Mentari

Mentari
Kejutan



Mentari dan teman-temannya telah sampai di sebuah penginapan di kawasan puncak. Lokasinya tentu saja menyenangkan. Viewnya indah,menampakan hamparan kebun teh khas dataran tinggi. Udara yang dingin tak menyurutkan semangat Mentari dan teman-temannya. Justru mereka sangat antusias untuk menjelajah lebih jauh alam indah itu.


"Aaaaaa....seger banget...",Meli membentangkan tangannya menikmati sejuknya udara pegunungan.


"Lumayan bisa merefresh otak yang mulai lowbat", celetuk Arya dari belakangnya. Mereka baru saja turun dari bis.


"Kok kamu nggak pake baju yang kemarin sih ay?", sebenarnya dari pertama bertemu tadi Angga ingin menanyakan. Namun, karena insiden anak-anak julid tadi,dia kelupaan bertanya.


"Nanti ya... Tenang aja, aku bawa kok"


"Ya udah nggak apa-apa,kamu pakai apa aja cantik kok. Tapi, aku akan seneng banget kalau kamu pakai baju pemberian aku"


"Pasti aku pakai Ngga", Mentari tersenyum.


Mentari mendapatkan sebuah kamar dengan ranjang twin bed yang akan ia tempati bersama Meli. Sebenarnya pembagian kamar itu awalnya berdasarkan urutan absen, beruntungnya absen Meli dan Mentari berurutan, jadilah mereka satu kamar.


"Akhirnya ketemu kasur", celoteh Meli merebahkan tubuhnya disalah satu ranjang.


"Lo kesini mau healing apa mau tidur?"


"Tapi suasananya enak banget buat tidur",katanya sambil memeluk mesra guling empuk.


"Dasar... Tukang tidur!!"


"Kayak lo nggak aja", cibir Meli.


Mentari tak manyahut lagi,malah fokus pada gadgetnya. ia ingin menghubungi Awan setelah ia membaca pesan dari selingkuhannya itu.


"Halo baby,kamu udah sampai? aku lihat rombongan sekolah kamu udah ada yang dateng tadi", kata Awan setelah dering ketiga dipanggilan Mentari.


"Iya, ini udah di kamar, aku juga udah sampai"


"Kamu di kamar mana? aku pengen ketemu kamu"


"Jangan disinilah, nggak enak sama yang lain"


"Ya udah kamu aja yang ke kamarku. Kamarku terbuka lebar untukmu baby"


"Itu maunya kamu", cibir Mentari." Ntar aja ya abis makan malem, aku sore masih ada kegiatan sebentar. Terus sekarang mau istirahat dulu"


"Padahal aku udah kangen banget sama kamu"


"Nanti malem tuh nggak lama loh",Mentari tertawa.


"Ya udah terserah kamu aja,yang penting ketemu",Awan pasrah.


"Udah dulu ya,sampai ketemu nanti", Mentari tersenyum sendiri,lantas mematikan sambungan teleponnya.


Senyum Mentari pudar seketika saat ia mendapati tatapan tajam Meli. Bahkan gadis itu sudah berdiri disamping Mentari dengan melipat tangan di depan dada.


"Apaan sih Mel?", Mentari bersikap sok polos.


"Janjian sama siapa lo?", Meli nyolot.


"Ng...nggak janjian sama siapa-siapa"


"Bohong kan lo?". Mentari sampai terhenyak mendengar teriakan Meli.


"Jangan bilang lo janjian sama awan mendung"


"Ng...nggaklah... ma..mana mungkin dia disini?Jangan ngaco lo?", Mentari gusar.


"Sejak kapan lo berhubungan lagi sama dia?",Meli kekeh mengintrogasi. Dia sama sekali tak mempercayai jawaban Mentari.


"Apaan sih Mel? Dibilang nggak ya nggak"


"Pantes aja style lo hari ini keren, gue kira beneran dari Angga. Nggak tahunya? Parah lo Tar!", Meli membelakangi Mentari menuju jendela yang menampik pemandangan bukit yang indah.Dia kecewa dengan Mentari.


Mentari tahu temannya marah. Dia beranjak menghampiri Meli.


