Mentari

Mentari
Episode 82



Sore ini lebih sibuk dari biasanya termasuk ART ikut ketar ketir dalam rumah. ART berpakaian rapih dari biasanya dengan dompet ditangannya. Suara bising dari ibu Dewi itu sampai ke penjuru rumah, ia teriak karena Arka belum memberitahu Mentari untuk siap-siap.


"Belum siap-siap lagi?" tanya ibu Dewi pada anaknya itu.


"Laki-laki cepat bu. Perempuan yang lama, belum pakai lipstik, bedak, alis dan yang lain-lain" jawab Arka yang baru selesai mandi.


"Arka, kami panggil tata rias kesini makanya cepat. Sana bangunin Mentari supaya siap-siap" perintah ibu Dewi lagi.


30 menit kemudian, semua sudah siap dan Mentari pun siap dengan gaun malamnya yang begitu cocok sehingga terlihat sangat cantik. Mentari keluar dari kamarnya dengan dompet yang ia pegang begitu elegan dan berkelas.


"Waow, Adek cantik bangat" Puji Aldi.


"Iya dong" jawab Mentari dengan bangga.


Arka tertegun melihat istrinya, ia tidak menyangka dengan gaun pilihan ibunya sangat pas dibadan Mentari.


Aldi menghampiri iparnya itu, "Aku tau adikku itu cantik, tapi jangan diam gandeng sana"


Arka langsung senyum mendengar ucapan iparnya itu, "Untung kamu kakaknya" ucap Arka lalu menghampiri istrinya itu.


Mentari jalan pelan sembari mengaitkan tangannya dengan Arka dan satu tangannya memegang gaungnya. Berjalan sembari senyum menghampiri orang tua dan mertuanya yang sudah menunggu.


"Cocok gak?" tanya Mentari sambil mengedipkan matanya lalu ia senyum.


Ibu Dewi langsung senyum, "Sangat cocok, Saatnya kita pergi" Ucapnya.


"Ini mau kemana? ada pesta atau acar apa?" tanya Mentari, "Bunda, Papa dan Aldi juga disini. Mau makan malam?" tanya Mentari bertubi-tubi.


"Hmmmm, gimana kalau dijawab nanti sampai ditempat tujuan saja?" tawar Arka dan Mentari seketika menggeleng sambil mengembangkan pipinya.


"Surprise dek, jadi gak bisa diberitahu sekarang" Timpal Aldi.


"Bunda, masa tega main rahasia-rahasia an sama Mentari" Ucapnya lagi.


Ibu Anita menghela napas lalu bangkit dari tempat duduknya, lalu merapikan baju dan jilbabnya, "Sudah siap semua, ayo kita jalan" Ucap ibu Anita lalu jalan.


Mentari menoleh kearah suaminya, "Bunda cuek bangat" gumamnya.


Mereka pun menuju mobil masing-masing, termasuk Arka dan Mentari.


"Kak Arka, ini kita duduknya di belakang yang bawa mobil siapa?" tanya Mentari bingung.


"Saya nona" Jawab Asisten Brian yang baru masuk dalam mobil.


"Bapak Brian kemana saja?, sudah lama ke rumah" protes Mentari.


"Sibuk di kantor nona" Jawab Asisten Brian seadanya.


"Gak libur?" tanya Mentari lagi.


"Hari sabtu dan minggu kalau tidak ada jadwal mendadak" jawab asisten Brian lagi.


"Maksudnya kalau ada, gak istrahat?" tanya Mentari memastikan.


"Iya, bisa begitu" jawab Asisten Brian lagi.


Mentari menghela napas lalu menoleh kesamping dimana suaminya berada, "Kak Arka, sekali-kali bapak Brian liburan, kasian dia" ucap Mentari prihatin.


"Kasian kenapa, itu sudah pekerjaannya" jawab Arka.


"Belum menikah kak, kasih waktu untuk cari calon istri" Ucap Mentari, "Iya kan bapak Brian?" Sambungnya dengan pertanyaan kepada Brian itu dan Brian hanya mengangguk.


"Itu, Brian mengangguk" Ucap Mentari sambil menunjuk Asisten Brian dengan semangat lalu bertepuk tangan.


