
Dua kotak sudah di tangan Mentari dengan santainya kembali di parkiran dimana taksinya menunggu.
"Mentari, beli apa?" Tanya Rionaldo setelah memanggil nama sahabatnya itu.
Mentari menoleh dan mendapati Rionaldo yang berjalan menghampirinya.
"Rio, beli ini" ucap mentari kaget sembari mengangkat dua kotak yang dibungkus kantong plastik itu, "Kesini juga?." Sambungnya dengan pertanyaan.
"Enak tu, ini mau kemana?" Tanya Rionaldo lagi tanpa menjawab pertanyaan Mentari.
"Mau ke kantor kak Arka" jawab Mentari lagi.
"Aku antar!!"
"Eehhh jangan, sana taksi yang menunggu aku" tunjuk Mentari.
"Gak bisa, aku antar ke kantor. Kalau taksi nanti aku suruh pulang" Rionaldo tetap kekeh, "masuk dalam mobil aku bayar dulu biaya taksinya" sambungnya lalu ia pergi.
Mentari tidak enak hati tapi mau gimana lagi dia sudah dipaksa oleh Rionaldo dan Rionaldo tidak terima penolakan akhirnya dia sekarang sudah dalam mobil.
Rionaldo dalam perjalanan menghampiri taksi itu, ia tidak lupa menelfon Santi.
📞"Ke kantor Arka sekarang, Mentari ada sama saya saat ini.. konfirmasi kalau sudah di ruangan Arka" ucapnya lalu ia matikan sambungan telepon.
Setelah mematikan sambungan telefon, Rionaldo membayar ongkos taksi Mentari lalu ia kembali dimobil.
Rionaldo membawa mobilnya dengan pelan dan sengaja berlama-lama dengan sahabatnya itu. Rionaldo sengaja mengajak Mentari cerita agar tidak menyadari kalau mobil melaju dengan pelan.
"Lama gak ketemu, apa gak kangen sama sahabatmu?" tanya Rionaldo basa basi.
"Kangen lah, tapi kak Arka melarang ku untuk kelaur tanpa dia" jawab Mentari dengan jujur.
"Ini ditau kesana?" Tanya Rionaldo lagi dan Mentari menggeleng sembari senyum.
"Kejutan untuk kak Arka" jawabnya dan Rionaldo mengangguk paham.
"Memang hari ini akan ada kejutan" batin Rionaldo dengan menyunggingkan senyum jahatnya.
5 menit dalam mobil tidak terasa kantor Arka semakin dekat sedangkan Rionaldo belum mendapat pesan dari Santi.
"Santi ini gak bisa diajak kerja sama apa, masa hanya kayak gini lambat" batin Rionaldo lagi.
"Hey.. Kenapa diam?" Tanya Mentari setelah memperhatikan sahabatnya itu hanya diam sambil menyetir.
"Aa.. Gak.. Apa gak ada yang dibeli sebelum ke kantor suamimu?" Tanya Rionaldo sengaja.
"Gak ada, langsung ke kantor aja" jawab Mentari dan Rionaldo hanya mengangguk nurut.
Mobil Rionaldo sudah memasuki dalam perusahaan dan berhenti, Mentari tanpa menunggu langsung keluar dan menuju ruangan suaminya.
Mentari menekan nomor menuju ruangan suaminya itu yang diikuti oleh Rionaldo, sampai disana dengan senyum merekahnya mendorong pintu ruangan Arka tanpa salam terlebih dahulu.
"Ka..." Mentari terhenti setelah melihat wanita yang tidak lain adalah Santi sedang duduk tidak jauh dari Arka.
Dengan nada suara manjanya Santi kembali berkata, "sayang, ini udah jam makan siang. Kita ke restoran" ajak Santi lagi.
Mentari yang mendengar itu kesal, tapi untuk marah depan orang lain itu bukan cara dia. Mentari masuk dan meletakkan burger dan roti yang dia beli tepat diatas meja dengan santai dan melirik Arka sekilas lalu ia duduk.
Saat itu Rionaldo pura-pura baru mau masuk yang sudah saling memberi kode terlebih dahulu dengan Santi.
"Rupanya Santi sudah ada disini, kita mulai" batinnya.
"Oohh ada tamu?" Ucap Rionaldo setelah masuk ruangan Arka itu.
"Bukan, duduk saja dulu" jawab Arka mempersilahkan Rionaldo.
Mentari yang mendengar itu membuatnya keluar dari ruangan itu.
"Kalau bukan tamu terus dia apa dikantor ini" batin Mentari.