"Sorry Mel, gue nggak cerita sama lo. Nggak ada yang tahu selain gue sama om Awan dan om Indra",ia merangkul bahu sahabatnya.


"Gue nggak marah gara-gara lo nggak cerita. Tapi gue nggak habis pikir aja sama lo Tar, lo bisa senekat ini?"


"Lo kan juga selingkuh"


"Hey! Selingkuh gue beda level sama lo",Meli membalik badan ke arah Mentari. "Lo itu sama aja jadi simpenan tahu? Apa lo mau dibilang pelakor?"


Mentari menggeleng."Om Awan yang minta Mel"


"Dan lo mau-mau aja?". Mentari mengangguk lesu."Lo bodoh Tar!"


"Gue harus gimana Mel?" Mentari memelas


Meli menghela napas,"Semua udah terlanjur terjadi. Saat ini yang mesti lo lakuin cuma nutupin hubungan konyol lo dengan Awan kelabu itu dari Angga. Jujur, gue kasihan sama Angga. Dia bucin banget sama lo Tar,padahal lo tahu kan segimana playboynya dia? Lo nggak bisa apa lihat ketulusan dia?"


"What? Mutusin Angga?". Dan Mentari mengangguk." Kenapa sih lo bisa sebodoh ini sama cinta?"


"Kalau lo mutusin Angga buat pertahanin Awan, lo salah Tar, Awan itu udah punya istri. Ingat itu!", imbuhnya lagi.


"Tapi om Awan bilang mau ceraiin istrinya secepatnya, dia juga janji nggak bakalan nyentuh istrinya"


"Lo percaya?"


Mentari diam saja. Ada benarnya juga perkataan Meli.


"Kalau sampai hubungan kalian kebongkar, siapa yang rugi? Awan? Jelas nggak. Dan lo? Tentu saja selain dapet rasa sakit,lo juga yang bakal dicap jelek", Meli melihat reaksi Mentari yang diam dalam kebingungan." Dan parahnya lagi,lo bakalan kehilangan Angga"


Mentari masih diam, mencerna segala ucapan Meli. Semua yang dikatakan sahabatnya itu benar,tapi Mentari belum memutuskan langkah apa yang harus ia ambil.


***


Menjelang sore pukul 14.00, Mentari dan teman-temannya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh gurunya. Kegiatan berupa game- game seru yang bersifat mendidik,mengasah otak,melatih ketrampilan dan juga kemampuan bekerjasama. Semua siswa antusias berpartisipasi didalamnya. Meskipun menguras cukup energi,tapi semua tampak gembira.


Kegiatan sampai menjelang senja itu dilanjutkan makan malam bersama setelah membersihkan diri. Seperti sambutan dan ramah tamah yang cukup seru, yang tentunya berbeda dengan kegiatan formal disekolah.


Awan sendiri sudah ribut sejak satu jam yang lalu, menghujani ponsel Mentari dengan puluhan panggilan dan pesan yang tak dapat direspon Mentari karena kegiatannya. Kini, meskipun acara telah usai,Mentari belum berani beranjak menemui Awan seperti keinginan pria itu,karena para guru dan teman-temannya juga masih stay disana.


"Ponsel kamu bunyi terus ay dari tadi", Angga memperingatkan.


"I...iya,biarin aja. Ini abang yang nanyain aku lagi di Bogor sebelah mana. Kan abangku tinggal di Bogor Ngga",kilah Mentari.


Angga mengangguk. Mentari melirik Meli yang sedang menatapnya penuh kecewa sambil geleng-geleng kepala. Gadis itu duduk didepan Mentari. Tentu saja Mentari gugup.


"Em...Aku ke toilet dulu ya Ngga",pamit Mentari dengan gusar.


"Oke",Angga membiarkan kekasihnya berlalu dari hadapannya diiringi pengawasan matanya.


Mentari berjalan tergesa dan waspada agar tidak diketahui oleh orang yang mengenalnya. Dia juga sungguh ingin bertemu dengan Awan. Apalagi pria itu mengatakan akan memberikanya kejutan.