"Ehh kak Arka, ini acaranya dimana?, sepertinya ini jarang aku lewati" Tanya Mentari sambil memperhatikan jalan dan gedung-gedung diluar, "Benar, ini baru aku lewati" gumamnya


"Bapak Brian, kita kan ke acara nih, cari aja cewek disitu nanti aku bantuin, tenang bapak Brian ada Mentari" Ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan menaik turunkan alisnya.


"Brian laki-laki jadi gak perlu bantu, dia tau mana yang cocok untuk dirinya" Ucap Arka.


"Penilaian aku penting juga" jawab Mentari.


"Sudah sampai, kita turun pelan-pelan yaa" Arka mengingatkan istrinya itu.


"Iya kak" jawab Mentari.


Asisten Brian setelah berhenti dihalaman gedung itu, dengan cepat keluar untuk membukakan pintu mobil untuk bos dan istrinya. Pertama menuju pintu mobil kemudi bagian Arka lalu ia lanjut membukakan pintu untuk Mentari dan saat itu Arka sudah disamping Brian menunggu istrinya keluar.


Arka mengulurkan tangannya sebagai pegangan sang istri keluar dari mobil.


"Bunda dan ibu mana?" tanya Mentari setelah celingak-celinguk mencari keberadaan para tetua, "Apa kita yang terlambat kak?" sambungnya dengan melihat suaminya itu.


"Iya" jawab Arka, "Didalam nanti jangan jauh-jauh dengan keluarga" Arka mengingatkan istrinya itu lalu melihat kearah Brian, "Brian tolong jaga istri saya, dia lagi hamil" Ucapnya yang diangguki oleh Asisten Brian.


"Lho.. lho, kak Arka mau kemana?" tanya Mentari.


"Tidak kemana-mana, hanya khawatir kalau lengah dari pantauanku" Jelas Arka diangguki oleh Mentari.


"Kita jalan, let's go" ucap Arka sembari senyum kepada istrinya itu.


Arka jalan sambil menggandeng istrinya dengan senyum yang tidak luntur diwajahnya sejak masuk dalam gedung itu. Karyawan di perusahaannya ikut menghadiri acara itu, Mentari yang masih belum mengerti hanya senyum sekali-kali melihat Arka minta penjelasan.


Arka yang tau kebingungan istrinya itu langsung mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri yang dilapisi jilbab itu.


"Special for you" Ucapnya sembari senyum.


"Gak ada yang spesial kok, kak aku gerah lama-lama disini" Mentari mulai mengipas, untungnya ia bawa kipas manual.


"Duduk dulu kalau begitu" ucap Arka sambil mengarahkan istrinya ke sebuah kursi yang tidak jauh dari orang tua mereka.


"Terus aku disini sendiri?" tanya Mentari setelah ia duduk.


"Gak, ada asisten Brian yang menemanimu disini" jawab Arka dan asisten Brian karena sejak awal sudah mengikuti bos dan istrinya itu tanpa menunggu waktu lama sudah duduk disalah satu kursi yang berjarak satu kursi dengan Mentari.


"Iya kak" jawab Mentari sembari senyum kepada suaminya itu.


Arka pergi menemui teman-temannya itu sekaligus kolega bisnisnya. Arka larut dalam cerita dengan teman-temannya, sehingga lupa dengan sang istri yang sudah pegal karena duduk lama.


"Bapak Brian, kok kak Arka lama" Ucap Mentari.


Brian yang sudah paham dengan bosnya itu, jika sudah bahas pekerjaan kadang lupa dengan yang lain.


"Pasti pak Arka tidak lama lagi akan ke sini" Jawab Asisten Brian asal.


Mentari pun kembali diam sambil memperhatikan layar ponselnya itu. Sekarang Mentari tidak menanyakan lagi suaminya karena sibuk melihat gambar-gambar baju bayi yang sengaja ia searching di google. Sambil senyam-senyum Mentari membayangkan baju itu jika anaknya yang kenakan pasti lucu.


"Lucu-lucu bangat sih bajunya" puji Mentari.


"Selamat malam" Ucapnya tepat didepan Mentari.


Mentari langsung melihat ke sumber suara tepat didepannya itu sembari senyum paksa menjawab, "Selamat malam juga"


"Boleh aku duduk dikursi itu?" tanyanya sambil menunjuk tepat kursi kosong diantara Mentari dan Asisten Brian.