Mentari dengan berjalan pelan menyusuri lorong-lorong perusahaan suaminya itu dengan sesekali menyeka air matanya.
Sementara di ruangan Arka, Arka merasa aneh dengan istrinya. Awalnya melihat Mentari dengan biasa maka ia pun diam-diam tanpa menghiraukan Santi yang ada didepannya itu.
"Maaf pak Arka, saya harus susul Mentari" ujar Rionaldo minta izin.
"Gak perlu biar saya sendiri yang susul dia, dia istri saya" jawab Arka lalu menekan telepon kantor yang tersedia di mejanya itu.
"Arahkan ke ruangan tamu untuk tamu saya yang berada diruang saat ini" telepon Arka pada sekretarisnya itu.
Arka meraih jasnya dan sekertaris Arka masuk dalam ruangan bos-nya itu.
"Mari saya antar diruang tamu pak.. bu" ajak sekretaris Arka.
Santi yang mendengar itu langsung bangkit dari duduknya dengan tas yang ia sudah pegang.
"Gak perlu, terima kasih" jawab Santi dengan tatapan sinis pada sekretarisnya itu.
Berbanding terbalik dengan Rionaldo, cara main yang ia gunakan begitu mulus.
"Maaf pak tapi tidak perlu, saya harus pulang sekarang.. terima kasih tawarannya"
Santi yang sudah sampai pintu keluar dari ruangan itu, dia membuang ludah karena tidak suka mendengar ucapan Rionaldo yang sok baik itu. Dia merasa jijik mendengar penuturan lembut dari mulut Rionaldo.
Rionaldo menyadari itu, lalu ia jalan cepat melewati Santi yang berjalan pelan dan santai sambil berlenggak lenggok bagai model itu.
"Ubah caramu, kita kurang berhasil hari ini" bisik Rionaldo lalu ia pergi meninggalkan perusahaan suami sahabatnya itu.
Namun berbeda dengan Santi, ia pulang dengan penuh kemenangan dan bahagia melihat wajah santai Mentari, tapi jauh dari hatinya kalau targetnya itu sedang cemburu pada suaminya.
"Caraku memang dianggap biasa, tapi caraku selalu berhasil. Untuk apa berbuat lebih jika duduk saja sudah mendatangkan masalah" gumam Santi setelah mendengar ucapan Rionaldo itu.
Gaya jalan Santi itu mengundang perhatikan semua karyawan perusahaan, ada yang merasa jijik dengannya dan ada yang mengagumi postur tubuhnya yang langsing bak model itu.
...💛💛💛...
Kepergian Mentari dari mana kontar itu pulang di rumah sudah malam, entah dari mana sejak siang tadi tidak pulang, Arka sudah mondar-mandir dalam rumah menunggu istrinya itu.
Pintu rumah terbuka pelan dengan memasukkan kepalanya terlebih dahulu untuk mengintip dalam rumah apakah ada yang melihatnya atau tidak.
"Alhamdulillah" batin Mentari sambil mengusap dada lega.
Mentari masuk dengan kaki jinjit agar tidak ada yang mengetahuinya, menutup pintu dengan pelan.
Arka melihat semua tingkah istrinya itu lega dan lucu campur jadi satu. Perasaan khawatir berubah jadi lucu, dengan pelan Arka menghampiri Mentari yang sedang jalan menuju kamar.
"Dek, dari mana kok baru pulang?" Tanya Arka lembut.
"Dari rumah" jawab Mentari sambil jalan.
Deg (bunyi jantung Arka)
"Kenapa gak bilang, supaya perginya dengan kakak" ujar Arka lagi.
Mentari membalikkan badan melihat suaminya itu lama lalu ia berbalik badan masuk kamar.
Arka melihat itu hanya menghela napas pasrah, dia tau kalau Mentari marah karena kedatangan Santi di kantor siang tadi. Mentari kembali jalan menuju kamar dan masuk lalu ia kunci dari dalam. Sedangkan Arka tidak mengetahui hal itu, ia malah sibuk menyuruh ARTnya untuk menyiapkan semua menu makan malam kesukaan istrinya itu sebagai tebusan kesalahannya hari ini.
"Mbok, siapkan semua, saya panggil dulu Mentari" ujar Arka lalu ia jalan menuju kamar.
"Baik tuan" jawab ARTnya itu.
Arka sampai depan pintu berlebih dahulu mengetuk pintu agar istrinya tau kalau dia akan masuk lalu memengang hendel pintu dan memutar lalu ia dorong.
"Dikunci" batin Arka.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...