Setelah ia temukan resto outdoor yang sepertinya untuk umum,ia edarkan pandangan untuk menemukan sang Awan. Resto itu cukup ramai jadi butuh waktu Mentari untuk mencarinya.


Mentari begitu terkejut ketika netranya menangkap kekasihnya disana. Rasa senang itu luluh lantak saat ia mengenali wanita yang sedang dipeluk kekasihnya. Ya,dia Lusi,istri Awan.


"Apa ini kejutannya?",lirihnya bertanya pada diri sendiri.Sekuat tenaga ia tahan air matanya agar tak mempermalukan di tempat umum.


Mentari tersadar dari sedihnya,ia dapati Awan sedang menggendong Lusi secara bridal style. Segara Mentari mengikuti Awan diam-diam sampai mereka hilang di balik pintu sebuah kamar. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh seketika mendapati kenyataan di depan matanya.


Kenapa harus dengan cara seperti ini kamu beri tahu aku kalau kamu akhirnya milih dia om? Batinnya pilu bersama air mata yang terus mengalir.


Mentari berbalik, berlari disepanjang lorong penginapan Awan yang memang berbeda dengan gedung penginapannya. Ia tak fokus sampai menabrak beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya. Namun Bukannya ia jatuh ke lantai tapi malah jatuh kepelukan seseorang.


"Maaf", ujar Mentari merasa bersalah. ia menundukkan wajahnya agar tak terlihat air matanya.Tapi, terlambat seseorang itu sudah melihatnya. Mentari menjauh tapi orang itu menahan lengan Mentari.


"Lo kenapa Mentari?"


Mentari mendongak kepada orang yang baru saja memeluknya secara tak sengaja. "Om Indra!!", Mentari malah menubruk tubuh Indra dan memeluknya erat. Dia meluapkan tangisnya kepada Indra.


Indra merasa iba dengan Mentari,ia elus kepala belakang Mentari untuk memberi simpati. "Kamu kenapa?",Indra menatap arah lorong penginapan yang dilewati Mentari,ia jadi menebak sesuatu. "Apa Awan menyakitimu?"


Mentari tidak menjawab,malah menangis semakin histeris.


"Apa Awan memperkosamu?", Pertanyaan absurd Indra mengejutkan Mentari.


Mentari melepas pelukan Indra," Ih... apaan sih? Nggak jelas!". Tangisnya reda karena pertanyaan aneh dari Indra.


"Kamu dari kamar Awan kan?". Mentari mengangguk.


"Kalau kamu dari sana lalu kenapa nangis-nangis kalau tidak karena Awan mau memperkosamu?"


"Bukan Om Indra!!!", seru Mentari dengan nada tinggi.


"Lha terus apa?",Indra tahu sifat mesum Awan kepada Mentari. Dia pernah memergoki Awan dan Mentari bermesraan di kantor Awan.


Mentari kesal,dari tadi Indra ngomongnya malah ngelantur. Mana dua temannya yang tadi ngobrol dengannya malah bengong sambil memperhatikan mereka. Mentari enggan menjawab pertanyaan Indra. Dia melirik dua orang di samping Indra dengan perasaan malu .


Indra mengikuti arah lirikan Mentari. Baru sadar kalau dia bersama orang lain juga." Maaf bapak-bapak, saya jadi melupakan anda berdua", Sungguh ia merasa tak enak hati. Apalagi keduanya adalah client Awan yang tak sengaja bertemu di tempat itu.


"Oh nggak apa-apa pak Indra"


"Maaf mungkin kita bisa ngobrol lain waktu,saya harus menenangkan anak kecil ini",ujarnya sambil tertawa kecil.


Mentari melotot,tak terima dianggap anak kecil.


"Kalau anda tidak keberatan,kita bisa ngopi sambil menenangkan adik kecil ini. Bagaimana pak Indra?", Ucap salah seorang dari mereka.


Indra melihat Mentari. Sedang yang dilihat juga tampak bingung. "Oh i...iya...baiklah kalau begitu", sahut Indra pada akhirnya karena merasa sungkan menolak ajakan mereka.


Dengan berat hari Mentari mengikuti tiga orang dewasa itu, padahal sebenarnya dia ingin puas-puasin menangis di kamar saja.