menatap anaknya, "Memangnya Apa yang kau lakukan, Arka marah besar dan sekarang perusahaan Papa terancam bangkrut! bahkan saham Arka juga sudah ia tarik habis dari perusahaan kita," kata Handoko.
Diva terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh sang papa, bahkan Diva tidak menyangka apa yang ia lakukan ternyata berdampak buruk bagi perusahaan Handoko.
"Bangkrut Pa?" tanya di terkejut.
"Iya, maka dari itu pikirkan dulu sebelum bertindak pakai otak!" geram Handoko.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu, Diva dan Handoko langsung melihat arah pintu yang sudah tertutup. Dengan perlahan Diva langsung membuka pintu dan matanya melebar saat melihat ada tiga polisi yang berdiri di hadapannya. Diva bingung dan menatap polisi tersebut.
"Kami membawa surat penangkapan untuk saudari Diva," polisi tersebut memberikan sebuah amplop kepada Handoko.
Handoko membuka amplop tersebut dan membaca suratnya. Mata Handoko melebar menatap anaknya, "Kenapa kamu senekat ini Diva?" tanya Handoko.
"Enggak benar Pak. Siapa yang laporin saya?" Pa masih mencoba untuk menghilang, karena setahunnya Rembulan berada di rumah sakit sedang,.
"Saya!" terdengar suara bariton Arka, Ia memang meminta anak buahnya untuk mengikuti kemanapun Handoko pergi. Karena ia yakin sejauh manapun Diva bersembunyi, pasti Handoko akan tahu. Hingga benar akhirnya mereka menemukan Diva di sana.
Diva mundur selangkah ia menggelengkan kepalanya, "Ini enggak benar, dari mana kamu tahu aku yang melakukan?" tanya Diva sambil Ia juga berusaha mengelak semuanya, Diva tentu saja tidak ingin berurusan dengan polisi yang nantinya akan menjerumuskannya ke dalam jeruji. Jadi bagaimanapun caranya tentu saja Diva ingin lolos dari semua perbuatan yang sudah ia lakukan.
"Kau masih ingin berdalih?" tanya Arka sambil mengangkat sebelah alis matanya.
"Aku tidak berdalih, aku tidak salah Jadi bagaimana bisa aku mau ikut ke kantor polisi. Apa buktinya kalau aku yang melakukan semuanya, lagipula Rembulan sedang berada di rumah sakit!" kata Diva lagi dengan tubuh yang mulai bergetar, ditambah lagi keringat dingin yang mulai membanjiri dirinya. Cuaca yang dingin membuat orang ingin berada di bawah selimut tapi tidak untuk Diva, Diva merasa cuaca hari ini sangat panas dengan segala rasa cemas yang ada di hatinya.
"Rembulan?" katanya Arka balik, "Kau tidak tahu apa-apa, tapi kau menyebut nama Rembulan!" tanya Arka penuh intimidasi.
Rasa takut membuat Diva lupa segala sesuatunya, bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya tanpa ia pikirkan sebelumnya. Diva merutuki kebodohannya, karena sudah berbicara hal yang seharusnya tidak boleh bicarakan sebab dari tadi Ia terus saja mengelak.
"Aku tidak tahu!" kata Diva berusaha membela dirinya.
"Bawa dia Pak karena dia Rembulan sekarang berada di rumah sakit, dan dia pun sudah mencoba menghilangkan nyawa Rembulan. Dengan menelantarkannya di tengah hutan," pinta Arka kepada polisi yang ia bawah.
"Sebaiknya Ibu Diva ikut kami untuk penyelidikan, karena apa yang Ibu lakukan sudah menyangkut kriminal!" tegas seorang polisi.
"Pa Diva gak mau dipenjara, tolong di Papa!!!" pinta Diva dengan rasa takut, karena polisi mulai menarik yang pergi dan memasukkannya ke dalam mobil polisi.
"Tuan Arka saya mohon, Saya berjanji ini tidak akan terulang lagi tapi untuk kali ini tolong maafkan anak saya," pinta Handoko.
Arga mengangkat alis matanya, "Tadi saat ke kantorku kau angkuh pada ku? Dan sekarang Kau memohon padaku? Kau masih waras?" tanya Arka dengan remeh.
"Tuan Arka kumohon kasihan anakku, dia begini karena tersakiti. Kan kalian tahu dia korban di sini. Jadi aku mohon kemurahan hatimu, tolong lepaskan anakku," pinta Handoko lagi.
"Sama saja posisi kita tuan Handoko, kau merasa anakmu sebagai korban. Sama halnya dengan korban dari Diva, dia Rembulan. Kakak iparku yang tengah terbaring, di rumah sakit. Anaknya terlantar karena tidak bisa dipeluk oleh ibunya, keluarga kami semua bersedih karena salah satu anggota dari keluarga kami sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kalau kau menganggap anakmu korban anakmu hanya satu yang menjadi korban, tapi kami satu keluarga yang ikut korban, terutama anak yang dilahirkan Rembulan!" tegas Arka agar Handoko mengerti, jika sakit yang dirasakan Handoko tidaklah seberapa dibandingkan dengan sakit bayi yang belum bisa memeluk ibunya sampai saat ini. Karena keadaan sang ibu yang memprihatinkan.
*
Tolong like dan Vote ya Kakak.