Brian langsung pindah tempat duduk, "Maaf jika mau duduk disini saja" Ucap Brian sambil menunjuk tempat duduknya sebelum ia pindah.


Mereka sekarang duduk bertiga dan laki-laki itu meskipun diantarai Asisten Brian, ia terus mencoba untuk ngobrol dengan Mentari.


"Kenalkan aku Fahrizal Basuki tapi panggil saja Fahri" Ucapnya ramah sambil mengulurkan tangannya kepada Mentari.


Mentari menyambut tangan itu dan mereka berjabat tangan, "Aku Mentari".


"Waoaw nama yang cantik, secantik orangnya" pujinya yang masih belum melepas tangannya.


Asisten Brian yang melihat itu langsung memukul pelan tangan laki-laki itu, ia takut kalau Arka lihat bisa-bisa kena marah karena sudah tidak bisa jaga istrinya.


"Tangannya di lepas ya pak" Ucap asisten Brian.


"Oohh, maaf-maaf" Ucapnya, "Terlalu indah pemandangan malam ini" Sambungnya sembari senyum dan asisten Brian pun senyum tapi jengkel pada orang tersebut.


"Disini datang dengan siapa?" tanya Fahri lagi kepada Mentari.


"Dengan..." Ucapan Mentari terhenti setelah mendengar ucapan salam dari Pak Hadi diatas panggung yang sedikit tinggi dari tempat mereka.


"Papa" Ucap Mentari lagi dan orang tersebut mengerutkan kening.


"Papa!" ulangnya dengan bingung


Asisten Brian langsung menjelaskan kebingungan orang di sampingnya itu


"Iya, Mentari anak dari pak Hadi Algantara" Ucap Brian.


"Ohh" Jawabnya singkat lalu ikut menyaksikan dan mendengarkan yang disampaikan Hadi dan dilanjutkan oleh Pak Rahmat.


"Ayah juga ikut" Ucap Mentari lagi dan lagi-lagi Fahri ini bingung mendengar kalimat yang keluar dari Mentari itu.


"Ohh, Algantara dan Purnawan ini keluarga" Batin Fahri.


Dalam masa penyampaian itu, Fahri menghampiri Mentari dari tempat duduknya, "Sebentar bisa kita makan bersama?" tanya Fahri.


Mentari yang masih menyaksikan itu samar-samar mendengar pertanyaan Fahri, ia pun bertanya untuk memastikan, "Ajak aku makan bersama?"


"Iya, disini belum ada yang aku kenal selain kamu" Ucap Fahri.


Mentari mulai berpikir, tidak mungkin mengiyakan ucapan Fahri itu sementara dia pasti bersama suaminya. Mentari melihat Asisten Brian seketika dan Brian menyadari itu.


"Ada yang bisa saya bantu nona Mentari?" tanya Asisten Brian.


"Waow kamu punya asisten, aku kira tadi ini pamanmu atau kebetulan duduk disini" Ucap Fahri.


Asisten Brian itu menatap Fahri dalam dan diam, seketika Fahri mendekat kepada Mentari seakan sudah kenal lama.


"Ternyata asisten mu sangar juga ya" Ucapnya yang sudah berpindah tempat duduk dibelakang kursi Mentari.


Mentari yang mendengar itu langsung ketawa dan menoleh kesamping melihat Brian, "Sabar bapak Brian, dia tidak mengenal bapak sebelumnya" Ucap Mentari dan kembali melihat kearah panggung itu.


Fahri kembali mengajak Mentari ngobrol, "Katanya malam ini pembukaan toko Mentari Cake"


"Disini?" tanya Mentari.


"Iya, katanya anak seorang pengusaha yang punya, siapa tau cantik kan" Ucapnya lagi.


"Kalau cantik?" tanya Mentari.


"Ajak nikah saja, hahahaha" Jawab Fahri lalu ia ketawa.


"Benar tu, gak baik pacaran buang-buang waktu" Ucap Mentari membenarkan ucapan Fahri itu.


Pak Rahmat dan Hadi masih stay diatas panggung sekarang giliran Aldi yang keatas panggung, saat itu semua perempuan berbisik-bisik mengagumi ketampanan seorang Aldi Algantara.


