
Kini Mentari dan Arka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, karena membeli beberapa keperluan istrinya. Ia mulai kembali ke mobil dan memasukan barang-barang yang ia beli, namun ia tidak ikut masuk.
"Cantik kamu mau kemana?" tanya Arka yang melihat istrinya masih di luar.
"Kak Tari beli jagung yang pinggir jalan itu sebentar ya," pinta Mentari sambil menunjuk jagung bakar tersebut.
"Hati-hati," kata Arka.
Mentari pergi namun tidak lama kemudian Arka merasa tidak tenang membiarkan istrinya pergi sendiri, perlahan ia juga turun dari mobil dan melihat istrinya sudah berada di sisi jalanan. Namun tanpa di duga sebuah mobil melaju kearah Mentari.
"Mentari awas!!!" seru Arka sambil berlari.
Mentari melihat kearah mobil yang semakin mendekat padanya, tanpa sempat ia mengelak mobil itu langsung mengarah padanya.
Buuuk.
Mentari merasa melayang, seketika cairan merah yang tumpah dari tubuhnya membasahi jalanan.
"Mentari!!!" seru Arka.
Tubuh Arka bergetar saat melihat Mentari tergeletak di jalan, mobil yang menabrak Mentari seketika pergi begitu saja tanpa perduli pada korbannya.
"Mentari," Arka menggerakkan tubuh Mentari, matanya tertutup rapat dengan cairan merah yang semakin banyak.
Seketika banyak orang-orang yang langsung berkerumun, bahkan ada yang menghubungi ambulance dengan secepat mungkin.
Kini Mentari sudah di larikan ke rumah sakit, tidak ada yang bisa di lakukan Arka selain berdiri dengan kepala menunduk di depan ruangan yang tengah menangani istrinya. Perasaan Arka sakit, saat kembali mengetahui janin Mentari tidak bisa di selamatkan. Rasanya sangat sulit di percaya, beberapa menit yang lalu keduanya masih tertawa dan bercanda bersama. Namun seketika semua berganti dengan air mata.
"Arka di mana Mentari?"
Ranti yang mendapat kabar tentang kecelakaan Mentari merasa khawatir, tanpa pikir panjang ia langsung menunjuk rumah sakit. Bersama dengan Rembulan dan Radit, wajah panik tidak bisa ia tutupi.
"Di dalam Ma," jawab Arka.
Setelah mengatakan itu Arka kembali terdiam, ia mendudukkan tubuhnya di lantai dengan menopang kepalanya sendiri bersandar pada dinding. Tidak ada lagi wibawa yang selalu ia jaga selama ini, yang ada separuh napas nya sudah pergi bersama dengan Mentari yang terbujur lemah di ruang.
"Tari," tubuh Ranti bergetar saat melihat wajah putri nya yang tertutup perban, rasanya sangat sakit sekali, "Hiks..... hiks.....hiks....." Ranti tidak kuasa melihat apa yang terjadi pada Mentari, "Mentari, bangun.....hiks....hiks," bibir Mentari yang biasa nya terus komat-kamit kini mendadak diam, bibirnya yang biasanya tidak pernah berhenti membuat orang kesal kini mendadak hilang. Rasanya Ranti lebih memilih Mentari dengan segala kecerewetan nya dari pada Mentari yang terbujur tanpa bisa membuka matanya sekalipun.
"Tari bangun.....hiks.....hiks....hiks...." Rembulan juga ikut menangis, ia meremas dada yang terasa sangat menyesalkan. Rasanya masih belum percaya akan semua yang terjadi pada adik cerewet nya, bukankah tadi padi Mentari masih baik-baik saja.
Dokter tidak mengijinkan siapa pun berlama-lama di ruang Mentari, bahkan tidak boleh ada keramaian di sana. Ranti kembali keluar dan melihat anak bungsunya dari depan pintu kaca hingga ia bisa melihat Mentari di dalam sana.
"Arka," Linda dapat melihat Arka seperti gelandang yang tidak terurus, ia ikut berjongkok melihat keadaan putranya. Rasanya belum pernah ia melihat anaknya begitu hancur seperti saat ini, "Bagaimana keadaan Mentari?"