Mentari kagum pada kakaknya itu, "Kakak malam ini berwibawa ya bapak Brian"


"Benar nona" Ucap Asisten Brian dan seketika lampu menyorot ke kursi Mentari dan saat itu Aldi menunjuk adiknya yang sedang duduk sebagai pemilik toko Mentari Cake itu.


Mentari yang masih belum mengerti maka ia hanya senyum jika melihat kakaknya senyum dan melihat orang disekelilingnya bertepuk tangan diapun ikut bertepuk tangan.


Terakhir Aldi menyampaikan agar sang adik naik keatas panggung, dikarenakan Mentari yang masih belum mengerti maka dia hanya diam.


Asisten Brian melihat Mentari yang masih belum bergerak dari tempat duduknya, ia memberitahu Mentari.


"Maaf nona, nona dipanggil naik keatas" Ucap Asisten Brian.


"Itu benar aku yang dipanggil?" tanya Mentari memastikan.


"Iya, silahkan naik keatas" Ucap Fahri dibelakang Mentari itu, "sepertinya selesai ini harus menyiapkan seserahan" sambungnya


Asisten Brian menghela napas mendengar ucapan yang dikenal baru beberapa jam yang lalu dan Mentari hanya ketawa mendengar ucapan Fahri itu.


"Fahri terlambat" Ucap Mentari.


"Ayo sayang keatas" Ucap Arka dari arah samping yang sejak kapan Arka berada disitu.


Mentari menoleh, "Kak Arka dari tadi aku nungguin datangnya baru sekarang" protes Mentari.


Fahri mendengar panggilan kakak dari Mentari yang awalnya kaget dan senyum diwajahnya hilang seketika langsung kembali berkembang.


"Ohh kakaknya juga" Batin Fahri.


Fahri mencoba untuk memperkenalkan diri, ia mengulurkan tangan kepada Arka "Kenalkan aku Fahri teman Mentari"


"Saya Arka" jawab Arka yang masih fokus dengan gaun sang istri, agar Mentari naik diatas panggung tidak menginjak ujung gaunnya.


"Arka" Ulang Fahri lagi, "Aku panggil kak Arka sepertinya aku seumuran dengan Mentari siapa tau kita cocok" Sambung Fahri sembari senyum kepada Arka mencoba akrab.


Arka sebelum naik panggung langsung menoleh kearah asisten Brian, "Brian, stay di mobil seperti Mentari sudah capek, selesai ini kami langsung pulang" Ucap Arka yang diangguki oleh asisten Brian.


Mentari dan Arka naik diatas panggung dan sang kakak langsung menyambutnya dengan memegang lengan adiknya itu dan menuntunnya. Jadi posisi Mentari berada diantara Aldi dan suaminya.


Fahri yang melihat itu kagum dan orang di sekeliling Fahri pun memuji-muji mereka.


"Cantik ya bu Mentari" Ucap seorang karyawan perempuan di perusahaan ayah Mentari.


"Iya, diapit malaikat ganteng" timpal satu lagi.


"Iya, kapan aku seperti itu" Ujar lagi salah seorang dari mereka.


Fahri terus fokus didepan dimana Mentari berada, ia senyam-senyum sendiri, ia sangat mengagumi sosok orang baru ia kenal itu yaitu Mentari.


Hadi kembali berbicara memperkenalkan secara detail tentang putrinya itu yang selama ini banyak orang tidak tau dan bahkan pernikahannya pun hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan terakhir tentang Mentari Cake, yaitu toko kue yang sengaja Aldi bangunkan untuk sang adik tercinta.


Fahri mendengar itu kaget seketika harapannya pupus dan ibarat hatinya seperti bunga, gugur sebelum berkembang. Fahri pergi ke sudut mengambil air minum.


Beberapa menit kemudian, Pak Rahmat dan Hadi turun dari panggung yang diikuti oleh Mentari dan Arka dengan jalan pelan.


Arka pamit untuk pulang lebih awak karena melihat Mentari sudah capek. Sementara Fahri malah duduk di pojok gedung itu. Mentari dan Arka pun pulang yang sudah ditunggui asisten pribadinya dalam dimobil.


...**SEMOGA SUKA ❤️...


...TERIMA KASIH 🙏🥰**...