Arka melihat Maminya, ia dengan cepat memeluk Linda. Tidak ada yang bisa ia katakan selain mencari ketenangan pada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini, apa yang bisa ia katakan dengan kehancuran yang datang tiba-tiba tanpa bisa di cegah.
"Kak Arka......Kak Arka," Mentari menepuk-nepuk wajah Arka, lama sudah Mentari mencoba membangunkan Arka dari tidurnya yang terus menyebutkan namanya, "Kak bangun Kak."
Mentari masih menatap Arka dengan bingung, dengan cepat Arka memeluk Mentari dengan erat. Ia bersyukur apa yang barusan ia lihat hanya sebuah mimpi buruk dan berharap tidak menjadi nyata.
"Kakak kenapa? Kakak ketiduran ya?" tanya Mentari penasaran.
Mereka kini memang masih berada di depan sebuah pusat perbelanjaan, Mentari hanya turun sendirian saja. Sementara Arka menunggunya di mobil dan entah mengapa Arka malah tertidur dan bermimpi buruk tentang istrinya.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan?!" pertanyaan itu muncul dari mulut Arka, karena ia sangat takut kehilangan istrinya. Perlahan tangan Arka memegang perut istrinya, dimana di mimpi beberapa saat lalu janin itu tidak bisa di selamatkan.
"Kak Tari nggak apa-apa, Kakak ketiduran.....ya udah kita nggak usah ke kampus, kita pulang aja," ujar Mentari, karena ia sudah tidak tenang meninggalkan Arka sendiri nantinya.
Arka kembali menarik Mentari dan mengecup pucuk kepala istrinya, setelah di rasa cukup tenang Arka mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Minum dulu Kak, biar enakan," kata Mentari sambil memberikan sebuah minuman.
Arka mengangguk dan meneguk minuman tersebut, dan kemudian ia menarik napas dengan panjang
"Kakak takut sekali, kamu jangan jauh-jauh ya," pinta Arka.
"Iya," Mentari tersenyum, kemudian ia memeluk lengan Arka.
Arka terus mengecup pucuk kepala Mentari setelah itu ia mulai mengemudi mobilnya hingga sampai di rumah.
Mentari tidak bertanya mengapa Arka membawanya ke rumahnya, ia hanya mengikut saja. Sesaat kemudian Arka membuka pintu untuk Mentari.
Dengan senyuman yang tulus Mentari langsung turun dan memeluk lengan Arka, keduanya masuk dengan beriringan.
"Kalian dari mana?" tanya Mami Linda yang tengah melewati ruang tamu.
"Tari abis belanja Mi, Kak Arka minta di masakin sama Tari," kata Mentari.
Memang tadi saat mereka akan ke kampus Arka meminta Mentari untuk memasak untuknya, hingga mereka tadi membeli beberapa bahan makanan. Walaupun Mentari tidak pandai memasak tapi ia tetap berusaha mencoba, ia bisa minta di ajari Rembulan ataupun Mama Ranti di rumah pikir Mentari.
"Terus belanjaannya dimana?" Linda tidak melihat ada barang yang di bawa Mentari maupun Arka, hingga ia bertanya.
"Masih di mobil Mi, nanti Tari minta tolong mang Ujang aja yang bawain masuk," kata Mentari.
"O....ya udah, Mami ke depan dulu....kau nyiram tanaman," pamit Linda lalu pergi.
"Iya Mi," jawab Mentari, "Kak wajah Kakak pucat banget," Mentari memegang dahi Arka yang memang terasa hangat, "Kayaknya Kakak demam deh," Mentari kini seolah menjadi istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya.
"Mau Kakak gendong?" tanya Arka, sebab istrinya itu sangat suka sekali di gendong.
"Nggak usah, Kakak lagi sakit....yuk ke kamar biar minum obat," Mentari kembali memeluk Arka dari samping, sementara tangan Arka di pundak istri bocahnya. Dan kemudian keduanya berjalan menuju kamar.